
“Mbak Tini penguasaan dirinya keren. Bisa tiba-tiba ngomongin helm Yunani. Selama ini doyan nonton National Geographic juga ternyata...” Asti duduk menyandari sofa menghadap televisi. Ia sedang melihat Tini yang sedang menukar-nukar channel.
Mak Robin menoleh ke arah gawang pintu memastikan Bara tak ada di dekat mereka. “Sok paten (hebat) kali si Tini menjelaskan acara ilmu pengetahuan tadi. Padahal udah terbang arwahnya sebentar ke Ukraina. Tediam gak bisa cakap!” Mak Robin tertawa terbahak-bahak masih membahas kelakuan Tini saat bertemu dengan istri Heru tadi.
“Tadi itu baru pertama aku nonton begituan. Tv-ku mana ada channel kayak gitu. Lagian ngapain aku ngurusin helm perang Yunani. Pake helm SNI aja aku jarang.” Tini menoleh pada Dijah yang sedang membekap mulutnya dengan segumpal tisu dan memejamkan mata.
“Jah, kalau kamu sakit kita semua pulang sekarang aja ya... Siapa tau mau dipijet-pijet sama mas-mu di kamar.” Tini mencolek lengan Dijah yang kemudian membuka matanya.
“Sebentar lagi Tin... Aku masih kangen. Aku nggak apa-apa.” Dijah menarik senyum yang dipaksakannya. Hari semakin sore dan gejala mabuk Dijah semakin berat.
“Iya, sebentar lagi Mbak... Mas Bayu sebentar lagi mau dateng,” ujar Asti pada Tini.
“Si Robin betah ya Mak... Gak keluar dari kamarnya Dul dari tadi.” Boy melongok ke arah pintu kamar Dul yang terlihat dari ruang keluarga.
“Udah bosan dia tinggal di kamar sepetak itu. Doakan la bapak si Robin dapat proyek kerja gak jauh-jauh. Biar kami bisa pindah ngontrak rumah aja. Aku pun bosan ngekos terus. Segala macam suara hantu blau bisa didengar jelas kalo malam. Tapi untungnya sekarang udah tenang. Dengar-dengar hantunya udah mau insap.” Mak Robin menoleh kalem ke arah Tini.
“Amin! Amin! Amin!” pekik Tini mencampakkan remote tv kepada Mak Robin yang kemudian tertawa.
“Memangnya yang interview kamu kerja orangnya gimana Tin?” tanya Boy. Mak Robin ikut menoleh melihat Tini. Dijah menggeser letak bantal yang didekapnya menanti jawaban Tini.
“Orangnya jutek. Jawabannya pendek-pendek. Kayak nggak niat nerima aku kerja. Bulan depan katanya mulai masuk. Kayaknya seumuran mas Heru, tapi kok belum nikah? Serem juga. Masak udah setua itu anunya cuma dipakai untuk—” Tini memandang teman-temannya.
“Untuk buang air kecil aja? Sukak ati dialah Tini! Mau dipakenya cuma untuk ngepel lantai aja, itu juga urusan dia. Gak usah kau pikirkan soal itu!” kesal Mak Robin memandang Tini yang kemudian terbahak-bahak. “Ketawa muncung kau itu! Pasti langsung kau bayangkan cemana dia ngepel lantai pake itu.” Mak Robin mengambil bantal kursi dan melemparkannya pada Tini. Sementara Dijah sudah tertawa sambil menutup mulutnya dengan ujung sarung.
“Dicoba aja Mbak Tini... Dunia kerja sekarang sudah agak berbeda. Apalagi... Maaf, Mbak Tini pendidikannya cuma SMA. Kalau ada relasi yang bisa ngasi lapangan kerja, harus disyukuri.” Asti memandang serius pada Tini.
“Jangankan SMA. Yang sarjana aja sekarang susah dapat kerja. Sering kali kesuksesan itu gabungan dari usaha, doa, semangat, dan orang dalam. Jadi kerjalah kau bagus-bagus. Udah baek kali si Heru merekomendasikan kau sama kawannya.” Mak Robin ikut menasehati Tini.
“Iya, kali-kali aja jodoh sama yang interview kamu itu. Siapa namanya Tin?” tanya Boy juga dengan mimik serius agar Tini menjawabnya juga dengan keseriusan. Memulai topik serius dengan Tini terkadang memang sedikit menyulitkan. Kebanyakan percakapan berakhir dengan arah yang tak jelas.
“Namanya Agus. Tapi waktu aku ajak bercanda, ‘ebentar lagi ulang tahun ya Pak, bulan Agustus’. Eh dia jawab ‘saya lahir Oktober’. Kan kampret...” ujar Tini kesal. Semua teman-temannya melengos mendengar perkataan Tini.
“Ya udah... Gak usah mikirin laki-laki dulu. Kerjaan aja dulu. Nanti kelamaan gak kerja, gak bisa pasang bulu mata,” kata Dijah.
“Iya, itu yang bener. Lagian nggak ada lagi yang mendekat ke aku. Cuma tanggal tua aja yang semakin mendekat...” ratap Tini menghempaskan dirinya telentang di atas permadani.
“Dan kematian Tin...” sambung Dijah. Tini seketika bangkit melotot menatap Dijah.
“Mulutmu kalau ngomong yang enakan dikit sekali-sekali Jah...” omel Tini menarik sarung Dijah sampai menutup wajah temannya. Dijah terkikik-kikik geli.
Masih berada di rumah Dijah, Asti keluar rumah menyambut Bayu yang datang singgah ke sana sekalian menjemputnya.
__ADS_1
“Masuk Mas,” ajak Asti.
“Ada siapa aja?” tanya Bayu yang duduk di teras setengah menoleh ke arah pintu di sebelah kirinya.
“Yang jelas ada mbak Dijah dan mas Bara, karena mereka tuan rumahnya.” Asti nyengir. Bayu tertawa kecil tapi masih terlihat ragu.
“Gak mau masuk karena ada mbak Tini ya?” tanya Asti tanpa basa-basi.
“Enggak kok, biasa aja.” Bayu tersenyum menutupi kebenaran yang baru diutarakan oleh Asti. Ia memang sudah melakukan penjajakan pada Asti, banyak menikmati waktu-waktu kebersamaan dengan wanita muda yang kurang lebih sama minatnya dengan dia sendiri. Tapi berlaku biasa-biasa saja saat melihat Tini, Bayu belum bisa. Ia sedikit risih dengan pikiran-pikirannya sendiri. Apalagi Tini seperti mengetahui isi kepalanya. Bayu sering bergidik ngeri jika bersitatap dengan wanita itu.
“Ya udah, masuk aja. Kan nggak apa-apa...” ajak Asti lagi. Bayu akhirnya berdiri dari kursi dan mengekori Asti menuju ruang keluarga.
“Mau masuk aja berundingnya lama,” gumam Tini dari depan televisi. Tangannya kembali memegang remote tv dan mencari tayangan telah menjadi gosip artis. Bayu langsung mengatupkan mulutnya mendengar perkataan Tini.
Bara muncul di ruang keluarga menyambut Bayu dengan wajah segar seusai mandi sore. Tugasnya hari itu menampung muntah istrinya sedikit ringan karena kedatangan penghuni kos kandang ayam. Pikiran Dijah sesaat teralihkan. Tapi Bara menyerah meminta Dijah mandi karena tiap ia mengatakan hal itu, istrinya hanya mengernyit dan menautkan alis.
Matahari sudah benar-benar terbenam. Asti pamit lebih dulu dalam boncengan Bayu. Sedangkan Tini, Mak Robin dan Boy, masih duduk di teras menunggu taksi mereka datang.
“Benar dugaanku, stiker ini pasti akan abadi.” Tini berjalan mengelus stiker warna warni bertuliskan ‘HARTA, TAHTA , DIJAH’ di sepeda motor besar berwarna merah yang terparkir di carport.
“Setelah sekian lama, akhirnya baru ngaku sekarang kalo itu kerjaannya...” gumam Bara yang berdiri di sebelah kursi Dijah.
“Motormu mana Boy? Masih ada kan?” tanya Dijah pada Boy yang sedang berkeliling memandangi motor besar Bara.
“Kirain masih ada motornya...” gumam Dijah.
“Boy gak usah naik motor! Terakhir kali dibonceng Boy, dia ngelanggar lampu merah. Pas ditanya polisi, ngomongnya malah ‘Maaf Pak, saya kira lampu taman’. Bikin kapok aku aja!” Tini menyipitkan matanya memandang Boy yang terkekeh-kekeh.
“Mas Bara, motornya gak niat dijual? Kan udah jarang dipake,” tanya Boy pada Bara.
“Jangan ah... Motor itu banyak mengandung nilai sejarah.” Bara tersenyum dan menatap puncak kepala istrinya yang semakin malam semakin kalem. Dijah masih duduk dengan mendekap ujung sarung ke mulutnya.
*****
“Lagi apa?” tanya Dijah pada Dul yang sedang duduk di lantai menghadapi sebuah laci kontainer yang terbuka.
“Mau nyimpen mainan. Tadi semua dikeluarin pas main sama Robin,” jawab Dul memasukkan robot-robot kecil dari plastik ke dalam laci.
Dijah menarik bantal dan merebahkan kepalanya di kaki ranjang yang menyebelahi laci-laci berisi mainan Dul.
“Ibu tiduran di sini sebentar boleh?” tanya Dijah mengusap dahi anaknya.
__ADS_1
“Ya tiduran aja,” jawab Dul. “Ibu masih sakit ya?” Bocah itu mendongak memandang ibunya. Dijah mengangguk kemudian berbaring miring menghadap Dul. Kedua telapak tangannya menyatu dan terselip di bawah pipi. Matanya sendu. Tubuhnya semakin lemas seakan tak minum berhari-hari.
“Bu,” panggil Dul dengan pandangan masih tertuju pada laci.
“Hmmm?” Dijah mengangkat alisnya menunggu ucapan Dul.
“Kita sampe kapan tinggal di sini?” tanya Dul memandang ibunya.
“Sampe kapan?” Dijah sedikit bingung dengan pertanyaan anaknya. “Ke mana ayah Bara ngajak kita tinggal, maka kita harus ikut. Sekarang ayah Bara ngajak kita tinggal di sini, makanya kita tinggal di sini. Kenapa nanya gitu?” tanya Dijah. Ia mengamati mata Dul yang mengerjap dan mulutnya yang melengkungkan senyum kecil.
“Berarti seterusnya?” tanya Dul lagi mengangkat wajah untuk memandang ibunya
Dengan mata sayu, Dijah mengangguk. “Seterusnya,” sahut Dijah.
“Ayah Bara jadi ayahku selamanya?” tanya Dul lagi.
Mata Dijah memanas dan bibir bawahnya sedikit bergetar. “Selamanya,” jawab Dijah lagi.
“Kalau aku punya adik dari ayah Bara, aku masih boleh punya kamar ini Bu?” Dul ingin kembali memastikan bahwa hal yang disukainya tak diambil lagi. Dia sangat suka kamar bernuansa biru itu. Dengan laci-laci warna warni berisi mainan yang siang malam dijenguknya. Ia tak lagi diusir ketika masih mengantuk karena mbah-nya mau menyapu.
“Boleh. Dul sekarang anak ayah Bara. Ayah Bara sudah sayang banyak ke kita. Makanya kita juga harus sayang ayah Bara. Kamu belajar yang rajin, dengerin ibu dan ayah. Biar kamu bisa jadi kayak ayah Bara. Gitu ‘kan?” tanya Dijah yang berulangkali menelan ludahnya susah payah. Ia tak mau menangis saat berbicara dengan Dul.
“Iya. Aku mau kayak ayah Bara. Keren. Aku sayang kok sama ayah Bara. Ayah Bara sering gendong aku ke kamar kalau ketiduran di depan tv. Biasa sama Mbah aku dibangunin disuruh jalan. Aku suka digendong,” ucap Dul acuh tak acuh kembali menyusun mainannya.
Dijah kembali mengerucutkan mulutnya menahan tangis. Ia teringat bahwa sebagai ibu, bisa dihitung pakai jari berapa kali ia merengkuh Dul dalam gendongannya. Ia terlalu sibuk mencari uang membeli susu Dul semasa balita demi menghindar dari uang Fredy yang tak jelas asal-usulnya.
Di luar dinding kamar, Bara sedang berdiri merapatkan tubuh. Ia menjentikkan kukunya hingga beradu ketika tekun mendengar percakapan ibu dan anak itu. Matanya juga mengabur sesaat tadi. Bagaimana bisa Dul berpikiran bahwa ia hanya menjadi ayah sementara saja?
Ketika menikahi Dijah, ia sudah menikahi seluruh yang dimiliki wanita itu dalam hidupnya. Termasuk Dul.
Dan kebahagiaan Dul hanya sebatas ia menggendongnya masuk ke kamar. Hal sederhana yang bahkan tak pernah dipikirkannya. Bara melangkah menjauhi kamar Dul. Ia memberi waktu pada ibu dan anak yang sedang berbicara dari hati ke hati.
To Be Continued.....
Selamat berakhir pekan.
Tetap jaga kesehatan. Stay Safe dan jangan lupa tombol likenya diraba.
BTW, Jangan lupa baca CINTA WINARSIH untuk ngikutin spin-off GENK DUDA AKUT ya....
__ADS_1
Genre Romantis Komedi yang ringan-ringan aja...