PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
58. Sepasang Sepatu


__ADS_3

"Ra, kamu ke ruanganku ya," ujar Heru yang baru datang dan melintas di depan meja Bara.


Bara mematikan mouse-nya dan bangkit mengikuti sepupunya itu. Heru meletakkan ponsel dan tas laptopnya di atas meja. Sesaat pria tampan berbeda usia 6 tahun itu berdiri menyilangkan tangannya di depan dada dan menghela nafas.


"Maaf Mas, semuanya karena aku. Kantor rugi banyak. Tapi kalau bisa, jangan kasi tau ayah dulu kalo ini ada sangkut pautnya ama Dijah, wanita yang aku deketin." Bara berdiri menghadap Heru yang bersandar di meja kerjanya.


"Kamu mikirnya gitu ya?" tanya Heru.


"Iya, karena emang semua karena aku. Aku jadi gak enak ke Mas. Kantor ini kan di bawah pimpinan Mas Heru. Pasti Mas yang tanggung jawab."


"Duduk dulu yuk, aku jadi berasa kayak marahin anak sekolah. Padahal ngomong juga belom." Heru berjalan mengitari meja dan duduk di kursinya.


"Laporan di kepolisian ditindaklanjuti kan Mas?" tanya Bara tak sabar.


"Ini memang ada sangkut-pautnya dengan kamu Ra. Tapi bukan salah kamulah, ya salah preman-preman itu. Aku cuma khawatir kamu juga jadi incaran mereka," ujar Heru.


Bara duduk menyilangkan kakinya dan meletakkan tangannya di dagu dengan dahi mengernyit.


"Udah ditindaklanjuti. Dalam pencarian sesuai dengan nomor plat yang terekam cctv. Tapi kayaknya nomor platnya juga palsu. Yang namanya Fredy itu gak ikut dateng. Jadi kalo gak ketangkep dan salah satu dari mereka ngomong, akan susah menghubungkan dengan dia." Heru memajukan letak duduknya.


"Ada hubungannya dengan ormas nggak Mas?" tanya Bara.


"Belum tau. Ini cuma kayak sekumpulan preman aja."


"Kalo aku selidiki Fredy-nya aja gimana? Kalo gak bisa nyeret dia dari kasus kekerasan dari kasus narkoba mungkin?" tanya Bara dengan wajah serius.


"Bisa. Kemungkinan besarnya bisa. Kamu juga harus baca ini," tukas Heru mengambil sebuah map dari dalam laci dan meletakkannya di atas meja.


Bara mengambil map itu dan mulai membaca isinya satu persatu. "Bandar narkoba yang mati ditembak?" gumam Bara. Map itu berisi sekumpulan berita yang menyangkut soal Fredy.


"Tapi kemungkinan besar bukan bandarnya. Itu cuma kaki tangannya aja. Bandarnya belum ketangkep menurutku. Setiap Minggu ada aja yang ketangkep kurirnya. Barangnya dari mana? Pasti karena bandarnya juga belum ketangkep. Orang yang ditembak itu, pernah ditangkap bersama dengan si Fredy beberapa tahun yang lalu. Dan sebagai tambahan informasi aja, kakak laki-lakinya Fredy itu pengacara." Mas Heru menghembuskan nafas kasar kemudian menyilangkan tangannya di dada.


"Itu sebabnya urusan dia dengan hukum selalu gampang ya?" gumam Bara membalik-balik kertas itu dan membacanya berulang. Bara kemudian memotret sebagian kertas dengan menggunakan ponselnya.


"Ra..." panggil Heru.


"Ya Mas?" Bara mendongak menatap mata Heru.


"Aku tau perasaan kamu gimana. Kamu udah dewasa. Anak om Wirya pasti tau apa yang bakal dilakukannya. Aku cuma mau kamu hati-hati. Kalo mau selidiki dan blow up kasus narkoba Fredy yang bisa membenamnya lebih lama di penjara, itu lebih bagus."


"Bakal aku kerjain. Makasi Mas udah percaya. Soal keributan di sini, aku aja yang ngasi tau ke ayah." Bara berdiri dari kursinya. "Makasi infonya Mas, aku keep untuk sekarang."


"Tesis kamu gimana?" tanya Heru.


"Udah hampir selesai. Bulan depan mudah-mudahan beres semua dan Mas dapet berita baru. Doain ya," ujar Bara mengedipkan matanya.


Keluar dari ruangan itu, Bara kembali membuka ponselnya dan menyusun rencana dari mana harusnya dia memulai. Dan Bara memutuskan akan ke Polsek yang berada di dekat rumah Dijah sore nanti. Sebelum ke Polsek, Bara berencana pergi ke mall untuk membeli sesuatu.


Sepanjang hari itu, pikirannya diliputi perasaan bersalah akan kekacauan yang terjadi di kantornya. Setiap matanya memandang lobby, ia melihat pintu kaca pecah yang masih disegel garis kuning oleh polisi.

__ADS_1


Sejak tiba tadi, Bara hanya mengerjakan tesisnya dan memindahkan file foto piknik bersama Dul dua hari yang lalu. Ia mengamati tiap momen ibu dan anak itu yang berhasil diabadikannya.


Ketika mencapai slide foto wajah Dijah, Bara mengamatinya lebih lama. Senyumnya mengembang, dan tatapan matanya berubah teduh saat memandang puluhan foto Dijah yang digesernya satu persatu.


"Kamu di mana?" tanya Bara pada Dijah melalui sambungan telepon.


"Di kos," jawab Dijah.


"Entar malem gak ke mana-mana, 'kan?" tanya Bara lagi.


"Enggak. Mau ke sini ya?" tanya Dijah dengan nada bersemangat. Sehari tak melihat Bara, sudah membuat Dijah merasa ada yang kurang.


"Iya, kangen aku ya?" tanya Bara.


"Iya," jawab Dijah.


"Entar malem aku ke sana. Tini kasi obat batuk aja biar tidur lebih cepet." Bara terkekeh.


"Gak mungkin bisa. Dia orangnya curigaan. Dikasi makanan ama tetangga aja harus dilangkahi dulu tiga kali baru dia mau makan." Dijah kini ikut tertawa mengingat kelakuan temannya itu.


"Minggu jangan lupa ya, kamu ikut aku ke rumah. Ketemu ayah-ibu," ucap Bara kemudian.


"Iya..." sahut Dijah pelan.


"Ya udah, aku mau keluar kantor dulu. Ada yang mau aku kerjain. Sampe ketemu nanti. Aku sayang kamu Jah..." kata Bara.


"Aku juga. Sayang kamu..." gumam Dijah pelan namun cukup jelas di telinga Bara.


"Size berapa Mas?" Pramuniaga itu menunggu di depan Bara yang mengukur tapak sepatu dengan jarinya.


"Yang lebih kecil dari ini size berapa ya?" tanya Bara sambil mengangkat sebuah flat shoes.


"Yang lebih kecil dari ini, size 37. Sebentar saya ambil." Pramuniaga tadi pergi ke sebuah ruangan di sudut toko dan muncul dengan dua kotak sepatu di tangannya.


Setelah kembali mengukur tapak sepatu itu dengan ukuran jengkal tangannya. Bara mengangguk.


"Saya mau yang ini. Dua model ini ya Mbak, size 37." Bara menunjuk dua model sepatu yang tadi dipilihnya.


"Sizenya yakin Mas? Apa ga tau ukurannya?" tanya pramuniaga.


"Sizenya udah ga keliatan lagi. Udah saya intip-intip setiap hari. Ya udah itu aja, 37. Yakin bakal cukup. Tangan saya udah hafal semua size-nya." Bara tersenyum memandang Pramuniaga yang meringis kepadanya.


Hampir pukul delapan malam Bara baru keluar dari mall itu. Di tangannya tergenggam beberapa bungkusan yang di antaranya adalah makanan untuk Dul dan Dijah yang sengaja dipesan bungkus olehnya dari sebuah restoran.


Bungkusan itu dicantolkannya di stang motor dan Bara segera menuju rumah orang tua Dijah. Beberapa saat lamanya memanggil Dul, akhirnya bocah laki-laki itu keluar.


Sedang tak bisa berlama-lama, Bara langsung menyerahkan bungkusan makanan pada Dul. Ia menjanjikan pada Dul akan segera mengajak anak laki-laki itu menonton film kartun di bioskop. Dul menutup pintu rumah dengan wajah sumringah sambil menjenguk isi bungkusannya.


"Pak Santo..." sapa Bara.

__ADS_1


"Udah lama gak nongkrong di sini," sahut Pak Santo dari balik mejanya.


"Besok udah mulai nongkrong di sini. Belum ada yang gantiin aku untuk ngeliput berita kriminal dari daerah sini. Santai, besok kita ketemu. Redaktur juga udah ngomel," sahut Bara tertawa kemudian meletakkan bungkusan makanan di atas meja Pak Santo.


"Repot-repot kamu," ujar Pak Santo. Namun meski mengatakan hal itu, Pak Santo menjenguk isi bungkusannya dengan wajah antusias.


"Pak, aku mau minta tolong juga nih." Bara mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri foto untuk memperlihatkan hal yang tadi dijepretnya dari file Mas Heru.


"Apa tuh?" Pak Santo melihat foto yang ditunjukkan Bara.


"Ini dari daerah sini 'kan kasusnya?" tanya Bara. Pak Santo mengangguk.


"Boleh tau daerah mana. Alamat lengkapnya," tambah Bara lagi.


"Boleh, sebentar..." Pak Santo memasukkan password pada layar komputernya kemudian mengklik beberapa folder di dalam dokumen, lalu menggeser layar mengarah kepada Bara.


Setelah memotret dan mencatat hal yang dibutuhkannya, Bara kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.


"Gak duduk ngobrol dulu?" tanya Pak Santo.


"Besok aku pasti ke sini. Pak Santo makan aja dulu, aku balik ya... Mau ke tempat Dijah." Bara nyengir.


"Jadi sama Dijah?" tanya Pak Santo. Bara tertawa seraya memijat bahu polisi itu.


"Salam ya ama dia. Baik-baik pokoknya," tukas Pak Santo. "Dijagain Ra..."


"Siap Komandan..." sahut Bara memberi hormat pada pak Santo yang terkekeh-kekeh.


Bara naik ke atas motornya dan mengenakan helm. Tinggal tiga bungkusan lagi yang belum sampai pada pemiliknya. Ia langsung melajukan motornya menuju kos-kosan Dijah.


Sepuluh menit melajukan motornya, Bara dikejutkan oleh aksi ugal-ugalan dua pesepeda motor yang berkejaran satu sama lain. Motornya nyaris tersenggol yang membuatnya mengumpat dan memaki dari balik helm. Padahal cuma motor matik saja, makinya.


Waktu menunjukkan pukul 10 malam lebih sedikit. Persimpangan lampu merah terakhir sebelum menuju rumah Dijah tampak sepi dari biasanya. Bara berada paling depan antrian di lampu merah. Ketika warna lampu berubah menjadi hijau, Bara melajukan kendaraannya.


Tiba-tiba dari sebelahnya sebuah minibus memotong motornya dengan kecepatan tinggi. Bara terkejut dan langsung mengambil jalur lambat. Tapi perubahan arahnya yang tiba-tiba membuat sebuah minibus lainnya yang berkecepatan sedang menabraknya dari belakang.


Bara tak bisa mengendalikan letak jatuh sepeda motornya. Dorongan keras yang diterimanya dari belakang membuat tubuhnya terhempas ke depan. Bara terpelanting jatuh, jauh beberapa meter dari motornya. Ia sempat berguling beberapa kali sampai akhirnya telentang menghantam tanah dengan helm yang masih melekat di kepalanya.


"Arrrggghh" Bara mengerang memegang bahunya. Ia langsung mencoba berdiri menghampiri motornya yang melaju sampai setengahnya naik ke atas trotoar. Ban belakang motornya masih berputar dan seluruh bungkusannya berceceran di jalan.


Bara tertatih-tatih memungut sepatu Dijah yang terlempar hampir ke tengah jalan. Jalanan itu sepi. Hanya berderet toko-toko yang sudah tutup di malam hari.


Saat tengah menunduk mengambil sebelah sepatu yang berada di trotoar, pengemudi minibus turun menghampirinya. Seorang lelaki hampir setengah baya.


"Mas..." panggil laki-laki itu.


"Ya?" Bara menoleh masih dalam keadaan helmnya yang tertutup.


"Mas Bara?" tanya laki-laki itu.

__ADS_1


Bara tak menjawab. Kemudian seorang laki-laki muda muncul dari belakang bapak tua tadi mengarahkan sebuah kayu padanya. Ia tak sempat menjawab apalagi bertanya. Dengan tangan kanannya yang masih menggenggam sebelah flat shoes berwarna krem yang terlihat mahal, Bara menangkis pukulan pertama yang diarahkan ke kepalanya.


To Be Continued.....


__ADS_2