
Bara duduk menghadap laptop di meja kerja kamarnya. Ia membuka folder file berjudul 'DIJAH 23 TAHUN'. Matanya menyusuri tiap lembaran informasi dan cerita yang telah ia tuliskan di sana.
Bara kemudian beralih ke folder lain bertuliskan 'DIJAH DOKUMENTASI'. Di sana ia melihat belasan foto Dijah yang diambilnya diam-diam. Baik dengan kamera profesional, maupun dengan kamera ponsel saat wanita itu tak menyadarinya.
Dijah telah menyanggupi diri menjadi subjek penelitiannya. Tapi Bara belum menyerahkan selembar surat yang menyatakan kebersediaan wanita itu untuk dimuat segala hal tentang hidupnya dan dibaca untuk umum.
Tesis Bara akan berada di perpustakaan kampusnya nanti. Akan dibaca oleh orang-orang yang membutuhkan informasi yang berkaitan dengan judul tesis yang diangkatnya, 'KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM RUMAH TANGGA : Perspektif Sosio-Budaya dan Hukum'
Bara menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan. Jemarinya menggulir kursor mouse mencermati tiap foto Dijah.
Dijah yang sedang mengenakan keranjang di punggungnya dan menunduk mengais sampah dengan sebuah besi pipih yang ujungnya dibengkokkan. Dijah yang sedang mendongak dan mengelap peluh di lehernya. Dalam kesengsaraan pun Dijah masih cantik sekali baginya. Apalagi jika wanita itu mendapat perlakuan baik sebagai seorang wanita.
Bara menggigit bibir bawahnya. Ia menulis tesis itu saat belum mengetahui tujuan Tuhan mempertemukannya dengan Dijah. Namun kini, Bara merasa tak mungkin menggunakan profil Dijah sebagai bahan penelitian untuk tesis yang akan disimpannya mungkin seumur hidup.
Entah apa rencana Tuhan ke depannya, tapi ia sudah jatuh hati kepada Dijah dan anaknya sekaligus. Ia tak ingin menyakiti sepasang ibu-anak itu, meski kemungkinan kecil Dijah bisa tahu apa yang dituliskannya di tesis itu. Bara tak ingin memakai folder itu lagi.
Pandangan Bara terus mengikuti arah kursor mouse yang menuju foto terakhir yang diambilnya dengan kamera ponsel. Foto saat ia dan Dijah di awal bertemu dulu. Bara menjepretnya saat sedang berada di kamar wanita itu dan Dijah sedang duduk di ambang pintu.
Di dahinya masih menempel sebuah plester dan sudut matanya bengkak karena pukulan. Dalam foto itu Dijah menyandarkan kepalanya ke pintu dan sedang menatap halaman kos-kosan yang kosong. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita itu ketika Bara memotretnya.
Tak sadar Bara mengepalkan tangannya yang berada di atas mouse. Kilasan ingatan Dijah yang berjongkok di halaman kantor polisi seraya menyeka darah yang keluar dari hidungnya kembali segar di ingatan.
Ajaibnya, Dijah masih bisa tertawa bersama teman-temannya meski sedang terluka secara fisik. Wanita itu sudah menganggap kekerasan yang dilakukan padanya adalah hal biasa.
"Berengsek..." gumam Bara. Buku-buku tangannya memutih karena genggaman yang terlalu erat.
Besok ia akan mengajak ibu dan anak itu pergi ke puncak. Bara sudah memutuskan tak akan memakai profil Dijah sebagai subjek penelitiannya. Dan malam ini ia akan menghubungi Heru untuk berkonsultasi tentang suatu hal.
***********
"Mau ke mana sih Jah? Aku gak diajak? Kamu udah izin si Heri belum? Nanti kontrakmu gak disambung lagi kalau banyak mangkirnya," ujar Tini yang sedang merokok dan duduk di pintu kamar Dijah.
"Bara ngajakin Dul ke taman bermain yang di puncak. Aku udah pasrah mau disambung apa nggak. Kayaknya gak tiap hari aku bisa bawa Dul jalan-jalan. Dia nggak pernah ke mana-mana. Kalau temennya ngobrol soal jalan-jalan sama keluarga, Dul sering melongo aja," jawab Dijah yang tengah sibuk menyusun kotak-kotak makanan ke dalam tas kain.
"Aku gak diajak!" sergah Tini setelah menghembuskan asap rokoknya.
__ADS_1
"Ngajak kamu ke puncak? Naik mobil setengah jam aja muntahmu udah seember. Turun dari mobil kamu gak mati aja, udah sukur Tin!" balas Dijah tanpa menoleh temannya.
"Udelku kan bisa ditutup pake koin. Atau aku minum obat!" paksa Tini yang sangat ingin ikut.
"Emoh! Aku pergi sama Bara ngajak kamu. Ambyar yang ada. Emoh! Aku gak pernah ngintilin kamu pacaran sama si Gatot," sahut Dijah. Tini mendengus saat mendengar perkataan Dijah.
"Udah beres? Bisa berangkat sekarang?" tanya Bara yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Tini.
"Eh, Mas Bara... Ganteng amat mau ke puncak. Dijah udah pake yang baru itu dalemannya. Jangan marah soal stikernya ya, gratis kok. Aku nggak nagih." Tini berdiri dari ambang pintu dan beringsut mundur.
Bara menyipitkan matanya memandang Tini yang sekarang berdiri menyandari tembok luar untuk memberi jalan pada Bara.
"Jam segini anak gadis belum mandi, masak kalah sama Dijah," sindir Bara pada Tini.
"Prawan sih iyo, tapi wis ora prawan. (Gadis tapi nggak perawan)," sahut Tini. "Menowo iseh luwih keset dijah nek diulek (Mungkin masih lebih keset Dijah kalau diulek)" sambung Tini lagi.
"Haha--" Dijah tertawa terbahak-bahak saat mendengar perkataan Tini yang kini sudah kabur masuk ke kamarnya.
"Kenapa? Tini bilang apa?" tanya Bara sedikit kesal.
"Aku suka curiga kalau Tini ngomong pake bahasanya." Bara mengambil bungkusan bekal dari tangan Dijah.
"Gak usah dipikirin. Pusing kalau mikirin dia," sahut Dijah mengunci pintu kamarnya.
"Ini pulangnya sore ya?" tanya Dijah.
"Belum tau, kalo nggak keburu pulang. Kita nginep aja mau, 'kan?" tanya Bara. "Dul bisa berenang di kolam hotel, pasti dia seneng." Bara mengalungkan lengannya di pundak Dijah seperti seorang pria yang sedang berbicara pada temannya. Bara tak menyadari bahwa kenyamanannya itu memberatkan bahu kekasihnya.
Jalanan kota di Sabtu pagi tak ramai seperti hari biasa. Mereka telah tiba di depan gang rumah orang tua Dijah tak berapa lama kemudian.
"Aku aja yang turun, kamu jangan." Dijah membuka pintu mobil saat Bara baru melepaskan seatbelt-nya. Ia tak mau Bara mengekorinya sampai ke rumah pukul delapan pagi. Bisa-bisa bapaknya masih tidur di depan televisi.
Dijah membawa tas tangannya dan bergegas masuk ke dalam gang. Dan tanpa perlu mengetuk pintu, Dijah mendorong pintu kayu tipis rumahnya yang tak terkunci. Ibunya pasti sedang berjalan pelan-pelan ke warung untuk berbelanja sayur. Sedangkan bapaknya masih mendengkur di depan televisi.
Dugaan Dijah tadi benar.
__ADS_1
"Duulllll!!" teriak Dijah di dekat telinga bapaknya yang pemalas. Laki-laki tua itu terlonjak seperti kesurupan. Dijah berjalan ke arah kamar mandi yang dari dalamnya terdengar suara air.
Dul bangun sendiri pagi itu. Mengingat akan rencananya bepergian, tampaknya Dul juga khawatir ia akan terlambat.
"Dul udah selesai?" tanya Dijah dari luar pintu kamar mandi.
"Udah Bu, tinggal sikat gigi. Aku belum terlambat 'kan? Om Bara belum pergi 'kan?" teriak Dul dari dalam.
"Belum, ya udah gak apa-apa." Dijah menurunkan tasnya ke lantai dan mengeluarkan sepasang pakaian baru Dul yang telah dicucinya. Sepasang lagi ia simpan di dalam tas beserta pakaian dalam bocah laki-laki itu.
"Mana ibumu?" tanya Bapak Dijah yang baru bangun.
"Ke warung mungkin," jawab Dijah.
"Jadi pergi kalian?" tanya bapaknya lagi.
"Ya jadi, aku 'kan udah ngomong. Anakku bangun sendiri, mandi sendiri." Dijah mengambil handuk yang menyantol di salah satu paku di dinding.
"Kemarin aku didatengi Fredy di warung. Dia nanya siapa laki-laki yang sering sama kamu. Apa itu suamimu atau bukan. Ngamuk-ngamuk di warung katanya jangan sampe bawa-bawa Dul kenal sama laki-laki lain. Aku udah ngasi tau kamu pokoknya," tukas Bapak Dijah.
"Jadi aku harus kayak mana? Bapak mau aku hidup kayak mana? Sampe mati aku harus takut sama si Fredy itu? Aku gak takut lagi sama dia. Mati cuma sekali kok Pak! Dia juga bakal mati!" sergah Dijah emosi.
"Kamu kalau tak kasi tau ngelawan aja. Nanti dia ke sini ngamuk-ngamuk mukulin kamu baru tau rasa. Dia dipenjara udah kebal. Dilaporin juga gak guna," tambah Bapak Dijah.
"Makanya dia lebih cocok mati!" seru Dijah masih jongkok memunggungi bapaknya. "Kalau aku dipukulin sama dia sampe setengah mati, bapak juga gak bakal bisa belain aku. Sekarang pake ngancam-ngancam bawa Dul. Dulu aku sempet gila sampe gak kenal anakku, kalian sodor-sodorin Dul ke aku biar aku waras lagi. Sekarang dia gak boleh dibawa ke mana-mana. Mungkin kalau aku mati, baru bapak juga seneng. Buat bapak 'kan yang penting bisa duduk di warung main catur sama ngopi. Aku ya nggak ada masuk hitungan penting untuk bapak. Nasibku lah Pak...Pak...." Dijah mulai terisak menangis di luar pintu kamar mandi.
"Mbok ya belain aku sekali-sekali. Bapak lain kok bisa rela mati untuk anak perempuannya. Aku nggak tau salahku apa dari dulu, kayaknya aku nggak pernah hidup nyusahin orang. Tapi mau seneng sebentar aja kok ya susah...." Suara tangis Dijah mulai terdengar keras.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka dan Dul muncul di ambang pintu.
"Ibu kok nangis? Kita gak jadi pergi ya? Om Bara ninggalin kita karena aku terlambat bangun?" tanya Dul pada Dijah yang langsung menyeka wajahnya dengan handuk di tangan.
"Dul.... Om Bara nunggu di luar ya..." suara Bara terdengar dari halaman rumah.
"Iya Om... Aku lagi siap-siap. Cepet Bu, kasian om Bara kalo kita kelamaan." Dul mengambil handuk dari tangan ibunya dan mengelap tubuhnya cepat-cepat.
__ADS_1
To Be Continued.....