
"Jah... Nanti kalau ditanya si Heri jangan lupa bilang yang meninggal nenekku. Kemarin aku izinnya bilang gitu."
"Bukannya kakekmu?" tanya Dijah.
"Nenekku Dijah. Kakekku meninggal itu alasan bulan lalu, jangan sampe kelupaan kamu. Nanti Heri berisik, kontrak kita bisa dihabiskan sama dia. Laki-laki hantu susu itu. Aku udah nemuin dia pake baju yang keliatan belahan dada, biar dia lupa mau nanya macem-macem." Tini mendengus kesal.
"Sekarang pak Heri-nya mana?" tanya Dijah. "Sejak sore masuk tadi gak keliatan." Dijah membuka tasnya mengeluarkan celana jeans untuk mengganti rok pendeknya.
"Embuh, yowis. Jangan disebut-sebut, nanti malah muncul." Melihat Dijah mengeluarkan pakaiannya, Tini ikut membuka tasnya.
"Udah seneng lagi kamu sekarang. Nggak sedih lagi karena Gatot. Baguslah," tukas Dijah mulai memutar roknya agar resletingnya ke posisi depan.
"Nah itu dia Jah! Mari kita lupakan Gatot setan itu. Awalnya aku udah niat mau jomblo sementara waktu, tapi waktu buka facebook-ku dan ngeliat ada tulisan 'Turut Berduka Cita' di grup SMA aku bahagia Jah!"
"Turut berduka cita, trus kamu bahagia gimana? Jangan kurang ajar kamu Tin..." Dijah memandang sinis pada Tini. Ia mulai menurunkan stocking hitamnya.
"Yang meninggal itu istri mantan pacarku Jah... Gimana aku nggak bahagia. Namanya Yudi. Mukanya ganteng-ganteng merakyat. Aku liat dia ada usaha di pasar induk. Aku bakal prospek Jah. Doain!" Tini kembali terkikik geli.
Mereka sedang berada di ruang ganti pakaian setelah selesai bekerja di hari Sabtu malam itu.
"Aku selalu doain," sahut Dijah.
"Kayaknya aku harus mengubah warna rambutku biar pantes jadi ibu sambung anak-anaknya. Bayangin aku bakal dipanggil ibu Jah..."
"Jangan jauh-jauh dulu mikirnya. Dulu kamu nggak jadi ama Yudi kenapa?" tanya Dijah.
"Nggak direstui orangtuanya, beda kasta! Maklum, cinta aja nggak cukup jaman sekarang."
"Jadi sekarang gimana?" tanya Tini. "Nanti nggak direstui lagi kamu sakit hati Tin..." gumam Dijah yang langsung teringat akan salah satu kekhawatirannya.
"Sekarang udah mati semua Jah... Aman!" seru Tini tertawa terbahak-bahak.
Mendengar perkataan temannya, Dijah ikut tertawa. Ia kemudian meraih ponselnya yang sejak tadi berada di dalam tas. Dijah melihat sebuah pesan dari Bara.
'Malem ini kerja? Udah pulang belum?'
Dijah langsung mengetikkan balasan, 'Kerja. Ini udah selesai, lagi ganti pakaian di kantor'
'Langsung pulang ya, jangan ke mana-mana lagi' balas Bara kemudian.
Dijah langsung mengetik balasan 'Iya...'. Kemudian ia langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Mas-mu kapan pulang?" tanya Tini saat mereka telah selesai berganti pakaian.
"Katanya besok," jawab Dijah.
"Ke salon Jah, ratus. Anumu diuap biar makin semerbak. Biar bisa memabukkan mas-mu dari jarak dua meter," ucap Tini santai.
"Otakmu isinya itu melulu ya Tin," tukas Dijah.
__ADS_1
"Sama sebenernya sama isi otak mas-mu. Nggak percaya tanya aja sama dia," balas Tini santai.
"Udah ah, aku mau jenguk Dul. Mau beli martabak dan jajanan buat dia."
"Iya ya, biar besok udah bisa santai nungguin mas-mu. Aku balik duluan ya, kakiku pegel." Tini menatap kakinya yang telah berganti menjadi sepasang sandal.
"Iya, aku juga pegel." Dijah menghentakkan kakinya yang kini mengenakan sepasang flat shoes-nya.
"Beli sepatu baru napa sih Jah... Udah butut banget. aku aja liatnya malu," ujar Tini.
"Nantilah Tin, sayang uangnya. Aku lagi ngumpulin uang buat masukin Dul di SD yang bagus. Tahun ajaran baru sebentar lagi, biar temennya juga nggak sembarangan."
"Gak boleh milih-milih teman," tukas Tini.
"Boleh Tin, jaman sekarang boleh milih teman. Menjaga pergaulannya biar tetap bagus sejak dini. Masak temenan sama anak yang suka ngomong-ngomong kotor itu aku biarin aja. Bakal jadi apa anakku. Cukup aku aja yang begini, Dul jangan." Dijah dan Tini telah melenggang keluar pagar kantornya menuju jalan raya.
"Aku duluan ya," ujar Dijah saat melihat trayek angkutan yang menuju ke rumahnya.
"Hati-hati Jah," seru Tini.
Sudah malam Minggu, meski kakinya terasa pegal luar biasa namun hatinya sangat senang. Besok Bara akan kembali dari Belanda. Pria itu mengatakan akan menumpangi pesawat pukul 03.00 pagi dari Schiphol dan akan tiba sore hari di Indonesia.
Walau hatinya bahagia saat mengatakan akan langsung ke tempatnya, Dijah tetap tak bisa melontarkannya dalam bentuk kata-kata. Ia hanya bisa tersenyum seraya menatap Bara melalui panggilan video kemarin malam.
Setelah saling berkirim pesan, Bara rutin menelepon Dijah di pagi hari. Subuh saat Dijah baru bangun dari tidurnya, Bara yang di sana sedang tengah malam terkantuk-kantuk memandang Dijah di seberang telepon.
Angkot yang ditumpangi Dijah telah tiba di depan gang. Dengan dua buah tentengan berisi martabak dan sate Madura, Dijah berjalan riang menyusuri gang rumahnya. Ia tahu kalau Dul pasti belum tidur karena sedang menunggunya. Sebelum berangkat ke sana tadi, Dijah sudah mengabarkan pada bapaknya bahwa ia akan datang.
Dan orangtua laki-laki Dijah pasti hanya sekedar berpesan pada Dul dan membiarkan bocah laki-laki itu menunggu ibunya sendirian.
Dijah kembali mengetuk pintu.
"Dul..." panggil Dijah lagi. "Buka Nak... Ibu bawa martabak," tukas Dijah mengetuk pintu berkali-kali. Ia mendengar suara televisi masih menyala.
Tiba-tiba,
"Hei Lon te!! Bawa apa untuk anakmu? Hasil melacur ya?"
Dijah menghentikan ketukannya di pintu. Suara laki-laki yang sudah lama tidak didengarnya malam itu bagai sebuah petir di siang bolong. Dijah berbalik untuk melihat asal suara.
Fredy sedang berdiri bersandar di pagar kayu sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Ngapain kamu ke sini? Udah malem, aku nggak mau ribut!" tukas Dijah meletakkan bungkusannya di depan pintu.
Fredy terlihat meneliti pakaian Dijah dengan seksama. Pria itu mundur dari pagar dan sedikit menjauhi Dijah untuk memandang mantan istrinya dari ujung rambut ke ujung kaki.
"Memang benar kamu ternyata. Kamu yang tempo hari aku liat di boncengan laki-laki dengan motor merah. Aku tanda dengan seragam kamu ini. Jadi pelacur anak muda kamu sekarang? Berapa dia kasi kamu uang? Aku juga bisa kasi ke kamu!" sergah Fredy.
Dijah diam sejenak mencermati perkataan Fredy. Di mana laki-laki itu melihat ia berada di boncengan Bara.
__ADS_1
"Jangan ngaco kamu!" ujar Dijah seperti kehabisan kata. Pikirannya masih mencoba mengingat dan menyusun kata-kata bijak agar tak memprovokasi pria gila itu.
"Sini Jah! Kamu tidur denganku aja malam ini! Mending kamu keloni anuku aja Jah! Nanti aku kasi uang!" Fredy mendekati Dijah dan menarik tangannya.
"Lepasin! Aku jijik! Lepasin!" teriak Dijah menghempaskan tangannya.
Terdengar suara pintu rumah terbuka dan wajah Dul menyembul dari balik pintu.
"Ibu..." ucap bocah laki-laki itu.
"Itu martabaknya! Ambil! Dul! Ambil plastik itu, di bawah pintu. Masuk sana!" teriak Dijah yang sudah diseret keluar pagar oleh Fredy. Dul hanya diam mematung memandang ibunya.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Fredy mencengkeram lengan Dijah.
"Siapa? Aku nggak ngerti maksud kamu! Lepasin!" Dijah menghempas tangannya dan mencoba memukul Fredy. Usaha Dijah sia-sia, malam itu Fredy tidak mabuk. Laki-laki itu datang ke sana dalam keadaan sadar.
"Kamu jangan bohong--" Fredy menyudutkan Dijah di tembok tinggi seberang pagar rumahnya. Tembok itu berbatasan langsung dengan halaman belakang Polsek yang pagi hari sering digunakan untuk latihan fisik dan apel pagi.
"Lepasin itu anakmu liat!" pekik Dijah.
"Anakmu udah kamu kasi makan uang hasil melacur 'kan? Itu uang dari mana? Berapa tarif kamu satu malam?" Fredy setengah mencekik Dijah dengan satu tangannya. Dijah mencoba menendang pria itu, tapi Fredy menempeli tubuhnya hingga nafasnya sesak.
"Jawab!!" teriak Fredy menyentak kepala Dijah ke tembok sampai terdengar bunyi keras.
"Ibu..." panggil Dul.
"Ma--suk!!" teriak Dijah pada anaknya. "Uhukk!!" Dijah terbatuk dan kedua tangannya mencengkeram lengan Fredy berusaha melepaskan tangan itu dari kerah bajunya.
"Pelacur! Murahan! Ayo kita ke hotel, aku bantai kamu di sana!" cerca Fredy kemudian menyentak lengan Dijah sampai wanita itu terjajar ke depan nyaris jatuh. Sebelah sepatunya terlepas dan tas yang dikenakannya jatuh ke tanah. Tas itu belum sempat dikancingnya, dan sekarang isi tas itu berhamburan di tanah.
Dijah menghempas tangan Fredy Dan berjongkok memunguti isi tasnya. Cepat-cepat ia memasukkan ponsel, dompet kecil dan sepotong rok seragamnya.
"Arrghhh" pekik Dijah tiba-tiba. Fredy mencengkeram rambutnya dengan sangat keras.
"Hape baru! Sini aku mau liat! Pasti dikasi sama laki-laki itu ya? Banyak uangnya, kerja apa dia?" seru Fredy masih mencengkeram rambut Dijah.
"Hei!" ujar suara laki-laki yang tak asing di telinga Dijah.
BUGGG!!!
Hanya sepersekian detik, Dijah tak sempat melihat apa yang terjadi. Ia tadi tengah sibuk memungut isi tasnya. Cengkeram tangan Fredy di rambutnya terlepas dan sepertinya Fredy terhempas karena sebuah tendangan.
Wajah Dijah bingung, sepatunya sebelah entah berada di mana dan rambutnya acak-acakan. Ia meraup isi tasnya yang masih berceceran di tanah.
"Om Bara..." ucap Dul dari pintu. Dijah mendongak dan menoleh ke belakang. Bara sedang berjalan mendekati Fredy yang terbaring di tanah.
"Siapa yang lo panggil pelacur tadi?" tanya Bara pada Fredy. Kerah baju Fredy sudah tercengkeram dalam genggaman erat tangan Bara. Dijah tak sempat berkata apa-apa. Hal yang paling pertama dilakukannya adalah menuju pintu rumah dan menarik Dul ke dalam.
Sesaat sebelum menyambar bungkusan di depan pintu, Dijah sempat menoleh Bara yang sedang memberi pukulan kedua ke rahang kiri Fredy.
__ADS_1
To Be Continued.....