PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
119. Mabuk Merana


__ADS_3

“Pripun kabare Pak Lek? (Apa kabarnya Pak Lek)” Heru mendatangi Pak Wirya yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Dul. Pria tua itu sedang membantu Dul menyusun sebuah puzzle yang tadi dibekali Bara dari rumah.


"Tumbenan niki ngempal sedoyo. (Tumben ini ngumpul semua)” Pak Wirya menoleh Heru yang menggandeng anaknya ke dekat Dul.


"Wonten ingkah betah rencangan moril niki. (Ada yang minta bantuan moril)” Heru tertawa duduk di sebelah pamannya.


“Iseh repot dewe po dheke? (Masih repot sendiri dia?)” Pak Wirya terkekeh menyodorkan sekeping puzzle pada Dul.


“Nggeh kadhos biasa, mesthi repot. (Masih, kayak biasa. Repot selalu)” Heru ikut tertawa menoleh Bara yang sedang mendatangi mereka bersama Dijah di sebelahnya.


“Dadi saiki ono judule po? (Jadi hari ini ada temanya?)” Pak Wirya memandang wajah Bara yang berdiri di dekat sofa.


“Wonten. Temanipun keluwargi bingah. (Ada. Temanya keluarga bahagia)” Heru kembali tertawa ikut memandang Bara.


“Ngomongin aku?” tanya Bara memandang wajah Heru dan ayahnya bergantian. “Jah, mereka ngomongin apa? Ngomongin aku ya?” tanya Bara menggamit lengan istrinya.


“Ya iyalah, ngomongin siapa lagi selain Kang Mas Bara. Ayo Pak Lek, kita makan. Aku udah laper. Disuruh kerja gak dikasi honor. Untung dapet makan siang,” ucap Heru menggendong anaknya.


Dijah yang mengerti pembicaraan Heru dan ayah mertuanya cuma sanggup tersenyum. Jika bukan karena berada di rumah mertuanya, Dijah mungkin akan langsung merebahkan diri. Ia merasa tak perlu makan sekarang. Ia hanya perlu kasur, bantal dan guling.


“Ayo, kita makan dulu. Masuk sedikit juga gak apa-apa Jah. Ketimbang perut kamu kosong, kalo muntah sakit banget.” Fifi mengalungkan tangannya ke lengan Dijah.


Dijah menoleh sekilas pada Fifi. Cantik sekali pikir Dijah. Ia baru sekali bertemu Fifi. Saat resepsi pernikahannya. Saat itu Dijah hanya menerima ucapan selamat ramah tamah seperti biasa. Ia tak menyangka Fifi yang terlihat cantik dan mahal itu ternyata sangat ramah. Tini akan mengubur dirinya sendiri kalau sampai melihat istri Heru begini, batin Dijah.


“Dijah lancar bahasa Jawa ya?” tanya Pak Wirya di meja makan.


“Iya Pak--Yah..." sahut Dijah meringis. Ia melirik suaminya yang tertawa kecil.


“Kita bisa ngomong rahasia di depan Bara. Dia gak akan ngerti,” ujar Heru.


“Mas Heru kok bisa?” tanya Dijah yang sedang bersusah payah menghabiskan secentong nasi di piringnya.


“Dulu kita diminta eyang tinggal di rumahnya. Aku dan Bara. Bara umur 6 tahun, aku 12 tahun. Maksud eyang, aku bisa lanjut SMP dan Bara masuk SD. Tinggal bareng. Tapi Bara kalo malem nangis. Kangen ibu... Setiap malem aku harus cerita macem-macem biar dia lupa minta pulang. Kita jadi kayak tinggal di asrama.” Heru tertawa. “Di rumah eyang pake bahasa Jawa. Bara gak sempet menguasai, udah pulang ke rumah. Bu Lek juga sering nangis waktu itu. Iya kan?” Heru memandang Bu Yanti yang tersenyum-senyum mengingat kejadian di masa lalu.


Bagaimana Bu Yanti tak menangis. Putra sulungnya baru berusia enam tahun saat diminta bapak mertuanya untuk tinggal bersama. Bara sangat dekat dengannya. Anaknya pun hanya dua orang. Waktu itu, hampir setiap hari dia menjenguk Bara. Sampai bapak mertuanya melepaskan Bara untuk kembali ke rumah. Sedangkan Heru, bisa tinggal bersama eyangnya, sampai pria tua itu meninggal dunia. Heru tumbuh besar bersama kakeknya.


“Aku cuma kangen masakan ibu,” ucap Bara membela diri.


“Kangen masakan ibu, atau disuapin ibu?” tanya Pak Wirya. Bara mencibir sambil melirik Dijah yang tersenyum lemah.


“Kenal Mas Heru di mana Mbak?” tanya Dijah memandang Fifi yang duduk di seberangnya.


“Satu kampus. Beda fakultas. Aku ambil broadcasting. Mas Heru anak hukum. Anak hukum gedungnya jauh, tapi heran kok waktu itu bisa duduk di kantin anak broadcast.” Fifi menyenggol lengan suaminya.


“Itu cara Mas Heru menebar jala di tiap fakultas.” Kali ini Bara yang angkat bicara memandang kakak sepupunya.


“Adik kelas?” tanya Dijah pada Fifi.


“Aku? Ooh... Kita seumuran. Aku sukanya mas-mas, tapi dapetnya yang seumuran. Jadi aku tetep panggil mas. Ya kan Mas?” ledek Fifi memandang suaminya. Heru tertawa.

__ADS_1


“Dijah kenapa?” tanya Bu Yanti tiba-tiba memandang wajah Dijah yang semakin pucat.


“Pusing dan mual Bu,” sahut Dijah masih memegang sendoknya. Nasi secentong tadi belum habis.


“Ya udah, baring ke kamar aja dulu. Itu pucet banget,” tukas Bu Yanti. Ia menyadari Dijah yang terlihat memaksakan diri duduk di antara mereka.


“Nginep di sini aja Ra... Sekali-sekali. Nanti Dul tidur di kamar Sukma. Banyak mainan anaknya. Ayah belum selesai nyusun puzzle Dul yang gede itu.” Pak Wirya yang asyik membantu Dul menyusun puzzle yang besarnya hampir setengah meja makan tampaknya masih penasaran.


“Iya... Aku ke kamar dulu nganter Dijah.” Bara bangkit meraih lengan istrinya. “Ayo,” ajak Bara.


Dijah melepaskan sendoknya dengan pasrah. Tadinya ia berencana membantu membereskan meja makan itu seusai makan siang. Sekarang ia tak peduli lagi. Percakapan seru tadi pun hanya singgah sesaat saja di kepalanya.


“Dul, lanjut makan aja. Nanti kita lanjutin nyusun puzzlenya.” Pak Wirya memandang Dul yang menoleh kepada ibunya yang meninggalkan meja makan.


“Aduh itu pasti gak enak banget Mas... Aku jadi kebayang dulu cuma mandi tiga hari sekali. Gak pernah melangkah keluar kamar. Paling jauh cuma ke kamar mandi.” Fifi bergidik dan bergumam.


“Jadi gak mau nambah adik untuk Tirta?” tanya Heru kembali melanjutkan makannya.


“Pasti mau. Gak nolak. Namanya juga rejeki. Dapet Tirta aja nunggunya lama. Kalo aku sehat-sehat, lima anak juga gak masalah. Ya kan Bu Lek?” Fifi meminta persetujuan Bu Yanti.


“Iya, namanya perempuan. Perempuan mana yang nggak suka anak kecil? Heru taunya kan pulang ke rumah anak sudah makan, sudah mandi. Pulang ke rumah, tengah malem anak udah tidur. Gitu kan?” sindir Bu Yanti tertawa.


“Aku dan Bara sedang menaklukkan dunia Bu Lek...” jawab Heru.


“Sehebat-hebatnya laki-laki di luar mau menaklukkan dunia. Sampai di rumah, menaklukkan istri juga nggak bisa.” Pak Wirya tertawa terkekeh.


Dijah mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Bara. Baru kali ini ia memasuki kamar suaminya semasa melajang. Lantainya flooring kayu berwarna coklat tua. Sebuah ranjang berukuran 160 melekat ke sisi kanan dinding dekat jendela.


Perabotannya serba kayu berwarna coklat tua. Kamarnya rapi dan sederhana. Khas Bara.


“Aku belum selesai makan, kamu baring dulu ya... Ini kamar mas-mu. Tempat mas pernah mimpiin kamu,” ucap Bara saat menurunkan tumpukan bantal agar Dijah bisa berbaring.


“Mimpiin apa?” tanya Dijah dengan mata sayu saat merebahkan kepalanya.


“Mmm—perlu aku kasi tau mimpiin apa?” Bara mengerling jenaka. Ia langsung mengingat bagaimana membenamkan kepalanya di bawah bantal sepulang berhasil meruntuhkan pertahanan Dijah pertama kali.


“Mimpiin apa?” ulang Dijah dengan wajah lesu. Ia berbaring miring memeluk guling dan menatap suaminya.


“Bukan mimpiin. Tapi kebayang. Kebayang pengen sama kamu terus.” Bara menelungkupkan separuh badannya di atas ranjang untuk membelai pipi Dijah. “Gak mau pulang dari kos-kosan kamu. Tiap kamu suruh pulang, aku kesel. Padahal aku mau lama-lama. Pengen liat kamu terus, pengen deket kamu terus. Gak perlu cerita macem-macem, asal bisa sama-sama, rasanya seneng banget.”


Dijah tersenyum setengah terpejam. Kepalanya semakin berat dan perutnya mual hebat. Ia khawatir akan segera muntah jika tak segera tidur.


Tak lama Bara mengusap-usap kepala dan pipi Dijah, ia merasakan ponselnya bergetar. Ia merogoh saku celananya dan melihat layar ponsel yang tertera nama seseorang yang belum pernah meneleponnya. Bara ingat menyimpan nomor telepon itu setelah mendapatkannya dari Bayu. Tini.


“Tini...” gumam Bara menunjukkan layar ponselnya pada Dijah. “Hape kamu mana? Di bawah ya? Mungkin dia nelfon ke sini karena kamu gak jawab. Sebentar—” Bara menekan tombol ‘answer’ di ponselnya.


Sementara itu beberapa saat yang lalu di kandang ayam.


“Aku kangen Dijah dan hinaan-hinaannya,” ucap Tini ketika menyandarkan kepalanya di dinding luar tembok kamarnya.

__ADS_1


“Baru aja kok kita nggak ketemu Mbak Dijah,” sahut Asti.


“Buatku udah lama. Kamu pasti gak terasa karena lagi kasmaran,” sahut Tini.


“Nikah itu enak Tin... Dijah terlena,” tukas Boy.


“Iya. Enak. Setidaknya leher nggak pegel nunduk kalau mau cukuran yang bawah. Udah ada yang bantu nyukur,” ucap Tini.


“Aku biasa nyukur sendiri. Tapi bokong jadi dingin karena lama duduk di lantai,” jawab Boy.


“Besok ke rumah Mbak Dijah yuk,” ajak Asti. “Aku ajak mas Bayu sekalian,” tambahnya lagi.


“Hmmm... Anak kecil ini udah memperalat kita Boy. Mentang-mentang ada gandengan. Kamu gak ada niat jadi normal?” tanya Tini membelai paha Boy yang berada di depannya.


“Kalo perempuannya kayak kamu semua, aku milih tetep gini aja Tin.” Boy mengangkat tangan Tini dan mencampakkannya.


Tini menendang kursi yang ditempati Boy dan mengambil ponsel yang berada di tepi jendela.


“Aku telfon Dijah dulu, bilang besok kita mau ke rumahnya.” Tini mencari nomor telepon Dijah dan mulai meletakkan ponsel di telinganya. Beberapa saat lamanya ia menunggu namun tak ada jawaban.


Asti dan Boy ikut diam menanti. Mak Robin yang baru keluar dari kamarnya dengan sepiring nasi, ikut menarik sebuah kursi dan duduk dekat mereka.


“Nggak dijawab. Mungkin Dijah pergi. Apa aku harus nelpon mas Heru aja untuk nanya Dijah?” tanya Tini.


“Eeee... Banyak kali modus perempuan ini. Si Dijah bini si Bara. Ngapain pulak si Heru yang kau telepon?” Mak Robin mendengus pada Tini.


“Kita kan nggak tau nomor telepon mas Bara,” sahut Tini kalem. “Aku cuma belum bisa move on dari mas Gatot yang itu.”


“Halah-halah... Banyak kali cakap kau,” sinis Mak Robin.


“Mas Gatot yang satu lagi udah lupa ya? Mas Gatot yang ukurannya micro.” Boy terbahak.


“Karepmu Boy! As, tanya Bayu nomor Bara.” Tini mengguit lutut Asti yang sedang asyik bertukar pesan dengan Bayu.


Tak berapa lama kemudian, “Ini mbak!” Asti memperlihatkan sederet nomor telepon pada Tini.


“Mas Bara, aku tadi nelepon Dijah tapi nggak dijawab. Jadi aku nelepon ke sini. Besok Dijah di rumah nggak? Kita semua mau dateng. Kangen,” ucap Tini. Ia diam sesaat, dan tak lama suara lemah Dijah terdengar dari seberang telepon.


“Suaramu kok lemes? Gak lagi anu-anu kan?” Tini mengernyit. Kemudian, “Oke, besok ya Jah...” Dan pembicaraan itu pun berakhir. Tini menggenggam ponselnya menatap Asti, Boy dan Mak Robin.


“Besok siang kita ke rumah Dijah. Sekarang Dijah lagi di rumah mertuanya. Ya udah, aku ke belakang dulu. Mules,” tukas Tini bangkit dari duduk dengan ponsel di genggamannya. Ia berjalan terburu-buru ke kamar mandi belakang.


“Tin! Kok bawa hape ke kamar mandi?” teriak Boy.


“Ya wajar bawa hape ke WC! Kalau aku bawa magic com baru aneh!” sahut Tini kemudian menghilang di belokan.


To Be Continued.....


Tombol likenya jangan lupa dielus ya Bebs :*

__ADS_1


__ADS_2