
“Jah, aku ada acara makan malam sebentar lagi. Bareng semua peserta seminar. Kamu makan di kamar aja bareng Dul ya ....” Bara bergegas masuk ke kamar mandi setelah meletakkan barang bawaan mereka ke dalam lemari.
“Pakai baju apa? Biar disiapin!” seru Dijah pada suaminya.
“Kemeja, jeans-nya pake yang tadi. Cuma acara makan malam.” Suara shower mengiringi seruan Bara dari dalam kamar mandi.
“Lama gak makan malemnya? Atau aku nunggu Mas aja?” tanya Dijah saat Bara keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian.
“Jangan. Khawatir lama, pasti ketemu temen-temen. Pesen dari room service aja, entar aku ajarin. Itu Mak Robin ajak makan juga. Bilang tagihannya masuk ke nomor kamar kita.”
Setelah Bara selesai berpakaian, ia meraih tangan Dijah dan membawanya ke meja nakas.
“Dengerin Mas-nya ya .... “ Bara membuka sebuah buku tebal yang berisi informasi kamar, lokasi tangga darurat, menu room service dan cara menghubungi kamar lain melalui pesawat telepon ekstensi. Dengan perlahan ia menjelaskan pada Dijah. Karena sering berganti-ganti pekerjaan, menjadikan Dijah cepat memahami semua hal yang dijelaskan Bara.
Dul telah selesai mandi dan berbaring di ranjan kamar sebelah sembari menonton film kartun dari televisi yang menyala.
“Udah bisa dipesen sekarang kalo mau makan,” ujar Bara memakai sepatunya.
“Nanti aja, aku mau mandi dulu.” Dijah membuka lemari mengambil pakaiannya.
“Iya, entar aja deh. Makannya di sini aja bareng Mak Robin biar gak sepi. Itu Tini dan yang lain diajakin juga,” ucap Bara yang telah selesai dan mematut dirinya di depan kaca.
Dijah menoleh memandang suaminya. “Udah ganteng,” kata Dijah. Bara tersenyum memandang isterinya melalui kaca.
“Sini ....” Bara meraih tangan Dijah dan mengajaknya ke pintu. “Aku pergi dulu ya ... Gak akan kemaleman. Ini kartu kuncinya aku bawa satu, tapi kamu jangan tidur dulu. Aku pengen.” Bara menyingkirkan rambut Dijah dari bahu dan mencium leher istrinya di balik pintu.
“Udah sana pergi, aku bau belum mandi.” Dijah sedikit bergeser menjauhi Bara yang telah segar dan wangi untuk makan malam prasmanan.
“Suaminya mau nyium sebentar malah diusir,” ucap Bara. “Dari bangun tidur pagi tadi aku belum ada nyium kamu.” Bara menyudutkan Dijah di balik pintu.
“Nggak pede, Mas udah wangi.” Dijah memalingkan wajahnya ke samping. Bara semakin merangsek maju menempelkan tubuhnya.
“Sama aja rasanya,” ucap Bara kemudian menunduk mencium bibir istrinya. Kedua tangannya memegang pipi Dijah. Mengajak wajah istrinya mendongak ke atas sampai kaki Dijah berjinjit dan tangannya ikut memegang lengan Bara.
Hanya perlu beberapa detik untuk membuat ciuman itu semakin panas dan menuntut. Bara mendesah dan bergumam disertai decak-decak basah dari bibir mereka yang saling berpagutan.
Dijah yang memejamkan mata dan terhanyut akan sesapan kasar dan terburu-buru dari suaminya menjadi limbung. Kaki yang berjinjit semakin lemah karena hasrat ikut melemahkan lututnya. Bara melepaskan kedua tangan dari pipi istrinya. Tangannya pindah mencengkeram pinggang Dijah dan mengangkat wanita itu ke dalam gendongannya.
Dijah lupa mandi. Dan Bara lupa akan makan malam prasmanan yang sedang menunggunya. Ia masih sibuk menekan tubuh istrinya ke pintu dan menciumi wanita itu dengan rakus. Tangan Dijah meraba dan mengusap tiap jengkal dada suaminya. Mencengkeram bagian depan kemeja Bara sampai kusut kemudian mengalungkan tangannya ke sekeliling leher pria itu untuk mengacak rambut belakangnya.
Nafas mereka memburu kasar. Bara melepaskan ciumannya dan menatap Dijah. “Mas Heru ... Pasti mas Heru yang nelfon,” ucap Bara dengan nafas terengah. Ponselnya terus bergetar di dalam saku.
“Ha?” Dijah yang belum sadar sepenuhnya tak mengerti perkataan Bara.
“Hapeku bergetar, pasti mas Heru yang nelfon.” Bara menurunkan Dijah dari gendongannya dan meraih ponsel di dalam saku.
“Tuh kan bener, mas Heru. Ya udah aku pergi dulu,” ujar Bara kembali mencium pipi Dinah sekilas.
“Dijawab dulu telfonnya,” seru Dijah mengiringi langkah Bara di lorong.
“Biarin aja,” sahut Bara. “Entar malah ngomel-ngomel dia. Jangan tidur dulu ya ... Tunggu aku,” ucap Bara mengedipkan sebelah matanya kemudian pergi sambil terkekeh.
Sementara itu di tepi pantai remang-remang.
“Eh ke kamar yuk, aku laper. Kita cari kamar kita dulu, trus pesen makan. Berapaan sih harga makanan di sini?” Tini bertanya dengan sombongnya.
“Tin ... Tolong buang sebentar kesombongan kamu itu. Sikat gigi aja kalo gak mencar semua bulunya, kamu ogah ganti. Yuk ah, kita ke kamar dulu. Yang lain pasti udah pada mandi, kita masih dekil,” omel Boy memungut sepatunya yang terletak di dekat kursi pantai.
“Apa harus beli sendiri? Masak di hotel sebesar ini gak disediain makan,” sungut Tini.
__ADS_1
“Itu tergantung tamunya ambil paket makan malam atau enggak. Tergantung harga kamar. Makanya kita perlu nanya Dijah dulu. Ayo,” ajak Boy.
Asti yang sepertinya kepikiran dengan kejadian tadi tampak lebih banyak diam. Di benaknya terbayang wajah syok Bayu yang mendengar obrolan mereka tadi. Ia menyukai Bayu. Dari segi fisik dan pribadi pria itu. Beberapa lama saling bertukar pesan dengan mengatasnamakan Tini, membuat Asti bersemangat menjalani harinya. Ia seolah menemukan seorang laki-laki yang dicarinya selama ini. Tapi mengingat sorot kekecewaan Bayu tadi, membuat Asti ciut.
Asti semakin merasa bagai sebuah kotak mika di hadapan Bayu. Transparan. Tak terlihat.
Sementara itu, Tini dan Boy bergandengan dengan mesra mengomentari suasana hotel itu untuk berandai-andai. Tini sedang berkhayal bagaimana rasanya terdampar di pulau itu bersama Mas Heru. Tini mendeskripsikan apa yang akan dilakukannya bersama pria itu di pulau yang sepi. Membayangkan malam-malam penuh gairah yang diisi dengan tawa renyah Mas Heru yang akan membuat Tini semakin gerah.
“Kamu percaya kan Boy kalau mas Heru pasti ngelirik aku di pulau ini?” tanya Tini dengan khayalan tingkat provinsinya.
“Percaya banget! Kalo perempuannya cuma kamu Tin. Kalo ada perempuan lain, itu hil yang mustahal.”
“Ya udah diem Boy!” sergah Tini. Tak lama menghentikan khayalannya, matanya melihat pijar kehidupan di kejauhan.
“Eh! Itu restoran, 'kan?” seru Tini menunjuk sebuah bangunan yang sekelilingnya kaca dan terang benderang. Para pegawai restoran berpakaian hitam putih dan dasi kupu-kupu tampak hilir mudik dengan nampan penuh di tangan mereka.
“Iya itu restoran!” seru Boy.
“Makan di sana aja yuk! Pasti gratis!” ajak Tini.
Asti yang tadi melamun, kini kembali menyatu dengan percakapan teman-temannya. “Masa sih gratis? Kayaknya gak mungkin. Ini pasti acara lain.” Asti memandang tamu-tamu yang terdiri dari pria-pria berpakaian rapi dan beberapa orang wanita.
Ruangan itu hampir sepenuhnya diisi oleh pria. Hanya sedikit sekali wanita.
“Ya udah ayo masuk aja, makan. Kelamaan mikirnya,” tukas Tini kemudian melangkah masuk ke restoran dan langsung mengantre di meja buffet untuk mengambil piring.
“Eh Mbak Tini!” Asti tak sempat menahan temannya. Ia menyusul Tini kemudian ikut berdiri di belakang wanita itu.
“Tini! Sinting! Ayo keluar!” ajak Boy.
“Berisik! Kan gak kenal siapa-siapa. Pasti ini gratis. Aku yakin!” Tini mulai menyendok nasi dan memandang antusias pada menu lauk pauk yang berlimpah.
“Tinggal ambil apa mau kita, trus makan yang kenyang. Balik ke kamar kita tinggal mandi dan tidur. Gimana? Cocok toh?” tanya Tini dengan jumawa. Dan Asti dan Boy mengangguk-angguk dengan bodohnya mengikuti perkataan Tini yang menyesatkan.
Mereka bertiga asyik khusyuk berwisata kuliner. Berpindah-pindah dari satu meja buffet ke meja yang lain. Menikmati makanan utama, makanan pembuka, sampai mencicipi semua hidangan pencuci mulut. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengamati mereka.
“Setelah memporak-porandakan hati pegawaiku dan lari tunggang langgang, berani-beraninya mereka masuk ke sini dan makan dengan santai,” ucap Heru. Bara yang sedang menunduk di atas piringnya menoleh pada Heru karena tak mengerti ucapan pria itu barusan.
“Porak poranda? Lari? Siapa yang lari?” tanya Bara tak mengerti.
“Itu! Liat aja!” Heru memandang Tini dan temannya yang sedang terkikik-kikik di depan stand es krim dan saling cicip dari gelas satu sama lain.
Bara menoleh ke arah pandangan Heru.
“Astagaaa ...” Bara terperangah. “Kok bisa masuk ke acara makan peserta seminar? Dijah nungguin temennya mau ngajak makan malem. Mereka di sini cekikikan.” Bara berdecak.
“Bayu udah tau kekacauan yang mereka bikin,” ucap Heru. “Makanya tadi diajak makan katanya kenyang.”
“Kok mereka bisa masuk sih? Kan mesti pake tanda pengenal,” ujar Bara masih tak percaya.
“Mungkin dari pintu belakang sana,” tunjuk Heru pada sebuah pintu yang langsung berbatasan dengan kebun. Tempat Tini dan teman-temannya masuk tadi.
“Jadi Bayu udah tau ya?” tanya Bara meyakinkan pendengarannya.
“Udah, gak sengaja denger. Mereka lari ngibrit ninggalin Bayu. Aku mau ketawa tapi gak tega. Drama Ra!” Heru nyengir.
“Ya ampun Mas ... Aku bawa kekacauan ya? Maaf ya ...” ucap Bara dengan wajah prihatin.
“Apa sih kamu ... Biasa aja. Namanya juga hidup. Kalo gak gitu gak rame,” tambah Heru terkekeh geli.
__ADS_1
Para penghuni kos yang sedang memanjakan lidahnya itu masih belum menyadari di mana keberadaan mereka. Langkah kaki demi mencicipi setiap hidangan akhirnya membawa mereka ke dekat meja di mana Heru dan Bara berada.
Di saat bersamaan, seorang wanita yang merupakan panitia acara seminar mendekati Tini, Asti dan Boy.
“Maaf Mbak, sudah mengisi absen sebelumnya?” tanya wanita itu pada Tini. Ketiganya menoleh ke belakang. Pandangan mereka langsung bertemu dengan Heru dan Bara yang sedang menaikkan alis memandang mereka.
Kemudian pandangan tiga sekawan itu berpindah pada wanita yang berdiri dengan sebuah papan dan kertas di dekapannya.
“Ya Mbak?” tanya Asti mencoba memahami situasi.
“Boleh tau dari kantor berita mana? Surat kabar atau portal berita apa? Boleh lihat tanda pengenal dari kantornya mungkin?” tanya wanita itu.
Pandangan ketiga sekawan itu kemudian kembali berpindah memandang Heru dan Bara yang masih bergeming. Diam.
Perlahan tangan Tini meletakkan mangkuk yang sejak tadi dipegangnya. Boy dan Asti melakukan hal yang sama.
“Kantor berita—” Tini menarik nafas memandang Heru dan Bara bergantian. Kedua pria itu mengangkat alis dan memiringkan kepala turut menunggu jawaban Tini.
“Ya...?” Wanita di depannya masih menunggu jawaban.
“Kandang ayam ...” jawab Tini tak jelas. “Saya ambil pengenalnya dulu. Ketinggalan di kamar.” Tini menyeret lengan Asti dan Boy dan buru-buru kabur melalui pintu masuk mereka tadi.
“Kandang? Kandang ya? Masa sih kandang? Kayaknya gak ada, apa salah denger ...” Wanita itu bergumam sendirian seraya mengecek daftar yang berada di tangannya.
Heru dan Bara tertawa terbahak-bahak memandang tiga orang yang kembali lari tunggang langgang setelah kenyang.
“Ya ampun Mas ... Aku udah kehabisan kata-kata,” ucap Bara merana. Dijah berada di kamar dan tak tahu petualangan apa yang telah dilalui teman-temannya.
“Biarin aja Ra ... Gak rugi juga. Seru ...” Lagi-lagi Heru mengatakan kekacauan itu merupakan sebuah keseruan.
Makan malam dan bincang-bincang santai itu berakhir pukul 10 malam. Bara pamit pada Heru yang masih ngobrol dengan seorang rekan lamanya untuk kembali ke kamar lebih dulu.
Sambil bersiul-siul di lorong, Bara membayangkan Dijah telah segar dan wangi menunggunya di ranjang.
“Sayang ...” panggil Bara setelah membuka pintu kamar. Ia menutup rapat dan mengaitkan pintu itu dengan sempurna.
“Dij—” Panggilan Bara terhenti. Ia melihat Dijah sudah tertidur pulas dengan remote tv di tangannya.
“Capek banget kayaknya,” gumam Bara menuju ranjang dan melongok ke wajah istrinya yang tidur membelakangi. Ia mengambil remote dan mematikan televisi. Setelah berganti pakaian dan kembali mencuci tangan dan kakinya, Bara menjenguk Dul yang berada di kamar sebelah. Bocah itu juga telah tertidur pulas.
Perlahan Bara membuka selimut dan berbaring di sebelah istrinya.
“Ngantuk banget kayaknya...” bisik Bara menyelipkan tangannya ke bawah tubuh Dijah untuk membawa wanita itu tidur menghadap ke arahnya.
“Mas ...” gumam Dijah dengan mata terpejam.
“Iya, ini Mas ... Tidur aja, aku usap-usap punggungnya.” Bara mencium pipi istrinya dan perlahan mengusap punggung wanita itu.
Dijah melingkarkan tangan di pinggang suaminya dan merapatkan tubuh. Matanya tak sanggup membuka lagi. Ia terlalu lelah. Dalam kepalanya Dijah berjanji akan bangun lebih awal besok untuk bisa menciumi Bara lebih dulu.
To Be Continued.....
Terimakasih vote, like, komentar, bunga dan kopi untuk karya-karya juskelapa ya Mbak-Mbakku...
Doain juskelapa selalu konsisten dalam menyelesaikan karya.
Update terakhir hari ini, selamat istirahat semuanya. Mmuaaahhhh :*
__ADS_1