PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
133. Temu Terakhir


__ADS_3

“Makan yang banyak, tidur siang. Madunya juga rutin diminum. Minggu depan nginep di sini lagi ya... Uti nggak ada temen.” Bu Yanti berdiri di dekat pagar sambil menenteng ransel Dul dan sebuah replika helikopter yang telah selesai.


Dul hanya diam mengulurkan lengan untuk memudahkan Bu Yanti mengalungkan ransel ke bahu mungilnya.


“Kalau kamu nggak suka nggak apa-apa,” kata Pak Wirya. “Nggak ada yang bakal marah. Bilang aja. Misalnya, ‘Aku nggak mau. Minggu depan aku kepingin di rumah’ kamu nggak apa-apa menolak sesuatu yang kamu nggak suka. Bilang ke ibu, bilang ke ayah, atau langsung ke akung dan uti. Dul ngerti?” tanya Pak Wirya saat memakaikan topi Dul.


Dul mengangguk. “Tapi aku suka. Aku mau nginep di sini lagi.” Dul menoleh memandang wajah Dijah dan Bara bergantian.


“Iya... minggu depan kan? Minggu depan ayah anter ke sini.”Bara memasukkan dua tas ke bagasi belakang mobil.


“Pinter. Kamu makin pinter. Jadi kalau ada yang kamu nggak suka, boleh dibilang. Itu namanya ngasi pendapat. Akung kalau lagi nggak doyan makan sesuatu selalu ngomong. Nggak ada tuh yang marahin akung. Jadi orang-orang juga nggak maksain akung harus makan sesuatu itu.” Pak Wirya mengangguk dan masih mengusap-usap bahu Dul. Bocah laki-laki itu telah memakai ransel dan memegang replika helikopternya.


“Uti aku nggak suka sayur,” ucap Dul pada Bu Yanti.


“Lah, langsung.” Bu Yanti memandang suaminya. Pak Wirya tertawa. Dijah memandang Dul dan tak bisa menahan senyumnya.


“Sama, ayah juga dulu gak suka sayur. Tapi uti paksa ayah makan sayur. Akhirnya ayah suka, makanya sekarang jadi gede gini. Jadi kuat juga,” ujar Bara seraya mengaitkan satu jarinya pada jemari Dijah di sebelahnya. Dijah langsung menepis tangan Bara karena khawatir kode terselubung Bara itu terlihat oleh mertuanya. Bukannya berhenti, Bara malah menangkap dan menggenggam tangan Dijah.


“Bu!” panggil Dul ketika mereka telah berada di dalam mobil.


“Hmm?” Dijah menoleh sekilas ke belakang.


“Minggu depan aku boleh ke rumah akung lagi nggak?” tanya Dul.


Dijah menoleh ke arah Bara yang sedang mengemudikan mobil.


“Seneng ya di sana?” tanya Bara tersenyum saat membalas tatapan istrinya.


“Seneng. Akung dan uti pinter. Kalau Mbok Jum diajak main, selalu bilang mumet.” Dul memangku helikopternya dengan hati-hati.


Bara terkekeh pelan. “Boleh. Minggu depan ayah anter ke sana. Gitu kan Bu?” tanya Bara mencubit pelan pipi Dijah.


*****


Bara masuk ke ruangan Heru setelah mengetuknya dua kali. Senin pagi, dan kantor belum ramai karena masih terlalu pagi. Hari itu dia berangkat lebih awal karena tak sabar ingin bertemu dengan Heru. Mendapat lampu hijau dari ayahnya untuk bertemu dengan Fredy ikut menambah rasa percaya dirinya. Artinya, ayahnya percaya bahwa ia bisa menyelesaikan hal itu sendiri.


“Jam berapa?” tanya Bara pada Heru. Ia bermaksud menanyakan pukul berapa mereka akan berangkat ke pengadilan.


“Jam 9. Yakin ‘kan?” tanya Heru seraya mengaduk-aduk lacinya.


“Yakin,” jawab Bara singkat. “Aku mau ngomong ke laki-laki itu,” tambah Bara.

__ADS_1


Heru mendongak menatap Bara yang sudah menghempaskan tubuh di sofa ruangannya.


“Mau ngomong apa? Gak cukup cuma ngeliat sidangnya aja?” tanya Heru.


“Demi ketenangan hatiku, kayaknya aku harus ngomong. Aku jijik, tapi aku harus ngomong.” Bara menatap lurus ke arah Heru.


Heru mengangguk. “Oke,” sahutnya kemudian.


Pukul 9 pagi, sidang itu telah dimulai dan Bara duduk seperti biasa di deretan kursi paling depan sebagai penonton sidang. Sebelum masuk tadi, Heru menunjukkan tanda pengenal bahwa mereka adalah pers. Bara menenteng kameranya. Tapi kamera itu berasa di tangan Heru dalam kondisi yang tak menyala.


“Itu kakak laki-lakinya yang pengacara.” Heru menunjuk seorang pria yang duduk di sebelah Fredy. Bara tak menjawab, hanya mengalihkan pandangannya sekilas.


Apa yang dirasakan Bara saat melihat mantan suami Dijah menjadi seorang aktor utama sebuah persidangan dengan kasus besar?


Bara menghela napas. Tubuh kurus Fredy berbalut kemeja sederhana tak membuat Bara terenyuh. Laki-laki gila yang terobsesi dengan gadis belasan tahun. Bara hampir meludah mengingat itu.


Menjelang tengah hari, sidang ditutup dan agendanya akan menanti sidang lanjutan. Tuntutan Jaksa tetap hukuman mati. Fredy kembali digiring keluar gedung sidang melalui pintu samping. Di sebelah laki-laki itu berjalan dua orang pengacara dan empat petugas kepolisian yang akan menggiringnya ke mobil.


“Tunggu sebentar. Jangan di sini, banyak wartawan. Gak lucu kalo wartawan diliput wartawan.” Heru menahan lengan Bara. “Kita ke gedung samping. Biasanya dari sana keluarnya.” Heru berjalan menyusuri samping kiri gedung dan terus ke belakang. Dan ternyata memang ada sebuah pintu yang mengarah ke lorong tempat dimana ruang sidang berada.


Dada Bara berdegup keras. Bukan karena takut. Dia hanya tak yakin dengan apa yang akan dikatakannya kepada Fredy. Mengatakan bahwa Dul akan baik-baik saja bersamanya atau menyampaikan bahwa Dul sudah bahagia dan melupakan pria itu? Tak tahu mana yang lebih bijaksana, Bara hanya mengikuti kata hatinya.


“Itu udah keluar. Ra—” Heru tak sempat menahan untuk menyiapkan Bara. Adik sepupunya sudah maju lebih dulu menghalangi langkah petugas.


“Silakan bicara, kami tetap di sini.” Seorang petugas kepolisian menyahuti Heru.


Heru langsung menoleh ke arah Bara yang sedang beradu pandang dengan Fredy.


“Masih inget?” tanya Bara. Perasaan tak teganya tiba-tiba mengambang ke permukaan. Wajah Fredy terlihat lebih kurus dari terakhir kali dilihatnya.


“Apa Lo? Udah Lo kawinin pelacur itu?” tanya Fredy dengan nada santai.


Kaki Bara bergeser maju, Heru dengan cepat menahan tangannya. Mata Bara berkilat karena amarah dan rahangnya mengeras.


“Hukuman mati ya?” tanya Bara dengan wajah sinis. “Kalo aku tuntut lagi dengan perbuatan tidak menyenangkan karena ujaran barusan hukumannya gimana Mas?” tanya Bara menoleh pada Heru.


“Sia-sia. Ckckck.” Heru berdecak dan menggeleng.


“Aku cuma mau ngasi tau kalo Dul bahagia tinggal bersama aku dan istriku. Itu aja. Aku cuma mau kamu tau dan bisa tenang. Kalau kamu bapak yang bener, pasti kamu penasaran soal itu.”


“Persetan,” desis Fredy membuang muka seraya mendengus.

__ADS_1


“Jadi Dul tinggal dengan adik ipar saya?” tanya kakak laki-laki Fredy tiba-tiba.


“ADIK IPAR ANDA YANG MANA? PEREMPUAN YANG BERTAHUN-TAHUN DISIKSA LAKI-LAKI INI TAPI KALIAN BIARKAN?? ITU BUKAN ADIK IPAR ANDA. HATI-HATI KALAU BICARA. ITU ISTRI SAYA!” Teriakan Bara menggema di sepanjang lorong.


“Ra...” tegur Heru menepuk-nepuk bahu Bara.


“Tadinya gua kasian ama Lo! Miris gua liat idup lo! Lo cinta ama perempuan tapi gak bisa miliki perempuan itu dengan cara yang bener. Gua kasian ama Lo kalo sampe dihukum mati tapi gak pernah ketemu anak Lo lagi. Gua ngerasa bersalah. Feeling sorry. Tapi ngeliat Lo kayak gini—cuih!!” Bara meludah.


“Gua berharap gak akan ketemu Lo lagi sampe kapanpun. Jangan ganggu keluarga gua. Dan...” Bara menoleh pada kakak laki-laki Fredy. “Jangan sebut-sebut istri gua lagi. Dia gak ada hubungannya dengan kalian.”


“Gua akan jamin Dul gak akan tau soal kerjaan dan kehidupan bapak kandungnya. Dul berhak hidup bebas dari bayang-bayang hidup Lo yang berengsek!” desis Bara pada Fredy.


Fredy mendengus dan berpura-pura menggaruk telinganya saat mendengar perkataan Bara.


“Ayo Ra, udah. Waktunya udah selesai,” ajak Heru meraih bahu Bara. “Katanya sore ini mau belanja pakaian bayi. Dul udah gak sabar shopping pakaian adiknya.” Heru mengangguk riang pada kakak laki-laki Fredy Dan petugas polisi di sebelahnya. Heru khawatir jika mereka berada lebih lama di sana, Bara akan menerjang Fredy dan kembali memukuli pria itu setengah mati.


Bara melangkah mundur. Tatapannya masih beradu dengan Fredy.


“Udah... entar kalo kamu hajar lagi, enak dia dong! Jadi ada temennya di bui. Kasian Dijah dan anak kamu di perutnya. Entar lagi jadi bapak lho Ra...” Heru setengah menyeret bahu Bara dari sana.


Bara telah kembali berada di dalam Hummer Heru. Ia melandaikan jok dan setengah berbaring.


“Gimana rasanya?” tanya Heru menoleh pada Bara saat menjalankan mobil.


“Arrrghhhh... lega aku!” Bara menggeliat dan merentangkan tangannya.


“Puas?” tanya Heru.


“Banget,” jawab Bara.


Heru tertawa. “Darah muda Kang Mas Bara,” ucap Heru masih tertawa kecil.


“Eh Mas!” seru Bara tiba-tiba menegakkan dirinya.


“Apa?” tanya Heru menoleh sekilas.


“Kok Mas tau aku mau pergi belanja pakaian bayi ama Dijah?” tanya Bara heran.


“Hah? Emang iya? Aku cuma asal aja tadi...” jawab Heru semakin mengeraskan tawanya.


“Ckckck... Kang Mas Heru semakin hebat ilmu nujumnya,” tukas Bara memandang Heru.

__ADS_1


To Be Continued.....


Jangan lupa tombol likenya diusap demi dua Kang Mas-nya ya.... :*


__ADS_2