
"Udah nggak nangis lagi kan? Aku mau mandi dulu." Dijah bangkit dari kursinya masuk menuju kamar.
"Ya udah, aku juga mau bersih-bersih. Mas Bara sana masuk kamar Dijah. Dia pasti pake bajunya di kamar. Sana!" Tini berbicara pada Bara seraya menunjuk kamar Dijah dengan dagunya.
Rasa-rasanya ingin sekali Bara membekap mulut Tini yang tak ada remnya itu. Lagi-lagi Tini masuk isi kepalanya dan menari-nari di sana.
Bara tak menginginkan apa-apa malam ini. Dia tak mungkin lagi menginap di tempat Dijah malam itu karena pesan ibunya sudah cukup jelas. Lagipula Mas Heru tahu ia sedang berada di sana.
Kursi-kursi plastik di depan kamar telah kosong. Malam semakin larut dan perkiraan Tini meleset. Dijah tetap mengenakan pakaiannya di kamar mandi. Bara tak kebagian pemandangan tubuh wanita itu meski secuil.
Kehadiran Bara dan kedua orang pria yang dibawanya ke sana sangat kontras dengan lingkungan kos-kosan itu. Penampilan necis dan wangi mereka bersanding dengan tembok bangunan penuh coretan, alunan musik berbagai genre yang bersahutan keras dan suara-suara percakapan diselingi tawa menggelegar.
Awalnya Bara merasa sedikit asing di sana, tapi seiring dengan Dijah yang tampaknya nyaman-nyaman saja menerima kehadirannya, Bara jadi mulai terbiasa.
Dijah baru saja meletakkan dua piring bekas mi instan kuah yang baru saja tandas mereka santap. Wanita itu memaksa Bara untuk ikut makan.
"Sini Jah..." panggil Bara yang duduk di atas ranjang. Ia ingin berpesan pada Dijah sebelum meninggalkan wanita itu besok. Dan juga... Bara ingin mencium Dijah saat berada di pangkuannya.
"Tunggu..." ujar Dijah.
"Sini..." sahut Bara tak sabar. Dia gemas sekali pada wanita itu. Kenapa Dijah selalu sabar dan bisa menahan diri untuk tak bermesraan dengannya. Sedangkan ia selalu sibuk sendirian dengan pikiran dan angan-angannya mencumbui Dijah setiap saat.
Dijah mendekat dan Bara langsung menarik wanita itu ke pangkuannya. Pintu sudah dikunci dan bisa dinyatakan aman karena Tini pasti masih sibuk patah hati pikirnya.
"Aku kangen," bisik Bara langsung mencium Dijah. Ia menekan kepala wanita itu untuk segera menubruk bibirnya. Detik pertama ciuman mereka, Bara bisa merasakan aroma ayam bawang dari bibir Dijah. Harusnya ia membiarkan Dijah minum dulu tadi.
__ADS_1
Bara melepaskan ciuman panjang mereka dan menatap wajah Dijah sedemikian dekatnya.
"Kalo aku nggak ada, jangan ribut ama siapapun ya," ucap Bara. "Eh kalo ada aku juga jangan ribut ama siapapun. Nanti kamu luka lagi, aku nggak mau. Perempuan itu gak baik kalo tubuhnya banyak bekas luka."
Dijah memandang Bara dan mengangguk.
"Jangan ngerokok lagi, sepusing apapun kamu dengan masalah. Jangan. Rokok itu gak baik buat semua orang. Untuk kesehatan, bukan stigma negatifnya aja." Bara merapikan rambut basah Dijah dan meletakkannya ke belakang bahu.
Dijah masih memandang Bara tak berkedip. Ia tak pernah diajak bicara oleh seseorang selembut itu. Besok Bara bakal pergi seminggu dan tak akan bisa dilihatnya. Ia ingin memuaskan matanya menatap Bara yang ganteng dan mau menjadi pacarnya.
"Jah, aku boleh nggak?" tanya Bara.
"Boleh apa?" Dijah balik bertanya karena memang tak mengerti apa maksud perkataan pria itu.
"Boleh kalo aku minta lebih dalam hubungan kita?"
"Jadi aku nggak bisa berharap kita bakal panjang?" tanya Bara. Dijah hanya diam karena ia tak tahu harus menjawab apa.
Melihat reaksi Dijah, rasa percaya diri Bara seolah sirna. Banyak wanita ingin memiliki sebuah kepastian dalam hubungan, tapi ternyata tidak berlaku bagi Dijah.
"Kalau memang mau jalan, aku bisanya begini dulu. Kita beda. Aku tuh kasian sama kamu sebenarnya. Hidup kamu pasti kacau sejak kenal aku. Hidupku penuh masalah, aku nggak mau ngerepotin kamu." Dijah setengah bangkit dari pangkuan Bara tapi pria itu dengan cepat menahannya.
"Sini aja, mau ke mana?" sergah Bara. "Aku nggak main-main Dijah. Aku-- sayang kamu." Bara kembali mencium Dijah. Ia tak sempat untuk berlama-lama. Sedetik kemudian ia telah membaringkan Dijah di ranjang dan menindih wanita itu.
Mereka hanyut dalam ciuman panas yang saling menyambut satu sama lain. Nafas keduanya terengah dan Bara telah mendaratkan gigitan-gigitan kecil di sekeliling leher Dijah. Ia benar-benar tak sabar. Ia ingin hubungan mereka disikapi secara dewasa oleh Dijah. Apapun konsekwensinya, Bara sudah siap.
__ADS_1
Bara menaikkan terusan yang dipakai Dijah sampai ia bisa melihat lipatan pangkal paha wanita itu. Tangannya sudah berkali-kali meremas dada dan bokong Dijah bergantian.
Namun saat Bara meraih kancing kemejanya, Dijah yang tadinya mendesah seraya memejam, kini membuka mata dan menatap sepasang mata sayu pria di atasnya.
"Jangan... Kegiatan yang satu itu untuk istrimu aja. Aku nggak mau. Kamu nggak perlu sampai sejauh itu ke aku. Perasaan kamu ini cuma hal baru yang menantang naluri pria yang alami dimiliki setiap laki-laki. Jangan buru-buru mengambil keputusan. Kalau kamu udah ngerasa terpenuhi, kamu bisa pergi dan aku bakal sakit hati. Mending jangan," tutur Dijah.
Bara kemudian berlutut menumpukan kedua tangannya di atas Dijah. Ia menunduk untuk menatap wanita itu lekat-lekat. Ia tak percaya Dijah bisa mengatakan hal itu padanya. Naluri laki-laki dan keseriusan perkataannya serasa dilecehkan.
Dijah seolah tak menganggapnya sebagai seorang laki-laki yang bisa bertanggungjawab.
"Gitu anggapan kamu ke aku ya?" lirih Bara dengan tatapan muram. Ia kemudian mengangguk dan membereskan pakaian Dijah yang tersingkap.
Dijah tak pernah mau menyentuhnya lebih dulu. Perempuan itu begitu dingin seolah memasang tameng terhadap semua sikap manis yang telah berusaha ditunjukkan Bara selama ini.
"Ya udah, aku balik dulu ya." Bara bangkit dan merapikan kemejanya. Ia tidak picik. Ia tidak merajuk. Hatinya hanya tak merasa nyaman mendengar penolakan Dijah yang berarti sangat dalam.
Jadi untuk apa ia menjalin hubungan dengan wanita itu kalau nantinya arah hubungan mereka tak pasti.
"Kamu sehat-sehat ya, jangan lupa jengukin Dul. Dia kan udah lama ga didatengin ibunya. Dul pasti kangen," ujar Bara saat memakai sepatunya.
Bara mengeluarkan ponselnya dan menelpon taksi. Beberapa saat lamanya mereka hanya duduk diam mematung.
Bara merasa krisis percaya diri sekarang. Ia merasa Dijah menyepelekannya sebagai seorang pria dewasa yang bisa memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri.
Namun tanpa Bara sadar, setiap detik, Dijah begitu tersiksa karena merasa terlalu buruk bahkan meski hanya sekedar duduk di boncengan motor pria itu.
__ADS_1
Dijah memang tak bisa mengatakan bahwa ia juga menyayangi Bara, oleh sebab itu ia menginginkan yang terbaik bagi hidup pria tampan itu.
To Be Continued.....