PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
93. Syair Syahdu


__ADS_3

“Ayah ... Hari ini Mas mohon restu untuk menikahi Dijah. Mas minta maaf kalau selama Mas menjadi anak dan menjadi kakak untuk Sukma, Mas masih sering mengecewakan dan masih banyak kekurangan. Mas janji, ke depannya Mas akan menjadi anak yang berbakti untuk Ayah-Ibu, suami yang baik untuk Dijah dan ayah yang baik untuk anak-anak kami nanti. Terimakasih sudah membawa Dijah kembali untuk Mas. Jasa dan figur Ayah nggak akan bisa digantikan oleh siapapun dalam hati Mas. Buat Mas, Ayah akan selalu menjadi pahlawan. Sehat-sehat selalu Yah ....” Bara mengecup punggung tangan Pak Wirya. Pak Wirya menunduk dan menepuk-nepuk bahu putra sulungnya.


Akhirnya, tiba hari di mana Pak Wirya harus melepas Bara sebagai seorang laki-laki dewasa yang akan menyongsong masa depannya. Bara akan menjalani pilihan hidupnya. Bara tampak semakin dewasa hari ini, batin Pak Wirya.


Bara menggeser tubuhnya ke samping dan meraih tangan mungil yang sejak tadi tergenggam di atas kebaya dan kain batiknya.


“Ibu ...” panggil Bara. Bu Yanti mengangguk dalam dengan mata yang sudah dipenuhi air mata. Tangannya langsung menggenggam tangan putranya.


“Makasih ya Bu, karena udah mau terima Dijah sebagai menantu. Terimakasih atas kasih sayang dan dukungan yang selalu Ibu berikan untuk Mas. Sampai Mas bisa menjadi seperti sekarang. Restui Mas sepenuhnya Bu ... Mas akan buktikan kalau pilihan Mas nggak salah. Maafkan kalau Mas sering menyusahkan hati dan pikiran Ibu dengan tingkah Mas ...” Bara meneteskan air matanya pada punggung tangan ibu yang sedang di genggamnya. Bu Yanti menelan ludah dengan susah payah karena isaknya. Ia hanya mengangguk-angguk pelan menyimak tiap perkataan Bara yang terdengar bak syair yang sangat merdu pagi itu.


“Mas sayang Ibu ... selalu. Bagi Mas, Ibu akan selalu berada di urutan paling atas. Kapan aja Ibu butuh Mas, Ibu panggil, Mas pasti dateng. Mas tetep anak Ibu meski Mas nggak bisa liat Ibu tiap saat. Sayangi Dijah seperti Ibu sayang ke Mas ya ... Setelah Dijah jadi istri Mas, Dijah anak Ibu juga. Sayangi anak-anak Mas, sayangi anak Dijah meski dia bukan anak Mas. Mas berhutang seumur hidup sama Ibu ....” Bara kembali menangis. Ia memang bukan laki-laki jagoan yang tak pernah mengeluarkan air mata. Hatinya mudah sekali tersentuh. Apalagi jika menyangkut soal orang-orang yang disayanginya.


Bu Yanti memegang kedua sisi wajah putranya yang tampan.


“Mas udah ganteng, sebentar lagi kita berangkat dan Mas bakal jadi suami seseorang. Ibu restui langkah Mas menuju kehidupan baru. Kita sudah sampai pada hari ini. Yang bisa Ibu lakukan adalah tetap mengiringi dan melihat langkah Mas dari jauh. Ibu juga mau ngeliat Mas bahagia sampai di tujuan Mas. Ibu juga sayang Mas Bara. Buat Ibu, Mas tetap anak laki-laki kecil Ibu. Jadi suami dan ayah yang baik ya Mas ... Sering-sering dateng jengukin Ayah-Ibu. Kita berangkat sekarang Mas?” Bu Yanti menyeka air matanya dengan selipatan tisu yang baru disodorkan Sukma.


“Mas ganteng banget,” ujar Sukma. “Baik-baik sama mbak Dijah ya ... aku juga sayang Mas. Jangan manja banget sama mbak Dijah. Kasian kalo perempuan lagi capek tapi suaminya ngerepotin.” Sukma menotolkan tisu ke wajah Bara untuk mengelap sisa air mata.


“Aku nggak gitu kok,” sahut Bara. “Makasi ya ...” ucap Bara pada Sukma yang kemudian menjejalkan sisa tisu ke tangan kakaknya seraya menarik tangan itu untuk disalim.


“Ayo berangkat, udah nggak sabar malem 'kan?” ujar Sukma tertawa. Bu Yanti hanya tersenyum tipis masih mengusapkan tisu ke tiap sudut matanya.

__ADS_1


Mobil Bara tiba di tempat acara. Waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi saat Bara melangkahkan kakinya turun dari mobil. Hari itu, Pak Wirya menjadi supir bagi anak laki-lakinya lagi. Kali ini ia mengantarkan bocah laki-laki yang kini sudah dewasa menemui wanita yang sesaat lagi menjadi istrinya.


Tempat itu penuh bunga putih. Meski bukan di gedung megah, tapi tempat itu berubah menjadi sangat syahdu. Bunga segar yang baru dirangkai pagi hari menebar aroma wangi yang terbawa angin. Bara terkesima. Ibu memang luar biasa pikirnya. Ia menoleh ke belakang untuk sekilas menatap Ibu yang berjalan perlahan menggandeng lengan ayahnya. Sehat-sehatlah kalian sampai aku bisa memberikan cucu yang bisa ditimang, ucap Bara dalam hati.


Paduan bunga bakung, hidrangea dan daun pinang terjalin indah pada tiap sudut tiang tenda. Dedaunan yang dibuat merambat dan terjulur membingkai tenda membuatnya tampak seperti kain jendela.


Para tamu sudah banyak yang hadir. Bara tak tahu dari mana asalnya ide soal seragam biru itu. Apa mungkin hal itu berkaitan juga dengan sang ibu? Ia tak tahu. Yang ia tahu saat itu hanyalah, kilasan bayangan Dijah dengan kebaya putih yang sejak lama menghantui pikirannya.


Saat sedang sibuk dengan pikirannya, pandangan Bara menangkap setumpuk orang yang mengisi kursi di dekat pagar. Teman-teman kos Dijah. Asti melambai dan Bara mengangguk tersenyum. Tini sedang menunduk berkutat dengan ponselnya. Apa mungkin sekarang sudah mulai membalas pesan-pesan dari Bayu? Bara sedikit meringis.


Keluarga Dijah telah hadir menempati kursi yang berada di sebelah kanan. Kang Supri telah duduk mengisi kursi yang mengapit meja kecil di tengah.


Sedikit celingukan, Bara mencari sosok Dijah. Bahkan setelah duduk di seberang Kang Supri, Bara masih menatap ke arah pintu kamar pengantinnya. Dan Bara masih akan menoleh pada ayahnya saat Dijah muncul di bawah gawang pemisah ruang tamu dan ruang keluarga dengan kebaya putihnya.


Bara merasa tak pernah melihat Dijah secantik itu. Rangkaian melati yang terjuntai di satu sisi rambut Dijah seperti ikut membingkai wajah manisnya. Setelan kebaya pengantin itu sangat sempurna membalut tubuh Dijah.


“Dijah! Sini ...” panggil Bara menepuk kursi di sebelahnya. Sedetik ia lupa bahwa mereka tak sedang berada di halte atau bangku sekolah. Tak ada yang akan menduduki kursi di sebelahnya selain Dijah pagi itu.


Seorang wanita mengantarkan Dijah yang ternyata berjalan sangat perlahan karena kainnya. Biasa melihat Dijah sangat gesit dengan jeans, membuat Bara sedikit tak sabar. Dan akhirnya, detik ke detik yang terasa lama itu bisa menyuguhkan Dijah di sebelah Bara.


Bara melirik Dijah yang menggenggam sebuah buket kecil bunga mawar putih. Kebaya ketat dan pas di tubuh Dijah mengingatkan Bara akan seragam SPG Dijah yang selalu diprotesnya. Sedikit menggigit bibir, Bara mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan calon istrinya. Bara sedikit menunduk untuk melongok Dijah yang sepertinya malu mengangkat wajah. Wanita itu berpura-pura merapikan lipatan kainnya yang sudah sangat rapi.

__ADS_1


Pagi yang merangkak menuju siang mengantarkan Bara dan Dijah beserta seluruh tamu yang hadir ke acara utama. Saat Bara mengucapkan nama lengkap calon istrinya dilengkapi untaian kata, serta merta disambut dengan anggukan dan tepuk tangan sebagian keluarga yang hadir. Mas Heru di antaranya. Pria itu bertepuk tangan paling kencang dan mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya berkali-kali. Itu adalah ucapan selamat sekaligus sindiran bagi Bara.


Bara dan Dijah telah resmi menjadi sepasang suami istri. Bara kembali memakaikan sebentuk cincin yang pernah dikembalikan Dijah ke jari wanita itu.


Bara mengulurkan tangannya. Dijah meraih tangan itu dan mengecupnya lembut.


“Dijah istriku... Aku berharap mulai hari ini kamu nggak akan pernah nangis karena luka apapun. Jadikan aku tempat bersandar dan alamat keluh kesahmu. Aku akan jadi telinga terbaik. Aku sayang kamu, aku sayang Dul. Sekarang kita adalah sebuah keluarga...”


Setelah Dijah mengecup punggung tangannya, Bara memegangi kedua sisi wajah isterinya dan mengecup dahi wanita itu.


“Mas Bara, suamiku... Terimakasih karena tak pernah menjanjikan hal indah dalam bentuk kata-kata padaku dan anakku. Terimakasih karena sudah hadir di tengah-tengah kami sebagai tiang agar kami mampu berdiri tegak. Jangan lepaskan tangan kami. Bawa kami ke manapun Mas pergi. Seumur hidup pengabadianku sebagai istri mungkin takkan cukup membayar semua ketulusanmu. Aku mencintaimu Mas...”


Dijah mendongak penuh air mata menatap mata suaminya. Bara tersenyum.


“Aku juga cinta kamu Jah...” ucap Bara. Ia tak perlu mendengar bait demi bait kata yang terucap dari mulut Dijah untuk mengatakan hal itu. Wajah mereka telah melukiskan semuanya.


To Be Continued.....


Buat yang menanti-nanti Bara mengucapkan nama lengkap Dijah, maaf membuat kecewa. Karena memang belum waktunya.


Aku keep dulu ya...

__ADS_1


Jus masih punya beberapa kejutan syahdu.


Jangan lupa likenya...


__ADS_2