PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
168. Falsafah dan Filosofi


__ADS_3

“Ayah tau ‘kan nama lengkap Dul?” tanya Bara memandang raut Pak Wirya dari samping.


“Tau. Tapi ayah kira itu asalnya dari nama seorang ayah yang berhati mulia.” Pak Wirya menepuk-nepuk pelan punggung Mima yang tengah melemparkan tawa kecil pada ayahnya.


Dul berlari menghampiri sepedanya yang tersandar di sebuah pohon taman. Mereka telah berjalan satu putaran dan ternyata Dul sudah cukup lelah. Bocah laki-laki itu kembali menaiki sepedanya keluar dari taman.


“Ternyata Dul baru dinamai setelah...Dijah sembuh. Dijah yang ngasi nama Dul. Berasal dari nama seorang anak yang meninggalkan orangtuanya waktu masih kecil. Mmmm—dulu kata Dijah Dul hampir meninggal. Untuk mengingat hal itu, Dijah menamainya—” Bara menoleh ke arah Dul yang sedang mengayuh sepedanya kembali ke jalan dan memutari mereka.


“Abdullah. Anak Khadijah yang meninggal sewaktu masih kecil. Dan tentu aja cucu akung yang cantik ini harus bernama Fatimah, adiknya Abdullah.” Pak Wirya memotong ucapan Bara sambil terkekeh mengusap-usap punggung Mima.


“Dan ibunya bernama Khadijah,” ucap Bara.


“Sepanjang masa dan tercatat dalam sejarah.... Khadijah akan tetap menjadi ibu Abdullah dan Fatimah. Dan nama panggilannya manis banget cucu akung ini.” Pak Wirya mengangkat bayi yang masih memakai piyama itu ke depan wajahnya. “Mima...” panggil Pak Wirya.


Mima yang sudah akrab dengan wajah akungnya tertawa memperlihatkan dua bakal gigi seri bagian tengah.


Dul terlihat mengayuh sepedanya mendahului mereka. Dia kemudian berhenti di dekat Bara dan Pak Wirya. Sejurus kemudian seorang pengendara sepeda motor mencampakkan sebuah plastik sisa makanan.


“Ih bikin kotor!” pekik Dul. Bocah itu turun dari sepeda serta berlari menendang sampah itu ke tepi jalan. “Kotor Kung!” ucap Dul pada Pak Wirya.


Pak Wirya tertawa. “Keren kalau kamu suka kebersihan. Akung juga suka. Tapi...lebih keren lagi kalau sampahnya dipungut terus dimasukkan ke tong sampah situ.” Pak Wirya menunjuk dua buah tong sampah yang terletak berdampingan.


Dul terlihat kembali mendatangi sebuntalan plastik yang tadi ditendangnya. Ia segera memungut plastik itu dan memasukkannya ke tong sampah. Dul lalu kembali melihat Pak Wirya yang langsung mengacungkan jempol kepadanya. Sedetik kemudian senyum bangga mengembang di wajah Dul.


“Mima udah 9 bulan ya Ra...” ucap Pak Wirya masih menjepit bayi perempuan itu di lengan kirinya.


“Iya, aku entar-entar aja nambah anak lagi. Masih pengen ngabisin waktu yang banyak untuk masa kanak-kanak mereka.” Bara melemparkan pandangannya pada Dul yang kembali menaiki sepeda mengikuti langkah mereka.


“Menghabiskan waktu berkualitas dengan ibunya juga...” sindir Pak Wirya terkekeh.


“Kalo itu sih pasti,” sahut Bara.


“Gimana? Puas dengan kerjaan kamu sekarang?” Pak Wirya menoleh putranya.


“Puas. Aku ngerasa beruntung bisa kerja sesuai dengan passion-ku. Sesuai jurusan kuliah yang aku selesaikan.”


“Sudah sepantasnya merasa beruntung. Bisa berkarir sesuai hobi dan pendidikan yang dienyam. Gak semuanya orang bisa kayak gitu. Dulu ada mahasiswa ayah yang nanya. Kerja sesuai hobi duitnya dikit atau kerja nggak sesuai hobi duitnya banyak?”


“Trus? Ayah jawab apa?” Bara menghentikan langkahnya.


“Ayah bilang, kalau kamu masih merasa miskin dan pilihan semacam itu memang ada, kerjalah yang uangnya banyak. Uang banyak bisa membayar biaya hobimu. Tapi jika hobi saja, uangnya nggak cukup, bisa bikin lapar perutmu. Dan kamu tau sekarang apa profesi mahasiswa ayah itu?” Pak Wirya tersenyum memandang Bara.


“Apa?”


“Buka praktek psikolog dan jadi kontributor majalah traveling karena dia hobi jalan-jalan dan fotografi. Keren, ‘kan?” Pak Wirya tersenyum bangga.


“Keren. Langkahnya tepat. Karena kamera profesional itu mahal harganya,” ucap Bara nyengir.


“Dan satu lagi...” kata Pak Wirya.


“Ya?” sahut Bara kembali memandang ayahnya.


“Inget...kalau ada masalah dalam rumah tangga, baikan itu nggak akan sukses cuma dengan modal ‘janji gak akan gitu lagi'. Harus ada action-nya.” Pak Wirya mengubah posisi gendongan Mima yang tampaknya sudah bosan.


“Iya, mudah-mudahan. Pasti ada action perbaikan setelah maaf.”

__ADS_1


“Sewaktu pacaran itu, semua pasangan tertarik karena membicarakan hal-hal hebat. Yang laki-laki berlomba membicarakan hal yang memukau hati pasangan. Melakukan hal-hal yang romantis dan luar biasa biar semuanya indah. Tapi, rumah tangga itu setiap harinya adalah belajar. Obrolan-obrolan dalam rumah tangga juga nggak sekeren waktu pacaran. Pembicaraannya bisa seputar popok anak, bohlam yang putus, keluhan anak yang bandel, atau omelan soal handuk yang lupa dijemur sesudah dipakai. Tempat tidur jadi basah,” ucap Pak Wirya tertawa.


“Iya, bener. Ayah bener,” ulang Bara.


“Rumah tangga itu bagaimana kita menerima hal-hal biasa menjadi istimewa dan mensyukurinya.” Pak Wirya memutar posisi Mima menghadap ke depan.


Mengejar seorang wanita pertama kali, Bara selalu membayangkan hal-hal romantis. Bisa menghabiskan waktu berduaan seharian, bercumbu, membayangkan istri yang berpakaian menggoda setiap malam, masa-masa kehamilan yang menambah mesra dan hal-hal indah lainnya. Apalagi ketika mengejar Dijah. Isi kepalanya setiap hari hanya membayangkan bagaimana cara agar bisa melucuti pakaian Dijah. Bara meringis di dalam hati.


Meski intinya sama, tapi jalan dan versinya ternyata berbeda. Setelah berumah tangga, bercumbu yang manis dan lama hanya bisa dilakukan setelah anak tidur. Membayangkan hal-hal erotis dalam perjalanan pulang, tapi mendapati Dijah telah tertidur nyenyak karena aktifitas seharian di rumah. Ia hanya bisa membelai dan mengecup pipi Dijah yang lelap. Sedang asyik bercinta, namun harus segera buru-buru mengakhiri karena tangisan bayi dari dalam box yang ingin ikut menyusu.


Semua angannya terwujud, meski dalam versi berbeda.


Namun yang terpenting sekarang, Bara sudah bahagia ketika mendapati anaknya yang sudah makan dan mandi sepulang ia bekerja. Dijah yang memakai daster namun rambutnya basah seusai mandi sore, serta keluhan-keluhan kecil istrinya yang bercerita soal Mima yang tak tidur siang atau Dul yang mendapat nilai kurang memuaskan. Terdengar sederhana, tapi Bara menikmati peran dan kehidupan barunya.


Tak terasa matahari mulai meninggi dan Mima mulai merengek. Dahi mungil yang berkeringat dan rambut ikal mengembang menambah gaduh karena usapan tangan kecilnya ke mana-mana. Bayi perempuan itu kegerahan. Matahari mulai galak dan ia masih terbungkus dalam piyama.


“Eh sini sama ayah aja,” ucap Bara mengambil Mima dari tangan akungnya. “Dul, ayo pulang.” Bara memanggil Dul yang masih jauh di belakangnya.


Mendengar ajakan Bara, Dul mengayuh sepeda mendahului ayah dan akungnya menuju rumah. Kemarin malam, kedua orang tua Bara tiba-tiba datang dan menginap di rumah dengan alasan rindu pada Mima.


Mereka keluar rumah saat matahari baru keluar dan membawa Mima langsung dari box-nya. Setelah berbelok dan berjalan sejauh hampir 100 meter, mereka tiba di rumah. Ternyata Dijah sudah berdiri di depan pagar.


“Kok lama?” tanya Dijah langsung mengambil Mima dari gendongan Bara. “Sampe keringetan kayak gini. Kepanasan dia ini, biasa udah mandi kalau jam segini.” Dijah mengusap-usap dahi bayi yang langsung bergelayut dan menempeli dadanya.


Dijah masuk ke rumah dengan maksud memandikan putrinya. “Dul, juga mandi ya...di kamar mandi belakang. Ibu mandiin Mima di tempat biasa,” pinta Dijah pada Dul yang sedang menyandarkan sepedanya di garasi.


Mendengar Dijah setengah mengomeli Bara yang pergi berjam-jam membawa bayi yang belum mandi, Pak Wirya tertawa kecil.


“Anaknya nggak boleh kepanasan,” ucap Pak Wirya terkekeh.


Semua perempuan akan cerewet setelah menjadi ibu seiring prioritasnya yang perlahan bergeser.


Pak Wirya masuk ke rumah dan mendatangi istrinya yang sedang duduk di sofa menonton acara traveling di televisi. Pria tua itu memijat-mijat lembut bahu istrinya dari belakang sofa.


“Kok lama jalan paginya?” tanya Bu Yanti tanpa menoleh.


“Udah lama nggak ngobrol-ngobrol dengan Bara...” jawab Pak Wirya.


“Ibunya Mima uring-uringan. Mungkin mau ngomelin Bara kelamaan pergi tapi sungkan ada ibu.” Bu Yanti berbicara santai sambil menukar saluran televisi karena sedang menampilkan iklan.


“Memangnya kelamaan?” tanya Pak Wirya dengan polosnya.


“Ya iya, ibu-ibu itu nggak akan ngerasa kerjaannya selesai semua kalau anak-anaknya belum mandi.” Bu Yanti setengah mendongak menatap suaminya.


“Hmmm—gitu...” ucap Pak Wirya kemudian mengitari sofa dan duduk di sebelah istrinya.


Bara masuk ke ruang makan dan melongok isi tiap piring yang sudah tersusun rapi di atas meja makan. Langkahnya kemudian menuju kamar mandi belakang, melihat Dul yang sedang bersampo dan bermain air di bawah shower.


“Udah sikat gigi?” tanya Bara pada Dul.


“Udah,” jawab Dul kembali melanjutkan nyanyian dan berteriak-teriak sambil mandi.


Bara melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi tengah yang berada di dekat ruang keluarga. Ia mendorong pintu kamar mandi dan melihat Dijah yang sedang berjongkok di sebelah ember bayi. Rambut Dijah tergulung dan terjepit di belakang kepalanya. Sebuah handuk berwarna merah jambu terang tersampir di bahunya.


“Hei,” sapa Bara pada Mima yang langsung tertawa dengan busa sampo di kepalanya. “Mima keramas juga kayak mas Dul?” tanya Bara pada bayi yang sedang tertawa memegang bebek karet berwarna kuning di tangannya.

__ADS_1


“Ya iya, bau matahari.” Ternyata ibu Mima yang menyahuti. Bara kembali meringis.


“Mas.... Malem nanti, kita jadi ke ruko Boy?” tanya Dijah sambil menyabuni badan putrinya.


“Jadi, ayah ibu pulang habis makan siang. Ada acara bareng orang kampus sore nanti,” jawab Bara.


“Kalau jadi, Mas tolong telfon Tini sekarang. Bilang ke dia, aku mau ketemu di rukonya Boy. Kangen. Sekarang Tini sibuknya ngalah-ngalahin Direktur BPJS. Diminta ke sini, sibuk terus.” Dijah mengomeli temannya yang sedang naik daun.


Masih dari depan pintu kamar mandi, Bara merogoh ponsel dari kantongnya. “Aku telfon sekarang,” ucap Bara langsung mencari nama Tini dari daftar kontak.


Bara menekan tombol speaker, agar Dijah mendengar pembicaraan itu. Setelah beberapa kali deringan panjang, akhirnya Tini menjawab.


“Hellooooo...” sahut Tini dari seberang. “Who is speaking? (Siapa yang berbicara?)” tanya Tini di seberang.


“Astagaaa...sombongnyaaa...” ucap Bara.


Terdengar suara Tini tertawa terbahak-bahak di seberang. Dijah ikut terkikik mendengar suara temannya.


“Bercanda Mas...biar jangan tegang terus. What’s happen ene opo?” tanya Tini masih dengan sombongnya.


“Entar malem ditungguin istriku di ruko Boy. Kami ke sana ya... istriku kangen katanya.” Bara tersenyum memandang Dijah.


“Oke—oke...malem aku ke sana. Aku dinner dulu dengan Jono. Pulangnya langsung ke tempat Boy,” kata Tini.


Dijah menoleh pada Bara dengan tatapan ‘siapa lagi Jono?’. Bara mengangkat bahu dan menggeleng pada istrinya.


“Waahhh... Sekarang bahasanya udah dinner," ucap Bara yang kemudian disambut tawa Tini. "Jangan kelupaan Tin,” ucap Bara lagi.


“Aku akan meluangkan waktu untuk sahabat-sahabatku meski aku busy,” sahut Tini.


“Sombongnyaaaaa...” kata Bara.


Tini kembali tertawa terbahak-bahak. “Orait...orait...siyudeeerr (baiklah, sampai jumpa di sana)”


Bara kemudian mengakhiri pembicaraan dan kembali menatap istrinya.


“Siapa Jono?” tanya Bara.


“Ya embuh,” jawab Dijah kalem sambil membungkus tubuh Mima dengan handuk.


To Be Continued...


Kemungkinan besar, BarJah akan selesai dalam dua part lagi ya...


Untuk yang bertanya soal Tini, nanti Tini akan juskelapa buatkan novel tersendiri untuk tidak mengurangi esensi tema novel PENGAKUAN DIJAH.


Setelah PENGAKUAN DIJAH, dukung juskelapa menepati janji untuk sebuah novel pendek GENK DUDA AKUT (Spin off CINTA WINARSIH).


Nah novel Tini, akan hadir setelah GDA.


Bahkan kalau sabar, juskelapa bakal buat cerita sendiri tentang Heru dan Fifi (entah apapun judulnya nanti).


juskelapa janji, semua spin off akan tetap asyik dibaca terpisah, tanpa harus pusing mengingat cerita sebelumnya.


Tetap dukung juskelapa dengan cara paling sederhana, likenya jangan lupa.

__ADS_1


Terima Kasih banyak-banyak :*


__ADS_2