PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
98. Bulan Bersama


__ADS_3

“Hei, Tin...” sapa Yudi ketika telah tiba di depan penghuni kos-kosan. Semuanya masih terperangah.


 


“Mas Yudi...” lirih Tini.


 


“Ih, nada ngomong kau la Tin! Jijik kali aku dengarnya. Kayak mau mati gitu kau.” Mak Robin memukul paha Tini karena baru saja mendengar Tini menyahuti sapaan Yudi dengan ucapan mirip desahan.


 


Tini berdiri dari duduknya. Menjelang siang itu ia mengenakan kaos ketat dan sebuah celana jersey sepakbola.


 


“Eh! Jangan pigi dulu kau. Mukaku udah siap belom?” sergah Mak Robin menarik celana Tini.


 


“Mukamu emang enggak pernah siap Mak, tapi itu udah lumayan.” Tini berjalan menghampiri Yudi.


 


“Kok tumben Mas? Eh—” Merasa salah dengan hal yang diucapkannya, Tini kembali diam. Ia khawatir Yudi malah pulang karena ia mengatakan kata ‘tumben’.


 


“Dari mana?” tanya Tini. Ia yang biasa selalu cakap kalau berbicara dengan teman-temannya seperti kehilangan taring di depan Yudi.


 


“Dari toko. Omong-omong, ini temen kamu yang nggak sengaja ketemuan di toko aku, kan?” Yudi mengamati wajah Asti, Dijah dan Boy satu persatu.


 


Tini terlihat gelagapan. Sejenak tadi ia sempat lupa dengan sandiwara peran ibu sambung yang pernah dimainkannya.


 


“Iya Mas, sejak ketemu di toko kemarin, kita semua jadi deket. Aku nggak tinggal di sini, cuma kebetulan dateng aja.” Dijah tersenyum sombong melirik ke arah Tini yang menghela nafas lega.


 


“Aku mau ngajak makan bakso di simpang sana. Tapi khawatir kamu udah makan. Gimana?” tanya Yudi yang datang dengan celana bahan bermodel Aladin. Besar di bagian paha dan kecil di pergelangan kaki. Sebagai atasannya ia menggunakan kaos bercorak batik yang memiliki kerah kemeja.


 


“Aku belum makan—aku belum makan. Dari pagi aku belum makan. Ini laper banget.” Tini yang baru menghabiskan sepiring penuh nasi beserta lauk, mengusap-usap perutnya di hadapan Yudi.


 


“Matamu itu belom makan. Kalo bisa piring tadi kau kunyah, pasti abis kau bikin.” Mak Robin duduk di kursi dengan bersungut-sungut. Dijah, Asti dan Boy hanya meringis.


 


“Aku tuker baju dulu. Mas Yudi duduk aja di situ,” ucap Tini menarik lengan Boy untuk berdiri dan menggeser kursi Boy agar menjauhi tempat duduk Yudi. “Sana! Kamu lebih bahaya dari Dijah atau Asti.” Tini mengibaskan tangannya mengusir Boy.


 


“Kurang ajar. Gak semua orang suka kumis itu,” bisik Boy menggeser kursinya sampai ke depan pintu kamar Dijah. "Celananya juga bisa bikin nyembunyiin anak-anak," dengus Boy.


 


“Oke, duduk dulu ya Mas...” pinta Tini kemudian melangkah ke dalam kamar. Dijah bangkit cepat-cepat untuk menyusul Tini. Melihat Dijah ikut bangkit kemudian Asti mengekori dari belakang.


 


“Trus aku sendirian di sini? Mak Robin!” panggil Boy pada Mak Robin yang melenggang ke kamarnya. “Aku ikut Asti!” tukas Boy yang merasa canggung setelah mendapat senyuman janggal dari bibir Yudi yang dibingkai kumis tebal. Sejurus kemudian ia telah mendorong kamar Tini dan masuk ke dalam.


 


“Ngapain ini rame-rame ikut masuk?” pekik Tini terkejut karena ia sudah membuka atasannya dan melihat Boy masuk.


 


“Aku mau ngasi masukan soal pakaian kamu. Kencan pertama jangan pakai yang aneh-aneh. Aku khawatir kamu pake baju kayak kemaren. Gak usah lebay. Jangan pake sendal kayumu yang tingginya kayak egrang itu.” Boy menyilangkan tangannya di dada dan menatap sepasang sandal tinggi dengan tapak kayu yang berada di bawah meja kamar Tini.


 


Dijah dan Asti mengangguk-angguk setuju. “Aku juga mau ngomong itu tadi,” ucap Dijah.


 


“Sama. Maaf ya Mbak Tini. Mbak Tini lebih cantik alami aja.” Asti duduk di ranjang memandangi Tini yang masih terheran-heran.


 


“Kamu liat susuku Boy?” tanya Tini dengan tatapan curiga pada Boy. Ia kemudian membuka lemari mengambil sebuah atasan bermotif bunga-bunga berwarna mencolok.


 


“Gak tegang kok aku Tin,” sahut Boy. “Warna bajumu gak ada yang lebih kalem?” tanya Boy.


 


Tini menggeleng. “Oh ya udah,” jawab Boy menyerah.


 


Beberapa saat kemudian keempat orang itu sudah keluar dari kamar Tini. Mak Robin yang juga sudah cantik, tapi masih memakai pakaian rumahnya tampak sedang duduk di tembok penghalang banjir setinggi betis di depan pintu kamarnya.


 


Pakaian Tini hari itu normal. Setidaknya itulah yang dianggapnya. Sebuah rok plisket sepanjang betis berwarna kuning cerah dan atasan putih dengan motif bunga2 besar.


 


“Yuk Mas,” ajak Tini saat berdiri di depan pintu. Yudi langsung berdiri dan mengangguk pada empat orang yang melepas kepergiannya.


 


“Tin, nanti siapa yang pura-pura bawa si Robin jajan kalo bapaknya pulang?” tanya Mak Robin dengan wajah merana.

__ADS_1


 


“Kasi CTM aja! Lima,” sahut Tini asal, kemudian terkikik-kikik di sebelah Yudi.


 


“Bodat! (Monyet!)” maki Mak Robin dalam bisikan.


 


“Saya bawa Tini dulu ya Mbak,” ujar Yudi pada Mak Robin.


 


“Sana! Sana bawa. Yang jauh dan lama bawanya. Dua taon sekalian,” kesal Mak Robin.


 


“Kan ada kita Mak,” sahut Asti. “Lagian Mbak Tini gak pergi lama kok. Cuma makan bakso beneran di simpang. Dia gak bawa hapenya, nih!” Asti mengangkat ponsel Tini yang masih dipakainya bertukar pesan bersama Bayu.


 


“Jadi bawa apa dia?” tanya Mak Robin lagi.


 


“Bawa dompetnya yang biasa. Yang dari toko mas!” jawab Boy kembali duduk di kursi.


 


“Aku beresin kamarku dulu ya,” kata Dijah kemudian merogoh kunci di dalam tas kecil dan membuka pintu kamarnya


 


“Sini aku bantuin,” sambut Asti mengikuti Dijah.


 


“Aku tidur-tiduran aja di kasur...” Boy ikut masuk ke kamar dan langsung merebahkan dirinya di ranjang Dijah.


 


“Dul betah di rumah baru Mbak?” tanya Asti.


 


“Terlalu betah malah. Tadi aja diajak keluar nggak mau. Keasikan main di rumah, apalagi masih belum sekolah. Kata Mas Bara nanti aja sekalian masuk SD deket rumah. Dia yang bakal urusin sekolahnya Dul,” jawab Dijah sambil menurunkan dua tumpuk pakaian terakhir dari dalam lemarinya. Lemari itu sekarang kosong. Hanya tersisa alas koran yang telah menguning di tiap raknya.


 


“Seneng dengernya. Aku jadi pengen cepet-cepet nikah,” sambung Asti.


 


“Wisuda dulu Asti... Kerja...” sahut Boy dari atas ranjang. “Aku dulu pengen banget kuliah, tapi nggak bisa. Selain karena goblok, untuk kuliah di swasta aku juga gak ada biaya. Nah kamu, meski pas-pasan, udah jelas bakal sarjana sebentar lagi. Jangan nikah dulu, kerja. Sayang ijazah kamu.” Boy mengomeli Asti yang selalu merengek ingin menikah.


 


 


“Mas Bara baik Mbak?” tanya Asti kemudian.


 


“Ya baik, kalau nggak baik mana mungkin dia mau sama aku.” Dijah mulai memasukkan pakaian yang telah dilipatnya ke dalam tas.


 


“Romantis gak?”


 


“Hmmm—aku nggak ngerti romantis itu yang gimana. Kalau kayak yang di film-film itu ya nggak. Tapi dia lembut. Aku jadi merasa berharga As...” ucap Dijah. Perkataan terakhirnya itu seperti sebuah bisikan. Begitulah yang dirasakannya terhadap Bara. Perlakuan laki-laki itu padanya memang membuat dirinya merasa berharga.


 


Dijah tersenyum tipis. Pernikahannya masih berusia seminggu. Meski itu adalah pernikahan kedua baginya, tapi semua hal yang dirasakannya dan diterimanya dari Bara bisa dikatakan serba pertama kali. Termasuk soal menikmati hubungan suami isteri.


 


TOK!!


TOK!!


 


Pintu kamar Dijah yang terbuka diketuk seseorang. Tiga orang yang berada di dalamnya serentak menoleh. Dan sejurus kemudian, pandangan mata Dijah bersitatap dengan suaminya.


 


“Maaf menyela, boleh masuk?” tanya Bara dengan senyum lebar. Dilihat dari gelagat Bara, sepertinya ia baru saja mendengar hal yang dikatakan isterinya.


 


Bara telah berjanji pada Dijah akan datang menjemput isterinya di kos-kosan itu. Setelah beberapa hari pulang larut malam, akhirnya hari itu Mas Heru mau ‘melepaskannya’.


 


“Ada Mas Bara,” kata Asti kemudian berdiri. “Yuk Boy,” ajak Asti. Ia tak ingin mengganggu pasangan yang masih berstatus pengantin baru itu.


 


“Kok keluar? Gak apa-apa kok As...” ujar Bara kemudian melangkah masuk dan menghempas tubuhnya di lantai. Ia meraup tubuh mungil Dijah dan mencium kepala wanita itu berkali-kali.


 


“Kan—kan, kita khawatir ganggu. Ayo Boy,” tukas Asti setengah memaksa Boy berdiri dari ranjang.


 


Bara tertawa. “Gak apa-apa, kan udah lama gak ketemu. Tini mana? Tumben sepi.” Bara menunjuk ke dinding di sebelahnya.


 

__ADS_1


“Pergi makan bakso dengan mas-nya,” sahut Boy.


 


“Hmmm... Pantes,” gumam Bara. Ia kemudian kembali mengetatkan pelukannya. Meraup seluruh tubuh Dijah yang sedang berjongkok di lantai. “Jah, aku ada acara di Kepulauan Riau, pulau Bintan. Minggu depan. Seminar Pers Nasional Persatuan Wartawan. Gimana tuh? Kamu ikut aja yuk.” Bara kembali mencium kepala isterinya.


 


“Urusan kantor apa boleh bawa keluarga? Apalagi ada Mas Heru,” jawab Dijah menelengkan kepalanya ke samping.


 


“Boleh aja, kenapa enggak? Lagian kita harusnya ada acara bulan madu, tapi Mas Heru terus-terusan ngasi kerjaan. Padahal aku mau ngajak keluargaku jalan-jalan.” Bara cemberut di balik tubuh isterinya.


 


“Ikut aja Mbak Dijah, sekalian honeymoon. Ya kan As?” Boy meminta pendapat Asti yang berada sekarang ikut duduk di atas ranjang.


 


“Iya Mbak, ikut aja” jawab Asti. “Eh Mas Bara,” panggil Asti.


 


“Ya?” sahut Bara menegakkan kepalanya.


 


“Mas Bayu ikut nggak acara itu?” tanya Asti.


 


“Kayaknya ikut, dia kan kameraman. Jadi biasa karyawan yang belum pernah ikut ke acara itu dapet giliran. Bayu belum pernah. Lumayanlah ke luar kota itung-itung dia liburan. Emangnya kenapa?” tanya Bara.


 


“Kita semua boleh ikut?” tanya Asti dengan nada suara polosnya seperti biasa.


 


“Hah?” Bara masih terkejut.


 


“Kita semua gak pernah ke mana-mana. Sekalian liburan. Kalo Mas Bara siang seminar, entar Mbak Dijah dan Dul kita yang temenin. Kita bakal nanggung ongkosnya masing-masing kok, gimana? Boleh gak?” tanya Asti lagi.


 


“Bukan—bukan itu masalahnya. Emangnya—Hmmm... Jah?” Bara menyerah. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Ia menyerahkan tugas menjawab itu pada isterinya.


 


Dijah yang memahami jalan pikiran Asti, mengangguk pelan. “Kalau Mas nggak keberatan, aku nggak keberatan” sahut Dijah menoleh ke kiri dan mencium pipi kanan Bara yang sedang menoleh pada Asti dan Boy.


 


Menyadari pipinya baru saja dicium, Bara sedikit terbelalak kembali menoleh pada isterinya.


 


“Kangen yang sesi malem ya...” bisik Bara di telinga Dijah.


 


Dijah pura-pura tuli melanjutkan sisa pekerjaannya. Bara kembali menunduk dan berbisik, “entar malem ya... Kasian isteri Mas udah lama nggak diusap-usap semuanya sebelum tidur.” Bara terkekeh mencium telinga isterinya.


 


Rambut-rambut di tangan Dijah seketika bergidik karena ulah suaminya itu. Ia geli karena telinganya dihembus nafas hangat. Ia juga geli karena membayangkan apa yang akan dilakukan Bara yang hari itu bisa pulang lebih awal.


 


“Aku belum pernah jalan-jalan ke pulau lain. Yang aku sering denger cuma pulau-pulau gede. Aku bisa ambil cuti, aku ikut. Mumpung ada guide. Kapan lagi kita jalan-jalan bareng,” sahut Boy kegirangan sambil memeluk Asti dan mengguncang-guncang tubuh gadis itu.


 


“Aku masih libur semesteran. Aku pecahin celengan babi, kita bisa ikut berangkat Boy!” pekik Asti membalas pelukan Boy.


 


“Aku masih pengangguran! Tabunganku masih cukup untuk sekalian pindah ke pulau itu. Aku ikut!” seru Tini tiba-tiba dari depan pintu.


 


“Ayo Mbak Tini! Kapan lagi kita jalan-jalan bareng. Mas Bara baik banget ngijinin kita ikut bulan madunya,” ujar Asti cengengesan.


 


“Pasti ikut aku!”


 


Menyadari situasi yang sebenarnya, Bara melepaskan pelukannya pada tubuh Dijah. Ia menatap Asti, Boy dan Tini yang sedang berebut untuk bicara soal apa yang akan mereka lakukan di sana.


 


Boy mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari tahu soal Pulau Bintan. Asti dan Tini menunduk di atas ponsel pria itu sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di layar ponsel Boy.


 


Bulan madu? Bulan madu apa itu? Bara kembali menjatuhkan tubuhnya dengan lemas ke belakang punggung isterinya. Sedangkan Dijah tertawa-tawa senang.


 


To Be Continued.....


Panjang nih... Pasti suka.


Jadi jangan lupa tombol likenya diklik ya sayang-sayang njusss... :*


Kalau masih ada sisa vote vouchernya boleh juga disumbangin ke Bara Dijah seikhlas hati :D


 

__ADS_1


__ADS_2