
"Di puncak yang banyak arenanya itu?" tanya Dul.
Bara mengangguk.
"Aku boleh nyoba roller coaster?" tanya Dul.
Bara kembali mengangguk setengah tertawa.
"Boleh ya Bu...?" Dul mengguncang tangan Dijah tak sabar. Apalagi yang harus dijawab Dijah jika anaknya saja sudah sesenang itu.
"Iya boleh... Habiskan dulu makanannya. Udah malem." Dijah mengusap punggung Dul yang terlihat seperti ingin lompat ke pangkuan.
Dul buru-buru menghabiskan makanannya. Dan setelah berjanji akan berlaku baik, ia melepaskan kepergian ibunya dengan hati riang.
Tak ada yang pernah mengajaknya pergi bermain. Dul tak pernah masuk ke mall. Rekreasi paling mewahnya hanya sebatas berbelanja di mini market seberang gang bersama ibunya.
Dul setiap hari merindukan ibunya. Tapi meminta wanita yang melahirkannya tinggal lebih lama di rumah itu, sama saja menyiksanya.
Meski baru berusia lima tahun lebih, Dul adalah anak yang cerdas. Ia dipaksa berpikir lebih dewasa melebihi usianya. Bapak Dijah sering mengomel pada Dul kalau ia bermain sedikit lama di sekolahan. Itu sebabnya ia senang sekali Bara mengajaknya tamasya.
Bapak Dijah yang bermulut tajam, sering mengatakan kepada bocah laki-laki itu bahwa ia harus rajin-rajin sekolah dan menuruti perkataan kakek-neneknya.
Dul yang berusia sangat dini harus mendengar omelan kakeknya yang mengatakan bahwa ia harus jadi anak yang tahu diuntung. Ibunya dulu nyaris gila saat hamil dan melahirkannya. Dul yang tak mengerti selalu menelan kata-kata itu.
"Padahal aku Sabtu kerja..." ucap Dijah saat mereka telah kembali berada di dalam mobil.
"Sekali-kali libur untuk Dul," jawab Bara.
"Sebenarnya udah dua kali. Kemarin sekali waktu aku--"
"Lebih penting pergi dengan Dul, ketimbang kamu gelut di halaman belain Tini." Bara melirik Dijah yang langsung mengatupkan mulutnya.
Bara memasukkan persneling dan mulai melajukan mobil. Ia berkali-kali melihat ke arah spion kiri mobil. Bara merasa sebuah mobil di belakang mereka, ikut bergerak meninggalkan gang itu.
Dengan pikiran yang hampir pasti bisa dipastikannya, Bara mencoba santai. Rasanya tak perlu mengatakan pada Dijah bahwa mereka saat ini tengah diikuti oleh mantan suaminya.
"Entar hari Sabtu bawa bekal ya. Masak yang enak, tapi jangan banyak-banyak. Pulangnya kita makan di resto puncak. Aku yakin Dul pasti seneng," ujar Bara seraya melirik mobil di belakang mereka.
"Pasti seneng. Dul gak pernah ke mana-mana," jawab Dijah jujur. Dalam hal itu ia merasa sangat bersalah sekali. Siang malam ia hanya tahu mencari nafkah.
"Kita mampir ke kantorku dulu ya," ujar Bara mengubah rencananya. Saat itu ia tak mungkin membawa Dijah langsung ke kos karena Fredy akan tahu di mana wanita itu tinggal.
__ADS_1
Kehadiran Bara membuat Fredy kembali terprovokasi dan bertindak lebih agresif pada Dijah. Untuk itu, Bara merasa bahwa dirinya memang harus bertanggung jawab. Jika Fredy memang mau menemuinya, Bara tak mau Dijah melihat seperti apa hasil pertemuan mereka.
Kira-kira dua puluh menit kemudian, Bara kembali menoleh spion dan melihat mobil yang pernah berpapasan dengan mereka di lampu merah masih berada di belakang.
Bara membelokkan mobil memasuki kantornya. Setelah mengklakson dan dan membuka setengah kaca mobil, satpam kantor membuka gerbang.
"Hadeeehh... Mana sih Bayu, katanya mau pinjem kamera. Udah nyampe sini malah suruh tunggu." Bara berdecak pura-pura kesal. Bayu tak ada janji apapun dengannya. Ia akan menunggu beberapa saat sebelum kembali mengantarkan Dijah.
Mungkin sekarang Fredy akan tahu di mana ia bekerja dan pada akhirnya, mantan suami Dijah itu akan tahu siapa dirinya. Buat Bara tak masalah. Malah ia tak sabar untuk menumpas kuman itu dari hidup Dijah.
"Dingin ya..." ucap Bara memecah kesunyian. Tangannya kemudian memencet tombol untuk menurunkan sedikit kaca agar udara tetap keluar selama mereka berada di dalam mobil yang AC-nya menyala.
"Sabtu jam berapa?" tanya Dijah. Masih lama sebenarnya, tapi kini ia sama bersemangatnya dengan Dul. Dalam pikirannya ia sudah berencana membelikan sepasang baju baru untuk Dul pergi nanti.
"Pagi, jam 8 aku jemput kamu. Atau kalau mau lebih pagi, aku bisa nginep. Gimana?" tanya Bara.
"Jemput jam 8 aja gak apa-apa," potong Dijah cepat.
"Pelit banget sih Jah..." gumam Bara.
"Pelit apa sih?" tanya Dijah kesal.
"Kamu," sahut Bara.
"Aku cuma bilang aku khawatir," ujar Bara mencondongkan tubuhnya karena terperanjat mendapat tanggapan sengit dari kekasihnya.
"Aku bilang, aku nggak. Aku gak khawatir," jawab Dijah.
"Aku merasa diremehkan," ujar Bara.
"Aku gak ada bilang kayak gitu," sahut Dijah cepat.
"Jadi kamu maunya apa?" tanya Bara pelan mendekati kekasihnya. Seatbelt mereka telah dilepas sejak tadi.
"Kamu yang maunya apa, uring-uringan terus."
"Masih pengen..." jawab Bara akhirnya. Bara kemudian meraih tangan Dijah agar memeluknya.
"Sentuh aku duluan sekali-sekali... Aku juga pengen..." gumam Bara di telinga wanita itu. "Jangan dingin banget, aku 'kan sayang kamu."
Dijah kemudian melepaskan pelukan Bara dan menatap wajah pria yang sejak meninggalkan kos-kosannya tadi terlihat gelisah. Ia kemudian menangkup wajah Bara kemudian menyatukan bibir mereka.
__ADS_1
Tak mungkin Bara tak menyambut ciuman itu. Dengan cepat matanya telah memejam dan lidahnya menelusuri tiap sudut bibir Dijah. Tangan mulai bergerak membuka dua kancing kemeja yang dikenakan Dijah. Perlahan namun pasti jemarinya menyusup ke balik bra wanita itu untuk menemukan apa yang dicarinya.
Bara mendengar Dijah mulai mendesah saat ia mengusap puncak dada yang kian mengetat karena hasrat. Selang berapa saat kemudian, dengan nafas terengah Dijah melepaskan ciuman mereka. Matanya telah sayu dan tangan Bara masih tinggal di balik kemeja tak henti meremas lembut dadanya.
"Buka..." gumam Dijah nyari tak terdengar.
"Apa?" tanya Bara dengan debaran aneh di dadanya.
"Kancing ini..." ucap Dijah meraba perut Bara di mana tempat pengait jeans-nya berada. Bara menaikkan alisnya seolah tak percaya dengan hal yang baru saja dikatakan oleh pacarnya.
Sebelum Dijah berubah pikiran, Bara merasa tak ada salahnya mencoba. Dengan sebelah tangannya yang masih terbebas Bara melepaskan pengait jeans-nya tanpa kesulitan.
Untungnya di dalam mobil itu gelap sekali. Di parkiran kantor hanya ada empat mobil inventaris yang terletak di sejajaran SUV milik Bara.
Bara menahan nafasnya sejenak tapi kemudian ia langsung mencium bibir Dijah saat merasakan kehangatan telah melingkarinya di bawah sana. Ia tak mampu menyamarkan desahannya.
Ciumannya semakin tak teratur tapi Bara yakin mereka berdua bernyali karena terlindung di balik gelap. Bara menghujani leher Dijah dengan kecupan.
"Udah..." Dijah menarik wajahnya karena merasa geli saat Bara menciumi telinganya.
"Sebentar..." ujar Dijah kemudian menunduk.
Bara sebenarnya tak mengharapkan mendapat perlakuan khusus itu dari Dijah. Tapi ilmu yang diturunkan Tini memang luar biasa sekali. Di antara kenikmatan yang diperolehnya di bawah sana, Bara sempat memikirkan bahwa Tini cocok bekerja sebagai tim sukses pemilihan kepala daerah. Semua omongan wanita itu pada akhirnya selalu berhasil memprovokasi ia dan Dijah.
Dijah membuat Bara kelimpungan. Ia takjub saat menyadari ternyata sensasi yang dirasakannya saat itu, tak membuatnya puas dengan cepat. Dan saking semangatnya mengajak kepala Dijah bergerak, Bara sempat meminta maaf ketika wanita itu terbatuk pelan seperti tersedak.
Hingga akhirnya Bara merasa ia telah nyaris berada di puncak gulungan rasa nikmatnya. Buru-buru ia meraih tisu mobil secepat kilat dan menarik kepala kekasihnya yang masih tekun dan telaten.
Sudah hampir pukul dua dini hari saat Bara mengantarkan Dijah sampai ke depan pintu kamarnya.
"Baru pulang Jah?" panggil Tini dari kamar sebelah.
"Iya..." sahut Dijah.
"Pasti Mas-mu nggak nginep kan?" tanya Tini.
"Enggak, ini cuma nganter aja."
"Ya udah pas kalo gitu. Besok kupesen stikernya."
Bara yang mendengar ucapan Tini, hanya bisa cemberut karena melihat Dijah terkekeh-kekeh.
__ADS_1
To Be Continued.....