
“Belum pulang juga?” tanya Heru saat menghampiri Bara ke ruangan yang pintunya nyaris selalu terbuka.
Bara memang tak pernah menutup pintu ruangan kerjanya. Alasannya, pegawai lain sering keluar masuk ruangannya, suara ketukan pintu berkali-kali terasa mengganggu. Apalagi ditambah dengan suara debam pintu. Bara tak menyukainya.
“Belum. Ngomong-ngomong itu anak magang berapa bulan di sini?” tanya Bara.
“Tiga bulan kayaknya, tergantung programnya dan mereka sendiri mau berapa lama. Emang kenapa?” tanya Heru duduk menghempaskan diri di sofa kecil ruangan Bara.
“Nggak—nggak apa-apa. Aku pulang dulu ya... perasaanku nggak enak. Kerja juga nggak tenang. Biasa Dijah pasti ada nelfon atau ngirim pesan nanyain apa aku udah makan. Ini nggak ada sama sekali,” ucap Bara meresleting ranselnya.
“Mungkin tidur siang. Wanita hamil besar pasti banyak istirahat.” Heru berusaha menghibur adik sepupunya yang terlihat uring-uringan.
“Enggak, biasa Dijah nggak kayak gitu. Ya udah, aku balik dulu.” Bara melangkah keluar ruangan dan meninggalkan Heru yang sedang mengecek ponselnya.
“Besok masuk kerja ya!” seru Heru. Bara hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh lagi.
Bara tiba hampir pukul 4 sore di rumah. Setelah memasukkan motornya, ia masuk dari pintu belakang garasi yang berbatasan dengan dapur. Mbok Jum tak terlihat, mungkin wanita itu sedang istirahat di kamarnya pikir Bara.
Bara melintasi kamar Dul yang berada di dekat ruang keluarga. Ternyata Mbok Jum sedang berada di sana. Dul sedang mewarnai di lantai dengan meja lipatnya dibantu oleh Mbok Jum.
“Pssst...” panggil Bara sambil melongok ke dalam kamar. Dul mendongak. “Ngerjain apa?”
Mbok Jum ikut mendongak tapi kemudian kembali menunduk karena melihat Bara berbicara dengan Dul.
“PR mewarnai. Gampang. Jadi bantuan Mbok Jum aja udah cukup,” tukas Dul yang mengatakan bahwa Bara tak perlu turun tangan mengerjakan PR-nya itu.
Bara tertawa. “Ibu mana?” tanya Bara lagi.
“Ibu siap-siap mau pergi jumpa budhe Tini. Ayah kok pulang cepat? Biasa kita jumpa pagi-pagi waktu sarapan.” Dul masih memandang Bara dengan sebuah krayon biru di tangannya. Bara terlihat meringis. Anak dan ibu sehati sekali pikirnya. Dia tak membayangkan kalau anak perempuannya nanti ikut bertanya hal yang sama padanya.
“Eh, ibu mau pergi? Ayah ninggalin kerjaan makanya bisa pulang lebih cepat. Ya udah, ayah liat ibu dulu ya....” Bara meninggalkan kamar Dul dan bergegas ke kamarnya.
Benar seperti yang dikatakan Dul, Dijah tampak cantik sore itu. Ia mengenakan sebuah terusan model A berwarna kuning pucat. Rambutnya diikat tinggi di belakang kepala membuat pipi tembam Dijah seperti bayi. Wanita itu sedang memulas lipstik merah jambu ke bibirnya di depan cermin. Sebuah tas tangan hitam mungil sudah tercantol di lengannya.
Dijah manis sekali, pikir Bara. Bahkan dengan perutnya yang sudah begitu besar, Dijah malah tampak semakin manis. Dijah menoleh ketika Bara masuk, dan tak sengaja ia malah menjatuhkan tutup lipstiknya. Masih ingin berjongkok untuk memungutnya, Bara dengan cepat mengambil dan menyerahkannya pada Dijah.
“Kalo mas lagi ada di dekat kamu, mas nggak akan biarin kamu repot sendirian.” Bara mengambil lipstik dari tangan Dijah dan menutup benda itu dengan sempurna kemudian memasukkannya ke dalam tas istrinya.
“Mau ke mana?” tanya Bara.
“Mau ke roti bakar-nya si Boy. Aku ada janji sama Tini. Kepingin ngobrol-ngobrol udah lama nggak ketemu.” Dijah sedikit gugup karena Bara mengamati wajahnya begitu dekat. Ia mengalihkan pandangannya ke cermin dan berpura-pura merapikan rambutnya.
“Memangnya Tini nggak kerja?” tanya Bara.
__ADS_1
“Hari ini dia juga pulang cepet,” sahut Dijah. Kenapa harus menyertakan kata ‘juga’ pikirnya sedikit menyesali. Kalimatnya terdengar menyindir Bara. Tini tidak pulang cepat, ia yang meminta temannya itu untuk datang ke sana. Ia hanya ingin mencari teman ngobrol ngalor ngidul. Selama ini, jika tidak bersama Bara, ia tak pernah ke luar rumah.
“Tunggu sebentar, mas ikut. Mas ke kamar mandi dulu,” ucap Bara meninggalkan cermin kemudian menaruh ranselnya di atas meja kerja.
Dijah duduk di tepi ranjang menunggu suaminya dari kamar mandi.
“Mas udah makan?” tanya Dijah spontan saat Bara keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk. Bara menatapnya sedikit terperanjat.
“Belum. Mas belum makan,” jawab Bara. Ia sedikit menyunggingkan senyum karena menyadari bahwa Dijah tak berubah. Istrinya masih perhatian namun masih mendongkol padanya. Bara melepaskan handuknya di depan lemari.
“Aku siapin makan dulu,” ucap Dijah datar sembari keluar kamar.
Bara sedikit cemberut. “Masih ngambek rupanya,” gumam Bara. Biasa Dijah menikmati tiap menontoni dia berpakaian. Tapi ternyata godaan yang satu itu masih membuat Dijah bergeming.
Mereka berdua di ruang makan, namun Dijah yang biasanya duduk menemani meski tak ikut makan, menjadi pura-pura sibuk. Wanita itu memang tak meninggalkan Bara sendirian. Tapi ia ke sana kemari mengerjakan hal remeh-temeh di dapur itu.
Bara menatap punggung istrinya yang sedang menunduk mencuci satu gelas kotor. Pandangannya tertuju pada bokong Dijah yang terlihat semakin penuh. Menggemaskan sekali, pikirnya. Harus menunggu berapa hari lagi, baru ia bisa meremas bokong itu sebelum tidur. Bara menghela nafas dengan lemah.
“Ayo berangkat, mas udah selesai.” Bara menuju garasi untuk menyalakan mesin mobilnya. Seorang pembantu yang biasa datang untuk bersih-bersih membukakan pintu pagar untuknya.
Mobil langsung melaju menuju mini market tempat di mana roti bakar Seempuk Setumpuk berada. Dijah menunduk membuka-buka ponselnya.
“Besok ikut mas ya...” ajak Bara.
“Ikut mas aja. Pagi-pagi.... Dandannya kayak gini. Mas suka. Tadi kalo mas nggak pulang cepet, kamu pasti pergi sendirian naik taksi.” Bara menoleh sekilas pada istrinya.
“Tapi aku udah biasa mandiri dari dulu. Sebelum menikah sama Mas, aku juga apa-apa sendirian. Nanti aku disangka sok manja. Sementang udah nikah sama Mas, jadi nggak bisa apa-apa sendiri. Padahal hidupku dulu susah melarat.” Dijah memandang ke luar kaca mobil di kirinya.
“Lantas untuk apa menikah kalau semua-semua harus sendirian? Mas nggak terganggu kok dimintain tolong. Kamu istri mas.... Mas nggak keberatan. Nggak ada hubungannya sama hidup kamu dulu gimana. Jangan bikin mas sedih...” Bara kembali menoleh istrinya. Memandang bentuk tubuh Dijah yang dulu langsing dan selalu membuat pikirannya terganggu kini membengkak karena mengandung anaknya. Kemudian ia melirik ke arah kaki istrinya. Hari itu Dijah mengenakan sandal bertali berwarna hitam. Mungkin hanya itu yang sekarang cukup di kakinya.
“Mas nggak suka kamu terlalu mandiri. Kamu jangan berubah kayak dulu lagi. Kemarin mas salah, maaf.... Besok kita beli box bayinya. Sepatunya juga.... Besok pagi pokoknya ikut mas,” ujar Bara menutup pembicaraan itu.
Mereka kemudian tiba di mini market. Bara menepikan mobilnya dan parkir di bahu jalan. Ia buru-buru turun dan memutari mobil untuk membantu Dijah turun. Wajah Dijah biasa saja. Tapi ia tak seceria biasanya saat bertemu Tini dan penghuni kos lain.
"Ono opo meneh? Wajahmu kuwi kenopo? Masmu keneng opo? (Ada apa? Mukamu kenapa? Mas-mu kenapa?)” Tini terheran-heran melihat Dijah yang berjalan mendahului Bara dan langsung duduk di sebuah kursi plastik bersandar.
“Gedeg aku. Bocah magang kok sibuk golek perhatian. Ngirim pesen ora penting, ora diladeni, tapi meneng wae. Aku rumongso dinengke. (Kesel aku. Anak magang sibuk cari perhatian ngirim pesan nggak penting. Nggak diladeni, tapi diem aja. Aku ngerasa dicuekin.)”
Boy yang melihat kedatangan Bara langsung berdiri mengangsurkan sebuah bangku. Seperti biasa Bara langsung duduk di sebelah istrinya dengan bentuk kursi yang berbeda. Tapi kali ini, Dijah tidak bergelayut padanya.
“Wajahe mesakke, kulino ndekne ki nyebeli. Tapi dino iki kok wajahe mesakke. (Mukanya kasian. Biasa dia ngeselin aku. Tapi hari ini mukanya kasian.)” Tini melirik Bara yang sore itu terlihat kurang bersemangat. Biasa laki-laki itu selalu berapi-api mengajaknya adu mulut. Melihat keadaan teman-temannya begitu, Tini juga ikut kesal.
Meski diam menunduk menatap ponselnya, Bara terlihat penasaran dengan obrolan bahasa daerah yang sejak tadi didengarnya kurang jelas.
__ADS_1
“Mesakke, tapi aku isih sebel. (Aku juga kasian. Tapi aku masih kesel.)” Dijah menjawab omongan Tini dengan nada rendah khawatir Bara mengerti apa yang dimaksudkannya.
“Ojo suwi-suwi,mergo ndekne kuwi kudu ngewangi mbukakno dalan lair. (Jangan lama-lama. Dia harus bantu buka jalan lahir.)”
“Embuhlah (entahlah),” jawab Dijah melengos. “Aku pergi beli minuman dulu, lagi kepingin yang manis-manis.” Dijah berdiri kemudian berjalan ke mini market. Bara melihat punggung istrinya menjauh dan menghilang di balik pintu kaca.
“Tin! Dijah bilang apa? Aku nggak ngerti. Kamu nanya apa? Buruan, entar dia keburu balik. Entar kalo ngambek kelamaan kasian, hamil gede gitu. Cepet—cepet....” Bara mencondongkan tubuhnya ke arah Tini. Boy yang penasaran dengan omongan Tini dan Dijah tadi, ikut merapatkan telinganya.
“Ehem!” Tini berdeham sok penting. “Oke, demi stabilitas rumah tangga temenku, aku harus buka suara. Karena rumah tangga itu—"
“Kelamaaan... Kamu belum berumah tangga nggak usah sok ceramah. Artiin omongan tadi aja yang bener,” sergah Boy melihat ke arah pintu mini market mengecek Dijah.
“Oke—oke.... Tadi aku nanya Dijah kenapa. Dia bilang suaminya kepincut sama anak magang yang kegatelan di kantor. Suaminya nggak peka dan terlalu sibuk. Dia nggak ada temen ngobrol. Semua perhatian Mas Bara ada di luar rumah. Dia males ribut besar karena sedang hamil tua. Nanti kalau udah lahiran, dia bakal cari perempuan itu ke kantor Mas Bara dan menyeretnya ke halaman. Katanya biar orang sekantor Mas tau siapa istri Mas sebenarnya. Pembunuh berdarah dingin dari kandang ayam,” terang Tini menoleh pada Bara.
“Waduuuh... ngomongnya gitu?” tanya Bara.
“Iya,” jawab Tini dengan raut serius.
“Aku kok nggak percaya ya... Kayaknya ngomongnya tadi dikit, tapi kok artinya panjang gitu.”
“Aku nggak pernah menuntut orang untuk selalu percaya aku Mas,” ujar Tini sok bijak.
Bara mengernyitkan dahinya.
“Waahhh.... Aku udah bisa bayangin kalo Dijah nyeret orang gimana. Jadi bayangin Dijah duel lagi," tambah Boy menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bara seketika bergidik. Dijah kemudian datang dengan seplastik minuman dan cemilan berbagai makanan yang mengandung coklat.
“Duduk di sini sayang,” ujar Bara menepuk kursi plastik kosong. “Beli apa aja tadi? Coklat semua? Cemilan di rumah udah abis ya?” tanya Bara mengambil plastik dari tangan Dijah dan mengaduk-aduk isinya.
Dijah menoleh wajah suaminya sedikit curiga. Ia kemudian memandang Tini. Temannya itu sudah berdiri di depan pemanggang roti Boy dan mulai membesarkan api kompor. Boy ikut berdiri merapatkan dirinya pada Tini.
“Serem ya Tin kalo Dijah ngomong gitu,” bisik Boy.
“Kamu sama dengan Mas Bara,” bisik Tini.
“Apanya? Gantengnya?” tanya Boy sedikit senang. Jarang-jarang Tini bisa ikhlas memuji orang lain.
“Gobloknya,” jawab Tini kemudian mengambil sebantalan roti dan mulai mengolesinya dengan mentega. Sore itu dia sedang ingin roti bakar selai strawberry.
Boy menutup mulutnya dan memukul punggung Tini sampai wanita itu terbatuk-batuk.
To Be Continued.....
__ADS_1
Like-nya jangan terlewatkan ya sayang-sayangku...