
“Tadi Mas nelfon Kang Supri ngabarin kalau kamu hari ini keluar dari rumah sakit. Sekalian nanyain kabar ibu. Rupanya ibu juga lagi nggak sehat Jah... Dua hari terakhir ini katanya lagi banyak berbaring. Aku malah—minta Kang Supri untuk anterin ibu ke rumah.” Bara menoleh Dijah yang duduk di sofa ruang rawat memasukkan pakaian kotornya perlahan.
“Kang Supri ngomong apa?” tanya Dijah belum menatap Bara. Ia sedikit kesal dengan kakak tertuanya yang terlalu berlebihan merendahkan diri. Berulang kali mau didatangi ke rumahnya selalu melontarkan ribuan alasan. Diminta mengantar ibunya ke rumah pun, selalu keberatan. Entah apa maksudnya.
“Katanya ibu udah nggak apa-apa. Kamu jaga kesehatan aja. Kalo mau lahiran, kabari ibu. Ibu mau nginep liat cucunya.” Bara mengatupkan mulutnya. Membayangkan mertuanya menginap di rumah karena ingin melihat anaknya nanti, membuat hati Bara hangat.
“Kita jemput Dul, Mas?” tanya Dijah. “Dul pasti udah banyak ngerepotin ayah dan ibu Mas...” kata Dijah.
“Gak dijemput Sayang,” jawab Bara. “Kita nginep di rumah ibu ya... Ini kan akhir Minggu. Aku nggak kerja.” Bara menyampirkan ranselnya ke bahu dan mengambil tas pakaian yang baru dikancingkan Dijah.
“Hmm?” Dijah bertanya pada suaminya setengah mengambang. Ia bimbang. Sejak tadi dia sudah membayangkan bisa berbaring di ranjang kamar atau menemani Dul bermain di kamarnya sambil merebahkan diri.
“Ayah tadi kirim pesan, katanya ibu masak banyak. Nungguin kita biar makan siang sama-sama. Ayo...” Bara mengulurkan tangannya.
Dijah bangkit dan masuk ke dalam rentangan tangan suaminya. Bersama mereka menyusuri lorong rumah sakit yang belakangan sering mereka lalui.
Dari arah berlawanan, seorang dokter dengan seragam hijau yang biasa dipakai di ruangan operasi berjalan terburu-buru. Tanpa mengenakan masker, tapi Dijah segera menyadari itu adalah dokter yang dimaksud Tini kemarin.
“Ini pasti dokter yang dimaksud Tini kemarin Mas...” bisik Dijah. “Sebelah kanan Mas,” sambung Dijah lagi seraya berdeham pelan. Bara refleks menoleh ke kanan untuk melihat orang yang dimaksud istrinya.
“Mata Tini tau aja liat yang begitu-begitu ya... Bahaya,” omel Bara. “Pasti udah ada istrinya,” tambahnya lagi.
“Aku cuma ngasi tau aja. Bisa aja salah,” sahut Dijah. Sekarang ia yang menyesal telah mengatakan hal begitu pada suaminya. Baru sepuluh langkah dari kamar rawat tapi ia sudah membuat atmosfer tak enak di antara mereka.
“Gak salah. Pasti itu orangnya. Tini ngomongin cambang. Itu dokternya bercambang juga. Auranya mirip-mirip mas Heru. Dasar Suketi...” sungut Bara. Dijah mengatupkan mulutnya. Ia merasa bersalah pada Tini sekarang.
*****
“Bukan gitu, ayah salah. Gak percaya sama ibu.” Suara Bu Yanti terdengar dari ruang keluarga.
“Dari kemarin nggak ada masalah, kok sejak ibu ikut-ikutan semua jadi makin aneh.” Suara Pak Wirya terdengar menyahuti.
“Perempuan itu lebih baik dalam menyelesaikan masalah,” ucap Bu Yanti. “Kasi ibu kesempatan yang sama.”
“Ya benar. Penyelesaian dalam hal kata-kata. Dengan emosi, gesture, empati dan nada suara. Itu perempuan. Laki-laki orientasinya tugas. Sedikit bicara, banyak bertindak.” Pak Wirya terdengar tak mau kalah.
“Mas... Itu ayah-ibu kenapa?” Dijah telah berdiri di depan pintu ruang tamu yang terbuka. Rautnya penuh khawatir. Melihat orang bertengkar sudah biasa. Tapi ia tak mau mendengar mertuanya bertengkar. Terlebih, ada Bara di dekatnya. Suaminya pasti malu.
“Kenapa ya?” Bara menginjak tumit sneakersnya untuk melepaskan sepatu buru-buru. “Eh ayo masuk,” ajak Bara menunduk mengangkat flat shoes Dijah dan menyingkirkannya ke samping pintu.
__ADS_1
“Ya sudah, ibu duluan. 10 menit, jangan lama-lama.” Suara Pak Wirya terdengar semakin jelas.
“Nanti gantian, kalau Uti nggak bisa, Akung yang bantu aku.” Suara Dul terdengar di antara sungutan Bu Yanti.
“Lagi ngapain?” tanya Bara. Ayah ibunya beserta Dul sedang duduk bersimpuh di lantai. Replika helikopter balok-balok kecil Dul terlihat berantakan berada di tengah-tengah mereka.
“Eh, udah nyampe. Gak denger suara langkahnya karena lagi asik. Eh Ra, kamu beli mainan Dul ini di mana? Kayaknya ibu perlu kita belikan satu set untuk latihan. Helikopter Dul berantakan gak selesai-selesai karena ibu ikut-ikutan.” Pak Wirya menoleh menatap istrinya yang sedang meneliti selembar kertas gambar contoh.
“Kalau gitu yang ini di sini Dul—yang ini di sebelah sini. Kali ini Uti pasti bener,” gumam Bu Yanti yang belum menoleh pada Bara dan Dijah.
“Astagaaa... Aku kira apa. Suaranya sampe kedengeran ke depan. Kayak lagi berantem.” Bara meletakkan tas dan ranselnya di sofa.
“Bukan berantem. Cuma berdebat,” ralat Pak Wirya terkekeh-kekeh.
“Dul...” sapa Dijah. Bocah laki-laki itu mendongak baru menyadari kehadiran ibunya. Padahal dia rindu pada Dijah, tapi keasyikannya bermain dan menengahi Pak Wirya dan Bu Yanti mengalihkan pikirannya.
“Ada ibu,” ucap Dul.
Bu Yanti ikut mendongak, “Eh, sudah nyampe. Ayo makan dulu. Ibu sudah masak. Meski nggak sepenuhnya ibu yang masak, tapi ya tetep ibu yang masak.” Bu Yanti berdiri perlahan memegang lututnya.
“Ditaruh di situ aja nggak apa-apa. Jangan kasi Akung, waktu Uti belum selesai,” ucap Bu Yanti ketika berdiri. “Kamu juga ayo ke belakang, makan. Dari tadi sudah main terus,” tukas Bu Yanti mengibaskan tangannya ke arah Dul untuk meminta bocah itu segera berdiri mengikutinya.
“Makan—makan—makan...” seru Pak Wirya menarik kursi tempat ia biasa duduk.
“Aku mau ayam goreng yang tadi,” ucap Dul pada Bu Yanti yang berdiri menyodorkan piring padanya.
“Oke, ayam goreng.” Bu Yanti menyendok dua centong nasi dan mengangkat sepotong paha ayam ke piring Dul. “Ayah ayam goreng?” tanya Bu Yanti menoleh suaminya.
“Ayah suami kamu Bu, bukan ayam goreng.” Pak Wirya melebarkan senyumnya dan mengangkat alis memandang Bu Yanti. Wanita itu langsung menghela nafas.
Bara menggeser sebuah kursi dengan perlahan sebagai tempat duduk istrinya. Mereka sekarang seperti orang asing.
Bu Yanti masih berdiri meladeni Pak Wirya dan Dul. Wanita itu kemudian menarik kursi di tengah suaminya dan Dul seraya mengambil piringnya sendiri.
“Bu, Mas gak ditanya mau makan apa?” tanya Bara memandang ibunya.
Mendengar perkataan Bara, Dijah mengambil sebuah piring dan meletakkan di depan suaminya. Dijah menyendokkan nasi ke piring dan menakarnya seperti biasa.
“Ini Mas...” ucap Dijah.
__ADS_1
“Aku cuma menyadarkan ayah dan ibu Jah... Kita kayak orang asing di sini,” ujar Bara.
“Mas ‘kan sudah ada istri. Dijah juga pasti kangen ngadepin suaminya yang rewel.” Bu Yanti duduk kemudian mengambil sendok Dul dan mengumpulkan nasi bocah itu ke tengah piring. “Nah, lanjut lagi...” ucap Bu Yanti.
Bara kembali memandang ibunya. Ia melihat ibunya memperlakukan Dul persis seperti kepadanya dulu.
“Makan yang banyak Dul... Biar cepat besar kayak ayah Bara. Katanya ayah Bara keren...” ujar Pak Wirya.
“Iya, cepat besarnya aja. Eh rajin belajarnya juga. Tapi jangan pacaran-pacaran dulu kayak ayah Bara. Dulu meski rajin belajar tapi pikirannya cewek melulu. Malem Minggu nggak pernah di rum—” Bu Yanti terdiam. Ia merasakan ujung kakinya disenggol beberapa kali. Pandangannya terangkat memandang Pak Wirya yang masih makan dengan santainya. Bukan suaminya yang menyenggol kakinya tadi. Bu Yanti lalu menoleh pada Bara di seberangnya. Putranya itu sedang melemparkan tatapan peringatan. Bu Yanti segera tersadar ia telah salah berbicara. Sedikit meringis ia kembali menghadapi nasinya.
Di bawah meja, tangan kiri Bara membelai paha istrinya hingga ke bagian dalam. Telapak tangannya sudah bergerak dari lutut dan menyusuri hingga ke atas dan tiba hampir di pangkal paha Dijah.
Bara melihat istrinya tak menoleh sedikit pun padanya. Ia tahu Dijah pasti merekam seluruh perkataan ibunya beserta titik koma dan tanda baca yang komplit untuk nanti diajukannya di kamar tidur. Bara resah. Ia sudah mengagendakan kegiatan bercinta malam nanti. Hampir sepuluh hari tak merasakan keperkasaannya dimanja jelas membuat Bara belingsatan.
Tangan Bara berdiam lama di dekat pangkal paha istrinya. Melihat Dijah tak bereaksi, Bara kembali menaikkan level godaannya. Ia mengusap bagian sensitif istrinya. Sambil sesekali melihat ke arah Dijah yang sedang memakan nasinya seujung sendok tiap suapan. Dijah bergeming. Tak peduli.
“Mas! Tambah ini!” seru Bu Yanti tiba-tiba mengangkat sepiring lauk.
BRAKK!!
Bara terkejut. Ia menarik tangannya tiba-tiba dan langsung beradu dengan bagian bawah meja makan.
“Aduh,” sergah Dijah yang perutnya tersenggol. Ia langsung menoleh kesal pada suaminya.
“Aduh, iya. Maaf. Kena perutnya ya....” Bara mengusap-usap perut istrinya.
Bu Yanti yang memahami apa yang sedang terjadi di bawah sana, langsung kembali meletakkan piring lauk yang diangkatnya.
“Setidaknya biarkan istrinya makan dulu Mas,” sungut Bu Yanti.
“Ehem!” Pak Wirya berdeham kembali meraih sendok sayur dan menambahkan ke piringnya.
Bara meringis. Dan Dijah memilih tak mengerti kalau mertuanya sudah mengerti.
To Be Continued.....
Terpaksa dipotong, sudah terlalu panjang.
Jus lanjut di up setelah tengah malam XD
__ADS_1
Yang penting tombol likenya jangan lupa diusap.