
Dijah menghapus air matanya terburu-buru dengan telapak tangan. Ia melangkahi pemasak nasi yang lepas dari colokan dan isinya berserak di lantai.
Asal-asalan ia menjejalkan uang ke dalam tasnya. Baterai ponselnya sudah berbunyi bip beberapa kali menandakan ia harus melakukan pengisian ulang. Tak ada waktu.
Dijah membuka pintu kamar dan memakai sepatunya cepat-cepat. Tangannya gemetar saat memutar anak kuncinya.
"Mau ke mana Jah?" tanya Tini. Dijah menoleh sebentar pada Tini. Kemudian beberapa saat lamanya Dijah berdiri memandang pintu kamarnya.
"Aku pergi Tin," kata Dijah kemudian berjalan meninggalkan Tini yang sedang duduk sendiri di depan pintu kamarnya.
Malam itu, kos-kosan begitu lengang. Tak ada seorang pun terlihat berada di luar. Tini menghembuskan asap rokoknya ke udara. Ia tak sempat menanyakan pada Dijah ke mana temannya itu pergi. Tini sedikit menyesal tak menawarkan diri untuk menemani Dijah malam itu.
Andai saja Tini tahu bahwa itulah malam terakhir Dijah berada di kos-kosan itu.
*****
"Kenapa Dul sampe kayak gini? Kenapa?" teriak Dijah mengusap-usap pipi anaknya yang menepak warna merah membentuk jemari orang dewasa.
"Ya kamu juga bilang itu sama laki-laki yang naik motor merah itu. Jangan kasi Dul apa-apa lagi. Dul masih punya bapak, makanya bapaknya tersinggung. Aku udah bilang sama kamu jangan dekat-dekat laki-laki itu. Kamu juga dikasi tau ndablek!" sergah bapak Dijah yang bersandar di dekat pintu dapur sambil merokok.
"Aku lagi yang salah? Akuuuu?? Aku udah usir laki-laki itu biar nggak di deketku lagi. Bapak kira karena aku takut sama Fredy? Iya? Bukan Pak... Bukan... Aku malu! Aku malu dengan keadaan aku sendiri. Statusku, keadaan keluargaku. Aku udah pasrah kalo memang sampe mati aku gini-gini aja. Tapi mbok ya jangan anakku..."
"Ya jadi aku harus kayak mana Jah?" sergah bapak Dijah tak kalah kerasnya.
"Berhenti judi!! Jangan ambil apapun lagi dari dia! Bapak kira selama ini aku nolak uang dia karena apa?? Aku gak mau kita jadi budak dia lagi! Kalian bilang aku hampir mati, hampir gila karena dia. Tapi kalian nggak mau nolongin aku lepas dari dia!! Lalu aku harus hidup kayak gimana?? Ya Gustiiiii..." Dijah meraung memukuli dadanya.
"Ibuuuuuu... Jangaaaan..." Tangis Dul kembali pecah memeluk ibunya.
"Atau aku bawa anakku mati sama-sama aja ya Pak? Gitu Pak??" tanya Dijah dengan wajah penuh air mata.
"Nggak usah gendeng!" teriak bapak Dijah.
"Di mana tempat kerja si Fredy? Minta alamatnya!" teriak Dijah.
"Mau ngapain kamu ke tempat dia?!"
"Bayar utang bapak! Aku nggak mau kita jadi budak dia lagi! Pasti bapak tau di mana Fredy. Kalau nggak mau ngasi tau, malem ini bapak terakhir liat aku." Dijah berdiri menyambar tas dan berjalan mendekati bapaknya.
"Ibuuu..." rengek Dul lagi memegang kaki ibunya.
"Kamu di rumah aja. Tunggu ibu pulang," ucap Dijah pada anaknya.
"Ruko Port Escape Blok B No. 4. Jangan ngomong apa-apa ke dia. Kalau mau bayar hutangnya ya bayar aja. Nanti kamu dipukuli lagi..."
Dijah tak sempat lagi mendengar ujung kalimat bapaknya. Ia sudah berlari keluar pintu rumah dan menuju jalan raya. Dadanya sudah terasa mau meledak. Ia harus segera menemui Fredy.
__ADS_1
Ketika sebuah taksi kosong melintas, Dijah segera menyetop dan mengatakan tujuannya ke mana. Susah payah ia menahan air matanya. Tubuhnya terasa bergetar. Kedua tangannya mencengkeram erat tas tempat di mana uang yang telah dikumpulkannya susah payah bertahun-tahun.
Nyaris satu jam saat taksi yang ditumpangi Dijah tiba di deretan ruko gelap seperti tak berpenghuni. Supir taksi tadi sampai menanyakan padanya berulangkali apa ia tak salah tujuan.
Dengan mantap Dijah keluar dari taksi dan menjajari deretan ruko kosong yang terletak pada belakang gedung perkantoran untuk mencari nomor empat.
Ternyata ia tak perlu berlama-lama mencari tempat tujuannya. Beberapa meter melangkah, matanya menangkap angka 4 yang warna catnya sudah memudar di tembok.
"FREDY!! FREDY!!" teriak Dijah sambil menggedor pintu alumunium ruko.
Dua kali meneriakkan nama Fredy dengan keras ternyata langsung membuahkan hasil. Seseorang merenggangkan pintu ruko itu dan mengintip keluar.
"Siapa?" teriak Fredy yang sepertinya berada di dalam namun duduk cukup jauh dari pintu.
"Istrimu!" teriak seseorang yang sedang mengintip ke arah Dijah.
"Istri matamu itu! Buka! Aku mau ngomong sama dia!" teriak Dijah lagi.
Seseorang yang ternyata teman Fredy yang pernah hampir dilempar batu oleh Dijah, mendorong pintu alumunium itu agar sedikit terbuka.
"Mau apa kamu?" Fredy terlihat sedang menyiapkan air dalam sebuah tabung untuk digunakannya sebagai media menyesap sabu.
"Kamu yang mukul anakku?" tanya Dijah.
"Dia lagi mau ngomongin keluarga kami. Keluar kalian semua. Siapa tau dia juga kangen diperkosa." Fredy tertawa.
"Keluar aja sana!! Aku mau nelanjangin dia sekalian!" seru Fredy. Ketiga orang itu pun beringsut dan menuju keluar pintu.
"Berapa utang bapakku? Aku mau bayar," ucap Dijah merogoh tasnya. Fredy berjalan mendekatinya.
"Gak usah bayar! Tidur aja denganku! Semuanya gratis!"
"Cuihhh!!" Dijah meludah ke arah Fredy yang tadi berbicara mendengus-dengus ke arah lehernya.
"Perempuan sundal!"
PLAKK!!
Sebuah tamparan langsung diterima oleh Dijah. Tubuhnya yang kecil mungil tak sanggup menerima tamparan tiba-tiba dengan tenaga seorang laki-laki itu.
"Kamu memang gak tau diuntung! Udah miskin gak tau diri! Selama ini nolak uang pemberianku. Tapi kamu terima apa yang dikasi laki-laki itu. Udah ngapain aja kamu sama dia? Udah tau enak kamu sekarang?" Fredy membungkuk dan menarik rambut Dijah agar mantan istrinya itu kembali berdiri.
BUGG!!
BUGG!!
__ADS_1
Dijah menendang kaki dan perut Fredy saat pria itu membungkuk tadi. Fredy terjengkang dan mundur beberapa langkah serta meringis memegang perutnya.
"Makin lihai kamu sekarang ya! Enggak inget kamu hampir mati karena malam pertama denganku? Udah inget? HAH??" Fredy mengarahkan tendangannya ke tubuh Dijah yang masih berusaha berdiri. Dijah menghempaskan tubuhnya menghindari tendangan Fredy.
"Anjing! Jangan ngimpi kamu bisa megang-megang aku!" seru Dijah kembali berdiri. "Ambil uangmu ini, jangan datang lagi ke rumah orangtuaku. Aku masih bisa nafkahin anakku!" teriak Dijah mencoba membenarkan tali tasnya yang tersimpul.
"Aku nggak mau!!" teriak Fredy. Pria itu meraih kerah kaos oblong yang dikenakan Dijah dan mencengkeramnya seketat mungkin.
Wajah Dijah memerah seakan dadanya hendak meledak. Fredy memojokkannya ke salah satu tiang yang berdiri di tengah lantai ruko itu.
Dijah memukul lengan Fredy berkali-kali. Kakinya hampir tak menjejak. Nafasnya mulai terasa sesak. Dan saat itu suatu ingatan yang pernah hilang dari kepalanya muncul kembali.
Suara tangisnya sendiri yang meraung-raung. Sebuah tangan yang mencengkeram rambutnya dan menghempaskannya ke lemari kamar.
Kamar penuh hiasan bunga putih. Kamar pengantinnya. Sebuah tamparan di wajahnya yang membuatnya menjadi setengah sadar.
"Panggil aku Mas!! Panggil aku Mas Dijah!!" teriak Fredy.
"Pelacur!!" maki Fredy. Dijah merasa tubuhnya terangkat karena cengkeraman pada kerah baju kebaya putih kedodoran yang dikenakannya.
"Panggil aku Mas!!" teriak Fredy lagi.
"Enggaaaakkk... Bapaaaaak" Dijah remaja berteriak merangkak menuju pintu.
Namun Fredy yang terlalu bernafsu malam itu mengangkat Dijah dan menghempaskannya terlalu keras sampai kepala wanita itu menghantam sudut ranjang kayu.
Dijah tak berkutik seketika. Fredy memperkosa Dijah dalam keadaan kritisnya waktu itu.
Dijah mengingat sepotong ingatan yang hilang karena trauma masa lalunya. Matanya terbelalak. Bajingan yang sedang mencekiknya saat itu pernah hampir membunuhnya.
Tangan Dijah kembali mencengkeram lengan Fredy.
"Lep--pasin aku. An--jing!!" maki Dijah.
PLAKK!!
Fredy kembali menampar Dijah. Hidung Dijah seketika menyemburkan darah segar. Dijah tersandar lemas. Tubuhnya perlahan merosot di dinding.
BRAKKK!!
Pintu ruko itu terbuka.
BUGG!!
Bara tiba-tiba muncul dan langsung menendang tubuh Fredy yang sedang mencoba membunuh mantan istrinya itu.
__ADS_1
To Be Continued.....