
Bara melajukan mobilnya menuju rumah sakit pemerintah tempat biasa Mbah Wedok Dul dirawat. Keluar masuk rumah sakit itu terasa sudah biasa belakangan ini. Walau ibu Dijah akhir-akhir ini sering dibawa ke sana, tapi tak ada satu pun berita yang seperti mengharuskannya menjenguk saat itu juga.
Saat menerima telepon Kang Supri tadi, Bara merasakan nada kekhawatiran mendalam. Ia tak ingin ibu mertuanya pergi sebelum bertemu dengan Dijah . Sejak melahirkan putri mereka, seringkali Dijah mengeluh akan sikap kakak laki-lakinya. Bercerita bahwa ibunya yang sakit-sakitan dan ingin merawatnya.
“Yang lalu-lalu aku udah ikhlas. Aku nggak mau mikir-mikirin lagi. Kalau Mas ngasi ijin, aku mau bawa ibu ke rumah.” Dijah mengatakan itu saat usia kehamilannya beranjak 9 bulan.
Tentu saja Bara mengizinkannya. Apapun itu, agar Dijah bahagia dan memiliki kenangan indah untuk menghapus kenangan buruk sebelumnya.
Bara melirik Dijah yang masih menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil. Kedua tangannya memeluk Mima yang semakin nyenyak berada di tempat favoritnya. Gendongan jarik batik. Bayi itu seperti memanfaatkan kesempatan digendong sambil dibawa berjalan-jalan. Tidurnya pasti bisa berjam-jam, pikir Bara.
Dijah menatap jalanan di balik kaca mobil. Pandangannya tak fokus. Kadang ia melihat kilatan aspal di luar, kadang pandangannya tumpul terbatas pada kaca mobil yang gelap. Tangannya mengusap kepala Mima dan terkadang berpindah pada punggung bayi itu. Salah satu hartanya yang paling berharga yang ingin ia pamerkan pada sang ibu. Anak perempuannya yang cantik dan berkulit putih sampai pipinya kemerahan. Dijah meyakini kalau Mima adalah cucu ibunya yang paling cantik.
Ingatan Dijah merayap ke masa lalu.
“Hari ini aku anter ke mana kuenya Bu?”
“Kamu anter ke warung yang kemarin. Jangan lupa ambil uangnya,” ucap ibunya.
“Nggak usah warung yang itu Bu... bayarnya suka kurang duitnya. Aku jual keliling aja boleh?” tanya Dijah yang masih kelas 6 SD.
“Ojo Nduk, kamu anak wedok. Nanti ireng kena panas. Ke warung aja, ambil uang yang dikasi. Kurang-kurang sedikit nggak apa-apa. Untuk jajanmu,” ujar ibunya.
“Tapi besok aku nggak bantu bikin kue ya Bu, aku capek... Aku mau ikut main sama temenku. Aku nggak mau di dapur terus.” Dijah merajuk.
“Siapa lagi yang bantu ibu kalau bukan kamu...” jawab ibunya.
Kata-kata yang berfungsi sebagai motivasi sekaligus perangkap bagi Dijah. Motivasi membantu orang tua sekaligus memerangkapnya untuk selalu berbakti meski hampir mati.
Air matanya tak henti mengalir. Dijah sekarang ingin menyesali masa lalu, tapi pikiran warasnya mempertanyakan apakah ia masih bisa bertemu dengan Bara jika tidak melalui itu semua? Sedangkan selama ini ia menganggap bahwa suaminya itu semacam ‘hadiah’ dari Tuhan untuknya.
Pikiran Dijah yang lain mempertanyakan, bolehkah dia bertemu Bara dan tak harus melalui semua penderitaannya di masa lalu?
Layaknya jalanan perkotaan yang menampilkan salah satu sisi kehidupan dengan jujur, rumah sakit pemerintah juga sama halnya. Bermacam manusia ada di sana. Ada pasien, ada sanak yang bertugas menunggui, atau kenalan yang sekedar datang memberi semangat.
Bara berjalan di tengah. Lengan kirinya merangkul pundak Dijah, dan tangan kanannya menggandeng Dul. Ransel yang selalu ia kenakan setiap hari terlihat gagah tersandang di punggung.
Kata Kang Supri barusan, ibu Dijah masih berada di UGD. Kesadarannya pulih dan wanita itu menanyakan soal Dul. Bara mempercepat langkah membawa keluarganya.
__ADS_1
“Ibu—ibu... ini Dul baru nyampe,” ucap istri Kang Supri mengusap lengan ibu mertuanya. Wanita tua itu menggerakkan kepalanya mencari Dul.
“Bu—bu! Ini aku, Dijah!” Dijah langsung menyeruak mendekati ibunya dari sisi kanan.
Bara menggendong Dul dan mendudukkan bocah itu di tepi tempat tidur. Ibu mertuanya terlihat sangat ringkih. Lebih ringkih dan lemah dari yang terakhir kali mereka lihat.
“Dul...” ucap Ibu Dijah.
“Ini Dul,” sahut Bara meraih tangan Dul dan menyatukannya ke dalam genggaman Mbah Wedok.
Seorang dokter jaga melongok ke dalam tirai penyekat. Ia memastikan bahwa pasien yang baru masuk sesaat yang lalu dalam kondisi hilang kesadaran, kini telah stabil. Sambil menarik sedikit kain penyekat, dalam hati sebenarnya ia tak berharap banyak. Riwayat dan komplikasi penyakit pasien membuatnya takjub karena pasien bisa membuka mata dan memperoleh kesadarannya.
“Se-kolah?” tanya Mbah Wedok pada Dul.
“Sekolah Mbah... Dul sekolahnya pagi.” Bara menjawab pertanyaan yang ditujukan pada Dul. Bocah laki-laki itu hanya diam memandang tangannya yang berada dalam genggaman Mbah Wedok.
“Bu—bu!” panggil Dijah lagi. “Ini Mima... Liat Bu,” ucap Dijah mengendurkan kain gendongannya.
Bara membantu mengendurkan simpulan yang tadi dibuatnya. Satu tangannya menangkup tubuh Mima yang sedang digendong Dijah dengan tangan bergetar.
“Mima...” panggil Mbah Wedok.
“Adik Dul...” ucap Mbah Wedok mengerjapkan mata dan menarik senyum tipis. Berusaha mencari fokus penglihatan yang semakin kabur.
“Ibu buka mata dulu... liat Mima...” Dijah kembali menangis. “Cantik ‘kan Bu?” tanya Dijah.
“Cantik....” Genggaman Mbah Wedok dari tangan Dul bergeser dan sedikit terangkat hendak menyentuh Mima yang didekatkan Dijah ke arahnya.
Bara memegangi tangan ibu mertuanya. Menempatkan telapak tangan tua keriput itu di belakang kepala Mima yang sedang menggeliat dan mencecap bibirnya.
“Cepet sehat ya... dari sini langsung ikut ke tempatku. Tinggal tempatku aja ya Bu,” cecar Dijah sambil mengguncang pelan lengan ibunya.
“Dijah...” panggil ibunya.
“Iya, ini aku. Apa Bu? Mau ngomong apa?” tanya Dijah meraih tangan ibunya.
“Saikine awakmu wis nduwe keluwargo sek bahagia, Dul wis nduwe pak sing apik lan iso dadi panutan. Awakmu yo wis nduwe anak wedhok sing ayu, ibu yo wis weruh. Bojomu yo ganteng lan iso ngayomi keluwargo. Ibu saiki wis ayem, sakprene urip sek tak enten-enteni. Ibu ora iso menehi awakmu kesenengan,mergo awakmu dewe sek nemoni kesenengan kuwi. Ngapurone nek ibu urung iso menehi janji. (Sekarang kamu sudah punya keluarga bahagia. Dul sudah punya ayah yang baik dan bisa jadi panutan. Kamu punya anak perempuan yang cantik, yang sudah ibu lihat. Suami kamu juga gagah dan mengayomi keluarga. Ibu sekarang sudah lega dan tenang. Sepanjang hidup, ini yang ibu tunggu-tunggu. Ibu nggak bisa kasi kebahagiaan ke kamu, tapi kamu sendiri yang menemukan kebahagiaan itu. Maafkan kalau ibu belum bisa memenuhi janji.)”
__ADS_1
”Tapi ibu gelem to nginep nang umahku. Anakku yo urung iso ruh wong, koq ibu wis ngene iki. Enteni sedeluk ngkas bu... ben weruh anakku sek ayu iki rodho gedhe sediluk ngkas. Nggendong anakku sediluk ah bu,ojo lungo sek... (Tapi ibu janji mau nginep di rumahku. Anakku juga belum bisa ngenali orang, tapi ibu udah kayak gini. Tunggu sebentar lagi Bu... Liat anakku yang cantik ini besar sedikit lagi. Timang-timang anakku sebentar. Jangan pergi dulu...” Dijah kembali menangis mendengar ucapan lemah ibunya yang terdengar melantur.
Kang Supri terlihat keluar dari balik tirai dan memanggil seorang perawat. Ibu Dijah terlihat kepayahan menarik napasnya. Matanya seperti tak sanggup membuka.
“Dok! Dok!” Terdengar suara perawat memanggil dokter jaga. Tirai disibakkan dan dokter datang dengan stetoskop untuk mengecek detak jantung.
“Panggil—panggil neneknya...” pinta dokter menyentuh bahu Dul sekilas.
Bara menurunkan Dul dari tepi ranjang untuk memudahkan dokter melakukan pemeriksaan.
“Tekanan darahnya terus menurun,” ucap Dokter. “Ayo dipanggil neneknya,” sambung Dokter lagi memberi semangat namun terdengar kosong.
“Mbah! Mbah! Ini Dul! Bangun! Ke rumahku, tidur denganku Mbah!” seru Dul dari sisi ranjang.
“Sebentar lagi Bu—sebentar lagi.... Aku belum mau jadi yatim piatu sekarang Bu...” ratap Dijah. “Ibu baru liat aku seneng sebentar. Jangan sekarang...” isak Dijah.
Kang Supri berdiri mematung. Kakak laki-laki kedua Dijah terlihat mengeluarkan ponsel dan memencet nomor telepon menghubungi adik perempuannya yang lain di negeri Jiran. Semua perempuan yang mengitari ranjang Mbah Wedok sudah menangis.
Bara mengambil Mima dari gendongan Dijah. Satu tangannya yang lain tak henti mengusap punggung Dijah yang menunduk di sebelah kepala ibunya. Bara melihat dokter menarik selimut Mbah Wedok dan menariknya sampai ke batas dada.
“Ayah?!” panggil Dul menarik ujung kemeja Bara.
Bara menunduk menoleh wajah bingung Dul.
“Mbah Wedok?” tanya Dul.
“Mbah Wedok pergi nyusulin Mbah Lanang. Sekarang udah ketemu. Mbah Wedok gak sakit lagi, udah seneng.” Bara meraih tubuh Dul untuk mendekat padanya.
Bocah laki-laki itu tumbuh besar dan banyak menghabiskan waktu dengan neneknya. Mbah Wedok-nya yang tidak terlalu banyak bicara, tapi selalu menjejalinya dengan makanan-makanan sederhana untuk memastikan bahwa ia tak kelaparan. Nenek yang diingatnya sering duduk di sebuah dingklik dan mengaduk-aduk masakan di kuali. Yang mengepalkan nasi hangat dengan garam agar bisa dijadikannya cemilan.
“Mbah...” isak Dul. Biasa Dul menangis karena rasa sakit dipukul bapaknya, karena terlampau ingin sesuatu namun tak terpenuhi juga karena rindu pada ibu yang dulu jarang ditemuinya. Malam itu, penyebab air matanya tumpah karena kehilangan seseorang yang disayanginya.
Dul terus memanggil Mbah. Tapi Mbah bergeming karena sudah pergi. Mbah sudah melihat apa yang ingin dilihatnya. Kehilangan sosok kepala keluarga yang bukan panutan bagi anak-anak namun tak pernah bisa dibenci ternyata turut melonggarkan semangatnya untuk bertahan.
Untuk terakhir kali dan semakin meyakinkan dirinya sendiri. Dijah mengikhlaskan kenyataan, bahwa rasa cinta ibunya memang selalu lebih besar untuk sang ayah.
Dijah sangat menyayangi ibunya. Meski wanita itu sering membuatnya kecewa.
__ADS_1
To Be Continued.....