
“Gimana—gimana?” tanya Bara saat pak Wirya baru saja mendudukkan dirinya di kursi sebelah supir. Pintu mobil saja bahkan belum sempat ditutupnya.
“Ayah tarik nafas dulu boleh?” sindir pak Wirya pada ketidaksabaran Bara.
“Maaf...” gumam Bara.
“Tadi ayah bilang jangan ikut dulu, malah berdiri lama di sana.” Pak Wirya mengomeli Bara soal adegan tebar pesonanya yang di luar skenario.
“Aku cuma pengen liat dia sebentar. Kangen... Maaf,” ucap Bara.
“Setelah diliat?”
“Makin pengen ngeliat terus,” sahut Bara.
Kelakuan Bara sekarang mengingatkan Pak Wirya akan anaknya sewaktu kelas 3 SMP. Bara sering memintanya menyinggahi anak perempuan yang disukainya di kelas untuk berangkat sekolah bersama. Pak Wirya bertindak sebagai supir anaknya waktu itu.
“Ra, sebelumnya ayah mau nanya...”
“Apa?” sela Bara tak sabar. Ia menoleh sekilas pada pak Wirya yang duduk di sebelahnya.
“Seserius apa kamu sama Dijah?”
“Serius banget. Ayah tau 'kan kalo aku ngabisin uang gak sedikit untuk bayar pengacara agar Dijah gak berurusan ke kantor polisi?” tanya Bara.
“Tau. Tapi itu bisa saja karena kamu kasihan. Masih banyak orang baik yang bisa tergerak hatinya kalau tau apa yang dialami Dijah.”
“Lebih dari sekedar kasihan. Mungkin awalnya aku kasihan. Trus aku empati, jadi simpati kemudian jatuh hati.”
“Pinter kamu ngomong,” sahut Pak Wirya.
“Aku serius. Aku sayang Dijah. Sayang anaknya. Terlepas dari siapa bapaknya. Kenapa? Ayah gak setuju ya?” todong Bara langsung.
“Bukan—bukan itu. Denger dulu. Ibu Widya sudah cerita detil kasusnya. Latar belakang Dijah serta kejadian yang dialaminya dulu. Bu Widya menyampaikan hal itu sebagai seorang profesional tentunya. Dia bahkan awalnya nggak tau kalau kamu itu anak ayah. Jadi, singkat cerita ayah udah baca semua catatan soal Dijah. Dan ada satu hal yang mengganjal pikiran ayah. Meski itu harusnya jadi rahasia pasien, tapi sebagai seorang ayah, ayah mau kamu tau agar kamu bisa berpikir lebih dulu.”
“Apa itu?” tanya Bara sedikit takut. Ia takut mendengar hal yang belum diketahuinya soal Dijah.
“Kalau kamu berniat mengajak Dijah menikah dan membentuk keluarga—dalam artian kamu ingin punya anak... Sepertinya Dijah masih belum sembuh dari trauma itu. Setelah melahirkan Dul, kondisi psikis Dijah sempat terguncang. Dan... Dijah meminta Bu Widya untuk sterilisasi. Tapi...”
“Dijah gak bisa hamil lagi?” tanya Bara dengan wajah pias. Tentu saja dia menginginkan anak dari istrinya nanti. Pantas saja Dijah selama ini tidak khawatir setiap mereka berhubungan. Apa jadinya kalau ia menikah tapi istrinya tak bisa memiliki anak.
Bara bahkan menganggap dirinya tidak jantan karena beberapa kali melakukannya bersama Dijah, kekasihnya itu tak menangis meminta pertanggungjawaban karena hamil seperti cerita-cerita yang pernah didengarnya.
“Denger dulu...” Pak Wirya memandang sinis pada putranya.
__ADS_1
“Oh maaf—maaf... Ayah silakan lanjut.” Bara mengatupkan mulutnya dan melirik sungkan pada sang ayah.
“Dokter juga menolak kalau seorang wanita dalam usia sangat muda dan produktif melakukan sterilisasi. Masa depan Dijah masih sangat panjang. Dia masih terlalu muda. Jadi dokter memberikannya IUD untuk 10 tahun. Itu membuat Dijah melepaskan kekhawatirannya untuk dipaksa mengandung bayi dari pria yang tak diinginkannya. Itu membuat Dijah berpikir, ia telah memiliki tubuhnya lagi. Dia tak mau dieksploitasi. Kamu ngerti maksudnya?” Pak Wirya memastikan Bara mengerti maksudnya.
“Ngerti...” sahut Bara. “Jadi...”
“Jadi, kalau kamu mengajak Dijah menikah dan ingin punya anak, kamu harus bersabar sampai dia mempercayai kamu untuk memilikinya secara utuh. Inget Ra, Dijah sudah hidup bertahun-tahun dengan pikiran bahwa setiap saat dia bisa disakiti. Itu pertahanannya,” jelas Pak Wirya.
Bara diam menatap jalanan di depannya.
“Berat ya?” tanya Pak Wirya memastikan. “Sebagai seorang ayah, ayah berat. Stigma yang melekat pada Dijah sangat buruk dalam masyarakat kita. Tapi sebagai manusia, terlebih seseorang yang mengerti soal ini, ayah iba pada Dijah. Bukan salahnya kalau dia begitu. Menolaknya mentah-mentah, ayah bisa merasa rendah diri. Nasib buruk bisa menimpa siapa saja. Tak hanya ke Dijah. Bisa jadi ke keluarga kita.” Pak Wirya menarik nafas panjang.
“Aku bisa nunggu kok,” ucap Bara kemudian. “Aku nggak terlalu terburu-buru soal itu. Aku cuma mau memastikan kalo Dijah gak berubah sikap ke aku.”
“Dia masih ada feel ke kamu. Ayah bisa liat kalo Dijah sebenarnya nggak pernah lupa sama kamu. Kayaknya... Kamu itu bagian terindah dalam ingatan hidup Dijah. Ayah jadi penasaran gimana sikap kamu selama ini ke dia” jelas Pak Wirya.
“Yaaa... Biasa aja. Pacaran kayak orang normal lainnya.” Bara tak berani menatap ayahnya. Ia khawatir membuat mimik wajah yang bakal membuka isi pikirannya.
“Jadi kamu yakin?” tanya pak Wirya meyakinkan anaknya.
“Yakin,” jawab Bara singkat. Meski ia tak tahu perlu waktu berapa lama untuk membuat Dijah mau mengandung anaknya kalau mereka menikah kelak, ia yakin bisa menghilangkan trauma Dijah.
“Jadi sementara ini kamu harus sabar dulu ya... Biarkan Dijah sendiri. Bisa?” Pak Wirya meneliti raut wajah tanggapan Bara atas ucapannya barusan.
“Sabar...” sahut pak Wirya santai.
“Kita udah nyampe, ayah nggak apa-apa nunggu di mobil sebentar?” tanya Bara ketika tiba di sebuah bangunan mirip asrama.
“Gak apa-apa,” jawab pak Wirya. “Selesaikan aja urusan kamu.”
“Oke, lagian ini nggak lama kok. Aku cuma ngejemput dan nganter ke rumah itu aja.” Bara kemudian turun dari mobil dan berlari masuk ke bangunan itu.
*****
Pagi hari. Lusa yang dijanjikan Pak Wirya telah tiba. Tapi pria tua itu sudah tak tampak batang hidungnya di rumah sejak pagi buta.
“Ayah mana Bu?” tanya Bara. “Sebentar lagi bakal acaranya. Ibu gak apa-apa duduk sendiri di sini?”
“Nggak apa-apa. Ayah mungkin terlambat sedikit. Tapi pasti datang. Katanya udah di jalan, kamu duduk aja sana di depan. Ibu nggak apa-apa kok duduk di sini.”
Bara berdiri gelisah dengan mengenakan toganya, terus menerus memandang pintu masuk gedung tempat perhelatan wisuda kampusnya hari itu.
Hari itu adalah hari wisuda magister yang telah dijanjikan Bara pada kedua orangtuanya. Sebentar lagi acara dimulai, pintu masuk akan ditutup. Bara akan duduk ke barisan mahasiswa tapi ia tak enak kalau harus meninggalkan ibunya duduk sendirian di sana.
__ADS_1
“Ya udah, nggak apa-apa ya... Aku duduk ke depan,” tukas Bara pada Bu Yanti.
“Ya udah nggak apa-apa,” jawab Bu Yanti yang pagi itu sangat cantik dengan setelan kebaya hijau pucuk daun dan songket oranye.
Bara kemudian berbalik ke depan menuju barisan kursi mahasiswa.
Beberapa langkah berjalan, “Mas Bara!” panggil seorang wanita.
Bara berhenti dan langsung menoleh ke belakang. Suaranya tak asing, tapi rasanya tak mungkin memanggilnya dengan sebutan 'Mas'. Ketika berbalik, mata Bara terbelalak. Dalam tatapan dan pendengaran yang sama sekali belum dipercaya Bara sepenuhnya, kakinya berjalan mendekati wanita muda yang baru saja meneriakkan namanya.
“Kamu—” Bara memandang lekat-lekat sosok wanita yang sangat dirindukannya.
“Mas Bara... Selamat ya...” Dijah mengulurkan sebuket kecil bunga segar pada Bara. Senyum tipis menghias wajah Dijah.
“Ya ampun...” bisik Bara seraya mengambil buket bunga yang disodorkan padanya.
Bara menatap Dijah dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Wanita itu mengenakan atasan manis berwarna krem yang diselipkannya ke dalam rok coklat yang terjulur sampai ke bawah lututnya. Sepatu krem yang sangat disukai Bara membungkus kaki Dijah.
Ini pertama kali Bara melihat Dijah mengenakan rok. Dengan aura segar yang dipancarkan wanita itu, Dijah malah terlihat seperti seorang ABG. Mata Bara menelusuri tiap sisi tubuh Dijah yang berdiri menautkan tangan di depannya.
"Ya ampun..." bisiknya lagi. Dijah cantik sekali pikirnya. Bara nyaris tak percaya kalau ia dan Dijah sudah... Mereka mirip sepasang manusia yang baru saja bertemu karena dijodohkan. Khayalan konyol itu membuat Bara semakin mengulum senyumnya.
“Ra... Itu mahasiswa udah dipanggil duduk ke depan. Acaranya akan dimulai.” Pak Wirya memanggil anaknya yang belum sadar dari rasa terkejut.
“Oh iya--iya." Bara mengangguk pada pak Wirya yang sesaat lalu terlupakan kehadirannya.
"Kamu nggak langsung pergi, 'kan? Masih di sini kan? Acaranya—acaranya baru mau dimulai,” ucap Bara gugup. Hatinya senang luar biasa. Dijah datang, Dijah di sini bisiknya dalam hati.
“Aku tunggu Mas Bara sampai acaranya selesai,” jawab Dijah.
Bara mengatupkan mulutnya dengan gugup. Ia merasa wajahnya pasti sangat memerah saat itu.
“Oke, aku... Ke sana dulu ya. Mmmm—kamu duduk aja di situ. Selesai acara aku langsung ke sini.” Bara menggigit bibirnya untuk menahan senyum. Ia mundur beberapa langkah tapi pandangannya masih tak lepas dari Dijah yang masih berdiri.
“Aku ke sana dulu...” ulang Bara lagi. Dijah mengangguk. Bara kemudian berbalik dan tersenyum lebar dan mencium buket bunga kecil di tangannya berkali-kali.
“Ya ampun.. Dijah manggil Mas...” gumam Bara kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Bara kemudian duduk di kursi deretan mahasiswa. Duduknya gelisah. Berkali-kali Bara menoleh ke belakang untuk mencari setitik penglihatan Dijah dari sela-sela bahu para tamu. Melihat Dijah yang sepertinya sedang berbicara dengan ibunya, Bara kembali berbalik memandang ke depan.
"Woooww..." ucap Bara tanpa bersuara. Ia memegangi dadanya yang sejak tadi berdebar hebat seolah baru bertemu perempuan pertama kali dalam hidupnya.
To Be Continued.....
__ADS_1