PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
136. Sebuah Sejarah


__ADS_3

Dua Minggu yang lalu, Boy pulang berdagang dengan lesu. Pukul 10 malam dan wajahnya tampak muram.


 


“Kurang laku. Mungkin namanya kurang nendang,” ucap Boy saat menghempaskan dirinya di salah satu kursi plastik depan kamar Tini.


 


“Apa rupanya kau buat?” tanya Mak Robin.


 


“Roti Bakar Boy,” sahut Boy.


 


“Dah ada nama kekgitu. Merek hebat. Coba ganti dengan Dang adong naso tarpatupa ni Debata,” saran Mak Robin dengan wajah serius.


 


“Artinya?” tanya Boy dengan dahi mengernyit. Wajahnya terlihat pasrah.


 


“Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.” Mak Robin tersenyum puas dan jumawa.


 


“Ah kepanjangan! Habis ketutup steling kacanya kalau sepanjang itu! Nggak sekalian bikin pantun 4 bait aja?” sergah Tini mengibaskan tangannya. “Jangan! Cuma mamak si Robin ini aja yang tau artinya.”


 


“Muncung kau la Tini!” umpat Mak Robin dari kursinya.


 


“Hmmm...” Tini diam berpikir dan wajahnya terlihat serius.


 


“Mbak Tini gak pernah serius, sekalinya serius kok nyeremin.” Asti sedikit menjauhkan kursinya dari Tini.


 


“Anak kurang ajar,” umpat Tini memandang Asti sinis.


 


“Roti bakar Purple Delight,” ucap Asti memandang Boy.


 


“Halah, yang beli nggak ngerti enggres-enggresan! Susah nempel di otak orang,” ujar Tini.


 


“Jadi apa?” tanya Boy. “Aku pengen yang beda,” tambahnya lagi.


 


“Wis, Seempuk setumpuk aja. Wis itu aja.” Tini menghela napas puas memandang semua teman-temannya.


 


“Keren Tin! Orang pasti langsung keinget,” tukas Boy dengan wajah bersemangat.


 


“Salut dengan isi otak Mbak Tini,” kata Asti.


 


“Salut karena gak ada isinya?” tanya Mak Robin sambil tertawa.


 


“Matamu!” maki Tini kemudian ikut tertawa. Asti dan Boy ikut tertawa terbahak-bahak.


 


Dan malam itu menjadi sebuah sejarah nama Roti Bakar SEEMPUK SETUMPUK tercipta.


 


Mobil Bara berhenti di tepi jalan raya. Dijah seperti lupa dirinya sedang hamil. Begitu bara mematikan mesin, Dijah langsung membuka pintu dan melompat keluar. Ia melambai-lambai pada Tini.


 


“Suketiiii....!” teriak Dijah.


 


“Astagaaa....” Bara berjengit menepuk dadanya. Ia buru-buru menjajari langkah Dijah. “Pelan-pelan Dijah...” tegur Bara memegang Dijah yang nyaris berlari.


 


“Iya Mas....” Dijah melambatkan langkahnya dan nyengir memandang suaminya. Ia lalu mengaitkan satu tangannya ke lengan Bara.


 


“Sini—sini duduk sini.” Tini menyodorkan sebuah kursi plastik dengan sandaran pada Dijah. “Mas-nya jongkok di bawah aja,” ucap Tini terkikik.


 


“Awas ya Suketi...” omel Bara mengambil sebuah bangku plastik tanpa sandaran yang ditumpuk di dekat steling.


 


“Boynya belum dateng?” tanya Dijah.


 


“Belum. Mungkin sebentar lagi. Udah dari pagi bantu dagang di cabang satu lagi.”


 


“Keren ya si Boy,” ucap Dijah.


 


“Lumayan Jah, kalau Boy kaya aku mau minta dia peninjauan ulang sama orientasinya. Penabalan namanya diulang. Jangan dinamain Boy (anak laki-laki). Dinamain Man (pria) aja. Suparman, Sukirman, gitu-gitulah.... Siapa tau dia mau sama aku,” ucap Tini.

__ADS_1


 


“Suketi... ada yang beli. Jangan ngomongin orang aja.” tegur Bara.


 


“Mas-mu ini kok dibawa sih Jah?” Tini mencibir memandang Bara yang sedang melihat-lihat ponselnya.


 


Dijah tertawa kemudian menoleh Bara yang duduk di sebelah kirinya dengan bangku plastik lebih tinggi. Ia kemudian memeluk paha suaminya dengan sebelah tangan dan meletakkan pipi di sana. Pandangannya ke arah Tini yang sedang memunggungi mereka meladeni pembeli. Bara memindahkan ponselnya ke tangan kiri. Tangan kanannya mengusap pipi Dijah dan membenarkan letak rambut wanita itu.


 


“Banyak selai coklatnya ya Mbak... Banyakin kejunya juga,” pinta pembeli.


 


“Saya kasinya sesuai porsi Mbak,” sahut Tini.


 


“Pelit banget, pembeli adalah raja lho...” ucap pembeli tadi.


 


“Nggak ada raja. Ini negara republik, nggak ada rajanya. Kalau mau jadi raja, sana ke hutan. Saingan sama singa.” Tini terus melanjutkan membungkus roti dengan santai.


 


Pembeli tadi cemberut, tapi tak berani protes. “Gak usah pake plastik. Aku bawa kantong belanja. Plastik bikin pencemaran. Gak bisa diurai sampe 100 tahun,” ucap pembeli tadi.


 


“Nah, sini kantongnya!” pinta Tini menyodorkan roti yang telah dimasukkan ke dalam kotak putih berstiker kuning. “Bagus kalau bawa kantongan sendiri. Si Boy hemat. 100 tahun lagi kita udah modar. Gak sempet mikirin plastik karena kita sudah terurai duluan.” Tini menyodorkan kantongan pada pembeli yang meringis menatapnya.


 


“Boy gak salah minta dia yang jaga dagangan?” lirih Bara pada Dijah.


 


“Aku denger yaaaa...” sergah Tini kemudian berbalik dan kembali duduk. “Kok kayaknya enak liat Dijah tiduran gitu di paha?” ratap Tini memandang posisi Dijah yang masih sama.


 


“Ya udah, sana ke hutan. Cari paha rajanya,” sahut Bara terkekeh.


 


“Mas-mu ini lama-lama ngeselin ya Jah...” ujar Tini menyipitkan matanya memandang Bara. “Itu Asti!” seru Tini.


 


“Dari mana kamu? Kok dateng sendiri? Pintu kamarmu aku liat tutup dari pagi,” ucap Tini mendorong sebuah bangku plastik ke arah Asti.


 


“Aku tidur Mbak,” jawab Asti kalem.


 


 


“Mas Bayu lagi pergi sama mas Heru. Aku udah bilang dateng ke sini. Aku juga bilang Mbak Dijah dan Mas Bara di sini. Katanya nanti mau mampir borong roti bakar.” Asti duduk dan meletakkan tasnya di atas pangkuan.


 


“Ah kamu yang bener... pakaianku kayak gini ada yang bercambang mau mampir.” Tini melihat tampilan dirinya yang mengenakan legging selutut dan sebuah kaos oblong yang menutup sampai bokongnya. “Mana pakainya sandal jepit...” gumam Tini lagi.


 


“Jadi mau pakai apa? Sepatu boot karet?” tanya Dijah tertawa-tawa membayangkan Tini mengenakan sepatu boot karet yang biasa dipakainya untuk memulung sampah dulu. Dijah sampai menegakkan diri dan melanjutkan tawanya sampai tersedak.


 


“Ehem!” Bara berdeham mengusap punggung istrinya.


 


“Tin! Mana? Kok belum mulai promosinya?” teriak Boy yang baru turun dari ojek yang berhenti di tepi jalan. Ia mengeluarkan selembar uang 10 ribuan dan menyerahkannya pada pengemudi.


 


“Aku nunggu kamu Boy! Aku nggak mau keliatan gila sendirian.”


 


“Udah dari tadi padahal...” lirih Bara lagi. Dijah terkikik geli.


 


“Aku denger yaaaaa...” sergah Tini lagi masih melemparkan tatapan sinis.


 


“Ya udah aku nyalain dulu. Cabang sana udah ada yang jagain, karyawan yang dari sini. Yang di sini sementara aku aja yang jaga. Menghemat tenaga kerja.” Boy menyalakan speaker dan mengetuk-ngetuk mic.


 


“Cek—cek... dicoba-dicoba. Tini dicoba—dicoba dulu ditinggal kemudian,” ujar Boy dengan mic-nya.


 


“Kampret! Aku bakar nanti gerobakmu ini,” maki Tini.


 


“Cek—cek, jangan dibakar. Roti bakar seempuk setumpuk. Jangan lewatkan promosi hari ini. Beli satu dapat satu, beli dua dapat dua, beli tiga dap—”


 


“Gitu terus kalimatku sampe roti segerobak abis!” sergah Tini merampas mic kemudian duduk di bangku plastik.


 


“Dijah aku bikinin ya, untuk cemilan di sini. Nanti kalo mau pulang, aku bawain untuk Dul. Kamu udah bisa makan kan?” Boy menoleh ke arah Dijah yang kini bersandar ke lengan suaminya.


 


Dijah mengangguk. Boy langsung berdiri menghadap panggangan membuatkan roti bakar untuk teman-temannya.

__ADS_1


 


“Mak Robin mana?” tanya Dijah pada Asti.


 


“Mak Robin lagi pergi ama suaminya. Nyari-nyari rumah kontrakan. Katanya bapak Robin sebentar lagi dapet proyek di kota. Mereka mau ngontrak rumah aja. Kos-kosan makin sepi.” Asti cemberut memandang Dijah.


 


“Masih ada Tini. Dia bakal jadi legenda di kandang ayam.” Dijah memandang ke arah Tini yang sedang menarik napas hendak berbicara di mic. Ia mendengus memandang Dijah kemudian mulai berpromosi.


 


“Roti Bakar Seempuk Setumpuk yang nggak akan bisa dilupakan sejak gigitan pertama. Langsung betah nggak pulang-pulang!” teriak Tini memakai mic sambil melihat ke arah Bara.


 


“Suketiiiii...” tegur Bara.


 


“Ada yang tersindir ternyata! Ayo diramaikan! Promosi hari ini, potongan serong atau lurus sama harganya. Beli sekarang, bonus kantong plastik!” Tini mulai memutar musik remix dengan volume sedang.


 


Dijah masih bersandar pada lengan Bara dan terkikik-kikik memandang Tini yang duduk santai terus mengoceh dengan mic-nya.


 


“Buat Mas yang pakai baju biru, harus nyoba setumpuk biar tau yang empuk. Rasa coklat dan keju yang paling laris di sini. Ayo! Majalengka digoyang!” teriak Tini masih dengan alunan musik remix.


 


“Liat mas baju biru promosinya udah nggak fokus!” desis Bara memandang sebal pada Tini yang dinilainya mata keranjang tak konsisten. Beberapa saat yang lalu salah tingkah saat menyebut kata bercambang. Sekarang wanita itu melemparkan tatapan senyum jahil ke arah pria berkaos biru yang sedang menyalakan motornya.


 


“Jah!” panggil Tini terkikik. Ia bermaksud menunjukkan pada Dijah soal pria berkaos biru.


 


Bara menutup kedua telinga istrinya cepat-cepat. “Sana—sana promosi yang bener. Jangan racuni telinga istriku.” Dijah tertawa melihat Tini yang mendengus dan mengarahkan mic pada Bara.


 


“Ayo—ayo... Roti Bakar Seempuk Setumpuk, mau potongan serong atau potongan—”


 


“Itu Mas Bayu... eh Mas Heru jadi ikut!” pekik Asti menunjuk ke arah dua orang pria yang memakai setelan santai Minggu sore itu.


 


Bara ikut menoleh karena ucapan Asti barusan. Musik remix masih mengalun dari speaker. Tini setengah terperangah namun melanjutkan ucapannya.


 


“Potongan—potongan... Potongan 20 persen untuk pakaian anak di lantai dua cuma hari ini saja!” seru Tini dengan mic.


 


“Kok jadi kayak MC departemen store?!” Boy mengambil mic dari tangan Tini. Melihat dua orang mendekati gerobak dagangannya, Boy menoleh. “Pantes, mesinnya error. Mas Heru dateng,” ucap Boy mematikan mic dan speaker.


 


Tini duduk tegak merapikan letak duduknya. Dua tangannya tergeletak rapi di atas pangkuan seperti seorang pengantin yang akan melakukan siraman.


 


“Usaha baru Boy?” tanya Heru berjalan ke depan gerobak untuk melihat namanya.


 


“Iya Mas, hari ini aku kasi gratis semua. Perkenalan. Besok-besok beli ya...” ujar Boy riang kemudian kembali membakar roti baru di atas pemanggang.


 


“Boy ini punya mental kaya. Meski belum kaya, mental kayak Boy ini penting. Berbagi. Yang kaya banyak, tapi gak semuanya punya mental berbagi.” Tini mulai mengeluarkan petuahnya sambil melirik Heru dari balik steling kaca.


 


“Ra!” panggil Heru yang kembali berjalan ke balik steling mendekati Bara.


 


“Apa?” Bara mendongak dan curiga karena melihat Heru tersenyum-senyum.


 


“Seempuk setumpuk Ra namanya... Aku suka isi pikiranku.” Heru tertawa sembari menonjok pelan bahu Bara.


 


“Pikiranku udah dari tadi Mas,” sahut Bara tersenyum simpul berusaha keras menahan tawanya. Dijah melengos melirik Bara yang sepertinya sudah sejak tadi menahan omongan.


To Be Continued.....


Ternyata pikiran Kang Mas juga nggak jauh beda XD


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2