PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
112. Jawaban Jujur


__ADS_3

“Coba aku tanya ke kamu sekarang, kamu bahagia atau enggak?” tanya Heru menoleh sesaat pada Tini kemudian kembali menatap lautan di depannya.


 


“Gak tau aku. Itu pertanyaan orang kaya. Bahagia atau enggak. Kalau orang miskin itu pertanyaannya, kenyang atau nggak? Buat kami, yang penting kenyang itu udah bahagia.”


 


Heru menoleh dan meringis menatap Tini yang kembali menatap laut di depannya.


 


“Beberapa orang memutuskan untuk telat menikah karena ada semacam 'utang' yang harus dibayar. Memilih menunda keinginan karena merasa harus balas budi dulu. Harus jadi anak yang berbakti dulu. Jadi abang atau kakak terbaik dulu. Harus ini harus itu dulu. Tau-tau tua. Kamu ngerasa gak salah satu dari yang aku sebutin itu?” tanya Heru.


 


“Aku nggak ngerasa harus balas budi. Karena aku juga bosen nanggung adik-adikku. Aku cuma ngerasa bertanggung jawab. Aku nggak mau mereka sama kesulitannya kayak aku dulu. Setidaknya, harus ada yang dianggap. Jangan semuanya kayak aku.” Tini tertawa sumbang.


 


“Orang ngomong kasar selalu distigma orang jahat dan nggak baik. Makanya, kalau ada yang berkata-kata kasar langsung dicap jelek. Padahal makin hari hidup makin kampret banget dan kita dipaksa harus terlihat baik-baik aja.” Tini menggenggam pasir dan menaburi kakinya sampai ujung-ujung jarinya terbenam.


 


“Sikap orang ke kamu adalah apa yang kamu izinkan. Semua dengan izin kamu. Orang sering ngajakin bercanda, karena kamu juga sering bercanda.”


 


“Gitu ya?” tanya Tini menoleh sekilas pada Heru kemudian kembali mengalihkan pandangannya.


 


“Iya. Gak usah dipikirin. Beberapa orang memang lebih suka membicarakan —bahkan mencari-cari kelemahan kita— dibanding mengapresiasi hal-hal besar yang kamu lakukan. Misal, umur 28 tahun,  karier bagus tapi belum nikah. Yang diomongin belum nikahnya. Bukan karier dan capaianmu.”


 


“Masalahnya aku yang mana juga nggak Mas,” sahut Tini meringis. “Umur 28 tahun. Karir dan pencapaian gak ada. Tanpa titik cerah masa depan,” jawab Tini.


 


Heru sudah memasang mimik hendak tertawa. Tapi melihat wajah Tini yang serius, ia mengurungkan niatnya.


 


“Ehem!” Heru berusaha mengembalikan pembicaraan mereka ke titik serius tadi.


 


“Jangan terlalu lama menunduk, sampai kita gak bisa ngeliat bantuan yang udah Tuhan berikan. Teman-teman yang ada di saat sulit sebagai pengisi kekosongan lain yang kamu rasain. Tubuh yang sehat. Juga jiwa optimis kamu yang gak rumit.”


 


“Aku ngerasa kayak ada yang hilang ...” gumam Tini.


 


“Kehilangan hanya ada jika kita pernah merasa memiliki. Hubungan sama orang tua gimana? Kalo selama ini ngerasa ada yang kurang, coba perbaiki dari sana. Aku yakin semua bisa diawali dari sana. Anggapan hidup untuk hari ini, bisa diganti dengan ‘aku bisa lebih dari ini’. Gimana?” Heru menoleh pada Tini. Kali ini Tini membalas tatapan Heru sedikit lebih lama.


 


Pandangan mata mereka bertemu. Tini melihat sorot mata Heru yang menyirat iba padanya. Benar, pria itu iba. Mungkin iba pada jalan hidup yang diambilnya. Tini semakin tak bisa mengelak dari pesona Heru yang memikatnya. Semua perkataan Heru dicerna dan dipertimbangkannya. Ia mengerti. Ia telah mengerti sekarang.


 


”Mesti kepenak yo iso nduwe sesambetan mung karo wong siji. (Enak ya bisa punya hubungan yang awet dengan satu orang)”


 


”Sejatine mantenan kuwi ora butuh katresnan gur sepisan, nanging ugo butuh tresno bola-bali karo wong siji sek podho. (Pernikahan yang sukses tidak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama)”


 


“Kenapa gak ikut Mas?” Tini bertanya soal istri Heru.


 


“Fifi? Isteriku?” Heru balik bertanya. Tini mengangguk.


 


“Isteriku pembaca berita stasiun televisi swasta. Fifi Mochtar. Pernah tau 'kan?” tanya Heru.


Tini mengangguk. Padahal ia tak pernah menonton berita di televisi. Acara gosip-gosip artis dan kompetisi dangdut selalu menjadi urutan teratas daftar tontonan Tini. Manusia se-Indonesia pasti tahu istri Heru. Mungkin keterlaluan kalau sampai ia mengatakan tak tahu. Tini membulatkan matanya dengan antusias palsu.


 


“Istriku baru menjabat jadi pimpinan redaksi. Makin sibuk. Dia selalu mengimbangi antara impian dan kodratnya. Dia bekerja keras untuk mimpinya, dia juga bekerja keras untuk jadi ibu yang baik bagi anak kami. Apalagi, anak kami masih kecil. Kami lama diberi momongan. Fifi kerja keras mengusahakan seorang anak untuk aku, tubuhnya gak sekuat tekadnya. Sekarang semua udah lengkap. Anakku laki-laki, usia dua tahun. Tadi aku baru aja video call. Istriku jam segini belum pulang. Masih di kantor.”


 


“Beruntung ...” gumam Tini.


 


“Iya, aku juga merasa beruntung. Bisa menikah karena saling cinta. Kayak Bara. Makanya Bara harus jaga baik-baik hal yang udah dipilih dan diperjuangkannya.” Heru tersenyum menatap Tini.


 

__ADS_1


Perjuangkan? Negara sudah merdeka tapi mau nikah saja mesti berjuang dulu. Makin pinter dan makin banyak tahu ternyata merepotkan, pikir Tini.


 


“Gimana kalau kamu—Mbak Tini nyoba kerja di bidang marketing yang lebih profesional? Selama ini SPG kan? Coba ke posisi lain,” saran Heru.


 


“Aku cuma tamat SMA,” jawab Tini.


 


“Aku punya kenalan yang ‘cuma’ tamat SMA tapi punya perusahaan kecil-kecilan yang memasarkan produk 4 perusahaan asuransi. Dia berhasil. Gak ada yang gak mungkin. Kalau minat, nanti bisa aku kenalin. Gimana?” Heru kembali memandang Tini untuk menilik keseriusan di sana. Tini menoleh untuk tersenyum kemudian mengangguk.


 


Heru ikut tersenyum dan mengangguk. Bagus, pikir Heru. Semua orang harus mendapat kesempatan yang sama. Bukan bermaksud mencampuri urusan pribadi Tini atau siapapun. Tapi kalau ia bisa mengubah pandangan pesimistis seseorang terhadap kemampuan dirinya, Heru merasa lebih berguna. Tini berpotensi menjadi sosok yang lebih baik dari sekarang. Di balik semua ucapannya yang terkesan asal, Heru selalu melihat ketulusan di sana. Heru merasa beruntung bisa mengenal sosok-sosok unik mereka semua melalui Bara.


 


Heru kemudian tertawa kecil. Tini menolehnya. “Ketawa kenapa?” tanya Tini.


 


“Keinget Bara. Kalo nggak karena Kang Mas Bara, aku pasti nggak akan kenal para penghuni kos.” Heru masih tersenyum.


 


“Kenapa dipanggil Kang Mas Bara?” tanya Tini yang memang heran karena Heru yang lebih tua selalu meledek Bara dengan panggilan itu.


 


“Bara itu kecilnya cengeng. Sering ngambek. Selalu protes ke Eyang, kenapa aku terus yang dipanggil ‘mas’ dia juga mau dipanggil ‘mas’. Jadi kebiasaan sampe sekarang,” sahut Heru. “Bara yang sentimentil dan perasa,” tambah Heru.


 


Dan Kang Mas Heru yang romantis, ucap Tini dalam hati. Dalam hati Tini berjanji akan mengubah cara pandangnya. Untuk pertama, dia akan mengunjungi orangtuanya. Seperti kata Heru, mungkin semuanya bisa dimulai dari sana. Berdamai dengan diri sendiri.


Tini memejamkan mata menghadap laut. Kemudian ia menunduk memandang seekor kepiting kecil yang berjalan terseok-seok menuju lubang di pasir.


"Mikirin apa Mbak Tini?" tanya Heru.


"Mikirin cara berkembang biak kepiting ini," ujar Tini asal. Apa harus dikatakannya pada pria itu bahwa ia sedang berkhayal sesuatu yang romantis nan erotis malam itu.


 


Bukan mitos kalau wanita itu memang mudah terbawa perasaan. Karena kodrat yang diembannya, membuat wanita harus lemah akan perasaan ingin dicintai. Wanita juga bisa dengan tenangnya mencintai dalam diam. Menjadi seorang wanita yang diinginkan Heru? Hal itu mungkin akan bisa dijadikannya sebagai semangat.


 


 


“Mak Robin,” jawab Tini.


 


“Cerita dong ... Pasti lucu,” pinta Heru. Tini masih menarik nafas dan cerita itu belum dimulai, namun Heru sudah kembali tertawa.


 


*****


 


Asti dan Bayu melangkah menyusuri jalan setapak dalam diam. Keduanya sedang berpikir siapa dan apa yang harus mereka bicarakan lebih dulu.


 


Asti merasa canggung berada di dekat pria yang disukainya. Sedangkan Bayu merasa canggung berbicara dengan seorang wanita yang selama ini dikenalnya sebagai ‘Tini’.


 


“Jadi—” Bayu dan Asti membuka mulut dan mengatakan hal yang sama.


 


“Mas duluan,” ujar Asti yang kembali nyaris bersamaan dengan Bayu mengatakan, “Kamu duluan.”


 


Keduanya kembali terdiam canggung. Sedetik berikutnya, mereka tertawa.


 


Tak lama terdengar suara burung dari kegelapan. Dan seekor burung terbang melintasi mereka.


 


“Eh, itu burung ya?” tanya Bayu karena terkejut.


 


“Iya, diliat dari warnanya itu burung cerek Jawa. Burung mungil penghuni pesisir pantai. Endemik pulau Jawa. Tapi di Sumatera juga bisa ditemui. Secara ekologis, mereka menggantungkan hidupnya dengan daerah tepi laut,” terang Asti dengan lancarnya. Pelajaran sejarah yang dihapalnya semalaman sebagai topik pembicaraan, ternyata tak berguna. Jurusannya di kehutananlah yang membantunya.


 


“Termasuk hewan yang dilindungi gak?” tanya Bayu.

__ADS_1


 


“Iya bener ...” jawab Asti.


 


“Sekarang katanya lagi sibuk mau skripsi ya?” tanya Bayu lagi.


 


“Iya Mas ... Sedang berada di fase ngerjain skripsi, ketiduran; mimpi ngerjain skripsi. Kebangun, ngerjain skripsi lagi.”


 


Bayu tertawa mendengar perkataan Asti. Ternyata sering bercengkerama dengan penghuni kandang ayam ada untungnya juga. Sense of humor Asti menjadi jauh meningkat.


 


Malam itu, Asti dan Bayu banyak tertawa. Menceritakan banyak hal tentang dunia. Dari mulai terbentuknya bumi, sampai sejarah terciptanya nama Pulau Penyengat.


 


Sementara itu, di tempat lain.


 


Boy telah mengantarkan Mak Robin bersama dua bocah laki-laki ke kamar. Mereka asyik terus bercerita soal film kartun yang ditonton.


 


Robin masih berdebat dengan ibunya. Bocah laki-laki itu meminta televisi yang berisi penuh film kartun. Dan perdebatan itu selesai ketika Mak Robin mengatakan akan membuang televisi di kamar mereka jika Robin tak berhenti merengek.


 


“Halo? Bapak? Apa kabar? Ibu sehat? Aku pengen bicara sama ibu. Aku kangen ....” Akhirnya Boy yang merasa kesepian di keramaian, berhasil menurunkan ego dan menelepon keluarganya malam itu.


 


“Bulan depan aku pulang ke kampung. Nanti aku cuti, Ibu sehat-sehat ya ... Maafin aku kalo ada salah.” Boy mengusap sebulir air mata yang keluar di sudut matanya. Meski kesal pada sang ayah, kerinduan pada ibunya tak bisa dibendung.


 


Di depan resor sepasang manusia tengah berboncengan dengan sepeda di jalanan beraspal.


 


“Sekali puteran lagi Mas. Aku suka,” ujar Dijah memeluk erat pinggang suaminya.


 


“Oke ... Satu puteran lagi.” Bara mengayuh sepedanya kembali ke arah depan.


 


“Mas ... Makasi ...” Dijah kembali mengucapkan terimakasih yang kesekian kali pada suaminya.


 


“Aku minta balesan boleh gak?” tanya Bara.


 


“Apa?” Dijah balik bertanya seraya menempelkan pipi ke punggung suaminya.


 


“Aku pengen anak dari kamu. Bisa?” tanya Bara dengan lembut.


 


“Bisa,” sahut Dijah cepat. “Maunya kapan?” tanya Dijah lagi.


 


“Emangnya sekarang bisa?”


 


“Bisa. Yuk ke kamar. Aku mau minta yang paling enak,” tukas Dijah tertawa.


 


“Ayo ...” Bara mengayuh sepeda kembali masuk ke pelataran resor sambil tertawa-tawa.


 


 


To Be Continued.....


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2