PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
126. Titipan Tuhan


__ADS_3

“Perlu jasaku berapa jam?” tanya Tini. Bara mengernyit. “Maksudku sampai jam berapa aku di sini?” ulang Tini menegaskan apa maksudnya.


“Sampe aku balik lagi. Bisa 'kan?” tanya Bara. Tini mengerutkan bibirnya mengangguk-angguk.


“Eh, rumah sakitnya bagus banget ya... Tadi aku papasan dengan dokter ganteng. Dokternya buru-buru jalan di lorong pake seragam ijo. Mukanya ketutup masker. Tapi aku yakin itu pasti ganteng.”


“Astaga Tini... Belum lima menit nyampe, topiknya udah ada yang baru aja.” Bara bangkit dari tepi ranjang mengambil ranselnya yang berada di sofa.


Dijah meringis menoleh pada suaminya yang sedang bersiap-siap pergi.


“Aku cuma menyalurkan hobi. Menikmati yang indah-indah. Tapi itu beneran cakep pasti,” ulang Tini lagi. Bara menatap Tini sinis. Dijah menepuk lengan temannya.


“Suamiku itu...” tegur Dijah bercanda.


“Iya, itu emang suamimu. Tapi itu beneran cakep dokternya. Cambangnya panjang mirip....” Tini terdiam menoleh Bara. “Tapi yang jelas dokter tadi pasti ganteng. Matanya menghanyutkan.” Tini menerawang saat mengatakan hal itu.


Bara mendengus. “Udah—udah... Jangan ajari istriku kesesatan.” Bara mendekati Dijah dan mencium pipi istrinya. Dijah menarik lengan suaminya dan memeluk lengan itu seraya menempelkan pipi. “Liatin Dul Mas... Jangan lama-lama balik ke sini,” ucap Dijah.


“Pasti Mas ke rumah dulu nanti, kamu makan cemilan-cemilan itu.” Bara kembali menunduk mencium kepala Dijah. Dijah mengiyakan nyaris tanpa suara.


“Anggap aja aku extra bed,” ucap Tini melengos melihat Dijah yang masih menggantungi lengan suaminya. Bara terkekeh.


“Mas tinggal dulu. Temenin Dijah sebentar ya Tin....” Bara menuju pintu dan pergi dari kamar rawat itu.


“Mak Robin mana? Asti? Boy?” tanya Dijah beruntun dengan suara lemah.


“Mak Robin lagi buka jalan lahir, suaminya dateng. Asti sibuk wara-wiri ngejer-ngejer dosennya minta tanda tangan mau meja hijau atau meja apa, embuh. Boy lagi dagang depan minimarket. Siapa lagi yang mau kamu tanya? Aku? Aku masih training kerja, masih ngikut-ngikut senior prospek klien. Capek Jah... Tapi aku suka karena jam kerjanya nggak mengikat. Aku masih bisa curi-curi waktu kayak gini. Tapi capek Jah... Ngomong terus. Sampe aku tidur juga kayaknya aku sambil ngomong. Capeknya kebawa.” Tini berdiri dari duduknya dan berjalan mengitari meja tempat banyak makanan berada.


“Sabar Tin... Di setiap kesulitan ada kemudahan yang sulit diraih.” Dijah menarik selimutnya menutupi mulut.


“Makasih Jah... Aku semakin pesimis menjalani hidup.” Tini mencibir.


“Mas Yudi itu gimana Tin? Masih datengin kamu?” Dijah menoleh pada Tini yang sedang membuka semua plastik berisi makanan di atas meja.


“Nah itu... Kemarin aku sembunyi waktu dia dateng ke kos-an. Sekarang malah dia yang getol ngejer aku. Aku udah geli liat kumisnya. Perasaan mau nyikat kamar mandi aja kalau udah liat itu.” Tini mengangkat satu set kotak bekal dari sebuah tas spunbond.


“Ya udah, kamu ngomong aja terus terang. Eh kamu udah makan? Itu Mbok Jum yang masak, dibuka aja.” Dijah mengangguk melihat Tini mulai membuka set bekal yang dibawa Bara.


“Aku memang belum makan. Kamu mau makan juga? Kalau mau tak ambilin, tapi makan sendiri. Aku nggak seromantis itu sampe harus nyuap-nyuapin kamu. Lagian kamu cuma mabuk hamil, bukan lumpuh.” Tini mengambil sebuah piring bersih dan mengisinya dengan nasi dan lauk.


“Aku udah makan. Kamu aja,” sahut Dijah meraba-raba tisu di atas meja. Air liurnya terasa penuh berkumpul di mulut yang harus ia keluarkan.


“Dagangannya Boy gimana Tin? Laris?” tanya Dijah. Tini menarik sebuah kursi besi ke sebelah tempat tidur Dijah.

__ADS_1


“Awalnya sepi Jah... Tapi di hari ketiga, kita semua memainkan peran lagi. Duduk di warung Boy pura-pura jadi pembeli, biar rame. Sekarang udah lumayan. Boy bisa jadi pengusaha kecil-kecilan kayak cita-citanya. Gak makan gaji. Meski sekarang dia masih naik ojek, tapi katanya dia puas.” Tini tampaknya benar-benar kelaparan. Menjadi tenaga marketing di perusahaan asuransi sepertinya memang menguras energi perempuan itu cukup banyak.


“Kalau aku mau muntah, kamu nggak jijik 'kan?” tanya Dijah. Tini makan dengan lahap dan menggeleng.


“Enggak. Kita makan di pembuangan sampah juga lahap kok Jah... Santai aja kamu. Biar bisa cepet pulang ke rumah. Kasian mas-mu, mukanya capek banget. Keliatan khawatir. Aku iri Jah... Kamu bisa ketemu laki-laki kayak mas Bara itu. Cinta sama perempuan nggak nanggung. Didik anak perempuan itu susah. Tapi mendidik anak laki-laki supaya bisa menghargai perempuan itu juga susah. Ibunya hebat.” Tini kembali berdiri mendekati meja dan menyendok lauk ke piringnya.


“Kamu juga pasti ketemu laki-laki hebat yang bisa nerima kamu,” sahut Dijah setengah menerawang membayangkan wajah lelah suaminya beberapa hari ini. Perkataan Tini barusan membuat Dijah semakin bersyukur dan sedih. Selama awal kehamilannya yang parah ini, ia tak mengurus Bara dengan benar. Bahkan urusan Dul pun diambil alih sepenuhnya oleh Bara.


“Apa aku harus mulung di tempat kamu dulu? Atau kerja di cafe mami?” tanya Tini menggigit sebuah tempe goreng. Dijah kembali menatap sahabatnya.


Dijah terkekeh. “Aku cuma beruntung Tin,” sahut Dijah. “Itu mas Agus atasan kamu yang bujangan gimana? Masih dingin-dingin aja?”


“Bukan cuma dingin. Untuk urusan kantor aja, ditelfon di luar jam kerja sering nggak aktif. Apa aku harus nelfon gunung Merapi aja? Jelas aktifnya. Kesel,” omel Tini kemudian menarik nafas.


“Ya udah, cuekin aja...” ucap Dijah. Tini bersandar di kursinya dan mengusap perut.


“Masakan Mbok Jum enak. Entah karena aku yang memang kelaperan banget, nggak tau juga. Tapi makasi ya... Aku dapet makan siang gratis.” Tini berdiri membawa piringnya ke kamar mandi dan sesaat berada di sana mencuci piringnya.


“Biarin aja Tin...” ujar Dijah pelan. Tini tak bisa mendengar suara Dijah yang melarangnya mencuci piring milik rumah sakit.


*****


Bara mengendarai mobilnya pukul 9 malam menuju ke rumah. Ia masih memikirkan perkataan Heru tadi sore padanya.


“Ra, kamu tau kan hasil sidang Fredy 18 tahun penjara? Kamu udah denger dari AKBP Heryadi lanjutan kasusnya? Fredy mengendalikan narkoba dari dalam penjara. Dia mengorganisasi penyeludupan ekstasi dari Cina. Gak nanggung-nanggung, lebih dari satu juta pil. Ancamannya hukuman mati. Hampir bisa dipastikan hukuman mati. Gila gak tuh?”


Bagi Dijah, Fredy bukan siapa-siapanya lagi. Mereka telah menjadi orang asing. Tapi bagi Dul? Fredy tetap bapaknya. Ingatkah Dul pada sosok Fredy? Haruskah ia menanyakan hal itu pada Dul? Haruskah ia mengatakan pada anak itu bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang yatim?


Dengan wajah letih, Bara menghentikan mobil di depan rumahnya. Malam ini ia harus membawa Dul ke suatu tempat. Ia ingin mengetahui apa yang ada di dalam ingatan Dul selama ini.


“Dul... Ayah pulang...” panggil Bara dari pintu depan. Ia tak membuka sepatu karena ingin langsung segera berangkat. Langkahnya menuju kamar Dul yang sedikit terbuka.


“Eh, lagi apa? Ayah panggil gak denger...” Bara masuk mendapati Dul sedang menunduk di lantai kamarnya. Bocah laki-laki itu sedang mengerjakan sebuah maket berbentuk kota kecil yang terbuat dari balok-balok kecil dan rumit.


“Nggak denger...” sahut Dul mendongak menatap Bara.


“Malam ini, kamu ayah bawa nginep di tempat lain ya... Kasian kamu nggak ada temennya di rumah.” Bara mengambil sebuah ransel sedang dari dalam lemari dan mengisinya dengan pakaian Dul.


Dul berdiri mengangkat proyek yang dikerjakannya itu ke atas meja belajar.


“Ganti baju nggak?” tanya Dul menunjuk pakaian tidurnya berupa setelan celana panjang dan kaos lengan pendek bermotif beruang.


“Gak usah, udah malem. Entar nyampe bisa langsung tidur.” Bara mengancingkan ransel dan menatap mainan yang menghampar di atas meja. “Ada mainan yang mau dibawa?” tanya Bara.

__ADS_1


“Hmmm...” Dul berpikir-pikir sejenak. “Kalau bawa mainan balok yang masih baru boleh nggak? Yang baru ayah beli, aku belum buka.”


“Boleh, mana? Ambil... Biar kita langsung pergi.” Bara terasa menjadi sangat besar berdiri di tengah kamar yang perabotnya serba mungil itu.


Beberapa saat kemudian mereka sudah beriringan kembali keluar pagar diikuti oleh Mbok Jum yang akan mengunci pintu sepeninggal mereka.


“Ibu masih sakit?” tanya Dul saat mobil telah melaju.


Bara mengangguk. “Masih,” jawab Bara. Beberapa saat lamanya Bara mengemudi dalam diam. Hingga akhirnya, “Dul...” panggil Bara.


“Hm?” Dul menoleh menatap raut Bara.


“Kamu sayang ayah gak?” tanya Bara menoleh sekilas dan mengusap punggung tipis Dul yang duduk setengah bersandar di jok mobil.


“Sayang,” jawab Dul.


“Sejak kapan sayang ayah?” tanya Bara lagi.


“Hmmm... Sejak aku naik motor gede merah pertama kali.” Dul sedang duduk memeluk kotak mainannya sambil menatap jalanan. Bara tersenyum dan pandangannya kembali mengarah jalan.


Mobil yang dikemudikan Bara tiba di tempat tujuan. Ia turun menggandeng Dul dengan sebuah ransel bergambar super hero di tentengannya.


“Mau ‘kan nginep di sini selagi ayah nemeni ibu?” tanya Bara menunduk memandang Dul.


Bocah itu mendongak. Bibir mungilnya menarik senyum merekah. Bulu mata tebal yang persis sama dengan yang dimiliki ibunya ikut mengerjap. Dul mengangguk.


Sejurus kemudian, bel rumah yang telah dipencet Bara beberapa kali akhirnya membuat pintu ruang depan itu terbuka.


“Dul...” sapa Pak Wirya tersenyum lebar.


“Akung!” pekik Dul.


“Ayah... Aku minta tolong lagi...” ucap Bara memandang ayahnya. Pria tua itu mengangguk dan meraih tangan kecil Dul.


“Ya sudah sana, urus istrimu dulu. Biar Dul di sini,” kata Pak Wirya.


Bara mengangguk. Ia masih berdiri di depan pintu. “Makasi Yah...” gumam Bara.


“Sama-sama...” sahut Pak Wirya kemudian berjalan ke dalam rumah. Bara mendengar ayahnya meminta Dul menunjukkan mainan yang sejak tadi didekapnya.


To Be Continued....


Makasih vote voucher Seninnya ya...

__ADS_1


Komen di novel BarJah ini luar biasa menghiburnya.


Enjusss syuukkaaa :*


__ADS_2