PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
68. Cerita Cemburu


__ADS_3

Bara sore itu baru saja keluar dari sebuah restoran bersama Heru. Mereka berdua baru saja usai berbincang dan bersantap santai bersama AKBP Heryadi. Meski masih diliputi rasa penasaran karena polisi itu tampaknya masih menyimpan rahasia penyelidikannya, tapi Bara puas. Fredy sebentar lagi tak akan bisa bergentayangan di sekitar Dijah.


"Kamu balik ke kantor, 'kan?" tanya Heru pada Bara.


"Aku mau ke kampus minta tanda tangan dosen. Masih kurang satu lagi. Awal bulan depan aku meja hijau. Gak apa-apa kan?" tanya Bara.


"Oh ya udah, aku balik ke kantor ya..." Heru melambaikan tangannya kemudian berjalan menuju mobil. Bara langsung bergegas masuk ke mobilnya. Motornya masih berada di bengkel untuk dikembalikan ke bentuk asalnya.


Bara sudah melajukan mobilnya ke arah kampus, saat ponselnya bergetar dan ia melihat nama Dona di layar.


"Ya Don?" sahut Bara.


"Mas, ada anak kecil yang nyariin ke Polsek. Katanya namanya Dul. Sumber berita ya? Berita apa? Biar aku aja yang ambil," ujar Dona. Seorang pria muda wartawan kriminal pengganti Bara di Polsek itu. Nama lengkapnya Maradona. Mungkin orangtuanya berharap dia bisa menjadi seorang pesepakbola nantinya.


"Bukan--bukan. Bukan berita. Ya udah aku mampir ke sana sebentar," tukas Bara kemudian memutar mobilnya ke arah Polsek.


"Jadi siapa?" tanya Dona lagi.


"Mau tau aja. Sekarang Dul-nya mana?" tanya Bara.


"Udah pulang. Kayaknya rumahnya deket."


"Iya, entar aku ke sana." Bara terus melajukan mobilnya menuju Polsek. Sungguh ia penasaran kenapa Dul sampai mencarinya. Adakah sesuatu yang ingin disampaikan bocah itu soal ibunya.


"Mas!" panggil Dona saat Bara baru tiba.


"Apa? Dateng lagi Dul-nya? Mana?" tanya Bara mematikan mesin mobil dan segera turun.


"Bukan, itu..." Dona menoleh ke arah Joana yang berdiri bersandar di belakang mobil sedan hitam.


"Eh Jo!" seru Bara. Joana yang tadi menunduk memandang ponselnya berjalan mendekati mobil Bara. Halaman Polsek itu luas. Joana berjalan melintasi halaman Polsek dengan langkah anggunnya.


Kehadiran Joana dengan sedan hitam yang mentereng dan penampilan rapinya membuat beberapa pria yang berprofesi sama dengan Bara menoleh lama pada wanita itu.


"Udah sembuh?" tanya Joana.


"Udah lama kok," sahut Bara. Sedetik menjawab pertanyaan Joana itu, ponsel di kantong Bara bergetar. Ia melihat nama Dijah tertera di layar. Sedikit berjalan menjauhi Joana, Bara kembali menuju mobilnya menjawab telepon itu.


Nada suara Dijah terdengar bingung. Dijah mengadu soal penggusuran pondok wanita tua yang selama ini menjadi karibnya. Menghubungi Dijah akhir-akhir ini begitu sulit.


Bara ingin mengambil kesempatan itu untuk bertemu kekasihnya. Setelah memaksa ingin menjemput wanita itu tak berhasil, Bara harus pasrah menunggu Dijah di Polsek itu.


Setelah percakapannya berakhir, Joana berjalan mendekat ke arah Bara.


"Ada apa?" tanya Bara. Ia berharap Joana tak ada keperluan lama di sana. Sebentar lagi Dijah mungkin akan sampai di Polsek itu.


"Aku denger kamu luka-luka itu karena digebukin ama mantan suami pacar kamu. Gitu Ra?" Joana menyilangkan tangannya di depan dada. Wanita itu seakan lupa bahwa Bara bukan mahasiswanya di kelas.


"Siapa yang bilang?" Bara penasaran siapa yang menyampaikan berita soal itu. Apakah ibunya?

__ADS_1


"Gak perlu ada yang bilang. Semua orang ngomongin kamu tanpa setau kamu. Siapa yang gak kenal kamu? Orang sekantor kamu juga ada yang jadi muridku. Kantor kamu dirusak juga preman-preman itu nyariin kamu. Sejak kapan kamu ada urusan dengan preman? Dan nyatanya ada hubungannya dengan narasumber kamu," tutur Joana dengan wajah kesal.


"Ya udahlah Jo, aku lagi capek ngomongin itu. Lain kali aja kita sambung lagi." Bara menoleh ke belakang untuk berjaga-jaga kalau Dijah bisa tiba sewaktu-waktu.


"Kamu nggak profesional Ra! Perempuan itu objek penelitian kamu..."


Bara merasa telinganya berdenging panjang saat mendengar Joana yang berlagak seperti pahlawan bagi hidupnya sedang memberikan kuliah panjang.


Bara sudah cukup lelah menghadapi hari-harinya. Belakangan dia sudah merasa cukup jauh dengan Dijah karena masalah ini. Bara merasa Dijah menghindarinya. Tapi Bara memutuskan untuk tidak membahas hal itu pada Dijah. Dia sangat khawatir kalau Dijah semakin terprovokasi untuk mengakhiri hubungan mereka. Bara sadar hal itu. Ia ingin membuat Dijah nyaman dengan hal yang dilakukannya belakangan ini selagi dia sendiri menyelesaikan masalah soal Fredy.


Dan ternyata mendengarkan ucapan Joana tak membuat wanita itu cepat mengakhirinya. Bara sejak tadi hanya menunduk tak ingin menjawab omongan Joana. Tapi saat Joana mengatakan hal soal membayar Dijah, ia sangat tersinggung. Joana tak tahu apa-apa soal Dijah.


"Joana!!" Tanpa sadar Bara sedikit membentak wanita itu. Dan masih belum pulih dengan reaksi keterkejutannya sendiri, Bara kembali terperanjat mendengar suara wanita yang dicari-carinya beberapa hari ini.


"Memangnya Mbak mau membayar jasa saya berapa?" Suara Dijah muncul di belakang Bara.


Jika yang mendengar suara itu orang seperti Joana yang tak mengenal Dijah, maka akan terdengar biasa saja.


Tapi Bara, pernah mengangkat tubuh Dijah dari atas tubuh seorang wanita yang nyaris kalah telak setelah bergumul dengan kekasihnya itu.


Darah Bara berdesir melihat Dijah. Kali ini penyebabnya lain. Dia khawatir Dijah terpancing dengan omongan Joana dan berakhir dengan menggumul wanita itu di halaman Polsek. Bara menutup matanya sedetik dan menggeleng. Amit-amit pikirnya. Bisa-bisa besok dia yang masuk kolom surat kabar seribuan dengan headline 'SEORANG JANDA BERGELUT DENGAN SEORANG DOSEN KARENA MEMPEREBUTKAN LAKI-LAKI'.


Semua orang pasti tahu soal headline surat kabar seribuan yang seringnya mengerikan itu. Bara mundur menghampiri Dijah dan memeluk bahunya. Bara sempat melirik beberapa wartawan surat kabar yang masih asyik mengobrol. Belum memperhatikan mereka.


Wajah Joana terlihat bingung dan tak menyangka akan kehadiran Dijah saat itu.


"Maaf Mbak, saya gak ada maksud ngomong jelek soal Mbak. Maaf. Itu hanya pandangan saya sebagai seorang teman pada Bara. Maaf kalau Mbak Dijah tersinggung. Tapi saya memang gak ada maksud merendahkan." Joana dengan cepat mengoreksi kata-katanya.


"Kalau Mbak perlu saya sebagai narasumber, saya bersedia kok. Gratis. Saya cari nafkahnya gak dari situ. Jadi Mbak nggak usah kuatir. Lagian, kalau Bara suka sama saya, trus saya suka juga. Itu salah? Letak salah saya di mana?" tanya Dijah dengan ketenangan yang semakin membuat Bara gelisah.


"Enggak, gak salah. Maaf saya kelewatan. Memang nggak seharusnya saya mencampuri urusan pribadi Bara dan Mbak Dijah. Kalau maaf saya sudah diterima, saya mau permisi dulu." Joana tersenyum kaku ke arah Dijah.


"Iya--iya, udah. Gak apa-apa kok. Dari sini mau ke mana lagi Jo?" tanya Bara yang berusaha mencairkan suasana.


"Dari sini mau langsung pulang. Tadi aku memang kebetulan lewat sini aja, jadi sekalian mampir. Trus aku tanya, ternyata kamu udah gak nongkrong di sini."


"Iya, aku hari ini memang kebetulan aja ada keperluan ke sini. Aku kebanyakan di kantor nyunting berita."


Joana dan Bara sedang melakukan percakapan yang berisi penjelasan untuk Dijah. Bara berusaha menekankan bahwa ia dan Joana tak memiliki janji sebelumnya untuk bertemu di sana.


Dengan senyum kaku dan langkah kaki yang diusahakan seanggun mungkin, Joana berjalan kembali ke mobilnya dan pergi berlalu dengan sebuah klakson yang ditujukan pada Bara.


Tak sadar Bara menarik napas lega dan melepaskan rangkulannya pada pundak Dijah.


"Jadi gimana Mbok Jum?" Bara langsung memusatkan pembicaraan pada tujuan Dijah datang menemuinya.


"Aku perlu ngomong sesuatu yang penting sama kamu," tukas Dijah.


Perasaan Bara langsung tak enak saat mendengar ucapan kekasihnya. Wajah Dijah berubah muram dan sorot matanya begitu serius.

__ADS_1


"Soal Mbok Jum, aku udah tanya ke temen-temen. Mereka bilang, Mbok Jum pasti berada di panti sosial sekarang. Kita bisa cari sama-sama. Pasti ketemu," potong Bara cepat. Ia tak mau mendengar Dijah berbicara soal hal lain selain Mbok Jum sekarang.


"Iya, makasih. Nanti aku cari Mbok Jum--"


"Kita Jah! Kita bakal cari Mbok Jum sama-sama," sela Bara lagi.


"Gak usah. Kamu denger aku dulu." Dijah memegang lengan Bara dan mengajaknya menepi mendekati mobil pria itu.


"Kita masuk ke mobil aja ya, ngomong di mobil. Jangan berdiri di sini," bujuk Bara memegang lengan kekasihnya.


"Gak usah. Di sini aja. Aku gak bakal lama," ucap Dijah.


"Jangan gitu Dijah..." gumam Bara pelan. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan wanita itu.


"Maaf kalau selama ini aku ngerepotin kamu. Udah nggak tau lagi saking banyaknya. Nggak terhitung. Maaf karena aku, kamu jadi terseret masalah pribadiku. Urusanku soal bapak Dul memang belum selesai kayaknya. Aku gak berani bawa-bawa kamu. Aku rasa, aku gak bisa lagi. Kamu gak boleh lagi datengin aku. Aku gak mau," ucap Dijah menatap mata Bara.


"Jah... Kok jadi kayak gini? Kamu kok gini? Aku udah--" Bara hampir mengatakan apa yang sedang diperbuatnya sekarang. Perkataan Heru seketika melayang dalam pikirannya.


"Aku gak mau Dijah, aku gak mau kamu tinggalin gitu aja. Kita udah banyak--aku sayang kamu. Aku sayang Dul... Kamu kok tega? Kamu tau sendiri, aku tulus. Aku bohong soal kecelakaan itu biar kamu gak khawatir. Gak ada maksud lain."


"Gak usah. Jangan lagi... Aku mau pulang."


"Aku anter ya," ucap Bara menahan lengan kekasihnya.


"Jangan. Aku gak mau. Kalau kamu dateng ke tempatku, aku bakal pindah. Aku yang pergi."


"Jangan--jangan pindah. Di sana banyak temen kamu. Jangan Jah... Ya ampun. Kok jadi gini?" Bara menyisir rambutnya berkali-kali. "Kasi aku kesempatan, sebentar lagi. Sebentar lagi Jah..." Bara tak pernah merasa dirinya sehancur itu hanya karena mendengar rentetan kalimat yang diucapkan seorang wanita padanya.


Bara merasa tak pernah menyakiti wanita manapun di muka bumi ini. Ia tak pernah merasa memberikan harapan palsu pada Joana atau menipu wanita itu sampai ia harus menerima sakit hati dari wanita yang diinginkannya.


"Dijah... Aku sayang kamu. Aku tau kamu begini juga pasti karena sayang aku, 'kan?" tanya Bara.


Dijah menunduk dan menatap sepatu lamanya yang sudah sangat usang.


"Maaf, aku nggak bisa Bara. Jangan bebani pikiranku untuk terus menerus khawatir sama kamu. Aku nggak pernah tenang. Aku takut kamu makin banyak luka-luka karena aku. Jangan, aku nggak mau lagi. Hatiku sakit ngeliatnya." Dijah kembali teringat soal teman Fredy yang tadi ditemuinya. Mereka selalu berada di sekitar sana. Pada siapapun Dijah dekat, mereka pasti tahu.


"Aku pulang ya...." Dijah melepaskan tangan Bara yang masih memegangi lengannya.


"Dijah... Jangan gini. Aku sayang..." ucap Bara lagi. Wajahnya benar-benar pias pucat pasi. Dijah yang susah payah diluluhkannya kini kembali dingin.


"Ya udah aku pulang."


"Aku masih bisa ke tempat kamu, 'kan Jah? Aku masih boleh ngunjungi Dul?" seru Bara pada punggung Dijah yang perlahan menjauhi.


Dijah berbalik sejenak dan tersenyum pada Bara.


"Jangan... Kalau kamu dateng, aku bakal pergi dari sana."


Bara berdiri mematung menatap kepergian Dijah. Wanita itu keluar pagar Polsek dan langsung berbelok lenyap dari pandangan. Bara tak berani mengejarnya. Dijah terlalu kokoh dan nekad.

__ADS_1


"Ya ampun Dijah... Kok jadi gini?" gumam Bara sendirian. Dia sudah hampir menangis.


To Be Continued.....


__ADS_2