PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
44. Binar Bahagia


__ADS_3

"Coba sandaran aja, aku pakein seatbelt dulu." Bara mengatupkan mulutnya. Ia khawatir akan tersenyum lebar karena sejak tadi rasanya kebahagiaan meletup-letup dalam dadanya.


Mirip di film-film itu, pikir Bara. Yang perempuan hanya diam kaku, dan sang lelaki memakaikan seatbelt dengan mesra.


Bara bisa merasakan nafas Dijah di lehernya yang sedang menunduk meraih seatbelt di sisi kiri. Meski pengait seatbelt sudah sejak tadi digenggamnya, Bara membuat gerakannya begitu lambat. Ia berlama-lama merasakan gesekan dadanya dengan tubuh Dijah. Tak apalah licik pikirnya, bersama Dijah dia harus pintar-pintar mencari momen.


Saat telah mengatupkan seatbelt, Bara kembali mencondongkan tubuhnya mencium pipi wanita di sebelahnya. Mulutnya tak henti-henti tersenyum. Bara belum bisa melupakan bagaimana tadi Dijah berani menggandengnya di depan Tini.


"Mau ke tempat Mbok Jum?" tanya Bara.


"Iya, ke sana." Dijah mengangguk tapi belum menoleh. Wajahnya merona. Bibir Bara baru mendarat di pipinya. Perutnya seolah bergolak karena mengingat... Dijah menggeleng. Ia ingin mengetuk kepalanya untuk mengeluarkan kilasan bayangan soal sesuatu tentang Bara.


"Kita sarapan dulu ya. Abis dari sana aku anter ke tempat Mbok Jum," tukas Bara meraih tangan kanan Dijah dan mengecup punggung tangan itu. Kemudian ia memasukkan persneling dan mulai melajukan mobil.


Dijah menarik tangan kanannya kembali ke pangkuan. Perlahan tanpa sepengetahuan Bara, ia mengusap punggung tangannya itu. Bara adalah laki-laki pertama yang mencium tangannya. Dijah ikut mengatupkan mulut memandang jalanan di depannya.


Bara tekun menyimak jalanan di depannya. Sekarang ia bingung bagaimana cara mengatakan pada Dijah agar tak ikut Mbok Jum memulung. Ia bisa mengganti semua pendapatan Dijah. Tapi memberi Dijah uang setelah yang mereka lakukan kemarin malam sepertinya bukan ide yang baik.


"Mau nemenin Mbok Jum aja, 'kan?" tanya Bara pada akhirnya.


"Iya," sahut Dijah.


"Aku titip sesuatu untuk Mbok Jum ya Jah... Kasian kalo udah tua gitu masih harus mulung." Bara menoleh sekilas ke arah Dijah. "Mana suaminya lagi sakit..."


"Suaminya udah meninggal," jawab Dijah.


"Hah? Kapan?"


"Hari waktu aku berantem di halaman," jawab Dijah datar.


"Aku titip sesuatu untuk Mbok Jum, nanti kamu sampein ya. Aku gak bisa lama-lama karena belum sempet ngobrol bareng ayahku." Bara mengarahkan mobil ke tempat ia dan teman-teman kampusnya dulu sarapan pagi. Sebuah warung bubur ayam di depan mini market.


"Di sini dulunya aku sering sarapan. Yang dagang itu mantan anggota TNI yang udah pensiun. Namanya pak Sugeng. Tiap hari Jumat, pak Sugeng gratisin buburnya. Bayangin Jah... Padahal dia cuma pedagang kaki lima. Tapi dia bantuin mahasiswa untuk perbaikan gizi di akhir minggu." Bara memarkirkan mobilnya di depan minimarket.


"Hebat," gumam Dijah memandang keluar jendela di mana pak Sugeng tengah melayani dua orang pembeli yang berdiri dekat gerobaknya.


"Yang hebatnya lagi, meski dia gratisin untuk orang yang membutuhkan, pembeli lain selalu bayar lebih ke dia. Satu kebaikan bisa memancing kebaikan lainnya. Yuk turun..." Bara melepaskan seatbelt Dijah dan meraih tas wanita itu kemudian keluar mobil.


Bara memutari mobil dan berdiri memegangi pintu penumpang yang baru saja dibuka oleh Dijah.


"Sini tasnya," ujar Dijah meraih tas tangan paling bagus yang dibelinya seharga 75 ribu di pasar.


"Gak usah, biar aku yang pegang. Kamu kenalan ama pak Sugeng dulu," ucap Bara menggamit lengan Dijah kemudian merangkul pundak wanita itu dan berjalan mendekati gerobak.


"Pak Sugeng... Apa kabar?" sapa Bara. Pria tua yang dipanggilnya langsung mendongak dan tersenyum lebar.


"Bara... Apa kabar? Udah lama gak keliatan. Ini siapa?" tanya pak Sugeng melirik Dijah. Tangannya masih sibuk meracik dua mangkok bubur di hadapannya.


"Ini Dijah Pak, ditandai wajahnya ya... Kalo ke sini gak bareng saya, tolong segera dilaporkan." Bara tertawa seraya mengusap-usap bahu Dijah yang ikut tersenyum.


Bara membawa Dijah ke dua buah kursi bangku yang menghadapi sebuah meja panjang persis di teras minimarket. Saat melihat pak Sugeng mengangkat sebuah nampan, Bara buru-buru menghampiri pria tua itu dan mengambil alih nampan.


"Biar saya aja Pak," ucap Bara mengambil nampan.


"Pasti spesial ya?" tanya Pak Sugeng melirik Dijah sebagai isyarat pada Bara.


"Doain," sahut Bara.

__ADS_1


"Amin," balas Pak Sugeng menyapukan kedua tangannya ke wajah. Bara terkekeh melihat ulah pak Sugeng.


Bara meletakkan nampan bubur di hadapan Dijah kemudian masuk ke minimarket untuk membeli dua botol air mineral.


"Kamu sarapan dulu ya, entar kita bungkus juga untuk Mbok Jum. Kamu santai dulu di sini," ucap Bara kembali merangkul Dijah dan mengusap lengan wanita itu.


Dijah kembali mengangguk. Hatinya sangat tenang tiap berdampingan dengan Bara. Setiap bersama pria itu, semua beban hatinya seolah hilang. Jurang yang menganga di antara mereka pun terlihat samar karena sikap Bara yang selalu optimis.


Menghabiskan setengah pagi itu untuk berbincang dengan Dijah dan melihat wanita itu tersenyum karena candaannya membuat Bara semakin berbunga-bunga.


Suasana hatinya sedang sangat baik. Dan saat mengantarkan Dijah ke tempat Mbok Jum, Bara membekali Dijah dengan berbagai macam makanan yang dibelinya sebelum ke sana. Dijah tak bisa menolak sejumput uang pecahan 100 ribu yang dititipkan Bara untuk Mbok Jum dengan dalih agar Mbok Jum tak usah memulung barang bekas dalam beberapa Minggu ke depan.


"Ini kebanyakan. Bisa-bisa Mbok Jum dirampok uangnya. Uang gak pernah banyak aja pernah ilang dari bawah bantal waktu pondoknya ditinggalkan," ujar Dijah.


"Kamu yang atur berapa ngasi Mbok Jum setiap harinya. Kamu beliin apa-apa yang sedang dibutuhkan Mbok Jum, jangan dikasi semua. Temani Mbok Jum ngobrol aja, jangan dibawa panas-panasan. Gimana?" tanya Bara tersenyum menang. Ia bisa menemukan alasan yang tak mungkin ditolak Dijah lagi.


"Ya udah kalau gitu," sahut Dijah kemudian. Saat melihat raut setuju di wajah wanita itu, Bara melepaskan seatbelt dan mencodongkan tubuhnya ke arah Dijah.


Matahari hampir naik ke atas kepala, dan di dalam mobil dengan kadar gelap kaca 80%, Bara kembali mencium bibir Dijah tanpa sungkan. Tangannya meraba dan meremas perut Dijah dan menyusup sampai pinggul wanita itu.


Enak juga pacaran bawa mobil, pikir Bara. Besok-besok dia akan mempertimbangkan untuk selalu membawa mobil kalau berkencan dengan Dijah. Setidaknya sebelum berpisah, ia bisa mencium wanita itu dengan panas sebagai bekalnya seharian.


Saat melepaskan ciumannya, Bara menyadari bahwa tangan Dijah hanya tergeletak kaku di pangkuannya. Bara meraih tangan itu dan meletakkan telapak tangan Dijah ke pipinya.


"Sekali-kali dicoba begini..." ucap Bara kemudian mencium telapak tangan itu. Jemari Dijah spontan kaku.


"Udah ya, aku turun..." Dijah menarik tangannya dari Bara untuk mengambil tali tasnya. Berlama-lama bersama Bara membuat Dijah malas untuk beraktifitas.


"Hati-hati ya Jah... Inget--kalo mau jengukin Dul, harus bareng aku." Bara kembali mengingatkan. "Jaket aku ada dibawa gak? Entar kalo pulang, jaket aku dipake ya..." teriak Bara dari dalam mobil. Dijah mengangguk kemudian melambai dan masuk ke gang.


Bara merasakan perutnya menggelenyar aneh. Ia kemudian bergidik. "Aduh Dijah..." gumamnya sendirian saat melajukan mobil kembali ke rumahnya.


Minggu siang di rumahnya, Pak Wirya sedang menonton televisi menunggu istrinya menata meja makan.


"Bara udah pulang Bu?" seru Pak Wirya dari ruang keluarga.


"Belum..." jawab Bu Yanti.


Tak lama Bara muncul seraya berdendang lagu 'She Will Be Loved' Maroon 5.


I don't mind spendin' every day


(Aku tak keberatan menghabiskan hari-hariku)


Out on your corner in the pourin' rain


(Di tempatmu dalam guyuran hujan)


Look for the girl with the broken smile


(Mencari gadis yang senyumnya getir)


Ask her if she wants to stay a while


(Menanyainya apakah bersedia singgah sebentar)


Bara meletakkan kunci mobil di dalam mangkuk keramik di sebelah televisi. Pak Wirya mengernyitkan alis memandang putra sulungnya.

__ADS_1


And she will be loved


Dan dia akan dicintai


And she will be loved


Dan dia akan dicintai


Bara terus berdendang seraya menatap ayahnya. Pak Wirya ikut menggoyangkan kepala mengikuti alunan lagu Bara.


"Gak pulang semaleman, dan gak merasa bersalah. Riang, sering tertawa dan kayaknya gak takut kalo ayah marah. Siap mengambil resiko ya?" tanya Pak Wirya masih menatap Bara yang membenarkan rambutnya melalui grafir cermin di dinding ruang keluarga.


Bukannya menjawab sang ayah, Bara malah melanjutkan lagunya.


Tap on my window knock on my door


Ketuklah jendelaku ketuklah pintuku


I want to make you feel beautiful


Aku ingin membuatmu merasa cantik


I know I tend to get so insecure


Aku tahu aku cenderung merasa tak nyaman


It doesn't matter anymore


Itu tak lagi penting


"Ternyata ada pasien yang sedang jatuh cinta di rumah ini," ujar pak Wirya pada akhirnya. Mendengar perkataan ayahnya, Bara tergelak.


Dr. Wirya Satyadarma S.Psi, MS/AT, MFCC, DCH., Psikolog adalah seorang psikolog klinis yang mengajar di sebuah universitas. Salah satu pendiri fakultas psikologi di tempat ia pernah menjabat sebagai rektor.


Gelarnya panjang seperti kereta. Sampai membuat anak-anaknya sendiri minder. Pak Wirya merupakan psikolog di Indonesia yang memiliki sertifikasi dalam Art Therapy.


Selain itu, Ayah Bara juga memperoleh gelar Marriage Family and Child Counselor dan gelar lainnya dari Amerika. Beliau aktif menulis berbagai buku psikologi, psikoterapi dan juga olahraga.


Dan Bara yang sejak kecil dibesarkan oleh ayahnya itu merasa beruntung. Berada dalam asuhan pria itu bebas dari berbagai tekanan yang sering diberikan orangtua pada anak-anaknya.


Bara merasa bebas menentukan hidupnya meski sang ibu tetaplah seorang ibu yang sering mewanti-wanti soal pendidikannya yang termasuk lambat.


"Ayo makan," ajak pak Wirya bangkit dari sofa menuju ruang makan.


"Aku mandi dulu," sahut Bara berjalan menuju tangga. Mulutnya belum berhenti merekahkan senyuman. Dan sesaat setelah mengunci kamarnya, Bara melepaskan pakaiannya hingga tersisa boxer ketat yang kemarin sudah dilihat Dijah.


Bara meletakkan kedua tangannya di pinggang. Dengan wajah sombong dibuat-buat, Bara mendekati kaca besar di dekat pintu kamar mandi.


Dengan satu tangan bertumpu di bingkai kaca, Bara meraba dagunya. Ia memandang tubuhnya dari atas ke bawah. Bara sedang mengagumi dirinya karena merasa telah berhasil membuat Dijah mengerang dan mengejang mencengkeram lengannya.


"Hmmm... Jah, besok-besok aku boleh ngulangi lagi gak? Kayaknya yang kemarin aku buru-buru..." ujar Bara saat melihat pantulannya. Selesai mengatakan itu pada dirinya sendiri, Bara menghempaskan tubuhnya di ranjang dan menutup wajahnya.


"Aduh Jah... Sebelum nyoba aku tersiksa. Udah nyoba malah makin tersiksa." Bara menutup kepalanya dengan bantal. Mencoba sekuat tenaga menghalau ingatannya akan wajah Dijah dengan mulut yang setengah terbuka berada di bawah tubuhnya.


Ingatan akan pemandangan bagian bawah tubuhnya saat memasuki Dijah pun seolah tak mau pergi. Bara menepuk-nepuk bantal yang berada di atas kepalanya.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2