PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
88. Harapan dan Hukuman


__ADS_3

Bara agak terlambat masuk kantor pagi itu. Ia menceritakan versi ringan soal merenovasi rumah pemberian Eyang pada ibunya.


Bu Yanti sedikit mengernyit ketika menyadari bahwa Bara memang berniat keluar dari rumah sejak hari pertama menikahi Dijah. Di samping merasa hal yang dikatakan Bara itu wajar, Bu Yanti hanya mengkhawatirkan soal rumah yang akan semakin sepi.


“Ajak Sukma pindah ke rumah lagi Bu ... Rico 'kan sering ke luar kota.” Bara melimpahkan penyelesaian masalah itu pada adiknya.


Yang awalnya dikira Bara sang ibu bakal keberatan, ternyata tidak. Sepertinya Bu Yanti juga mengerti bahwa Bara menginginkan sebuah privasi untuk memulai kehidupan barunya.


Apalagi menilik permasalahan yang sering terjadi antara mertua perempuan dan menantu perempuannya, keputusan Bara memang ada baiknya pikir Bu Yanti. Ia tahu Bara sedang mencegah hubungan kaku antara ibu dan istrinya di awal pernikahan. Terlebih saat ini Bara masih menganggap bahwa ia hanya mengantongi setengah izin dari ibunya.


Siang menjelang sore itu, Bara sedang bersama Mas Heru di pengadilan. Agenda sidang hari itu adalah pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum.


Kasus Fredy ternyata sangat menghebohkan para tetangga di rukonya karena kebanyakan mereka tak menyangka ada pabrik sabu-sabu yang beroperasi di tengah lingkungan ramai. Enam terdakwa yang hadir hari itu diancam pasal berlapis. Terutama Fredy.


Jaksa Penuntut Umum menyebutkan bahwa terdakwa didakwa pasal berlapis dengan ancaman hukuman pidana seumur hidup. Hal itu juga masih berupa tuntutan, belum putusan. Bara merasa belum bisa menarik nafas lega.


Bara sebisa mungkin tak menonjolkan diri di sidang itu. AKBP Heryadi mengatakan, bisa saja sindikat Fredy lainnya masih berkeliaran dan pria itu memerintahkan sesuatu yang buruk mengingat ia merupakan sosok yang pendendam.


“Gimana? Puas?” tanya Heru saat mereka keluar dari pengadilan menuju parkiran mobil.


“Puas apanya?” tanya Bara.


“Hukuman Fredy. Jadi puas apa coba?”


Bara nyengir. “Puas gimana yah—kalo bisa gak usah keluar lagi. Manusia kok kayak gitu,” sungut Bara.


“Soal sidang ini, nggak usah disampein ke Dijah. Bakal ngerusak suasana. Mau kawin 'kan? Eh, nikah?” Heru tersenyum jahil.


Bara melirik sinis kakak sepupunya. “Eh tapi itu 'kan masih tuntutan Jaksa. Belum agenda tanggapan terdakwa. Selama belum putusan, aku belum tenang.” Bara masuk ke mobilnya dan duduk di belakang setir.


“Tapi hukumannya pasti berat Ra, ada lima pasal undang-undang narkotika yang dikenakan di kasus mereka. Lain lagi pasal kekerasan. Lumayan aman. Kalo dia keluar nanti, pastinya udah kakek-kakek. Kang Mas Bara masih seger ....” Heru menonjok pelan lengan Bara.


“Seger—seger ...” sungut Bara. “Mas mau ke mana? Aku mau jemput Dijah di Rumah Aman. Aku anter ke kantor aja ya,” tawar Bara.


“Dari Rumah Aman mau ke mana?” tanya Heru yang sore itu merasa tak ada hal yang harus diselesaikannya lagi di kantor.


“Mau ke kos-kosan Dijah. Ngambil sedikit barang-barangnya.”


“Aku ikut—aku ikut.” Heru menepuk-nepuk lengan Bara agar adik sepupunya itu tak mengarahkan mobilnya ke kantor.


“Ngapain ikut sih? Udah, ke kantor aja. Cuma ke kos-kosan aja kok malah ngekor.” Bara mengomeli Heru.


“Seru, aku suka. Aku lagi butuh hiburan. Kayaknya tinggal di sana seru ya ...” tambah Heru.


“Entar aku bilang ke istri Mas, biar kalian pindah ke sana aja. Biar seru,” tukas Bara kemudian tertawa.


Bara yang merasa sudah lebih mengenali kos-kosan itu tak sepenuhnya menganggap hidup di sana bisa dengan gampang dilabeli kata seru. Sehari dua hari mungkin seru. Tapi seminggu di sana, Bara yang tak pernah bisa tidur jika ada suara berisik pasti menyerah di hari ketiga. Apalagi Heru. Dia tahu benar seperfeksionis apa laki-laki itu. Pria yang sejak kecil lebih banyak menghabiskan waktu bersama Eyang mereka dengan berbahasa Jawa kromo dan ngoko pasti akan makan hati jika setiap hari harus berdialog bersama Tini.


“Ke kantor aja deh,” bujuk Bara. Ia sudah membayangkan yang tidak-tidak kalau Heru sampai ikut ke kos-kosan. Sekali saja sudah cukup waktu itu. “Mobil Mas 'kan ada di kantor.” Bara merasa menang. Heru pasti mengalah pikirnya.


“Eh kamu nganter Dijah 'kan ke rumah yang baru, deket rumahku. Jarak satu blok. Nanti anter aku langsung pulang. Mobil aman. Ayo langsung ke Rumah Aman aja. Khawatir banget nggak bisa berduaan ama Dijah. Sabaaar ... entar lagi bisa kawin terus.” Heru tertawa kemudian membesarkan volume radio dan ikut berdendang menyanyikan Dusk Till Dawn – Zayn, Sia.


Saat berdendang lirik lagu itu, Heru menoleh dan mencolek Bara berkali-kali. Merasa tersindir dengan nyanyian Heru, Bara menepis sebal tangan kakak sepupunya. Semua orang sedang mengolok-oloknya hari ini karena tak sabar ingin menikahi Dijah.


Dalam sekejab saja, grup chat keluarga sudah heboh karena Sukma langsung gonjang-ganjing mengabarkan ‘Mas bara kebelet kawin’. Mau kesal pada adiknya, tapi perasaan bahagia Bara mengalahkan rasa kesal itu.

__ADS_1


'Cause I wanna touch you baby


And I wanna feel you too


I wanna see the sun rise


On your sins just me and you


Light it up, on the run


Let's make love tonight


Make it up, fall in love


Try


(Baby, I'm right here)


*Karena aku ingin menyentuhmu sayang


Aku ingin merasakanmu juga


Aku ingin melihat matahari terbit


Atas dosa-dosamu, hanya kau dan aku.


Nyalakan dalam pelarian


Ayo bercinta malam ini


Lakukan aja, jatuh cinta


Dijah sudah selesai memasukkan sedikit pakaiannya ke dalam tas kain dan sedang duduk di tepi ranjang melihat-lihat foto di dalam amplop coklat yang dibawakan Pak Wirya padanya.


Bu Widya masuk ke kamar dengan selembar kertas dan pena di tangannya.


“Tanda tangani ini dulu,” pinta Bu Widya menyodorkan kertas dan pena.


Dijah mengambil kertas itu dan menandatanganinya beralaskan amplop coklat.


“Semoga ini kali terakhir kita ketemu dalam keadaan begini ya Jah ... Kamu nggak perlu malu karena pernah berada di sini. Saya harap selanjutnya kamu hidup tenang dan bahagia. Dan sejauh ini kamu saya anggap sudah pulih. Kamu juga sudah melakukan hal terakhir yang harus kamu lakukan demi menjalani hidup baru. Semoga Bara bisa menjadi sandaran dan teman berkeluh-kesah yang baik.” Bu Widya masih berdiri memandang Dijah.


“Makasih Bu ... Buat saya, datang ke panti rehabilitasi kayak gini bukan hal memalukan. Saya ngerasa punya teman dan bebas mengungkapkan isi kepala saya. Bu Widya benar-benar orang baik,” ucap Dijah.


Bu Widya tersenyum. Bicara Dijah sekarang terdengar lebih lemah lembut. Tak bisa dipungkiri, lingkungan memang sangat membawa pengaruh besar terhadap perilaku dan kondisi kejiwaan seseorang.


Dukungan Bara yang tak henti-hentinya pada Dijah membuat rasa percaya diri wanita itu tumbuh perlahan. Bara membuat Dijah merasa berharga dan layak dicintai. Pak Wirya memang berhasil memberi pengertian pada anaknya soal itu.


Bu Widya mengantarkan Dijah sampai ke pagar besi. Bara yang melihat Dijah menyongsong mobil dengan sebuah tas dan satu pot tanaman kecil di tangannya, langsung turun untuk mengambil tas dan membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.


Setelah mengucapkan ungkapan terimakasih penuh kesopanan, Bara menjabat tangan Bu Widya dan mengangguk kecil.


“Selamat menempuh hidup baru ...” kata Bu Widya.


Mungkin bagi orang lain, itu hanya sekedar kata-kata ucapan selamat bagi pasangan pengantin baru biasa. Tapi bagi Bara hal itu sangat berarti mendalam. Ia mengerti arti tatapan Bu Widya. Wanita itu telah mendukung Dijah secara moril selama ini. Bara sangat berterimakasih untuk itu. Karena Bu Widya, Bara tak kehilangan ‘Dijah-nya’.

__ADS_1


“Hai Dijah ... Aku ikut ke kos-kosan ya,” kata Heru saat Dijah baru duduk.


“Ikut ke kandang ayam?” tanya Dijah melirik Bara.


“Kok kandang ayam?” Heru menoleh ke belakang.


“Sebutannya kos kandang ayam. Jadi mau ikut ke kandang ayam gak? Kalo gak jadi aku turunin di sini aja, pulang naik taksi.” Bara mengangkat alis melirik Heru.


“Eitss ... Ikut dong. Seru pasti,” sahut Heru.


Orang kaya memang aneh pikir Dijah. Entah apa yang dimaksud mereka dengan arti kata seru.


Apa drama mengenaskan dan perkataan-perkataan tak lazim di kos-kosan itu bisa dikategorikan sebagai suatu keseruan?


Seru... batin Dijah. Ia mengingat-ingat hal seru apa yang pernah ia lakukan bersama anak kos kandang ayam selama ini.


Mereka pernah membeli nasi bungkus dengan meminta tambahan nasi putih sebanyak-banyaknya supaya bisa dibagi dua. Untuk siang dan malam. Terdengar miskin sekali. Tapi bagi Dijah itu memang seru. Seru menahan lapar karena lambung tak terisi penuh.


*****


“Asik nyeritain oraaaaang aja kerja kelen!” seru Mak Robin sambil mencampakkan sebuah kursi plastik ke sebelah Boy dan langsung duduk. Boy mengusap dadanya karena terkejut.


“Ketimbang kelen berapi-api kali menceritakan yang gak kelen sukak, bagos kelen nyeritain yang Kelen sukak ajalah!”


Mak Robin muncul dengan nasehatnya menyela percakapan Tini, Boy dan Asti.


“Ini bukan ngomongin kejelekan orang lain panjang lebar. Cuma review aja. Dikit,” kata Tini sambil mengikir kuku tangannya.


“Makanya As... Jangan pacaran sebentar langsung kau bawa ke rumah. Kau kenalkan sama mamak kau. Sekalinya putus, tau orang semua. Pelan-pelan aja lah! Sikit-sikit bawa laki-laki ke rumah, sikit-sikit bawa laki-laki. Santai aja kau, masih muda!” Mak Robin melipat kakinya ke atas kursi.


“Ketimbang Boy Mak! Gak pernah bawa siapa-siapa ke rumah. Sekalinya bawa, yang dibawa laki-laki!” Tini tertawa terbahak-bahak sendirian tanpa perasaan.


“Matamu!” Boy menendang kursi Tini.


“Jadi Mbak Tini sementara gak kerja?” tanya Asti kemudian. “Interview kemarin gimana?”


“Belum ada kabar. Biarin aja. Itung-itung aku istirahat. Heran liat orang lain... Kerja-kerja-kerja trus sukses, kaya. Aku kerja-kerja-kerja, trus tipes. Sebel sama orang kaya!” sungut Tini.


“Kok sebel pulak kau? Kau miskin pun bukan karena salah orang itu. Pinjam gunting kuku kau itu dulu!” Mak Robin merampas jepitan kuku dari tangan Tini.


“Eh Mbak Dijah!!” seru Asti melihat ke arah pagar. Dijah datang diapit dua pria tampan berpakaian rapi.


“Ya ampun ... Mas Heru. Ternyata Mas Heru itu lebih dari yang aku bayangin,” gumam Tini terpana.


“Apa pulak yang kau bayangkan soal dia?” tanya Mak Robin ikut menatap ke arah Dijah.


“Aku masuk dulu.” Tini bangkit dari kursinya dan berlari ke dalam kamar.


“Ngapain woi?” seru Boy.


“Pake bulu mata!” pekik Tini dari dalam kamar.


To Be Continued.....


Warna seragam nikahan Bara warna biru BCA ya... Bukan biru Frozen atau biru wardah.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar serunya biar pop njus makin naik.


Pendukung Barjah memang luar biasa.


__ADS_2