
Suara rolling door aluminium terdengar diseret paksa untuk membuka. Suara walkie-talkie terdengar bersahutan. Langkah-langkah kaki yang masuk terburu-buru memenuhi ruangan saat itu.
Bara mencampakkan pecahan botol yang tadi dipakai oleh Dijah untuk memukul Fredy. Direngkuhnya tubuh rapuh itu ke dalam pelukan. Wajah Dijah terbenam di dalam pelukannya. Bara ingin membersihkan bercak darah yang tersisa di wajah Dijah dengan kemejanya.
Tangan Dijah menggantung kaku di kedua sisi tubuh Bara. Wanita itu tak membalas pelukannya. Air mata Dijah sudah surut sejak tadi. Bahkan di dalam pelukan Bara pun, Dijah tak memejam. Ia menatap orang-orang yang berlarian masuk dari sela-sela lipatan tangan Bara yang terus bergerak mengusap punggungnya.
"Udah nggak apa-apa. Udah aman, kamu udah aman. Gak akan ada yang ngelukai kamu lagi," gumam Bara dengan dagu yang menempel di puncak kepala Dijah.
Sebenarnya, Dijah yang telah menyelamatkan hidupnya. Bukan dia yang menyelamatkan hidup wanita itu. Beberapa saat yang lalu, ia bisa jadi tersangka sebuah penganiayaan yang berujung pada kematian seseorang. Meski orang itu lebih dari pantas untuk mati, hukum tak akan tinggal diam.
"Ra!" panggil Heru yang datang tergopoh-gopoh. Bayu yang menenteng sebuah kamera besar ikut berlari ke dalam.
"Fredy?" tanya seorang laki-laki yang dikenal Bara sebagai seorang Kasat Narkoba yang pernah bertemu dengannya sekali.
Bara hanya menunduk menatap Fredy yang terbujur lemas dengan setengah tubuhnya di atas timbangan dan serpihan kaca di sekitar kepalanya.
Seorang petugas berjongkok di dekat Fredy yang dilirik Bara seperti tak bernafas. Tangannya semakin erat mencengkeram kepala Dijah agar wanita itu tak ikut menoleh.
"Sudah bisa dibawa," ujar AKBP Heryadi yang suaranya dikenali oleh Bara.
"Petugas ambulans bisa masuk," ucap petugas polisi itu di walkie talkie-nya.
"Ke atas--ke atas!" teriak seorang laki-laki bertubuh tegap kemudian berlari menuju tangga.
Sebuah tandu kosong dibawa oleh dua orang petugas. Rolling door aluminium itu dibuka selebar-lebarnya dan sebuah ambulans mundur sampai di mulut pintu.
"Diam! Diam!" teriak petugas polisi yang telah naik ke lantai dua. Bayu menunggu di bawah tangga dengan kamera yang ditentengnya sejak tadi.
Dalam kegaduhan itu, Fredy telah didorong masuk ke dalam ambulans. Bara yang menatap pria bersimbah darah itu, kemudian menatap Mas Heru dengan tanda tanya. Mas Heru menjawab arti tatapan Bara dengan gelengan kepala. Bara menarik nafas lega. Fredy masih bernyawa ternyata.
"Mbak Dijah bisa ikut ke ambulans juga?" tanya AKBP Heryadi.
"Enggak--enggak Mas, ke rumah sakit bareng aku aja. Jangan di sana," jawab Bara cepat. Ia tak mau melepaskan Dijah lagi. Ia sudah berkali-kali nyaris kehilangan perempuan itu.
"Cuma satu. Sudah disisir semua," ujar dua orang polisi membawa seorang pria yang tampak setengah teler menuruni tangga. Bayu mengangkat kameranya dan mengikuti Kasat Narkoba keluar ruko menyeret seorang pria yang dibawanya dari atas.
Polisi mengamankan barang bukti lengkap dari lantai tiga. Tiga orang pria teman Fredy yang meninggalkan ruko itu sebelumnya didapati berada di antara truk-truk kosong yang sedang terparkir. Mereka sedang menyesap sabu. Seorang di antaranya harus dihadiahi sebuah timah panas di kaki karena berusaha kabur dan mengabaikan tembakan peringatan.
Ketiga pria itu salah satunya adalah penyedia bahan dan alat pembuatan sabu dan dua orang lainnya adalah pengedar.
AKBP Heryadi mengatakan kasus itu masih akan terus dikembangkan mengingat sepertinya Fredy bukan satu-satunya pemasok di daerah sana.
"Ke rumah sakit AM ya, visum. Udah aku kasi tau kalo suratnya nyusul. Besok pagi-pagi ke kantor," tukas AKBP Heryadi menepuk pundak Bara.
Heru menatap Bara berkali-kali. Sepertinya ada yang ingin disampaikan oleh pria itu. Bara melihat Dona berdiri memandang berkeliling isi ruko dengan kamera di tangannya. Ternyata sejak tadi tak ada yang bisa dilakukan oleh pria itu.
__ADS_1
Bara kemudian merangkul Dijah dan berjalan menuju Dona. "Kunci mobil," ujar Bara. Buru-buru Dona merogoh saku celananya dan menyerahkan kunci mobil.
"Rumah sakit, visum. Dijah harus visum untuk bukti kekerasan Fredy. Abangnya pasti memasukkan delik aduan penganiayaan. Penganiayaan kalo Fredy nggak meninggal. Kalo dia meninggal? Kamu juga dijerat. Sekarang Fredy setengah mati gitu pasti karena kamu yang mukul," cecar Heru yang menjajari langkah Bara menuju mobilnya. Pria itu sempat melirik ke arah punggung tangan Bara yang sedang merangkul Dijah. Luka lecet memerah itu tak bisa berbohong.
"Mas..." Bara mengangkat sebelah alisnya memandang Heru agar kakak sepupunya itu berhenti bicara. Dijah yang berada di sebelahnya pasti mendengar semua. Dona yang sedang mengikuti mereka pun pasti mendengar semua perkataan Heru.
"Kita ke rumah sakit ya Jah..." ucap Bara pelan. Dijah hanya diam. Wajah Dijah benar-benar datar seolah tak bernyawa. Ia memang sudah tak peduli lagi akan dibawa ke mana.
Bara membuka pintu mobil dan menuntun Dijah untuk duduk di jok depan. Ia kemudian menarik sebuah jaket yang tersampir di sandaran jok pengemudi dan membungkus tubuh Dijah memakai itu.
Setelah memastikan Dijah duduk tenang, Bara berlari memutari mobil dan menyalakannya. "Tunggu sebentar ya, aku ngomong ke mas Heru dulu." Lagi-lagi tak ada tanggapan dari Dijah.
"Mas," panggil Bara. Heru yang sedang berbicara dengan salah satu petugas yang sedang merentangkan garis polisi, menoleh pada Bara.
"Kok belum berangkat?" tanya Heru berjalan mendekati Bara. "Udah mulai rame, mending berangkat sekarang."
"Iya, mau langsung berangkat. Yang kemarin tolong diokein aja ya Mas," ucap Bara.
"Berapa?" tanya Heru.
"Semuanya," jawab Bara singkat.
"Semuanya?" ulang Heru.
"Iya. Semuanya. Gak apa-apa. Sekalian untukku. Persiapan. Aku berangkat dulu ya, besok pagi-pagi ketemu di kantor polisi." Bara tersenyum kecut kemudian pergi meninggalkan Heru.
Dengan pertimbangan kasus kekerasan hanya dikenakan hukuman sesaat, Bara mengurungkan niatnya waktu itu. Ia memilih mengikuti saran Heru untuk menggali kejahatan Fredy lebih dalam lagi.
Sekarang kenyataannya berbeda lagi. Jika kemarin Bara hanya membutuhkan pengacara untuk membuat tuntutan, kali ini mereka membutuhkan bantuan hukum. Bara tak ingin Dijah yang korban sebenarnya tapi malah menanggung hukuman.
"Jah... Ngantuk?" panggil Bara saat mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
Dijah hanya diam. Duduk dengan tenang memandang jalanan di depan mereka tanpa ekspresi. Bara kembali diam tak mau mengganggu wanita itu. Mungkin Dijah perlu waktu berpikir.
Setibanya di UGD Rumah Sakit Pemerintah, Bara menceritakan dengan ringkas apa yang ingin diperolehnya bagi Dijah.
Seorang perawat meminta tanda pengenal Dijah untuk kepentingan administrasi. Bara yang melihat Dijah hanya berdiri diam seperti tak menyadari di mana keberadaannya segera membuka tote bag Dijah yang tadi dipungutnya dari lantai ruko.
"Kamu duduk dulu di sini," ucap Bara memegang bahu Dijah dan menuntunnya ke sebaris kursi besi bergandeng.
Beberapa menit lamanya Bara mencoba mencari tanda pengenal wanita itu, akhirnya ia menemukan sebuah dompet biru kecil yang isinya sebuah tanda pengenal, kartu berobat, kartu keanggotaan mini market dan sebuah kartu nama yang sudah lusuh.
"Surat dari kepolisian bisa menyusul kan? Ini tanda pengenalnya." Bara menyodorkan tanda pengenal Dijah kepada perempuan di balik meja administrasi.
Hatinya tergelitik untuk menarik kartu nama itu dari selipan dompet. Bara membaca kantor dan nama wanita yang tertera di situ. Berikut alamat dan nomor kontaknya.
__ADS_1
Bara mengenali itu adalah sebuah lembaga non-profit yang menyediakan bantuan jasa konseling bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan secara profesional.
Ayahnya mendirikan itu belasan tahun yang lalu bersama beberapa rekan seprofesinya. Namun seiring kesibukan ayahnya yang pernah menjabat rektor universitas, frekuensi kehadiran ayahnya di lembaga itu menjadi berkurang. Namun lembaga itu masih aktif berdiri sampai sekarang. Pak Wirya hanya datang sesekali untuk memberikan pelatihan-pelatihan pada konselor muda yang membaktikan dirinya di sana.
Bermodal dengan satu filosofi, Harta yang paling berharga adalah keluarga. Dan kesehatan mental para anggota keluarga adalah kunci kebahagiaan. Lembaga Konseling Keluarga itu berdiri sampai sekarang.
Bara mengeluarkan ponselnya dan memotret kartu nama itu. Sambil melihat Dijah yang duduk menunggu dengan wajah tenang, Bara berencana akan menelepon wanita di kartu nama itu.
LEMBAGA KONSELING KELUARGA
Dra. Widya Chandra M.Psi
Bara menuntun Dijah mengikuti langkah kaki seorang perawat yang di tangannya tergenggam beberapa lembar kertas. Mereka menuju ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu duduk seorang dokter wanita yang telah menunggu.
Dokter dan perawat itu tak banyak bertanya. Mungkin telepon dari AKBP Heryadi turut memudahkan proses visum et repertum yang sedang dijalani Dijah dini hari itu.
Dijah duduk di atas ranjang periksa dengan wajah biasa saja. Sejak mereka bertemu tadi, Dijah belum ada memandang Bara sekalipun.
"Buka pakaiannya ya," kata Dokter wanita itu berbicara. Tirai belum ditutup, Bara masih menoleh pada Dijah yang menarik kaos oblongnya melewati kepala.
Bara melihat goresan panjang yang diakibatkan oleh kuku dari mulai leher sampai dada bagian atas Dijah.
Harusnya Bara tak melihat hal itu. Itu tidak etis. Tapi ia juga penasaran. Dijah berhenti berbicara dan menatapnya. Dijah begitu dekat namun masih sangat sulit diraih.
Tiba-tiba Bara merasakan ponselnya bergetar. Ia langsung merogoh kantongnya dan melihat nama Heru tertera di layar.
"Di rumah sakit?" tanya Heru di seberang.
"Iya, gimana?" Bara balik bertanya.
"Kondisinya stabil," jawab Heru. Bara menghela nafas lega. Dijah tak membunuh mantan suaminya.
"Dijah gimana? Baik-baik aja?" tanya Heru lagi.
Bara menoleh ke arah ranjang pasien. Dijah sedang menunduk melepaskan celananya. Perawat kemudian menarik tirai penutup. Bara masih bisa melihat dari sedikit celah tirai yang tak tertutup sepenuhnya.
Dijah berdiri telanjang dan begitu kooperatif saat tubuhnya diperiksa menyeluruh. Wanita itu bahkan tak mengindahkan Bara yang berada di sana. Padahal, ia pernah dilempar sebotol deodoran hanya karena tak sengaja melihat Dijah dengan sebuah bra.
"Ra..." panggil Heru.
"Ya Mas?"
"Dijah gimana?"
"Dijah belum baik-baik aja Mas..."
__ADS_1
To Be Continued.....