PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
158. Kilasan Kabar


__ADS_3

Setelah kedatangannya pertama kali ke rumah Dijah, Iswar kembali mengunjungi Mbok Jum tiga hari sesudahnya. Pria itu pamit akan kembali pulang ke Kalimantan. Meninggalkan secarik catatan berisi alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi.


Mbok Jum mengatakan ia sudah lega. Pertanyaan yang selama ini menggelayutinya tentang keberadaan dua orang anak laki-lakinya, terjawab sudah. Keduanya sehat. Meski tidak hidup berlebihan, Mbok Jum bahagia mendengar anak-anaknya telah memiliki keluarga sendiri.


Mima telah berusia sebulan. Berat badannya bertambah drastis. Kain bedongan telah berganti menjadi seragam jumper berwarna-warni yang dipilihkan uti untuknya.


Seiring bertambahnya usia Mima, rambutnya semakin terlihat ikal. Persis seperti ayahnya. Setiap pagi dan sore, Dijah menyisiri rambut bayi itu dengan guratan senyum geli sekaligus bahagia.


Dijah menyadari soal rambut ikal Bara pertama kali saat laki-laki itu mengantarkannya ke rumah kardus Mbok Jum dan Bara membuka helmnya sebentar untuk merapikan rambut.


Bara yang berteriak-teriak memproklamirkan bahwa mereka telah berpacaran saat itu. Untuk pertama kalinya Dijah merasa bahwa dirinya berharga dan diinginkan.


Lima menit mematut-matut rambut Mima dengan sebuah sikat lembut, ponsel Dijah yang berada di atas meja nakas bergetar panjang. Ia meraih ponsel dan melihat na Kang Supri tertera di layar.


“Jah, mau ngabarin kalau ibu sehat-sehat. Masih lemes, tapi aku diminta ngabarin kamu.” Suara Kang Supri terdengar mengawali pembicaraan itu.


“Tanyain ke ibu Kang, mau nggak dibawa ke rumahku? Biar aku ngomong ke ayahnya Mima, jemput ibu di sana.” Dijah berbicara di telepon dengan Kang Supri lagi-lagi menanyakan soal ibunya.


“Baru dua hari keluar dari rumah sakit Jah. Minggu depan kalau kondisi ibu baik, kakang anter ke rumahmu. Nggak usah jemput ke sini, bolak-balik.” Suara Kang Supri terdengar menyahuti Dijah tanpa semangat.


“Atau aku yang ke sana?” tanya Dijah sedikit mendesak.


Kang Supri terdengar seperti berbicara dengan seseorang. “Kata ibu sabar, belum 40 hari bayimu nggak boleh di bawa-bawa keluar.”


“Jangan minggu depan Kang, kelamaan. Lusa aja bawa ibu ke sini. Nanti aku minta ayah Mima jemput ke sana ya... Ibu udah janji mau nginep di rumahku. Lusa ayah Mima libur, aku minta jemput ibu ke sana. Ibu harus mau. Aku ngerti ibu ngerasa rendah diri, tapi aku ‘kan anaknya. Jangan berlebihan kayak gitu. Apa ibu nggak kepingin liat anakku? Nggak usah ngapa-ngapain di sini. Duduk aja, liat aku ngurus anak-anakku.” Dijah sudah mengusap sudut matanya saat mengatakan hal itu.


Setelah mendengar Kang Supri mengatakan ‘iya’ di seberang, Dijah mengakhiri pembicaraan itu dengan wajah cemberut.


“Anak ayah udah mandi?” sapa Bara yang baru muncul dari depan pintu kamar.


Dijah menoleh ke arah pintu. Untung dia tak menangis tadi. Meski kemungkinan besar Bara mendengar sebagian percakapannya. Pintu kamar ternyata sedikit renggang. Dijah kemudian menaikkan bando kain mungil ke atas puncak kepala Mima. “Ayah pulang...” gumam Dijah kemudian mengangkat putrinya.


“Ibunya udah mandi?” tanya Bara lagi meletakkan ranselnya di atas meja.


“Belum, nunggu ayahnya Mima buat gantian megang.” Dijah menuju dispenser untuk mengisi segelas air putih dan memberikannya pada Bara.


“Pantes...” gumam Bara kemudian meneguk air putih.


“Apa?” tanya Dijah menoleh Bara.


“Pantes cantiknya masih sama sejak pagi,” ujar Bara terkekeh. Bara memeluk istri dan bayinya dengan satu pelukan besar.


“Pujian yang diselipi ketawa itu kedengarannya nggak tulus. Malah meledek." Dijah melemparkan tatapan sebal.


“Itu dari hati yang paling dalem. Nggak boleh sebel-sebel sama Mas... kamu nggak liat wajahnya Mima itu 98% mirip Mas?” Bara kembali memeluk Dijah yang sore itu terlihat kesal setelah berbicara dengan kakak laki-lakinya.


“Mima di sini dulu ya...” kata Dijah menirukan suara anak kecil saat meletakkan putrinya di tengah ranjang.


“Gak cium ayah Mima dulu?” Bara menangkap tangan Dijah yang baru beranjak dari ranjang hendak menuju kamar mandi.

__ADS_1


“Aku belum mandi,” ucap Dijah menghindar dari Bara yang mengalungkan tangan memeluk pinggangnya dari belakang.


“Sama, mas juga belum mandi. Tapi rasanya pasti masih sama. Asem-asem dikit dimaklumi,” tukas Bara mencium tengkuk Dijah yang terkekeh.


“Mima ngeliat....” Dijah berusaha melepaskan cengkeraman tangan Bara yang membuat kakinya setengah terangkat.


“Ayah Mima layak dipuji dan diapresiasi,” ucap Bara masih menciumi leher Dijah dari belakang. “Mas tahan, udah sebulan.” Bara menyambung perkataannya.


“Bagus. Udah bisa jadi Menteri Pertahanan,” sahut Dijah terkekeh.


“Ngeledek...” kata Bara. “Setiap hari mas dijanjiin malem ke malem terus. Sore ini nggak boleh lepas.” Bara tertawa masih menciumi tengkuk Dijah yang masih tertawa kegelian.


“Namanya ketiduran. Mau mandi dulu, aku nggak pede.” Dijah memutar tubuhnya untuk mendorong Bara agar menjauh. Namun usahanya sia-sia. Bara semakin mengetatkan pelukannya.


“Mima tidur,” ucap Bara menoleh putrinya. “Kayaknya enak banget dia mandi air anget sore-sore. Kenyang disusui ibunya. Langsung tidur pules.” Bara memeluk Dijah memandang putrinya yang tidur mengangkat kedua tangannya ke atas.


“Makanya, mumpung Mima tidur aku mandi dulu.” Dijah mendongak menatap suaminya. “Masih ganteng aja, padahal udah keluar rumah dari pagi.” Dijah mengusap pipi Bara.


“Ganteng ayahnya Mima tak lekang oleh waktu,” sahut Bara tertawa.


“Ya udah, awas....” Dijah menggeser tubuhnya.


“Jangan, kita—” Bara tak melepaskan pelukannya dari Dijah. Ia khawatir istrinya itu akan berlari masuk ke kamar mandi. Perlahan langkah kakinya beringsut ke arah pintu kamar untuk memutar anak kunci.


Belum lagi tiba di ranjang, Bara mencium istrinya dengan rakus. Pelukannya erat melingkari pinggang Dijah. Dijah bahkan setengah terseret saat Bara melangkah membawanya ke tepi ranjang.


“Mau mandi ‘kan?” bisik Bara saat mendudukkan istrinya di tepi ranjang. “Biar sekalian,” tambahnya lagi.


Dijah telah menarik turun resleting celana chinos berwarna hitam yang dikenakan Bara ke kantor hari itu.


Mata Bara memejam menikmati sentuhan dan belaian yang rasanya sudah seabad tak ia rasakan. Dijah mengecup dan melingkarinya dengan kehangatan yang membuatnya berkali-kali mengerang.


Dan tak perlu waktu lama. Ritme yang diciptakan Dijah membuat Bara segera melambung tinggi. Membuatnya menunduk dan memeluk kepala istrinya serta mengecupi pundak telanjang wanita itu.


“Aku langsung mandi,” seru Dijah buru-buru bangkit.


“Sini dulu.... Aku masih mau cium.” Bara mencoba kembali menangkap tangan istrinya.


“Emoh ah! Aku basah kuyup kayak kena ujan.” Dijah melepaskan cengkeraman Bara kemudian berlari ke kamar mandi sambil menyambar daster dan bra-nya yang tercecer di lantai.


“Basah kuyup...” gumam Bara sendirian.


*****


Usai makan malam Dijah sedang duduk di sofa depan televisi memangku Mima yang matanya cemerlang seperti matahari pagi. Semakin malam, bayi itu terlihat semakin segar.


Dul sedang duduk di atas permadani dan berkutat di atas meja lipatnya. Bocah laki-laki itu sedang menulis huruf K berulang-ulang di sebuah buku tulis kotak besar. Wajahnya terlihat serius dan mulutnya ikut mengerucut mengikuti tekanan pensil yang dilakukannya di atas kertas.


DRRRRRT

__ADS_1


DRRRRRT


Ponsel Bara yang terletak di atas meja dekat televisi bergetar. Merasa itu bukan ponsel miliknya, Dijah menoleh ke belakang mencari sosok suaminya.


“Mas, ada telfon!” seru Dijah dari sofa.


Ternyata Bara sedang berada di ruang makan memotongi semangka menjadi bentuk porsi sekali suapan. Mendengar suara Dijah memanggilnya, ia datang dengan semangkuk penuh semangka dan dua garpu kecil di atasnya.


“Telfon dari siapa?” tanya Bara.


“Enggak tau, jauh mau berdiri.” Dijah nyengir sambil memangku Mima yang menggeliat.


“Eh, Kang Supri ini... hape kamu mana? Di kamar ya?” tanya Bara pada Dijah. Ia kemudian menggeser tombol ‘answer’.


“Ya Kang?” jawab Bara sedikit berdebar. Kang Supri tak pernah meneleponnya jika itu bukan urusan penting.


“Ha? Iya—iya... aku ke sana aja. Rumah sakit mana? Yang biasa?” Bara diam menyimak percakapan dari seberang. “Jangan gitu dong Kang, gak apa-apa kok. Mima udah sebulan. Nanti kalo ada apa-apa sama ibu, kita bisa nyesel.”


Wajah Dijah memucat mendengar perkataan Bara di telepon. Pasti berita soal ibunya yang sering keluar masuk rumah sakit. Baru sore tadi ia berbicara pada Kang Supri, malamnya sudah ada berita lagi.


“Kenapa Mas—kenapa? Ibu kenapa?” tanya Dijah tak sabar.


“Ibu dibawa ke rumah sakit lagi Jah. Kita ke rumah sakit yuk... Mima bawa aja,” ucap Bara mengambil putrinya dari dekapan Dijah. “Ayo ganti baju,” ajak Bara.


“Ibu kenapa?” ulang Dijah lagi.


“Mbok Jum...” panggil Bara. Mbok Jum langsung muncul dari arah ruang makan.


“Ya?” Mbok Jum memandang wajah Bara menunggu instruksi.


“Mbok tolongin Dul ganti pakaian. Kita mau ke rumah sakit liat Mbah Wedoknya anak-anak. Tolong ya Mbok...” pinta Bara pada Mbok Jum yang langsung menggamit lengan Dul menuju kamarnya. Bara kemudian merangkul Dijah.


“Ibu gimana Mas?” tanya Dijah lagi. Mereka telah tiba di kamar dan Bara meletakkan Mima di atas ranjang.


“Ibu nggak sadar Jah... Tiba-tiba dipanggil nggak ada respon. Tapi ibu masih ada,” ucap Bara memijat pundak istrinya dengan lembut.


Dijah langsung meraung. Tangannya gelagapan membuka pintu lemari dan mencari pakaian.


“Dari kemarin-kemarin aku mau ketemu katanya nanti-nanti terus. Ibu nggak boleh pergi sekarang. Ibu belum liat anak perempuanku,” tangis Dijah. Ia buru-buru mengganti pakaiannya dan mencari sebuah kain untuk menggendong Mima.


Dengan tangan bergetar, Dijah membuka lipatan kain panjang dan menyampirkannya di bahu.


Bara segera berganti pakaian dan mengisi ranselnya dengan perlengkapan Mima secukupnya.


“Udah, kita liat ibu dulu.” Bara mengangkat Mima dari ranjang. Menanti Dijah yang sedang mengukur panjang kain di bahunya untuk menggendong Mima.


“Ibu janji mau nginep di rumah. Ibu nggak pernah mau ke sini,” tangis Dijah semakin keras. “Katanya sakit, tapi aku nggak dikasi kesempatan ngurus.” Dijah merentangkan kain panjang untuk menerima Mima ke dalam pelukannya. Tangisnya semakin pecah mengingat akhir-akhir ini ia bahkan tak sempat berbicara pada ibunya.


Bara memutar ke belakang tubuh Dijah dan menyimpulkan kain panjang di belakang punggung istrinya. Ia kemudian membuka laci kontainer dan mencari sebuah topi untuk Mima. Setelah memakaikan Mima sebuah topi rajut, “Ayo kita liat ibu...” ajak Bara memeluk kepala istrinya yang menangis tersedu-sedu seraya memeluk bayi mereka di dalam gendongan.

__ADS_1


To Be Continued.....


__ADS_2