
Dijah duduk bersimpuh di sebelah makam ibu yang bersisian dengan makam bapaknya. Di dekatnya Dul berjongkok menaburi puncak makam dengan bunga yang diraupnya dari sekitar situ.
“Udah sama-sama sekarang ya Bu,” ucap Dijah. “Nggak sendirian lagi.”
Bara berdiri di belakang Dijah memegang payung. Mima tak ikut bersama mereka. Bu Yanti menyanggupi membawa cucunya itu pulang lebih dulu dengan bekal dua botol ASI hasil pompa.
“Kita pulang yuk,” ajak Bara pada istrinya. Dijah sudah terlalu lama duduk mengelus nisan kayu ibunya. Teman-temannya juga sudah pamit pulang sejak tadi.
Dijah mendongak menatap Bara. Raut laki-laki itu sama lelah dengannya. Tak tidur semalaman demi mengurus ini itu demi membantu prosesi pemakaman ibunya.
“Iya Mas, kita pulang. Aku udah kangen Mima...” ucap Dijah mengulurkan tangannya yang langsung disambut Bara.
Bara meraih tangan Dijah seraya merangkul pundak istrinya untuk bangkit. Dul memegang tangan ibunya dengan satu tangan lain masih menggenggam bunga.
“Pulang Bu?” tanya Dul.
“Iya, pulang.” Dijah mengusap kepala Dul.
“Sebentar,” ucap bocah itu kemudian menunduk menaburkan sisa bunga di genggamannya. “Mbah, aku pulang.” Gumaman Dul nyaris tak terdengar.
Dijah memandang raut wajah Dul kemudian menarik senyum tipis.
Tak ada siapa-siapa lagi di sana. Pemakaman dilakukan pagi, dan mereka baru meninggalkan tempat itu lewat tengah hari. Bertiga beriringan meninggalkan tanah kuburan Mbah Wedok yang masih basah.
Dan sesaat sebelum naik ke mobil, Dijah kembali menoleh.
Nanti kita pasti berkumpul lagi Bu... Salam sama Bapak.
Perjalanan pulang itu sangat hening. Dijah sibuk dengan pikirannya dan Bara menyetir dengan sangat fokus.
“Aku sekarang yatim piatu Mas,” ucap Dijah tiba-tiba.
Bara menoleh memandang istrinya yang berbicara sambil memeluk tas dan matanya lurus menatap jalan.
Dijah lalu menoleh sekilas membalas pandangan suaminya.
“Masih ada mas. Ada Dul, ada Mima.” Bara membelai rambut istrinya dengan tangan kiri.
“Iya...” sahut Dijah.
“Jangan lupa, ada Pak Darma dan Bu Yanti juga.” Bara kembali menoleh Dijah dan mencubit pelan pipi istrinya.
“Aku beruntung,” ucap Dijah.
“Aku juga beruntung,” balas Bara.
Dijah menatap lekat raut suaminya dari samping. Sekilas tadi mereka sempat beradu pandang sebelum Bara kembali memandang jalan.
Dulu Dijah selalu merasa sendirian meski masih berorangtua lengkap. Sekarang kedua orangtuanya sudah pergi. Tapi Tuhan menggantinya dengan seorang suami dan keluarga yang baru.
Benar sekali. Sekarang ada Bara pikirnya. Dia tak perlu merasa sendiri.
******
“Halooo.... Mima.... Sini sama Pak De!” Heru baru saja muncul di depan pintu dan merentangkan tangannya ke arah Mima yang berada dalam gendongan Bara.
“Jangan—jangan Pak De, budhe aja.” Fifi mendahului langkah Heru untuk mengambil Mima. “Ayo—ayo masuk. Kita liat adik cewe,” ajak Fifi pada anak laki-lakinya.
Sabtu sore itu Fifi mengajak Heru untuk kembali menyambangi kediaman Bara dan Dijah untuk melihat Mima. Alasannya, “Aku baru ngeliat sekali Mas. Pengen gendong lagi.”
__ADS_1
Dan sore itu mereka berjalan kaki satu setengah blok untuk menemui bayi perempuan yang usianya hampir 1.5 bulan.
“Mau adik cewe juga?” tanya Heru saat melihat anak laki-lakinya berdiri tekun di depan lutut Fifi demi mengamati Mima.
Anak laki-laki Heru menggeleng. Fifi dan Heru serentak tertawa.
“Kok nggak mau?” tanya Bara pada keponakannya. Bocah laki-laki itu langsung memeluk ibunya pertanda belum ingin berbagi.
Dijah masuk ke ruang keluarga dan meletakkan senampan minuman di atas meja sebelah televisi.
“Mbak, Mas, diminum ya...” ucap Dijah.
“Ya ampun Dijah, padahal tamunya bisa pulang jalan kaki kalau haus. Sibuk-sibuk bikinin minuman.” Fifi menoleh pada Dijah kemudian mengatupkan mulutnya menahan gemas saat Mima menggeliat di gendongannya.
“Ayo, sini.” Dijah mengulurkan tangannya pada putra Heru. “Main sama mas Dul di kamar. Ayo...” Dijah menggandeng bocah laki-laki itu menuju kamar Dul.
“Ra! Gimana? Mima langsung nambah adik atau gimana?” tanya Fifi seraya terkekeh.
Bara mencibir. “Langsung nambah adik gimana--kasian ibunya. Hamilnya menderita, lahirannya apalagi. Aduuhh.... Padahal bukan aku yang ngelahirin. Tapi tiap inget itu, aku masih trauma.”
Fifi dan Heru kembali tertawa melihat ekspresi bergidik Bara yang sangat serius.
“Itu belum termasuk penderitaan puasa-puasa yang Kang Mas Bara jalani Yang...” ujar Heru pada istrinya.
“Ini pasti masih puasa makanya masih kalut,” tambah Fifi terkekeh.
Dijah kemudian kembali datang masuk ke ruang keluarga dengan sepiring besar pisang goreng hangat dari dapur.
“Ya ampun Dijah, udah...” seru Fifi. “Duduk di sini aja, ngobrol.” Fifi menepuk bantalan sofa di sebelahnya.
Dijah tertawa. “Itu Mbok Jum yang goreng. Dia seneng kalau ada tamu. Makin semangat masak ini-itu,” ujar Dijah kemudian duduk di sebelah Fifi.
“Kalau nunda ya gampang. Tinggal pasang lagi, tapi ya sabar.... Puasanya nambah.” Dijah ikut terkekeh.
“Tuh ‘kan, gampang. Cuma harus sabar ya Ra...” sindir Fifi yang benar-benar paham bagaimana sifat ketidaksabaran Bara.
“Eh, Mas... Itu di kantor masih penerimaan anak magang ‘kan? Ada keponakan temenku mau masuk. Masih bisa?” tanya Fifi tiba-tiba pada suaminya.
“Masih kayaknya. Di kantor yang urus anak magang itu Retno. Nanti aku tanya dia. Sekarang memang udah gelombang baru. Yang kemarin udah selesai,” jawab Heru.
“Oh yang kemarin udah selesai ya Mas?” tanya Dijah melirik suaminya.
“Iya, sekarang mulai yang baru lagi. Bulan depan kayaknya aku juga mau buka lowongan di bagian umum. Gimana Ra? Kita tambah aja ya.... Iklan lancar dan statistik kita bagus. Biar kamu nggak keseringan lembur,” ujar Heru.
“Gimana baiknya aja menurut Pak Direktur.... Saya selaku karyawan manut,” sahut Bara tertawa.
Heru gantian mencibir. “Biar nggak terlalu banyak anak magang. Kita ambil dikit aja. Pasti Dijah setuju,” tambah Heru.
“Mulai...” sela Bara melempar tatapan sebal pada Heru.
“Setuju Mas, aku nggak masalah asal anak magangnya laki-laki semua.” Dijah mengambil Mima yang terlihat gelisah dari tangan Fifi. Bayi itu sesaat lagi pasti akan memulai tangisannya.
“Kalo laki-laki semua nggak mungkin Jah... Kantor bakal terlihat suram,” ucap Heru serius kemudian melempar tatapan jahil pada istrinya.
“Gaya banget sih, entar kalo didiemin istri kerja pada uring-uringan. Kerja setengah hari langsung pulang. Ngirim pesan sampe puluhan kali sehari. Nanyain hal yang gak penting-penting sampe ganggu waktu kerjaku. Di rumah cari perhatian sampe belingsatan sendiri....” Fifi mencibir menyilangkan tangan di depan dadanya.
“Oooh... sama rupanya.” Dijah mengangguk-angguk dengan wajah kalem.
“Oh sama ya?” tanya Fifi menoleh Dijah.
__ADS_1
“Sama,” sahut Dijah.
Bara langsung berdiri mengambil sepiring pisang goreng dan menyodorkannya pada Heru. "Makan! Biar jangan ngomong yang macem-macem lagi."
Heru mengambil sepotong dan mengunyah makanannya sambil terkekeh-kekeh.
Sinar surya sore itu masuk menembus kaca jendela dan melewati vitrase putih yang sesekali mengibar tertiup angin. Sore itu semua terasa ringan. Percakapan mereka, juga hati mereka.
*****
“Harus di hari ke 40 ya?” tanya Bara di luar ruang tunggu spesialis kandungan.
“Iya, kan dokternya udah pernah bilang.” Dijah memeluk lengan Bara saat mereka duduk bersisian di kursi besi.
Bara mengangguk tapi sedang mencoba mengingat perkataan dokter kandungan yang terlewat dari ingatannya.
“Jadi... Gak ada berdampak dengan—”
“Nggak ada berdampak dengan hasrat berhubungan kalau itu maksud Bapak,” jelas Dokter tersenyum membantu menegaskan pertanyaan Bara yang ragu-ragu. “Pemasangannya di rongga rahim. Tidak bisa dilihat atau dirasakan. Jadi harusnya tidak ada dampak jika sedang berhubungan.”
Bara mengangguk mengerti. Tangannya masih menggenggam tangan Dijah di atas pangkuannya. Hari itu Dijah akan kembali menggunakan alat kontrasepsi selama lima tahun. Sebagai seorang suami yang melihat penderitaan istrinya sejak dari hamil dan melahirkan, Bara memang ingin menunda menambah anak. Dijah masih muda dan ia ingin istrinya itu merawat dan memuaskan masa balita putri mereka dengan perhatian penuh seorang ibu.
“Tadi sakit nggak?” Bara bertanya soal proses pemasangan alat kontrasepsi yang baru dilakukan istrinya beberapa saat yang lalu.
“Nyeri sedikit,” jawab Dijah.
“Masih ada pendarahan sesudahnya, kata dokter tadi.”
“Iya, perlu penyesuaian beberapa waktu. Kenapa?” tanya Dijah.
Bara sedang menyetir dan Sabtu pagi itu mereka hanya ke dokter berdua saja. Mima dan Dul tinggal di rumah akung Wirya.
“Perempuan itu hebat. Sepanjang hidupnya sering sakit tapi nggak ngeluh.” Bara menoleh sekilas pada Dijah yang tersenyum.
“Udah kodratnya,” sahut Dijah.
“Makanya harus disayang...” ucap Bara mengusap pipi istrinya.
“Tiba-tiba romantis,” kata Dijah. “Ini nggak ada hubungannya dengan kembali berpuasa ‘kan?” tanya Dijah mengangkat lengan suaminya dan masuk ke dalam pelukan Bara.
“Ada dooong... jelas ada. Apalagi ini Sabtu malam,” tambah Bara tertawa.
“Mau menghujani lagi?” tanya Dijah mengeratkan pelukannya di pinggang Bara.
“Pasti.... Dihujani dengan cinta sebanyak-banyaknya. Tapi sebelumnya kita makan berdua dulu yuk... malem mingguan,” ajak Bara.
“Makan di rumah aja Mas.... Aku udah kangen Mima. Ngerawat bayi memang capek. Kurang tidur udah pasti. Rasanya enak sekali-kali jalan berdua aja. Tapi baru pergi satu jam kok rasanya udah lama banget. Aku jadi gelisah. Kasian kalau ditinggalin lama-lama.” Dijah meletakkan pipi di dada suaminya.
“Iya—iya... kita pulang. Mulutnya pasti mangap-mangap kalau liat ibunya dateng,” jawab Bara. Ia kemudian memeluk bahu Dijah dan mengusap lengan istrinya.
Mereka kembali gagal untuk kencan berdua yang telah mereka rencanakan kemarin. Alasannya masih sama. Dijah kangen bayinya yang baru satu jam ia tinggalkan. Perasaan yang hampir sama dengan yang dirasakan tiap ibu di dunia ini. Bosan di rumah, tapi selalu buru-buru kembali pulang jika tak membawa anaknya bepergian.
Bermalam Minggu di rumah akung Wirya kini menjadi rutinitas. Dan ternyata, Bara masih harus bersabar lagi karena masa berpuasanya kembali diperpanjang.
To Be Continued.....
10 Part terakhir menjelang ending.
Jangan sampai terlewat ya... :*
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan pembaca selama ini