PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
125. Derita Dimulai


__ADS_3

Bara baru melihat Mbok Jum membawa sebotol termos air hangat dan pergi menghilang masuk ke kamarnya. Ia baru saja tiba di dapur setelah mendengarkan percakapan Dijah bersama Dul. Tadinya Bara mau mengingatkan Dijah untuk meminum susu dan dua butir vitamin yang diberikan dokter padanya kemarin. Tapi melihat Dijah sedang mendengar curahan isi hati Dul, ia memutuskan untuk duduk di ruang makan sejenak dengan ditemani secangkir teh buatan sendiri.


Sambil mengecek berkas yang dititipkan Heru padanya, Bara menghabiskan hampir satu jam di ruang makan itu.


“Sudah tid—” Perkataan Bara terhenti saat melongok ke dalam kamar Dul yang pintunya terbuka sedikit. Dijah tidur memeluk Dul membelakangi pintu.


“Udah tidur—susunya juga belum diminum,” gumam Bara dengan segelas susu di tangannya. Ia kemudian masuk untuk menyalakan lampu tidur dan menutup rapat pintu kamar Dul.


Bara meletakkan susu di meja nakas dan naik ke ranjang. Malam itu ia membiarkan Dijah tidur bersama Dul. Yang penting Dijah beristirahat dari muntah-muntah parahnya di malam hari. Hari yang terasa panjang dan suasana rumah yang sepi membuat Bara lebih cepat jatuh tertidur.


Menjelang pukul empat pagi, Dijah menggeliatkan tubuhnya. Ia mengerjap dalam pendar cahaya lampu kuning yang menyorot plafon dengan motif bulan dan bintang. Dul masih meringkuk nyenyak di sebelahnya. Dijah tak menyadari berapa lama ia sudah tertidur di sebelah Dul.


Dengan langkah gontai, Dijah turun dari ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuh kurus Dul.


“Kamarnya nyaman ya Dul...” gumam Dijah menepuk-nepuk pelan paha anaknya yang mendengkur nyenyak.


Masih dengan mengenakan sarung di atas dasternya, Dijah menuju pintu kamar utama. Ia melihat Bara yang tengah tidur nyenyak membelakangi pintu. Lampu kamar sudah menyala kuning redup dan Dijah sempat melirik jam kecil di dekat segelas susu dingin.


“Udah mau jam empat,” bisik Dijah merangkak naik ke ranjang dari sisi kiri. Ia membuka selimut Bara dan menyusup ke baliknya.


“Mas...” panggil Dijah mengangkat lengan suaminya. Bara seketika tersentak. Ia menarik wajahnya menjauh, dahinya mengernyit dan matanya menyipit menatap Dijah.


“Ini aku... Ngeliatnya gitu banget,” gerutu Dijah merapatkan tubuhnya memeluk Bara.


“Kaget sayang...” bisik Bara membalas pelukan istrinya. Ia masih sangat mengantuk dan nafasnya seketika kembali teratur saat dagunya menyentuh puncak kepala Dijah.


Dijah sedikit merasa diabaikan. Ia memindahkan tangannya yang berada di pinggang Bara dan menyusupkan ke balik kaos yang dikenakan suaminya. Dengan mata terpejam Dijah membelai perut dan dada Bara dengan telapak tangannya yang hangat.


“Hmmm...” Bara mendengkur lembut. Matanya masih memejam dan ia setengah tertidur.


Dijah cemberut. Matanya telah segar terang benderang sekarang. Suami yang sejak kemarin sibuk asyik masyuk membelai dadanya kini tertidur pulas. Dijah mendongak untuk mengecup dagu Bara.


“Kasian... Kurang tidur ya dari kemarin?” tanya Dijah dalam bisikan.


“Hmmm...” Bara yang terlihat tidur nyenyak kembali menyahuti Dijah.


Luar biasa sekali telinga pria ini, pikir Dijah.

__ADS_1


“Sayang aku nggak Mas?” tanya Dijah ingin mendengar jawaban Bara.


“He’eh” jawab Bara dengan suara kantuknya.


“He’eh, tapi tidur...” ucap Dijah menjauhkan tubuhnya untuk menatap wajah tampan Bara. Tangannya masih mengusap perut suaminya. Dengan wajah sedikit jengkel karena tak mendapat respon, Dijah membawa tangannya turun menyusup ke tepian boxer longgar yang dikenakan Bara.


Telapak tangan Dijah menerpa rambut yang membentuk garis petunjuk akan tujuan utamanya di bawah sana.


“Mas... Aku pengen,” bisik Dijah saat menyentuh benda penting di bawah sana. Bara menggeliat membuka matanya. Ia mengantuk tapi tak bisa mengabaikan kehangatan tangan Dijah yang membalutnya.


“Aku kira kamu tidur lagi—hmmmff...” Bara mengerang dan meraba bokong istrinya. “Gak mual? Hmm?” tanyanya lagi menarik pinggang Dijah agar semakin mendekat.


“Enggak... Jam segini enggak,” potong Dijah. Ia merasakan kelembaban menerpanya dengan cepat seiring keperkasaan Bara yang semakin mengetat dalam genggamannya.


“Hmmmm...” Bara kembali mengerang dan menciumi leher istrinya. Tanpa disadarinya ia mulai menggerakkan pinggul menyesuaikan keberadaan tangan Dijah yang belum melepaskannya.


Bara bangkit seraya menyingkirkan tangan istrinya. Ia langsung merangkak untuk memberi kecupan berpindah-pindah di atas tubuh Dijah yang masih tertutup daster dan sarung kotak-kotak.


“Nggak pengen muntah, tapi pengen yang lain ya...” kata Bara menaikkan kain penutup tubuh Dijah. “Buka semua—aku pengen liat.” Bara meloloskan daster melewati kepala istrinya. Dengan gerakan paling maskulin dan bertumpu dengan kedua lututnya, Bara melolosi pakaiannya sendiri.


Otot-otot lengan Bara yang timbul karena gerakan sederhana itu, membuat perasaan gelisah dalam diri Dijah yang tak sabar ingin disalurkan.


Bara masih berlama-lama mengecupi Dijah di bawah sana. Kemudian perlahan kembali ke atas menciumi dada dan kembali menyesap seolah melanjutkan kesenangannya yang tertunda. Sembari menyapukan jari ke tempat yang mendamba dengan gerakan memutar yang menggoda.


Dijah mengerang menutup mulutnya sendiri. Bagian tubuh Bara telah mengganggunya. Menempelinya dengan hangat. Perpaduan kekerasan dan kekuatan yang membuat pinggulnya bergerak meronta. Tangannya kembali mencari-cari. Dan sedetik kemudian ia kembali menggelungkan jari-jarinya di seputaran itu dengan erat. Dijah mendengar Bara menghela nafas dengan keras. Erangan suaminya serak dan tertahan. Seiring dengan itu, Dijah merasakan Bara memasuki tubuhnya. Perlahan sekali. Hampir membuatnya gila karena tak sabar.


Dijah mengaitkan kakinya dan menikmati sisa permainan itu dipimpin oleh suaminya. Kuku-kuku tangannya membenam di punggung lebar Bara. Matanya tak lepas mencermati tiap ekspresi dan raut kenikmatan yang sedang mereka reguk.


Sampai akhirnya mereka berdua seperti tak peduli dengan aktifitas pagi banyak orang. Dijah menguburkan wajahnya di bahu Bara. Kembali mengerang sama kerasnya seiring gelombang kenikmatan yang mereka rasakan bersamaan. Membuncah begitu banyak di dalam dirinya.


Bara akhirnya berhenti. Terengah dengan kedua tangan yang masih bertumpu di kedua sisi tubuh istrinya. Ia masih bergetar dan mengambang. Perasaan yang semakin hari semakin terkunci pada satu sosok wanita yang paling sering muncul dalam fantasinya sejak awal bertemu.


Pandangan mereka bertaut, keduanya menarik senyum tipis yang begitu berarti. Menggambarkan rasa cinta mendalam dan kepemilikan satu sama lain.


Pagi itu adalah hari terakhir mereka bercinta di rumah. Hari-hari selanjutnya merupakan ujian kesabaran bagi mereka dalam menunggu buah hati itu datang.


Bara berkali-kali membawa istrinya ke rumah sakit karena muntah terus-menerus. Dijah sampai harus merangkak hanya untuk muntah ke kamar mandi ketika suaminya tak ada di rumah.

__ADS_1


Dalam kesibukannya menjalani posisi yang lebih penting di kantor beserta tanggung jawab baru, Bara hilir mudik dari kantor, rumah sakit dan rumah dengan tentengan yang berbeda-beda. Pakaian bersih, pakaian kotor, melihat Dul di rumah, memastikan istrinya bisa makan di rumah sakit, dan memastikan seluruh kewajibannya di kantor bisa dilaksanakan dengan baik.


“Mas... Dul gimana?” tanya Dijah yang berbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Bara baru tiba dengan seplastik buah dan dua tentengan lain di tangannya.


“Tadi Mas makan bareng Dul di rumah. Mbok Jum masak banyak. Itu tadi dibawain juga. Siapa tau bosen makanan rumah sakit,” ucap Bara berdiri merapikan rambut istrinya. “Sehat-sehat dong... Aku ngerasa bersalah liat kamu kayak gini.” Bara duduk di tepi ranjang masih merapikan sesuatu yang dilihatnya acak-acakan. Membenarkan letak seragam rumah sakit Dijah dan menaikkan selimut istrinya sampai ke batas dada. Tak ada siapapun di ruangan itu selain mereka berdua.


“Udah 17 Minggu, tapi masih muntah terus...” gumam Bara. Perutnya juga belum keliatan karena berat badannya malah turun,” kata Bara mengusap perut Dijah yang memang belum terlihat membesar. Rautnya sangat muram.


“Nanti pasti naik berat badannya. Yang penting anak Mas sehat...” sahut Dijah meraih tangan suaminya dan meletakkannya ke pipi. Matanya memejam merasakan kehangatan telapak tangan Bara. “Aku lebih penasaran dengan jenis kelaminnya. Belum keliatan terus tiap diliat. Mau bikin penasaran ayah-ibunya,” sambung Dijah menarik senyum tipis memandang Bara.


“Ibu kamu titip salam ke Dul. Ke kamu juga. Mas nelfon Kang Supri tadi pagi,” ujar Bara. “Pesen ibu kamu, jaga kesehatan. Jangan mikir yang aneh-aneh biar bayinya sehat.”


Dijah kembali tersenyum. Ia bahkan tak ingat mengabarkan apapun pada keluarganya. Hidupnya terlalu gaduh karena mabuk kehamilan itu. Menghadapi wajah Bara yang bahkan terlihat lebih menderita ketimbang ia sendiri sudah cukup merepotkan baginya. Pria itu tak berhenti bergerak seperti gasing. Menawarkan ini itu demi mengurangi penderitaannya. Dengan raut lelah yang tak diakui suaminya, pria itu tidur di rumah sakit setiap malam.


Dijah mengangguk mendengar perkataan suaminya. “Jadi Mas ke sini lagi jam berapa?” Dijah melontarkan tatapan cemas. Meski egois, ia memang tak rela Bara meninggalkannya sendirian di kamar rawat VIP itu. Sebagus-bagusnya kamar rawat inap, itu tetap rumah sakit dengan lorong-lorong sepi setiap malam.


“Agak malem. Tapi—sebentar...” Bara menoleh ke ponselnya yang bergetar. Sebelah tangannya masih mengusap-usap perut Dijah.


Dijah sudah cemberut. Membayangkan sampai malam berada di sana sendirian rasanya ia mau pulang ke rumah saja. Bara yang sedang mengetikkan pesan di ponselnya sempat melirik sekilas. Suaminya itu pasti tahu kalau ia setengah merajuk tak mau ditinggalkan.


“Sabar...” gumam Bara mencubit pelan pipi istrinya. Meski telah memiliki satu anak, Dijah perempuan yang masih berusia 23 tahun. Sudah sepatutnya jika ia bermanja-manja. Dan Bara memang menghendaki sifat itu muncul dari diri Dijah yang terlampau mandiri. Ia ingin Dijah menggelayutinya. Merengek, meminta ini itu, atau menempelinya ke manapun seperti seorang istri yang posesif. Bara tak keberatan. Ia menginginkan sosok Dijah akan menjadi seperti itu nantinya.


“Mas jangan lama-lama... Aku sendiri...” rengek Dijah menarik tangan Bara yang masih berada di pipinya.


“Gak sendiri sayang... Aku kasi temen. Nih, sebentar lagi dia dateng.” Bara menoleh ke arah pintu. Dan benar saja, pintu ruang rawat itu terbuka dan kepala Tini menyembul dari luar.


“Ya ampun Dijah! Mual muntah masuk rumah sakit. Biasa kena sabetan samurai aja cuma pake sarang laba-laba udah sembuh.” Tini masuk ke kamar langsung menuju ranjang dan menghempaskan tubuhnya di dekat kaki Dijah.


Dijah sedikit terperangah melihat kedatangan sahabatnya itu.


To Be Continued.....


Hari Senin telah tiba, bantu-bantu vote Dijah pakai voucher gratis ya...


Agar karya juskelapa bisa muncul di rank dan dibaca lebih banyak orang lagi.


Like dan komentarnya juga menambah poin untuk perfomance suatu karya.

__ADS_1


Terimakasih karena sudah mampir dan membaca karya enjusss... :*


__ADS_2