PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
46. Khayalan Kekasih


__ADS_3

Dijah berdiri dengan sebuah handuk yang tersampir di bahunya. Tatapannya bertemu canggung dengan Bara yang baru melangkah masuk ke kamar setelah membuka sepatunya.


"Sebelum kamu mandi, aku cium dulu boleh? Aku kangen Jah..." ucap Bara meringis menggaruk puncak kepalanya.


"Tutup pintunyaaaa..." teriak Tini dari kamar sebelah. Bara memejamkan mata sesaat karena kesal dengan jeda suara cempreng barusan. Walau begitu, tangan Bara tak sadar mengikuti perintah Tini.


Dengan tangan kirinya, Bara mengayun pintu di belakangnya sampai menutup rapat.


Gemas dengan reaksi Dijah yang hanya berdiri menatapnya, Bara mendekati wanita itu dan langsung meraup bibirnya.


Dijah yang belum mandi hanya berjinjit dengan kedua tangannya yang refleks memegang lengan Bara.


Dijah yang belum merasa percaya diri mendekati pria itu, melangkah mundur saat Bara semakin mendekat. Bara semakin membenamkan ciumannya pada bibir Dijah dan menarik wanita itu agar mendekat padanya.


Konsentrasi Dijah terpecah antara menikmati ciuman Bara dan mempertahankan dirinya agar tak terlalu dekat dengan pria itu.


Bara membawa tubuh mereka berdua menuju tepi ranjang dan duduk di sana. Sedangkan Dijah yang tak berani mendekati Bara hanya menunduk dan akhirnya berlutut di depan pria itu.


Nafas Bara mulai terengah dan tangan Dijah yang tadi memegangi lengan pacarnya perlahan turun. Kedua tangannya kini bertumpu pada lutut Bara. Dijah berlutut di antara kedua kaki Bara yang masih menunduk menyesap bibirnya dengan rakus.


Tak ada jeda. Dijah mulai lupa bahwa ia menghindari Bara tadi karena belum mandi. Kedua tangannya yang berada di lutut Bara perlahan mengusap paha pria itu. Bara terkesiap. Ia merasakan gelenyar aneh akan tangan Dijah yang setengah menggaruk pahanya. Seperti bukan Dijah yang biasa pikirnya.


Bara sedikit gugup dengan kenikmatan mencium wanita yang sudah beberapa hari tak ditemuinya dan gerakan tangan Dijah yang menbuatnya was-was. Bara sebenarnya tak mempermasalahkan hal itu, ia malah senang.


Bara hanya perlu tahu apakah ia perlu bersiap untuk membantu Dijah melepaskan kancing jeans-nya atau tidak. Bara ingin menyalahkan pikiran kotornya karena mendengar ucapan Tini barusan. Meski kecil sekali kemungkinannya, tapi ia masih berharap bahwa Dijah ingin mempraktekkan apa yang dikatakan temannya tadi.


Bara mendengar Dijah bergumam dan mendesah. Matanya masih tertutup dan Bara melihat bintik halus menghiasi hidung mungil wanita itu. Dijah masih terhanyut sampai tak sadar dengan gerakan tangannya pikir Bara.


Ciuman mereka masih saling menyambut cukup lama. Tangan Dijah sudah mengusap paha Bara berkali-kali. Bara semakin gelisah. Sampai pada akhirnya Bara menarik satu tangan Dijah dan meletakkannya di atas bagian tubuhnya yang sudah bersiap sejak tadi.


Dijah terperanjat dan membuka matanya menatap Bara. Tatapan mereka bertemu. Dan Dijah menunduk memandang tangan kanannya yang sedang memegang sesuatu di balik jeans Bara. Dijah menarik tangannya canggung. Ia kemudian mengatupkan mulutnya.


"Ini bukan kayak yang dibilang Tini tadi," ucap Bara tergesa setengah berbisik. Ia langsung menyesali apa yang dikatakannya barusan. Secara tak langsung ia mengatakan ia sedang mempraktekkan obrolan ketiga wanita tadi.

__ADS_1


"Aku bau, belum mandi sore. Aku mandi dulu," ujar Dijah kemudian bangkit. Lututnya terasa kebas karena ia lumayan lama berlutut di lantai karena menikmati ciuman Bara.


Sepeninggal Dijah dari kamar itu, Bara langsung bergumam, "aduh..."


"Gimana Mas Bara? Aku udah bisa pesen stiker motornya belom?" seru Tini dari kamar sebelah.


"Awas aja kalo kamu berani..." sahut Bara mendongkol.


"Oh belom berhasil kalo gitu..." Tini kemudian terkikik.


Bara kemudian beranjak menuju sudut kamar dan membuka lemari pakaian dua pintu berwarna coklat milik Dijah itu.


Tanpa bermaksud lancang, Bara menganggap hal yang dilakukannya itu adalah hal paling mudah untuk memberikan Dijah uang sedikit demi sedikit tanpa disadari perempuan itu. Dijah akan kembali cukup lama karena kebiasaan keramasnya.


Pandangan Bara tertuju pada sebuah dompet kain panjang yang terletak di antara dua baris pakaian. Tangan Bara langsung meraih dompet itu dan membuka resletingnya. Di sana Bara melihat barisan uang pecahan 100 ribu, 50 ribu, sampai pecahan terkecil 10 ribu rupiah. Bara tahu itu adalah tabungan Dijah.


Sejak awal Bara selalu memperhatikan Dijah yang selalu merapikan uangnya dan meletakkannya ke dalam dompet itu. Bara segera mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang pecahan 100 ribu sebanyak tiga lembar, kemudian Bara juga meletakkan uang pecahan 50 ribu sebanyak enam lembar.


Dijah yang baru tiba di kamar mandi sedikit menyesal karena tadi berlama-lama mendengar ceramah Tini. Kalau saja ia tadi mandi sore lebih awal, mungkin saja dia lebih percaya diri mendekat pada Bara yang meski sudah sore tapi tampilannya masih begitu segar.


Sesaat berada di kamar mandi dan melepaskan pakaiannya, pikiran Dijah terus berkelana soal benda yang beberapa detik sempat disentuhnya tadi. Cepat-cepat ia mengguyurkan bergayung-gayung air dingin membasahi kepalanya.


Matahari sudah menghilang dari langit, tapi Dijah merasa semakin gerah karena bayangan di kepalanya. Setelah membersihkan tiap sudut tubuhnya Dijah kembali menyiram kepalanya dengan air dingin dari bak. Saat selesai mandi dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk, Dijah baru menyadari bahwa ia tak membawa pakaian ganti.


Saat kembali masuk ke kamar, Bara langsung mendongak menatap Dijah. Mengalihkan pandangan dari ponsel yang sejak tadi ditekuninya.


"Aku mau pakai baju, lupa bawa ganti tadi." Dijah berjalan ke sudut kamarnya menuju lemari.


"Ya udah, aku gak liat. Pake baju aja," ujar Bara berpura-pura kembali mengalihkan pandangannya ke arah ponsel. Bayangan Dijah yang sedang membuka pintu lemari di sisi kanannya tentu saja terlihat jelas.


Saat mengingat peristiwa Minggu lalu, Bara sebenarnya memiliki pertanyaan penting yang harus ditanyakannya pada Dijah. Tapi melihat Dijah begitu santai, ia menjadi sungkan dan khawatir dianggap terlalu lancang.


Bara mencoba memusatkan konsentrasinya pada ponselnya. Ia membuka tutup aplikasi pesan yang sudah dibacanya semua. Mata jahatnya melirik pada Dijah yang sedang sibuk mempertahankan handuknya saat mengenakan pakaian dalam bawahnya.

__ADS_1


Handuknya terlepas dan Bara bisa melihat jelas Dijah yang membungkuk memungut handuk itu. Meski penampakan itu dari samping, pintu lemari tak cukup besar untuk menutupi dada wanita itu yang belum terbungkus. Bara seketika merasa tubuhnya meriang.


Bara meletakkan punggung tangan ke pipinya yang terasa memanas. Ia ingin mengajak Dijah keluar untuk makan malam. Tapi sebelum berangkat, ia ingin mencium wanita itu sekali lagi.


Berada di kamar itu setelah Dijah mandi ternyata sangat membuatnya tersiksa.


"Jah..." panggil Bara.


"Hmmm..." sahut Dijah dari balik lemari.


"Entar malem kita makan di luar ya," ucap Bara. Ia khawatir Dijah akan mengenakan dasternya.


"Oh... Iya," jawab Dijah masih berdiri memilih-milih pakaiannya yang nyaris sama semua itu.


Dijah menimbang-nimbang sebuah bra yang akan digunakannya. Biasanya yang manapun tak masalah karena tak ada yang melihat. Tapi sejak seorang pria berani membuka pakaiannya, rasa malu itu muncul.


Dijah mulai merasa malu dan rikuh saat berdampingan dengan Bara yang selalu rapi dan wangi. Saat sedang berpikir-pikir mengenakan salah satu bra yang paling lumayan di antara beberapa yang dimilikinya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan Bara yang telah berdiri di sebelahnya.


"Ngagetin aja, ckk" Dijah berdecak.


"Marah?" kata Bara dari balik pintu lemarinya.


"Kaget..."


Dijah menyembunyikan pakaian dalam usangnya ke belakang tumpukan pakaian. Yang mana pakaian dalam tadi telah dilihat oleh Bara sebelumnya.


"Sebelum pergi..." ucap Bara menutup pintu lemari yang berada di depannya. Dijah berdiri terbengong dengan setengah handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. Ia belum sempat mengenakan branya dan mata Bara kini sedang berpiknik di dadanya yang belum terbungkus.


To Be Continued.....


Makasi vote vouchernya yang bikin Mbok Jus masuk ranking ya.... XD


Salam sayang dari Mas-nya :*

__ADS_1


__ADS_2