PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
128. Aku Ayahnya


__ADS_3

“Makan lagi Tin,” pinta Dijah pada Tini yang baru saja terbangun dari tidurnya. Tini sudah tertidur dan terbangun sebanyak dua kali selama menemani Dijah.


“Makananmu di meja itu udah hampir semuanya aku yang makan. Udah jam berapa emangnya?” Tini merogoh tasnya mencari ponsel. “Baru jam 9 malem. Ya ampun... Aku kira udah lewat tengah malem. Kalau nggak ada laki-laki rasanya waktu lama berjalan ya.” Tini kembali mencampakkan ponsel ke dalam tasnya dan berdiri menuju pintu keluar. Sesaat lamanya ia melongokkan kepalanya keluar dan kembali menutup pintu.


“Memang ganteng,” gumam Tini kemudian.


“Siapa?” tanya Dijah heran.


“Dokter yang pake seragam ijo-ijo itu. Barusan aku liat dia keluar dari ruangan di sebelah. Kayak malaikat gantengnya,” tambah Tini.


Dijah mendengus. “Semua laki-laki kamu bilang gantengnya kayak malaikat.”


“Emang iya! Cuma Gatot aja yang kayak setan,” sahut Tini kalem.


“Kalau kamu mau pulang sekarang nggak apa-apa. Khawatir mas-ku kelamaan datengnya.” Dijah mulai kasian pada Tini yang bahkan belum berganti pakaian dari pagi.


“Nggak apa-apa, santai. Aku makan cemilan lagi boleh ya?” tanya Tini. Sepertinya itu hanya pertanyaan basa-basi, karena ia langsung mengambil sebutir apel dan mulai menyeka buah itu dengan rok sebelum mulai menggigitnya.


“Makan aja, itu dibawain mas-ku dari temen-temen kantornya. Tidurmu kayak capek bener ya Tin....” Dijah memiringkan tubuhnya menghadap Tini yang duduk di sebelah kirinya dengan menyilangkan kaki dan makan sebutir apel.


“Aku emang capek beneran Jah, bukan sandiwara. Aku capek kerja, makanya pengen punya suami. Aku pengen laki-laki yang nggak Cuma menawarkan cinta tapi juga harta. Aku udah bosen ngangkat galon air sendiri. Tapi pergi ke peramal Minggu lalu kok katanya aku bahagianya umur 40 ke atas. Ya keburu menopause. Peramal kurang ajar! Udah dikasi 20 ribu hasil ramalannya malah nggak ngenakin.” Tini melepeh kulit apel yang tebal dari mulutnya dengan selembar tisu.


“Sayang banget 20 ribu ke peramal. Nyari duit setengah mati, ngabisinnya setengah sadar.” Dijah menggerutu menatap Tini.


“Iya, itu yang terakhir. Maksudnya untuk menghibur diri kalau ramalannya bagus. Taunya malah buat putus asa.”


Dijah tertawa tanpa suara. “Aku akhir-akhir ini agak susah tidur,” ucap Dijah.


“Hmmm... Penyakitmu udah kayak orang kaya aja. Dulu tetangga motong keramik aja kamu bisa tidur ngorok.” Tini mendengus seraya berdiri menuju tong sampah.


Dijah kembali terkekeh. “Mungkin karena kalau malem, mualku makin menjadi. Ya ampun Tin... Doain ini segera berakhir. Kasian mas-ku—”


“Kenapa mas-nya?” tanya Bara yang baru muncul di pintu. Dijah langsung menoleh dan matanya membulat senang.


“Kelamaan ya Tin?” tanya Bara pada Tini yang berdiri tegak di sebelah meja.


“Enggak—enggak kok. Nggak apa-apa,” jawab Tini nyengir. Tadi ia sedang menimbang-nimbang sebutir pir kemudian langsung mencampakkannya karena mendengar suara Bara.


Bara meletakkan ransel dan sebuah tas pakaian gantinya di atas sofa kemudian menghampiri Dijah.


“Udah makan malem, tadi ditawari mandi sama perawat nggak mau. Aku suruh mandi juga nggak mau. Udah tidur sekali sore tadi. Laporan selesai,” kata Tini kemudian mengambil tasnya. Bara menoleh pada Tini dan tertawa.


“Makasi laporannya. Tapi...” Bara mengedarkan pandangannya pada meja di sebelah ranjang. “Yang di sini tadi, cuma kamu aja kan Tin?” tanya Bara.


“Iya. Emang cuma aku aja kok. Nggak ada laki-laki yang masuk ke sini. Nggak ada yang liat kalau Dijah nggak pake beha. Emang kenapa?” Wajah Tini terlihat khawatir.

__ADS_1


“Makanannya kok habis semua, kayak ada tamu enam orang.” Bara tertawa terkekeh-kekeh.


Tini melengos. “Mas-mu ini nyari ribut aja Jah...” tukas Tini. “Aku pulang ya... Besok libur, aku mau nyuci pagi. Cucian kemarin udah di jemuran, aku turunin lagi. Tetangga belakang kita yang budiman itu, bakar sampah sore-sore. Bajuku diasepin semua. Kampret!” Tini sudah menyandang tasnya dan memakai sepatu tingginya.


“Eh, bawa ini dong....” Bara mengulurkan dua kantong berisi buah dari dalam lemari es kepada Tini.


“Untuk apa?” tanya Tini dengan raut penuh basa-basi.


“Untuk ditanam lagi. Siapa tau bidang kamu selama ini berkebun,” jawab Bara kembali menutup lemari es.


“Asem. Aku cuma nanya.”


“Untuk dimakan dong Tini Suketi... Udah kebanyakan buah di sini. Aku gak gitu suka apel ama pir. Dijah makannya dikit-dikit banget. Itu bagiin ke Robin atau siapa, terserah kamu.” Bara memutari ranjang dan duduk di dekat kaki Dijah.


“Mas Bara sukanya buah yang lain pastinya. Aku tau....” Tini terkikik melongok isi plastik yang diberikan Bara.


“Udah sana balik, entar kemaleman. Udah aku panggilan taksi di depan lobby rumah sakit. Tanya aja ke supir taksinya, untuk Nona Tini.”


“Hihihi... Nona Tini,” ulang Tini kembali terkikik. “Ya udah, aku pulang dulu ya Jah—Mas... Jangan nganu-nganu dulu.” Tini keluar kamar sembari terbahak.


Bara menghela napas dan menggelengkan kepalanya.


“Mas mandi dulu ya, gerah. Tadi di rumah cuma mampir aja jemput Dul.” Bara bangkit menuju tas pakaian yang tadi dibawanya. Ia mengeluarkan kaos oblong hitam dan celana chinos selutut berwarna coklat muda serta pakaian dalam.


“Dul ke mana Mas?” tanya Dijah. “Apa ke...” Bagaimana kalau anaknya di rumah orang tua Bara, pikirnya. Ia mengernyit.


“Apa nggak ganggu?” tanya Dijah dengan nada suara ragu menatap punggung suaminya.


Bara menoleh menatap Dijah. “Percaya aku ya Sayang... Dul pasti betah. Tadi aku juga bawain mainannya. Kita tunggu aja entar Dul dibekali apa dari rumah eyangnya.”


Dijah hanya diam. Menggigit bibirnya dengan dahi yang masih mengernyit. Baru masuk ke kamar mandi dan Dijah perlahan turun dari ranjang. Ia membereskan kotak bekal yang siang tadi dibawa Bara dari rumah. Isinya telah habis. Malam ini ia memakan masakan Mbok Jum alih-alih senampan penuh menu dari rumah sakit.


Kepalanya sedikit enteng dan tubuhnya lumayan bertenaga dibantu cairan infus. Dengan obat anti muntah dan antasida yang masih dikonsumsinya, Dijah bisa memasukkan sedikit makanan ke perutnya. Ia berdiri merapikan meja sebelah ranjang. Perlahan ia menggeser tiang infus menuju meja makan pasien untuk memindahkan senampan penuh menu ke atas meja rendah di depan sofa.


“Kasian...” gumam Dijah merapikan nampan kemudian meletakkan sebotol air mineral dan gelas kosong. Malam ini biar Bara yang memakan senampan penuh menu sarat gizi itu.


Merasa langkahnya sedikit limbung, Dijah buru-buru kembali ke atas ranjang. Ia langsung bergelung dengan tisu yang didekatkannya ke mulut. Sensasi asam terasa naik ke pangkal tenggorokannya.


“Ganti baju yuk....” Bara keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di pundaknya. Rambut ikalnya basah dan berantakan belum disisir. Aroma sampo dan sabun cair satu-satu melintasi hidung Dijah.


Dijah menunduk melihat tampilannya. Kucel sekali pikirnya. Suaminya seganteng itu tapi penampilannya sendiri malah awut-awutan.


Bara mendekati Dijah dengan daster di tangannya. “Ayo ke kamar mandi. Bersih-bersih dulu biar tidurnya enak.” Bara menggeser tiang infus dan meraih lengan istrinya.


Mereka saling diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Bara yang sedang mempertimbangkan apakah memberitahu kabar Fredy dan Dijah yang sedang memikirkan bagaimana Dul yang berada di rumah mertuanya. Dul bukan siapa-siapa di sana. Bukan cucu kandung mertuanya. Bagaimana ibu mertuanya memandang Dul. Dijah risau akan hal itu.

__ADS_1


“Eh, kamu yang nyusun nampan itu?” tanya Bara melihat ke arah meja depan sofa. “Kan Mas bisa ambil sendiri,” ucap Bara. Tangannya merapikan letak tiang infus saat Dijah kembali berbaring di ranjang.


“Aku nggak pernah ngurusin Mas lagi... Aku kasian...” ucap Dijah.


Bara menarik bibirnya setengah cemberut menatap Dijah. “Iya... Mas kasian ya? Kalo gitu boleh ikut baring di ranjang sebentar sebelum makan?” tanya Bara. Dijah mengangguk. Bara kemudian memutari ranjang dan naik berbaring di sisi kanan Dijah. Ia kemudian menyelipkan tangannya di belakang leher istrinya.


“Sini, pake bantal tangan Mas sebentar. Mas lagi pengen meluk. Mas kangen... Seharian ninggalin kamu di sini,” ucap Bara memeluk istrinya.


Dijah melingkarkan tangan kirinya yang dipasangi infus ke pinggang Bara. “Aku juga kangen... Seharian itu rasanya lama. Kayak dulu nunggu Mas jemput aku kerja.”


“Kesannya kayak nggak mau dijemput. Tapi ternyata ditungguin ya...” sahut Bara.


“Ya ditungguin...” sahut Dijah mendongak mencium leher suaminya.


“Sejak kapan sayang Mas?” tanya Bara menunduk meraih dagu istrinya.


“Sayang? Awalnya aku malah kasian ke Mas,” sahut Dijah.


“Ha? Kasian?”


Dijah mengangguk. “Iya. Kasian. Mas ngomongnya juga anak kos. Bawain bahan makanan, minta dimasakin. Minta cuciin jaketnya.”


Bara tertawa mengingat ilmu yang dikeluarkannya dulu untuk menjerat Dijah. Dijah yang gampang kasihan melihat orang lain tapi malah ia manfaatkan untuk mengasihaninya.


“Jah, sebenarnya malem ini Mas mau ngomong sesuatu. Tapi Mas mau tanya dulu, apa kamu mau denger atau enggak.”


“Soal apa? Apa soal—”


Bara mengangguk pelan. “Iya, soal itu. Orang itu. Kabar yang—nggak enak. Kamu mau deng—”


Dijah menggelengkan kepalanya dengan keras berkali-kali. “Enggak—enggak... Aku nggak mau—aku nggak mau. Enggak—aku nggak mau.” Dijah menangis. Ia membenamkan wajahnya di dada Bara.


Dijah sudah bisa membayangkan berita itu seburuk apa. Fredy bagaikan hama di keluarganya. Dari semua anak-anak orangtuanya, dia termasuk produk gagal. Anak bungsu yang terlalu dimanja dan terbiasa keinginannya dituruti. Terlena oleh harta orang tua sampai tak sadar kalau pada akhirnya dia harus tetap berdiri dengan kaki sendiri.


Berulang kali berurusan dengan kepolisian karena kasus penganiayaan terhadap mantan istri, membuat Fredy semakin dibuang. Aib besar yang telah menggerus hampir seluruh harta keluarga demi meloloskannya dari bui.


Dan kini, Fredy yang miskin dan terbuang berusaha kaya dengan cara cepat. Dijah sudah menduganya. Ia bersyukur tak pernah menafkahi Dul dengan uang tak jelas milik laki-laki itu. Dan sekarang? Bara ingin menyampaikan berita paling buruk? Dijah sudah bisa menduga berita itu.


Bahunya berguncang. Ia tak sanggup menahan air matanya yang keluar demi Dul. Bocah laki-laki yang hidup di tengah masyarakat dengan segala permasalahan kompleks. Di mana stigma jelek lebih mudah melekat dan diingat. Gelar yang tak seharusnya disandang oleh seorang anak yang bahkan tak tahu di mana letak salahnya.


“Dul Mas... Kasian Dul... Apa jadinya kalau orang tau?” raung Dijah dengan suara teredam. “Dul nggak salah. Dul nggak punya salah. Kesalahannya cuma lahir ke dunia ini,” ratap Dijah.


“Aku ayah Dul, Dijah...” bisik Bara ke telinga istrinya. “Aku ayahnya. Kamu jangan nangis. Kasian adik Dul di dalem.” Bara mengusap-usap punggung istrinya.


To Be Continued.....

__ADS_1


Jangan lupa diusap-usap tombol likenya.


Jangan sungkan-sungkan :*


__ADS_2