PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
41. Ratapan Rindu


__ADS_3

"Ngapain kamu ikut-ikutan?" tanya Dijah kemudian.


"Hah?" Bara sedikit terkejut dengan pertanyaan Dijah.


"Maksud kamu?"


"Ngapain kamu ikut-ikutan?" ulang Dijah lagi.


"Jadi mau kamu aku diem aja berdiri nontonin kamu digebukin?" tanya Bara kesal. Emosinya tadi belum hilang dan Dijah sekarang seolah menyalahkannya.


"Kamu gak liat Dul ada di sana? Dia liat kamu mukulin bapaknya. Meski bagaimana juga itu bapaknya. Aku gak mau penilaian Dul ke kamu itu jadi jelek!" sergah Dijah.


"Dul liat bapaknya mukuli ibunya setengah mati, trus kamu diemin aja bapaknya?" seru Bara. Ia benar-benar tak mengerti bagaimana pemikiran Dijah.


Bara menggelengkan kepalanya.


"Kamu nggak tau Fredy itu gimana, nanti kamu dilukai ama dia!" seru Dijah meraup kesal wajahnya sendiri.


"Aku nggak takut! Aku nggak takut Dijah!" seru Bara emosi. Ia merasa semakin kesal karena Dijah menganggapnya seperti anak kemarin sore.


"Kamu kayaknya gak bisa ngertiin hidup aku. Percuma aja Bara... Percuma," lirih Dijah putus asa.


"Kalo aku nggak ngertiin hidup kamu, aku bakal langsung ke kos kamu Jah... Aku gak perlu datengin Dul cuma untuk nganterin sesuatu yang pasti dia bakal suka. Aku gak ngerti gimana kamu nilai aku." Bara menatap jalanan dengan wajah kesal bercampur frustasi.


Bara melajukan mobil dengan sangat cepat menembus lalu lintas yang sudah sepi. Mereka tiba di depan gang kos-kosan Dijah sesaat kemudian. Bara segera mematikan mesin mobil dan membuka seatbelt. Untungnya mobil telah berhenti dan suara alarm seatbelt penumpang yang tak dikenakan Dijah sudah senyap.


Dijah yang masih kesal segera membuka pintu mobil dan melompat keluar. Malam itu dia merasa malu sekali pada Bara. Dia sedang dalam keadaan paling buruk dan pria itu datang melihatnya. Dijah semakin khawatir sekarang. Ia semakin khawatir.


Sedikit berlari Dijah meninggalkan Bara yang berjalan di belakangnya. Air matanya sejak tadi sebenarnya sudah nyaris tumpah. Ia tak mau Bara melihatnya seperti tadi. Meski rasanya ia ingin sekali menubruk pria itu dan menangis di pelukannya.


"Dijah! Tunggu aku!" seru Bara berlari mengejarnya.


"Kamu pulang aja, aku mau istirahat" ucap Dijah.


"Selalu kayak gini, kenapa gak bisa dengerin aku sebentar aja?" tanya Bara memegang lengan Dijah dan berusaha menjajari langkah wanita itu.

__ADS_1


"Aku gak suka kamu ikut campur, itu urusan pribadiku."


"Jadi aku diemin aja gitu?" sengit Bara. "Ngeliat kamu dipukuli sampe babak belur kayak pertama kali ketemu?"


Dijah telah tiba di depan pintu kamarnya dan ia mengabaikan Asti dan Tini yang sedang duduk di bawah jendela kamar Tini. Kedua wanita itu sedang menatap Dijah dan Bara bergantian.


"Pulang sana! Aku gak apa-apa!" seru Dijah lagi saat telah berhasil membuka pintu kamarnya.


"Enggak! Aku gak mau kamu ngusir aku gitu aja!" Bara menahan pintu kamar saat Dijah menutupnya dari dalam. Bara melangkah masuk dan mencampakkan ponsel dan kunci mobilnya ke atas ranjang.


"Aku mau sendiri dulu," ujar Dijah. Ia tak sanggup melihat Bara saat ini. Keadaannya sangat kacau, dan lehernya terasa perih terkena kuku Fredy yang tajam saat mencengkeram kerah bajunya. Dijah belum ada melihat cermin, sesaat di dalam rumahnya tadi ia hanya sempat membetulkan rambutnya sekilas.


"Aku kangen kamu Jah! Aku ke sana tadinya cuma mampir mau ngasi oleh-oleh ke Dul! Setelah dari sana aku mau langsung ke sini nemuin kamu. Aku kangen! Aku pengen ngasi kejutan! Salah kalo aku jadi ikut campur waktu ngeliat kamu dipukul? Kamu gak pantes dipukul Dijah. Kalo kamu mau aku bisa bunuh laki-laki itu untuk kamu!"


"Aku gak mau kamu ngotorin tangan kamu untuk manusia kayak dia. Kamu gak ngerti maksud aku apa? Dia udah biasa dipenjara! Kalo kamu yang dipenjara karena dia, itu gak sebanding!" teriak Dijah.


Keduanya berdiri menatap dengan nafas terengah-engah karena emosi. Hubungan ini sebenarnya tidak rumit pikir Bara. Kekhawatiran Dijah yang terlalu berlebihan.


Bara mengatur nafasnya. Mengingat kembali tujuannya datang ke sana. Ia merindukan Dijah. Ia sangat merindukan wanita itu. Lima hari di Belanda terasa sangat lama bagai merangkak karena tiap waktu rasanya ia ingin kembali pulang. Bara kemudian maju mendekati Dijah yang sedang berdiri mematung.


"Kamu gak pantes dipukul Jah," lirih Bara perlahan meraih wanita itu ke dalam pelukannya. "Semua wanita gak ada yang pantas dipukul, apalagi ama laki-laki. Itu gak adil," ucap Bara memeluk Dijah erat.


Dijah merasa air matanya sudah tak mungkin di bendung. Ia malu pada Bara akan keadaannya. Kegigihan Bara semakin membuatnya minder.


Tangan Dijah yang tadi hanya menggantung kaku di samping tubuhnya perlahan memegang kedua sisi kemeja Bara.


"Aku kangen kamu Jah... Aku kangen. Aku sayang kamu. Kamu harusnya tau apa yang aku rasain waktu liat kamu dipukul. Ada laki-laki yang sayang kamu Dijah.... Ada aku. Perhitungkan aku dalam hidup kamu. Kamu boleh mengeluh, kamu boleh sedih, aku akan denger semuanya. Percaya aku," lirih Bara di telinga Dijah.


Lama kelamaan, Bara merasakan tangan Dijah melingkari pinggangnya. Dijah kini memeluknya. Tubuh wanita itu sedikit berguncang. Dijah menangis.


"Nangis aja nggak apa-apa. Aku ngerti, jangan malu. Aku udah ngertiin kamu. Ada aku Dijah sayang..." Bara semakin mengeratkan pelukannya.


Ya Tuhan, ternyata ia benar-benar menyayangi wanita ini pikir Bara. Membiarkan Dijah tergores sedikit saja adalah hal mustahil. Apalagi melihatnya disiksa seperti tadi.


Bara memeluk Dijah dalam diam. Membiarkan wanita itu menumpahkan segala rasa kekesalan dan kesedihan yang telah dipendamnya entah sejak kapan.

__ADS_1


Sekuat-kuatnya hati dan fisik seorang wanita, namun ia diciptakan untuk memiliki seorang sandaran. Entah itu pasangan, orang tua atau anak-anaknya.


Dijah menangis sesegukan di pelukan Bara. Melepaskan sesak di dadanya yang selama ini tak ada tempat untuk meluapkan.


Beberapa saat berdiri berpelukan, Bara melepaskan tautan tangan wanita itu dan memegangnya.


"Udah lega?" tanya Bara mencoba menatap wajah Dijah yang masih menunduk. Bara menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya.


"Ada aku Dijah... Jadikan aku tempat bersandar. Aku gak akan pergi ninggalin kamu..." ucap Bara kemudian mencium bibir Dijah yang setengah terbuka.


Dijah harus berjinjit dan memegangi tubuh pria itu karena Bara meraup bibirnya dengan rakus. Dijah memejamkan mata. Ia menyadari kalau pelan-pelan Bara telah melemahkan hatinya. Ia menjadi cengeng sekarang. Biasanya, pukulan Fredy sekuat apapun tak membuatnya malu ataupun sedih.


Biasanya Dijah selalu bisa menjawab semua makian Fredy dengan makian juga. Tapi tadi, ia lemah. Sekarang ia hanya bisa memejamkan mata, menikmati kerinduan Bara yang sama besar dengan yang dimilikinya.


Bara mundur beberapa langkah, membawa tubuh mereka berdua mendekati sisi ranjang. Perlahan namun pasti, Bara duduk dan merengkuh Dijah ke atas ranjang untuk menindihnya.


Sementara di luar pintu kamar, "Mbak Tini..." lirih Asti pelan.


"Sebentar aku ambil bantalku, aku tidur di kamarmu malem ini." Suara pintu kamar Tini terdengar membuka dan menutup dengan cepat.


"Kenapa?" tanya Asti dalam bisikan.


"Perang ini... Perang semuanya." Tini terkikik kemudian menenteng bantal dan menyeberangi halaman untuk menuju kamar Asti.


"Perang kenapa?" tanya Asti. "Mbak Dijah serem ya kalo marah?"


"Pokoknya malem ini aku tidur di kamarmu aja. Bisa berisik sampe pagi itu. Tegangan KWH mereka berdua lagi tinggi-tingginya. Aku baru putus dari Gatot setan, jadi aku gak mau meracuni telingaku. Bisa basah sendirian aku nanti," ucap Tini mencampakkan bantalnya ke atas ranjang Asti.


"Basah kenapa?" tanya Asti.


"Embuh As.... Embuh! Gak usah mau tau banget! Kuliah aja yang bener!" Tini kemudian berbaring di ranjang Asti seraya tersenyum-senyum membuka aplikasi facebooknya. Ia menggulir layar ke atas dan mengklik tombol 'pesan' pada profil seorang pria bernama Yudi Prayetno. Dengan lincah jari Tini mengetik,


'Mas Yudi... Aku turut berduka cita ya... Hiks'


Selesai mengetik, Tini kembali terkikik-kikik geli.

__ADS_1


To Be Continued.....


Jangan lupa Likenya ya sayang-sayang Mas Bara XD


__ADS_2