
Bara mengangkat tangannya menghindari pukulan kayu pertama yang diarahkan ke kepalanya. Sekarang dia sudah memahami situasinya. Minibus yang menabraknya pun kemungkinan adalah pelaku yang sama terhadap penghancuran lobby kantornya.
Masih dengan mengenakan helmnya Bara menendang pria tua yang tadi berpura-pura menanyakan namanya. Pria itu mengeluarkan kunci ban mobil yang terselip di belakang tubuhnya.
Dengan kakinya yang panjang, Bara mengarahkan tendangan pada orang yang berusaha mendekatinya dengan senjata tumpul. Ini adalah sebuah peringatan keras baginya karena menghajar Fredy di depan rumah orang tua Dijah beberapa saat yang lalu.
Tiga orang lainnya muncul satu persatu dari dalam mini bus membawa kayu panjang dan tongkat baseball. Bara membuka kaca helmnya untuk melihat situasi lebih jelas. Beberapa pedagang asongan yang sedang bersiap pulang menoleh seperti sedang mencoba memahami situasi.
Sebuah pukulan kembali diarahkan ke tubuhnya bagian belakang. Bara menendang penyerangnya itu sebelum sempat menyentuh tubuhnya. Tapi jumlah mereka terlalu banyak, enam orang. Bara tak bisa menghindar saat sebuah kayu menghantam tubuhnya di bagian kiri. Bara terhempas ke belakang dan jatuh di dekat ban belakang motornya.
Seorang pria langsung mengangkat tongkat baseball-nya tinggi-tinggi di atas kepala Bara. Sedetik sebelum tongkat itu menghantam helmnya, Bara menangkap ujung tongkat dan merampasnya. Di saat yang bersamaan sebuah kayu kembali mendarat di bahu kirinya.
Bara mulai berkeringat di dalam helmnya. Nafasnya mulai terengah-engah karena asupan oksigen yang terhambat oleh helm. Membuka helmnya saat itu bukan merupakan ide yang baik. Kepalanya bisa saja dihantam oleh kayu-kayu itu kapan saja.
Dengan sebuah tongkat baseball yang berhasil direbutnya, Bara bisa menangkis sebuah kunci ban yang dilemparkan ke arahnya. Langkahnya semakin tertatih dan ia merasakan perih bercampur denyut dari lututnya.
Bara menoleh ke bawah dan melihat celana jeans-nya robek dari bagian lutut sampai ke bawah kakinya. Buku-buku tangan kirinya mengelupas karena terseret sesaat ketika ia jatuh dengan motornya tadi.
"Bilang ama laki-laki pengecut murahan yang udah nyuruh lo, cari gua sendiri! Jangan bisanya pake kacung!" sergah Bara memukulkan tongkat baseball ke pada seseorang yang langsung mengenai kepala pria itu.
"Arrrggghh" Penyerangnya itu mundur berteriak seraya memegangi kepalanya.
"Anjing lo!" teriak seorang laki-laki saat mengarahkan tendangannya ke punggung Bara. Bara jatuh tersungkur ke aspal kemudian langsung berguling sekali. Suara helmnya berderak menghantam jalanan yang keras.
Dan saat Bara mengangkat tongkat baseball-nya untuk menangkis sebuah tendangan yang sedang diarahkan kepadanya, suara beberapa orang terdengar dari arah seberang.
"Woiii!!" suara teriakan kembali terdengar dari seberang. Beberapa remaja dan pedagang asongan yang telah menyadari aksi pengeroyokan itu berlari menyeberangi jalanan.
"Cabut! Cabut!" seru seorang pria pada teman-temannya.
"Jangan lari!!" teriak beberapa orang yang berhasil menyeberangi jalanan dan tiba di dekat Bara.
"Kejar--kejar!!" teriak seseorang dari bagian tengah jalan menunjuk minibus. Dua minibus yang tadi mengepung Bara dan motornya sudah berangkat dan dalam sekejab hilang dari kelokan.
"Kejar pake apa goblok? Pake odong-odong?" sergah suara seseorang. Ternyata memang ada seorang tukang odong-odong yang melintas dan ikut berhenti mengerumuni Bara.
"Bang! Bang! Sakit gak Bang?" tanya seorang remaja pada Bara. Saat itulah Bara bisa merasakan perasaan Dijah yang pernah ditanyainya dengan pertanyaan yang sama. Pertanyaan bodoh yang pernah dilontarkannya pada seorang wanita yang baru saja dipukuli.
"Ini koran!" tukas seseorang di dekat Bara.
"Buat apa? Kau kira Abang ini udah mati? Mau kau tutup gitu? Ada paok kau kurasa!" umpat seseorang.
"Untuk alasnya, untuk baring!" jawab si pedagang koran.
"Yang kau kira Abang ini mau nginep di sini malam ini? Senget otak ko itu! (gila otakmu itu!)"
"Udah bisa berdiri Mas?" tanya suara seorang wanita setengah baya yang berjongkok di dekatnya. Bara menggeleng. Ia bukan tak sanggup berdiri saat itu. Ia hanya ingin merasakan di mana saja letak cedera dan sakit di tubuhnya.
Kepalanya terasa pusing dan sekujur badannya terasa remuk. Bara masih berbaring di jalanan dengan helm yang masih melekat di kepala seraya berusaha merogoh ponsel di saku jaketnya.
"Mas Heru, jemput aku Mas.. aku kecelakaan," ujar Bara di telepon. Layar ponselnya retak dengan keadaan separuh sudah menghitam. Layar itu sudah berkedip dua kali seakan memberi isyarat bahwa sebentar lagi ia akan padam.
__ADS_1
"Di mana?" tanya Heru.
"Simpang... Simpang apa nih?" tanya Bara sedikit linglung pada remaja di dekatnya. Ia mengarahkan ponsel ke depan helmnya dengan mode speaker.
"Bilang aja simpang jalan seribu ruko Bang! Yang banyak anak punk sering nongkrong!" seru seseorang.
"Denger barusan? Cepet ya Mas, kabarin Bayu Mas, tolong bawain motorku." Bara menaikkan lengannya ke atas wajah untuk menatap ponsel. Dalam pikirannya terlintas ingin menelepon Dijah saat itu juga, tapi melihat begitu ramainya suara orang yang saling bertanya dan berteriak di dekatnya. Bara mengurungkan niatnya.
"Mau bangkit Bang?" tanya seorang remaja. Bara mengangguk.
"Woi! Kelen bantu aku ngangkat Abang ini!" teriak remaja itu. Sebanyak tiga orang remaja membantu Bara duduk menegakkan tubuhnya. Mereka menyandarkan punggung Bara di sebuah pot bunga besar yang terletak di atas trotoar.
"Siapa yang mukulin tadi Bang?" tanya seorang remaja pada Bara.
"Gak kenal," jawab Bara.
"Halah paling itu gerombolan Roni gendong. Aku kenal mobil ringsek itu. Sering dipake buat malak-malak ruko di dekat pelabuhan. Aku pernah dipukuli di sana." Salah seorang remaja yang bertubuh kurus tinggi berbicara dari sebelah Bara.
"Roni gendong?" tanya Bara yang sedang mencoba membuka pengait pada helmnya yang sepertinya semakin ketat karena hempasan di kepalanya yang berulangkali.
"Kurir sabu kecil-kecil Bang, bawanya segram-segram aja. Liat di daerah pelabuhan. Mereka sering nongkrong di sana," ujar remaja itu tadi.
"Sini kubantu buka helmnya Bang!" Seorang remaja berjongkok di dekat Bara untuk membantunya melepaskan pengait helm. Setelah helmnya terbuka, remaja itu mengamati helm Bara dengan mata terbelalak.
"Makjang! Pecah helm Abang ini! Kalo gak pake helm, udah berserak kurasa otak Abang ini dari tadi." Remaja tadi masih memutar-mutar helm Bara di depannya. Seorang remaja lainnya merampas helm itu kemudian ikut mengamatinya.
"Padahal helm mahal nih! Kalau helm murah, kepala Abang ini udah terbelah pastinya!" ujar seorang yang lain.
"Mbok ya kalo ngomong yang lebih menghibur," ujar bapak pemilik odong-odong yang masih berada di sana.
"Nggak apa-apa kita temenin rame-rame di sini, sampe sodaranya dateng. Ini udah malem. Mas-nya juga luka-luka." Bapak pemilik odong-odong ikut duduk di sebelah Bara yang sejak tadi meringis tak henti-henti. Luka-lukanya semakin terasa perih.
Mas Heru pasti tak akan percaya kalau Bara mengatakan hanya mengalami kecelakaan biasa. Ia telah bertahun-tahun mengendarai motor itu. Sudah berganti model tiga kali, dan tak sekalipun ia pernah ugal-ugalan apalagi sampai jatuh dan terluka.
"Minum dulu Mas," ujar seorang ibu setengah baya pedagang asongan menyodorkan sebotol air mineral dagangannya. Bara mengambil botol itu dan meneguknya hingga setengah. Setengahnya lagi ia gunakan untuk menyiram punggung tangan kirinya yang dipenuhi darah bercampur debu dan pasir.
"Mas ini sepatunya, udah aku masukin ke kotak lagi. Makanannya tumpah di jalan semua," ujar seorang remaja yang bertubuh paling kecil menyodorkan dua paperbag berisi kotak sepatu.
"Makasi ya..." ujar Bara tersenyum meraih kantong belanjaan itu.
"Udah aku bersihin juga, tadi kena debu!" tambah bocah itu lagi.
"Baik banget kamu. Emang kamu kerjanya apa di simpang ini?" tanya Bara pada anak itu.
"Aku penyemir sepatu," ujar bocah laki-laki yang usianya sekitar delapan tahun.
"Kalian apa?" tanya Bara pada dua remaja yang berjongkok di depannya.
"Pengamen Bang! Pengamen dengan suara tak enak! Biar dikasi duit cepat-cepat!" Kedua remaja itu tertawa.
"Bu, air mineral saya belum dibayar...." Bara memiringkan tubuhnya untuk meraih dompet di kantong celana belakang.
__ADS_1
"Nggak usah Mas, itu dari saya gratis. Mas-nya udah kena musibah." Wanita setengah baya tadi duduk bersila di atas trotoar.
"Iya, nggak apa-apa. Kita gak bisa bantu banyak. Cuma bisa nemenin gini aja," tambah bapak pemilik odong-odong kayuh di sebelah Bara.
Sebuah mobil besar layaknya mobil yang cocok dipakai di tengah gurun pasir bertuliskan HUMMER terlihat mendekat dan menepi. Selang semenit Bayu terlihat melompat keluar dari mobil dan tergopoh menghampiri Bara.
"Mas! Masa sih kecelakaan? Kayak ABG baru dikasi motor aja," ujar Bayu yang ternyata melewati Bara dan langsung menuju motor merah dengan tangki kanannya yang masih ditempeli stiker HARTA, TAHTA, DIJAH.
"Ke rumah sakit ya Ra," tukas Heru yang telah berjongkok di depan adik sepupunya.
Dalam keluarga, Heru dan Bara merupakan anak laki-laki satu-satunya dari ayah mereka. Dan keduanya merupakan anak sulung. Itulah yang membuat Heru begitu dekat dengan Bara. Sejak kecil mereka banyak menghabiskan waktu bersama di rumah Eyang yang merupakan orang tua Pak Wirya. Nama belakang mereka sama, Satyadarma.
Dan sebagai informasi tambahan yang belum diberitahu Bara pada Tini. Nama lengkap Heru adalah Heru Gatot Satyadarma. Bara belum sempat memberitahu pada Dijah dan teman-temannya bahwa tak semua laki-laki bernama Gatot itu setan.
"Adik-adik semua, Pak, Bu, makasih karena udah nolongin adik saya. Sekarang saya mau bawa adik saya ke rumah sakit. Saya permisi dulu, ini ada sedikit untuk sarapan pagi besok..." Heru mengulurkan beberapa lembar uang pecahan 50 ribu kepada bapak pemilik odong-odong.
"Kita tulus nolongin kok--" Perkataan si bapak terhenti. Uang dari tangan Heru diambil oleh salah seorang remaja.
"Kita nolongin tulus, tapi kalo rejeki, tetep gak boleh ditolak. Ini kita bagi rata Mas! Makasi juga. Semoga Mas-nya cepat sembuh. Periksa punggungnya! Tadi kena pukul pake kayu lumayan banyak," ujar remaja itu. Heru menoleh pada Bara yang telah dipapah Bayu naik ke jok depan mobil.
"Aku bawa motornya duluan ya, ke rumah sakit mana?" tanya Bayu.
"Ikutin mobilku aja," ujar Heru kemudian permisi pada gerombolan orang yang berkali-kali membungkuk untuk berterimakasih karena lembaran 50 ribu itu.
"Mereka baik-baik Mas. Nemenin aku dari tadi. Kalo mereka gak dateng, mungkin aku udah mati."
"Kamu baik ke orang lain juga Ra... Balesannya emang gak langsung dari orang yang nerima kebaikan kita. Bisa muter, dan kita nerima ya dari orang lain," sahut Heru.
"Hmmm," gumam Bara.
"Pasti dibuntutin terus digebukin di sana!" tukas Heru saat telah melajukan mobil.
"Eh kotak sepatu tadi mana?" tanya Bara.
"Itu di jok belakang! Masih itu yang diurusin! Kaki kamu itu diliat! Pasti lama sembuhnya, kamu harus screening di rumah sakit. Helm kamu aja sampe pecah gitu," omel Heru.
"Tadi jatuhnya gak keras kok, yang dipukul itu yang bikin kewalahan. Rame banget!" tukas Bara.
"Gak keras gimana? Kita kalo kecelakaan gak berasa sekeras apa sampe liat lukanya sendiri. Kalo Dijah sampe tau dan dia bener-bener suka sama kamu, dia pasti ninggalin kamu karena ini," kata Heru.
"Jangan sampe tau Mas..." gumam Bara. "Pinjem HP!" seru Bara. Heru mengeluarkan ponsel dan menyodorkannya pada Bara.
Bara menekan keypad angka berisi nomor telepon Dijah. Tak perlu waktu lama, suara Dijah sudah terdengar di seberang. "Halo... Jah? Udah tidur?" tanya Bara.
"Belum. Masih nungguin. Kamu ke mana? Katanya mau dateng, ini nomor telepon siapa? Hape kamu kok gak aktif aku telepon?" Dijah yang khawatir mencerca Bara dengan pertanyaan.
"Jah..." panggil Bara. Ia melirik Heru yang berada di sebelahnya.
"Aku dapet tugas ke luar kota bareng Mas Heru. Mendadak. Penting banget. Mungkin bisa seminggu lebih. Maaf ya baru bisa ngabarin sekarang. Hapeku mati, abis batere tadi." Bara mengatupkan mulutnya menunggu jawaban Dijah. Padahal hatinya sekarang sedang ingin dihibur, tapi ia tak ingin Dijah tahu keadaannya sedang sangat buruk saat itu.
"Ya udah, kamu hati-hati ya..." jawab Dijah di seberang. Meski kesal karena Bara terlambat memberi kabar, Dijah kini sudah lega karena mendengar suara pria itu baik-baik saja.
__ADS_1
Bara mengakhiri panggilan itu dan bersandar di jok dengan wajah meringis.
To Be Continued.....