
Menjelang sore itu Dul bersenang-senang menikmati harinya dengan banyak tertawa. Berpindah dari satu kolam ke kolam lainnya. Berlama-lama berendam di kolam balita yang memiliki temperatur air lebih hangat.
Dijah yang duduk di kursi, sesekali berdiri mendekati kolam untuk menjepret momen Dul dan Bara yang sedang bermain dengan kamera berat itu.
Sedangkan Bara yang melihat Dijah berjalan di tepian kolam dengan kamera itu terlihat meringis. Sebelum bertemu dengan Dijah, kamera dan motornya adalah kekasih bagi Bara.
"Udah lama gak berenang, capek juga dua kali bolak balik muterin kolam. Kamu bisa berenang?" tanya Bara saat pria itu naik untuk minum. Ia mengambil segelas jus melon yang tadi dipesannya dan duduk di seberang Dijah.
"Bisa, berenang di sungai malah" jawab Dijah.
"Kapan? Eh maksudnya sekarang gak lagi 'kan?" tanya Bara.
"Dulu masih sekolah sering main di sungai. Bantu ibu-ibu mulung. Sebenernya main, tapi karena ngeliat ibu-ibu yang mulung aku jadi ikutan."
"Mulung di sungai?" tanya Bara. Dijah mengangguk.
"Emang dapet?" tanya Bara heran.
"Dapet. Aneh-aneh dapetnya. Pernah ada yang ketemu emas. Kan itu sungainya gak dalem. Sedada orang dewasa aja. Mulungnya pake ban dalem truk yang di tengahnya dikasi jaring untuk tempat barang bawaan. Jadi ya ngikut arus sungai. Itu kakinya harus terus ngerasa-ngerasain dasar sungai."
"Dapet aneh-aneh gimana? Paling aneh dapet apa?" tanya Bara lagi.
"Apa ya... Kemarin ada yang jual ular ke pengepul. Aslinya emang ga laku. Tapi ada yang mau beli. Ya dijual. Jadi mulung apa yang dapet," tambah Dijah.
"Ular ya... Kalo nemu ular jangan kamu ambil ya Jah, itu bisa matuk beneran," ujar Bara meletakkan gelas jusnya. Dijah tersenyum mendengar perkataan Bara, dan di waktu bersamaan Bara juga tersenyum.
Seperti mengerti kesamaan isi pikiran satu sama lain, mereka kemudian tertawa terbahak-bahak.
Selesai berenang dan naik dari kolam, Dijah mengeringkan tubuh Dul. Bocah itu memandangi ujung-ujung jarinya yang keriput karena terlalu lama bermain di dalam air.
"Keriput Bu," Dul memperlihatkan ujung-ujung jarinya pada ibunya.
"Iya, aku juga udah keriput dan kisut ini Jah." Bara ikut menyodorkan jarinya ke hadapan Dijah. Dijah bungkam tak berani menjawab candaan Bara di depan Dul. Ia telah kembali mengganti pakaiannya sebelum Dul ikut naik tadi.
Bara mengajak ibu-anak itu beriringan mengikuti jalan setapak menuju lobby bagian samping di mana ada sebuah minimarket.
"Kita beli jajanan dulu, trus kamu mandi teruuuss.. kita makan. Besok kita main lagi," ujar Bara yang berjalan seraya memijat-mijat puncak kepala Dul yang masih basah.
__ADS_1
Bepergian bersama Dijah dan anaknya membuat Bara menjaga kelakuannya. Dul sudah besar dan mengerti kalau ia hanyalah teman ibunya. Meski dalam drama bagi penduduk di sekolahnya Bara adalah seorang ayah, namun tetap saja bocah laki-laki itu pasti mengerti.
Setibanya di kamar, Bara mengambil pakaian dalamnya dan membawanya ke kamar mandi yang ada di kamar sebelah. Dijah sedang memandikan anaknya yang kembali melonjak kegirangan karena bertemu dengan sebuah bath tub dan air hangat.
"Jah... Pake baju yang aku beli ya..." pinta Bara dari luar kamar mandi. Terdengar sahutan Dijah mengiyakannya.
Setelah memakaikan Dul pakaian rapi, Dijah sempat bingung dengan dua dress yang diberikan Bara padanya. Yang mana yang harus dipakainya malam itu. Dijah mendorong pintu penghubung dengan dua dress di tangannya.
"Aku pakai yang man--" Dijah berhenti setelah masuk ke kamar itu dua langkah. Bara baru saja melepas handuknya dan berdiri memegang sepotong pakaian dalam.
"Emang pengen ngeliat banget ya?" tanya Bara yang berdiri dalam keadaan telanjang sepenuhnya.
"Cuma mau tanya, aku pake yang mana?" tanya Dijah berusaha mengendalikan raut wajahnya saat berhadapan dengan pria tampan yang sedang telanjang itu.
"Yang biru aja," sahut Bara kemudian mengenakan pakaian dalamnya. Dan Dijah yang sudah mendapatkan jawaban, belum beranjak dari tempat itu sampai Bara menutup bagian penting tubuhnya.
Bara menegakkan tubuhnya dan berkacak pinggang. "Kenapa? Makin diliat, makin penasaran, 'kan?" tanya Bara. Dijah berbalik dan meninggalkan pria itu.
Malam itu mereka makan di restoran hotel yang berada di puncak gedung. Bangunan hotel itu tidak begitu tinggi karena berada di daerah puncak. Tapi pemandangan yang disuguhkan dari atas sana begitu menenangkan.
*****
Dijah mengambil ponsel dari tangan Dul yang sudah terlelap karena rasa lelah dan kenyang di perutnya. Benar kata Bara, membawa bocah laki-laki itu tak sulit, Dul tak banyak menuntut dan selalu kooperatif. Ia merasa telah berhasil membuat Dul untuk selalu mengerti akan situasi hidup mereka.
Dijah menarik selimut dan membenarkan letak bantal anaknya. Sejenak ia duduk di tepi ranjang memandang wajah Dul. Ia kembali mengingat semua tawa yang dijepretnya memakai kamera Bara dengan hasil yang tak bisa dijanjikannya akan bagus semua.
Bara tak nampak di kamar itu. Setelah makan malam tadi, pria itu seolah memberi waktu untuk Dijah dan Dul. Dijah yang sangat jarang bisa tidur di sebelah anaknya, malam itu bercerita dan bercanda bersama.
Sampai akhirnya Dijah memperlihatkan ponselnya pada Dul. Mata bocah itu membulat karena terpukau. Selama ini dia hanya duduk mengintip dari sela-sela kepala temannya yang sedang menonton film kartun atau bermain game dengan benda canggih itu.
Dan setengah jam terakhir sebelum tidur, Dul menghabiskan waktu dengan menonton film kartun ditemani tepukan pelan tangan Dijah di pahanya.
Dijah beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke pintu penghubung kamar sebelah. Ia masih mengenakan dress biru muda dengan potongan A selutut pemberian Bara.
Saat menjengukkan kepalanya, ia melihat Bara berbaring memunggungi pintu penghubung. Dijah melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.
Bara pasti lelah sekali pikirnya. Mengemudikan mobil seorang diri dan setibanya di sana, pria itu langsung memomong anaknya berenang. Dijah membuka selimut dan berbaring di belakang tubuh Bara.
__ADS_1
Dijah ingin memeluk Bara lebih dulu. Sekali-kali tak apa seperti kata pria itu. Tapi ada rasa sungkan dan rikuh yang langsung menyusup ke hatinya.
Menyayangi seorang pria seperti Bara membuatnya kadang menyesali status jandanya sendiri. Namun di lain sisi, ia tak pernah menyesali keberadaan Dul sekarang. Dijah dan Dul pernah hampir kehilangan satu sama lain. Dul bayi yang pernah sekarat, berhasil membawanya kembali ke kehidupan nyata pada saat itu.
Dijah melingkarkan tangannya di pinggang Bara. Memeluk pria itu dari belakang dan menghirup aroma parfum yang melekat di kaos oblongnya. Bara seketika bergerak dan menyadari keberadaannya.
Dengan wajah mengantuk pria itu berbalik dan menatapnya.
"Hei.... Aku dipeluk ibu Dul..." gumam Bara dengan suara sedikit parau. Bara membalas pelukan Dijah dengan melingkarkan tangannya di balik selimut.
"Capek ya?" tanya Dijah.
"Untuk kamu aku nggak capek," gumam Bara dengan mata mengantuk seraya membelai pipi Dijah dengan punggung tangganya.
"Dul udah tidur?" tanya Bara. Dijah mengangguk.
"Aku boleh cium ibunya sekarang?" tanya Bara. Dijah menempelkan bibirnya ke bibir Bara yang mendapat sambutan langsung dari pria itu.
Tangan Bara turun mencari tepi dress yang dikenakan Dijah dan menyusup ke dalamnya. Ia memberanikan diri menyentuh Dijah lebih dulu di bawah sana. Jarinya yang minim pengalaman itu bisa membuat Dijah mendesah di sela-sela ciumannya.
Mendengar desahan Dijah, Bara menghentikan kegiatannya untuk bangkit duduk serta merta melucuti pakaiannya sendiri.
"Jah... Nggak apa-apa kan?" tanya Bara dengan nafas terengah. Dijah tak mungkin mengangguk. Ia malu. Yang bisa dilakukan Dijah hanyalah diam sambil menatap Bara yang membuka kancing dress-nya satu persatu.
Bara telah berhasil mencampakkan dress kekasihnya ke bawah ranjang. Dan ketika Bara kemudian melucuti apa yang dikenakan Dijah, lagi-lagi wanita itu hanya diam tak menjawab apapun.
Bara membulatkan mata. Mulutnya setengah terbuka menantikan tubuhnya dimanjakan oleh Dijah yang selama ini dinilainya begitu dingin. Bara tak bisa menyembunyikan erangannya. Dalam debaran jantungnya yang semakin cepat, Bara hanya berharap Dul tidur nyenyak dan bermimpi indah.
Pandangan Dijah dan Bara bertemu. Seolah ingin mengingat masing-masing raut wajah ketika mereka sama-sama menikmati penyatuan itu. Desahan panjang keluar dari mulut Dijah. Bara kemudian juga melepaskannya. Ia sadar telah membuat Dijah yang mungkin sudah melupakan soal hubungan biologisnya kini seperti diingatkan kembali. Hari ini Dijah menginginkan hal itu dari dirinya.
Bara terengah-engah. "Maaf Jah..." bisiknya ditelinga Dijah.
"Hemm?" sahut Dijah dari atas bahu Bara yang masih menindihnya.
"Aku ulang dari pemanasan masih boleh? Tadi gak sempet," bisik Bara kemudian menyesap keras bahu Dijah hingga menimbulkan bercak merah besar.
To Be Continued.....
__ADS_1