
Sebelum Bayu tiba di rumah sakit untuk menemui Bara.
"Permisi... Mbak Dijah..." panggil Bayu dari depan pintu kamar.
Pintu kamar Dijah tertutup tak bergeming. Tini yang mendengar suara seorang pria asing di dekat jendela kamarnya melongok dari sela kaca nako hitam.
"Dijah nggak ada! Ke warung sebentar. Ada apa cari Dijah?" tanya Tini bersandar di gawang pintu kamarnya dengan melipat tangan dan memandangi kukunya.
"Eh Mbak Tini..." sapa Bayu sedikit salah tingkah melihat Tini yang muncul dengan baju 'you can see (yukensi) ketiak' dan celana olahraga yang lebarnya cuma sejengkal.
"Mau nganter titipannya Mas Bara," jawab Bayu mengangkat paperbag yang berada di tangannya.
"Itu Dijah baru pulang," ujar Tini menunjuk ke arah Dijah yang datang dengan plastik kresek di tangannya.
"Mbak Dijah," sapa Bayu.
"Ada apa ya?" tanya Dijah sedikit cemas. Tadi pagi ia mengirimkan sebuah pesan pada Bara namun pesan itu belum terkirim sampai saat itu. Dan sekarang kemunculan Bayu di sana membuat Dijah semakin bertanya-tanya. Bara tidak seperti biasanya.
"Mau nganter ini aja." Bayu menyodorkan dua paperbag pada Dijah.
"Apa ni?"
"Titipan dari Mas Bara. Katanya harus dicobain sekarang. Isinya sepatu."
"Nanti aja ya. Nanti aku telfon dia aja."
"Hape Mas Bara belum aktif Mbak," ujar Bayu yang masih berdiri di dekat jendela Tini.
"Oh gitu, pantes... Bara-nya ke kota mana?" tanya Dijah.
"Kota mana ya... Aku kurang tau mereka ngeliput ke mana. Tapi entar sore pasti udah bisa dihubungi." Bayu masih berdiri di depan pintu kamar menunggu Dijah yang masih memandangnya dengan tatapan kosong.
"Mbak-- Aku permisi dulu ya..." ujar Bayu untuk membuyarkan lamunan Dijah.
"Gak mau mampir dulu? Minum--"
"Mau Mbak," potong Bayu cepat langsung mengambil kursi plastik di dekat Tini dan duduk di sebelah wanita yang baru menyulut rokoknya itu. Tini mencibir saat melihat Bayu duduk di dekatnya.
Dijah menyuguhi Bayu minuman dan ia menyadari bahwa Bayu berlama-lama di sana karena ingin duduk di sebelah Tini yang jual mahal.
Siang itu Dijah menelantarkan belanjaannya untuk duduk di dekat Bayu dan meladeni pria itu berbicara. Sesekali Dijah menyelipkan pertanyaan soal Bara kepada Bayu, tapi tak sekali pun pria itu menjawab pertanyaan Dijah dengan benar. Memang sepertinya Bara telah berhasil mendidik mulut Bayu dengan baik.
Bayu yang tampak sangat penasaran dengan Tini, berhasil membuat wanita itu besar kepala. Pertanyaan Bayu dijawabnya dengan ketus dan pendek-pendek. Sepertinya Tini hanya menganggap Bayu seorang anak ingusan yang minim ilmu abu-abu.
__ADS_1
Pukul tiga sore Bayu pamit pergi dari tempat itu. Dan sesaat sebelum pulang, meski dengan wajah masam Tini mendiktekan nomor ponselnya pada Bayu. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Dijah hanya menatap punggung Bayu dengan tanda tanya besar.
Dijah mulai berpikir bahwa Bara menyembunyikan sesuatu.
Dan benar dengan apa yang dikatakan Bayu, sore hari Bara meneleponnya. Dijah kembali melontarkan pertanyaan kapan pacarnya itu kembali dari luar kota. Bara kembali memberikan jawaban mengambang soal itu.
Setelah Bara mengucapkan kata rindu, Dijah mendengar suara seorang wanita memanggilnya. Tak ada pikiran apapun soal siapa wanita itu dalam pikiran Dijah. Ia tak terlalu ambil pusing. Dijah hanya tak bisa memenuhi permintaan Bara untuk mencoba sepatu pemberian pria itu dan memotretnya. Ia ingin Bara melihatnya sendiri nanti.
******
Kedatangan Joana yang langsung menjenguknya ke rumah sakit tak membuat suasana hati Bara lebih baik. Ia sedang ingin sendiri dan tak mau berlama-lama di rumah sakit itu.
Joana datang bersama salah seorang temannya. Kunjungan wanita itu bisa dikatakan 'murni' untuk menjenguknya. Kebetulan ia sedang menghubungi Bu Yanti untuk berurusan sesuatu dan menanyakan kabar Bara.
Entah karena baru saja mendengar Bara yang baru saja mengatakan kangen pada seseorang, tapi Joana memang tak lama di rumah sakit itu.
Joana pergi dengan wajah yang juga dipenuhi berbagai pertanyaan.
Selama lima hari di rumah dan hanya berkutat dengan tesisnya, membuat Bara gusar luar biasa. Ia ingin mencari keberadaan Fredy, ia juga sangat ingin menemui Dijah. Namun kondisinya saat ini belum mendukung.
Langkah kaki Bara masih sedikit terpincang-pincang. Di rumah ia hanya mengenakan celana pendek agar luka di lututnya tak bergesekan dengan apapun.
"Kamu lagi di mana?" tanya Bara melalui sambungan telepon.
"Oh iya, masih jadi SPG. Malem ini tugas di mana?" tanya Bara lagi.
"Di belakang Universitas Harapan, masih sama dengan kemarin malam. Kenapa? Kamu kapan pulang?" tanya Dijah lagi. Itu adalah pertanyaan kesekian puluh kalinya dalam minggu itu ia menanyakan kapan Bara kembali.
Sumpah demi apapun, Dijah sangat rindu pada pria yang setiap malam hanya bisa meneleponnya itu. Dijah ingin melakukan sambungan panggilan video, tapi tak berani memintanya lebih dulu.
"Sepatunya udah dicoba? Aku pengen liat," pinta Bara lagi.
"Liat sendiri, aku gak mau. Buat apa difoto-foto? Memangnya kamu gak mau ketemu langsung? Mau telfonan terus?"
"Aku cuma gak sabar," jawab Bara.
"Ya udah, aku mau mandi. Mau berangkat kerja."
"Entar lagi napa Jah, aku masih kangen..." Ternyata begini rasanya jadi pengangguran yang kegiatannya cuma menunggui perempuan yang siang malam bekerja.
"Aku mau kerja," sahut Dijah.
"Aku masih kangen," jawab Bara.
__ADS_1
"Udah ya... Nanti aku terlambat."
"Pulangnya ama siapa? Jangan mampir ke rumah kamu kalo gak ada aku. Nanti kamu ketemu bapaknya Dul lagi," ujar Bara.
"Aku gak bisa terus-terusan nungguin kamu untuk dateng ngeliat Dul. Kamu juga punya kesibukan, aku nggak apa-apa. Ya udah aku tutup telfonnya," potong Dijah cepat kemudian mengakhiri sambungan telepon.
Dijah bukannya keberatan dengan kegiatan Bara yang bekerja di luar kota. Ia hanya merasa Bara menyembunyikan sesuatu darinya. Bara bukan tipe laki-laki yang pandai berbohong.
Sore itu Dijah dan Tini berangkat kerja bersama menumpangi sebuah angkot. Biasanya Dijah selalu bersemangat bekerja apapun itu selama menghasilkan uang. Tapi sepertinya malam itu semangat Dijah terbang bersama Bara yang tak tahu di mana rimbanya. Kini Dijah memahami kegalauan Asti yang sering berkutat dengan ponsel saat pacarnya tak muncul.
Pukul 11 malam, Dijah sedang berdiri di tepi jalan di dekat jajaran cafe yang bertempat di ruko belakang kampus. Malam itu Dijah telah menjual enam slop rokok.
Karena telah memenuhi targetnya, Dijah permisi untuk langsung pulang tanpa mampir di kantornya lagi untuk berganti pakaian. Sedangkan Tini tak kelihatan batang hidungnya sejak bertegur sapa dengan mantan rekan kerjanya dulu.
Dijah menjepit tasnya di bahu kiri. Ia mengenakan salah satu jaket Bara yang ada di lemari. Tangannya sedang sibuk menggulir layar ponselnya untuk mengecek panggilan masuk yang tak terjawab olehnya.
Bara baru saja meneleponnya. Dijah menghembuskan nafas berat. Biasanya bekerja sampai larut malam tak sampai membuatnya sepenat itu. Tapi malam itu ia benar-benar lelah. Dijah kembali mengetukkan tumit sepatunya untuk melancarkan peredaran darah di kakinya yang hampir kebas kesemutan.
Sesaat kemudian, ia kembali merasakan ponselnya bergetar. Nama Bara memenuhi layar. Dijah menghela nafas sebelum menjawab panggilan telepon itu.
"Halo?" sahut Dijah.
"Udah pulang kerja?" tanya Bara.
"Udah..." jawab Dijah pelan.
"Capek ya?" tanya Bara lagi.
"Sedikit," kata Dijah menunduk memandang ujung sepatunya.
"Kangen aku juga?" tanya Bara lagi.
Mendengar pertanyaan Bara, Dijah merapatkan letak jaket Bara yang dikenakannya kemudian menjawab, "*Kangen banget*..."
Dijah semakin menunduk. Tak disadarinya, sebulir air mata menyertai jawabannya barusan. Dijah cepat-cepat menghapus air mata yang dirasanya sangat memalukan itu.
"Nangis karena kangen itu normal kok Jah... Artinya kamu bener-bener sayang aku." Bara melajukan mobilnya pelan sampai ke depan Dijah yang sesaat kemudian melemparkan tatapan rindu dan kesal yang menjadi satu.
To Be Continued.....
Jangan lupa likenya ya...
Njuss juga kangen Mas Bara, Gak sanggup pisah lama-lama.
__ADS_1