PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
EPILOG


__ADS_3

“Semuanya udah dibawa? Kartu peserta tesnya? Buku contoh pembahasan soalnya juga jangan lupa. Nanti di jalan kamu bisa baca-baca lagi.” Bara memanaskan mesin mobil dan membuka pintu tengah untuk menaruh ranselnya.


“Udah—udah semua kok. Bosen belajar itu terus dari kemarin-kemarin.” Dul cemberut membuka pintu mobil bagian depan.


“Gak boleh bosen belajar sekarang. Baru mau masuk SMP. Kamu harus masuk sekolah terbaik. Inget pesen uti. Ini masih mending ayah yang anter. Coba kalo uti,” ucap Bara dari depan pintu sambil memakai sepatunya.


“Ya nggak apa-apa kalo sama uti,” sahut Dul.


“Bisa ngomong gitu karena uti udah tua. Udah berkurang daya omelannya. Dulu ayah juga kayak kamu gini, sekarang ayah malah bersyukur. Ya udah, tutup pintu mobilnya, nyalain AC. Ayah mau panggil ibu dulu,” kata Bara melongok ke dalam rumah.


Dijah sedikit tergopoh-gopoh berlari memegang perutnya.


“Jangan lari-lari, bahaya.” Bara juga mengomeli Dijah yang sedikit berlari dengan perut besarnya. Mengandung seorang bayi laki-laki masuk di bulan terakhir, membuat berat badannya melonjak drastis.


“Ini roti panggang yang belum habis tadi. Dibawa aja, buat makan di jalan. Buat Mas juga siapa tau laper waktu nunggu.” Dijah menyerahkan tas kecil berisi bekal makanan dan botol minuman.


“Di depan SMP itu banyak warung kok,” sahut Bara.


“Tapi pasti ibu-ibu semua. Mas di mobil aja, jangan gabung sama ibu-ibu. Aku ikut nggak dibolehin soalnya....” Dijah merapikan letak kerah kemeja Bara. Wajahnya sedikit cemberut saat mengatakan hal itu.


“Bakal sampe siang, panas di sana. Perut kamu juga udah gede banget. Mima juga pasti minta ikut, trus bosen di sana. Nanti aja kalo pengumuman lulus atau enggak, semuanya pergi ngeliat.” Bara mengangkat Mima dan mencium pipi anak perempuan yang sedang sibuk membentuk segumpalan mainan lilin berwarna ungu.


“Kalo nggak lulus masuk SMP itu, Dul sekolah di mana? Di swasta yang kemarin?” tanya Dijah menunggu Bara meletakkan Mima.


“Dul udah rajin belajar. Setiap malam latihan soal-soal terus. Mas yakin Dul bisa masuk SMP itu. Ya udah, sini.” Bara merentangkan tangannya ke arah Dijah.


Dijah maju selangkah dan sedikit berjinjit mencium dagu suaminya. Setelah mengusapkan hidung dan menghirup aroma parfum dari bagian depan kemeja Bara, Dijah kembali mendongak menunggu ciuman.


Kehamilan kedua Dijah, membuat Bara sedikit terkejut. Setelah menyiapkan batin akan mabuk kehamilan luar biasa, ternyata istrinya malah tak mengalami gejala itu lagi. Dijah hanya perlu banyak makanan dan isi kulkas yang selalu penuh. Hal yang sangat membuat hati Bara gembira. Meski kecemburuan Dijah menjadi sangat luar biasa.


Rasa tak percaya diri akan bentuk tubuh yang membengkak, membuat Dijah sering mengekori Bara ke mana-mana. Tak terhitung acara kantor yang ikut didatanginya bersama sang istri. Bara bahkan kerap membawa Dijah meski hanya ke simpang membeli gorengan atau jajan ke mini market bersama Mima.


Bara masuk ke mobil setelah mencium, memeluk dan mengusap-usap perut istrinya beberapa saat. Dalam perjalanan menuju SMP yang akan menjadi tujuan mereka hari itu, Dul tak lagi membaca bukunya. Anak laki-laki itu hanya duduk memandang jalan sambil mengemil roti bakar.


“Jangan buru-buru ngerjain soalnya. Dibaca bener-bener. Ayah sabar nunggu. Kasi hasil terbaik untuk ayah ibu. Nanti kalo udah keluar, langsung ke mobil aja. Oke?” Bara membenarkan letak tanda pengenal yang menggantung di leher Dul.


“Iya, doain aku ya... Aku deg-degan,” ucap Dul.


“Pasti. Gak kamu minta juga ayah ibu pasti doain. Ya udah sana masuk,” pinta Bara menepuk pundak Dul.


Siklus hidup itu hanya berulang. Diulang oleh generasi selanjutnya. Dulu, Bara harus mengikuti petunjuk ibunya soal di mana ia harus bersekolah. Melakukan tes di mana-mana agar masuk ke sebuah sekolah favorit. Ibunya siang malam mengingatkan pentingnya belajar dan belajar di masa muda. Sekarang, ia yang melakukannya untuk Dul.


Demi mencapai keinginannya menyekolahkan Dul di sebuah SMP favorit, Bara lembur hingga tengah malam untuk menemani putranya belajar. Tak lupa juga ditemani Dijah yang semakin sulit tidur malam ketika usia kandungannya semakin membesar.

__ADS_1


Mima sedang menunggu pembagian rapor dari TK-nya yang tak jauh dari rumah. Setiap pagi bocah perempuan itu pergi ke sekolah di temani ibunya. Dijah menikmati menunggui Mima selama jam pelajaran dengan duduk bergabung dengan ibu-ibu pengantar lainnya. Hal yang dulu tak bisa ia lakukan untuk Dul karena terlalu sibuk mencari nafkah.


*****


Dari Dul


Dul menatap wajah ayahnya beberapa saat sebelum berbalik menuju kelas tempat dilangsungkannya tes penerimaan hari itu. Ayahnya bersikeras ia harus masuk ke sekolah itu. Katanya, sekolah itu sudah menjadi favorit sejak dulu. Dul harus menurut. Lagipula, apalagi yang bisa dilakukannya untuk menyenangkan hati pria yang sudah memenuhi seluruh harapannya itu?


Dan Dul sama dengan anak pada umumnya. Gairah belajarnya turun naik. Terkadang malah lupa belajar kalau tak diperintah. Tapi, berbeda dengan ibunya yang selalu mengomel, ayahnya santai saja. Lebih tepatnya, santai di depan ibunya.


Ayahnya tak pernah marah. Jika ia membuat kesalahan atau hal yang tak disukai pria ganteng itu, mereka akan pergi keluar rumah berdua saja. Makan di kaki lima sambil mengobrol hati ke hati sebagai dua orang pria. Meski tak marah, raut ayahnya terkadang menyiratkan kekecewaan yang seketika membuat Dul malu.


Entah kenapa, ayahnya selalu menjual nama ibunya tiap kali berbicara. Misalnya saja ketika Dul terlalu banyak menghabiskan waktu di depan PlayStation, maka ayahnya akan mengatakan, “Laki-laki sejati itu, gak akan mengecewakan wanita yang dicintainya. Ayah cinta ibu kamu. Kamu?”


Pertanyaan yang dinilai Dul terlalu ringan namun membuatnya berpikir ulang untuk mengecewakan ibunya.


Hari itu ayahnya mengantarkan sampai pintu gerbang. Dul tahu kalau di kantor, pekerjaan ayahnya pasti menumpuk. Karena ayahnya terlihat sedikit gelisah beberapa kali mengecek ponselnya.


Bagi Dul, sampai kapanpun, ayahnya adalah seorang pahlawan. Ingatan masa kecil yang tergambar jelas namun sulit diungkapkan, perlahan tersusun utuh di benaknya.


Potongan-potongan percakapan dan raut di masa lalu, kini ia pahami dengan jelas. Ayahnya, yang bernama Bara itu adalah ayah sambungnya. Pria yang berbesar hati menerima ibunya dan dia sekaligus untuk membentuk sebuah keluarga.


Sejak mengenal ayahnya, ia melihat ibunya semakin cantik. Jarang marah dan memaki. Ibunya terlihat lebih santai. Berbicara dengan lembut dan kadang manja terhadap ayahnya. Dan yang terutama, ibunya tak terluka lagi. Mulut, hidung, bahkan pelipis ibunya tak pernah berdarah lagi. Dulu ia selalu menangis tiap kali melihat ibunya babak belur. Tak bisa ia lupakan bagaimana raut keras ibunya yang penuh amarah memeluk untuk menenangkan hatinya. Padahal, hati ibunya saat itu pasti lebih hancur.


Akung sering mengatakan, “Jangan lakukan sesuatu yang kamu tak suka jika dilakukan orang padamu.”


Dul tak suka laki-laki kasar. Itu kenapa ia sangat mengidolakan ayah dan terutama akungnya yang seolah tak memiliki emosi itu. Akung sering mengusap punggung atau menepuk pelan bahunya. Dul sangat menyukai hal itu. Itu membuatnya merasa sangat berharga sebagai seorang anak yang memiliki pemikiran sendiri.


Dul menjadikan ayahnya role model. Ayahnya yang bernama Bara yang selalu membuat orang terkagum-kagum karena kegagahannya. Berjalan di antara ayah dan akungnya, sering membuat Dul besar kepala dan merasa sebagai pria dewasa.


Ketika dulu pertama kali dibonceng dengan sepeda motor merah mengenakan helm longgar oleh ayahnya, Dul sudah merasa tak bisa melepaskan pria itu. Dulu, siang malam ia menanti pria itu datang menjenguknya. Mengajaknya bercerita, dan terutama membelikannya jajanan yang dinilai sangat mewah waktu itu.


Menjelang siang, tes sudah selesai. Kalau ditanya soal kemungkinan, Dul hanya merasa fifty-fifty. Saat berjalan menuju parkiran mobil, ia melihat ayahnya sedang bertelepon di luar. Raut ayahnya terlihat sangat serius. Matahari yang terik membuat beberapa titik keringat bertengger di dahi pria itu. Walau begitu, ayahnya tetap tampan. Pantas saja ibunya tadi berpesan agar ayahnya tak duduk di warung. Meski terkadang terlihat santai dan sering menggoda pesan-pesan ibunya, Dul selalu melihat ayahnya selalu menepati janji yang dibuat dari rumah.


Beberapa saat ia menatap punggung lebar dan gagah ayahnya. Dan waktu berbalik dan bertemu pandang dengannya, Dul sudah bisa menebak hal apa yang pertama kali ditanyakan padanya.


“Gimana tesnya?”


Setelah bertukar cerita sesaat, ayahnya mengajak pergi makan siang berdua. Padahal ia tak meminta, tapi ayahnya bilang, dulu ia sangat suka makan siang di restoran tiap kali keluar di jam-jam sibuk bersama akung atau uti.


Ayahnya ingin memberikan sesuatu, tanpa ia tagih lebih dulu. Siang itu mereka menghabiskan waktu berdua saja. Membicarakan keinginan dan cita-citanya nanti. Tak lupa ayahnya menyelipkan soal harapan-harapannya. Itu adalah sebuah nasehat lembut yang dikemas dengan begitu luwes dan akrab di telinganya. Dul merasa ayahnya tak memerintah. Membuatnya memilih dari beberapa pilihan yang direstui, memang terlihat seperti memilih sendiri. Padahal, beberapa pilihan itu juga diseleksi dengan ketat oleh ayahnya.


Pengumuman hasil penerimaan itu akan dilaksanakan seminggu kemudian. Dan seperti dugaan Dul, ibunya terlihat paling repot. Pagi-pagi betul wanita itu sudah berpakaian rapi. Dengan satu tas berisi cemilan dan ransel kecil Mima, ibunya duduk di teras menunggui ayahnya memanaskan mesin mobil.

__ADS_1


Operasi kelahiran calon adik laki-lakinya sudah dijadwalkan Minggu depan. Kali ini ayah tak perlu bertanya pada ibu lagi soal melahirkan dengan jalan operasi. Dan sepertinya ibu juga sudah cukup kapok dengan peristiwa kelahiran Mima yang cukup dramatis. Ibu hanya mengangguk-angguk saja saat ayah memasukkan perlengkapan bayi ke dalam bagasi mobil sebagai persiapan. Ayahnya selalu handal dalam hal berkemas-kemas. Ibunya hanya tinggal duduk manis saja.


Dul telah duduk di jok tengah bersama Mima yang pagi itu rambut ikalnya dikuncir tinggi. Ia menoleh melihat ayahnya yang sedang duduk memakai sepatu sambil disandari ibunya. Sejak tadi lengan ibunya selalu melingkari leher ayah yang dengan sabar mendengarkan keluhan susah tidur ibu yang telah diucapkan ratusan kali.


*Dul tersenyum geli. Ayahnya memang luar biasa sebagai pendengar. Itu baru ibunya. Belum lagi Mima yang memiliki keinginan membeli semua mainan di channel* YouTube langganannya. Ayah biasanya hanya mengangguk dan mengatakan “Santai, nanti kita beli.” Dan Mima pun akan santai. Hari-hari berikutnya, Mima biasanya sudah lupa.


Mereka semua sudah tiba di lokasi sekolah. Ibunya langsung melompat turun dari mobil. Akibat ketidaksabarannya itu, ayah harus kembali mengomeli ibunya yang lalu menyahuti dengan omelan juga. Untuk itu, ayah biasanya selalu memilih bungkam. Dul tahu ayahnya khawatir akan nasibnya di rumah.


Dul tak akan bisa melupakan bagaimana wajah kedua orangtuanya saat itu. Dengan dahi penuh peluh karena menunggui papan pengumuman di bawah matahari, mata ibunya membelalak bahagia. Ayahnya langsung mengangkat Mima ke dalam gendongan dan menciumi gadis kecil itu. Padahal, ia yang berhasil masuk ke SMP favorit tapi malah Mima yang mendapat hujan ciuman dari ayahnya.


*“Tuh kan! Lulus! Apa ibu bilang... Mending kita liat pengumumannya langsung di sini ketimbang nunggu besok di-update* online. Ibu gak sabar,” ucap ibunya.


“Gak sia-sia ‘kan belajarnya? Anak ayah keren pokoknya. Minggu depan baru daftar ulang. Sekarang kita makan siang di luar. Ayo—ayo... Panas banget,” kata ayahnya menutupi kepala Mima dan ibunya dengan telapak tangan.


Berempat mereka beriringan meninggalkan sekolah itu. Dul melambatkan langkahnya. Menatap ayahnya terus memegangi kepala Mima dan ibunya dengan telapak tangan seolah matahari tak akan berani menyengat jika dihalangi dengan jemari.


Di usianya yang sebentar lagi menginjak 13 tahun, Dul telah membulatkan tekadnya. Tak akan mengecewakan pria yang telah menjadi ayah sekaligus temannya. Dan tak akan membuat sedih wanita yang telah bersedia melahirkannya ke dunia dan bertarung mencari nafkah demi membeli susu dulunya.


Dul memasuki mobil dan duduk di sebelah Mima yang sedang menyodorkan sebungkus snack padanya.


“Mas, cepet masuk! Di luar panas,” pekik Mima. “Ini buat Mas satu, aku satu.” Mima nyengir memperlihatkan seluruh giginya.


“Sayang Mas nggak?” tanya Dul pada adiknya.


“Kalo nggak sayang, nggak aku kasi jajanan.” Mima tersenyum sombong. Dul langsung mencubit sayang pipi adiknya.


Ayah dan ibu mereka tertawa mendengar perkataan Mima. Dan ibunya menoleh ke belakang, dengan mulut penuh berisi makanan sambil menyodorkan sebungkus snack juga pada mereka di belakang.


...PENGAKUAN DIJAH...


...TAMAT...


...Dengan ini juskelapa menjamin bahwa tiap adegan serta plot adalah murni hasil pemikiran sendiri. Jika ada kesamaan dengan karya tulis lain dan ingin memberi informasi bisa hubungi juskelapa lewat private chat atau akun instagram @juskelapa_...


...Mauliate Godang...


...Jakarta Timur, Minggu 25 Juli 2021...


...© copyright juskelapa...


...Novel PENGAKUAN DIJAH kalau bisa jangan diunfavorite dulu ya... Jangan dikeluarkan dari rak karena untuk next novel spin off bakal juskelapa umumkan lewat bab terakhir nantinya....


...Karena juskelapa jarang cuap-cuap panjang lebar di akhir part, ucapan terima kasih juskelapa ada di part berikutnya....

__ADS_1


...Langsung scroll :*...


__ADS_2