
Bara mengamati Dijah yang terburu-buru masuk ke dalam gang rumahnya. Dijah hari itu memakai celana panjang berwarna biru dengan atasan kaos oblong abu-abu dan sepasang sepatu flat shoes yang setiap hari digunakannya.
Bara bukannya tak tahu kalau Dijah saat ini membutuhkan sepasang sepatu bagus untuk dipakainya bepergian. Tapi ia memang tidak tahu bagaimana caranya memberikan benda-benda yang memang dibutuhkan oleh Dijah.
Ia khawatir kalau Dijah menganggap selama ini perlakuan yang diterimanya dari wanita itu mendapat bayaran.
Bara melihat ponselnya berkedip-kedip di tengah laci dasbor mobil. Heru meneleponnya. Mungkin kakak sepupunya itu akan membicarakan hal yang dimintanya kemarin malam.
"Ya Mas? Aku lagi mau ke puncak nih ama Dijah dan anaknya. Sekarang lagi di depan gang rumah orang tuanya. Gimana--gimana yang kemarin apa sudah ada informasi yang masih dapat?" tanya Bara penasaran.
"Aku udah cek file semuanya, dari kenalan orang lapas. Nama Fredy ada beberapa Ra. Tapi kayaknya yang mendekati itu ada satu orang. Dengan usia dan ciri-ciri kayak yang kamu bilang kemarin. Sebentar aku lagi kirim fotonya ke kamu biar kamu cek bener atau enggak," jelas Heru dari seberang telepon.
Bara membuka aplikasi pesan di ponselnya dan melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh Heru. Kemudian Bara kembali meletakkan ponselnya di telinga.
"Iya Mas, bener itu dia mantan suaminya Dijah. Udah berapa kali masuk penjara?" tanya Bara.
"Empat kali masuk penjara tapi keluar hanya dalam waktu 3 bulan sampai 1 tahun. Residivis, penjahat kambuhan Ra," terang Heru.
"Kejahatannya apa aja Mas? Ada soal kekerasan? KDRT gitu misalnya," tanya Bara tak sabar
"Kejahatannya di sini pemakaian narkotika golongan I. Yang paling lama itu hukumnya 1 tahun untuk kepemilikan ganja. Itu aja," jawab Heru.
"Kepemilikan ya... Hmmm... Oke. Ya udah makasih ya Mas. Nanti selebihnya kita ngobrol lagi. Aku udah mau berangkat nih. Kayaknya Dijah udah kelamaan ke dalem jemput anaknya. Aku susulin dulu," ucap Bara.
"Hati-hati Ra, kamu juga kalo keluar di sekitar sana hati-hati. Kayaknya orang tua si Fredy ini masih ada duit untuk selalu ngebebasin anaknya. Tapi untuk satu hal lain, kamu tenang aja deh. Kalo ngeliat dari fotonya, jelas jauh lebih ganteng kamu," tambah Heru terbahak.
"Halah... Bisa aja. Ya udah, aku susulin Dijah dulu ke dalem. Makasih ya Mas, jangan bosen direpotin," ujar Bara kemudian mengakhiri pembicaraan di telepon.
Bara mematikan AC dan mesin mobilnya kemudian segera turun dan bergegas menuju rumah orang tua Dijah.
Setibanya di luar pagar yang berjarak hanya dua meter dari pintu rumah yang sedikit terbuka, Bara mendengar Dijah berbicara sambil menangis.
"Mbok ya belain aku sekali-sekali. Bapak lain kok bisa rela mati untuk anak perempuannya. Aku nggak tau salahku apa dari dulu, kayaknya aku nggak pernah hidup nyusahin orang. Tapi mau seneng sebentar aja kok ya susah..." Dijah terisak cukup keras. Perkataannya cukup jelas terdengar oleh Bara yang sedang berdiri di luar.
Jantung Bara terasa ditusuk mendengar Dijah yang bicaranya lantang ke orang lain namun terdengar pilu saat bicara dengan bapaknya.
"Ibu kok nangis? Kita gak jadi pergi ya? Om Bara ninggalin kita karena aku terlambat bangun?" Suara Dul yang bertanya pada ibunya pun terdengar bingung.
Tak ingin bocah laki-laki menunggu lebih lama akan jawaban ibunya, Bara berteriak dari luar, "Dul.... Om Bara nunggu di luar ya..."
Bara kemudian membuka pagar kayu dan berdiri di luar pintu. Sesaat kemudian ibu dan anak itu keluar sambil bergandengan. Mata dan hidung Dijah terlihat memerah karena diseka berulangkali.
"Yuk," ajak Dijah tanpa memandang Bara. Ia berjalan mendahului Bara dengan menggandeng tangan anaknya. Ia malu pada pria itu. Jika bukan karena janji pada Dul, mungkin ia bakal membatalkan rencana mereka.
Sesaat Bara membiarkan Dijah hanya duduk diam di dalam mobil. Ia memberikan waktu pada Dijah untuk kembali menata moodnya.
"Dingin sejuk," celoteh Dul.
Dari kaca spion Bara melirik Dul yang duduk rapi melipat tangannya di tepi kaca jendela mobil sambil memandang keluar.
Bocah laki-laki itu sedang menikmati pemandangan jalan raya, tanpa keringat yang mengucur di dahinya. AC mobil saja sudah merupakan kemewahan bagi Dul.
"Kita ke mana dulu nih Dul? Mau main di arena bermain, atau mau berenang dulu di hotel?" tanya Bara dari kursi depan.
"Berenang di hotel? Hotel itu yang mirip mall tapi boleh nginep ya Om?" tanya Dul.
__ADS_1
"Iya, yang gede. Ada kolam renangnya, ada tempat mainnya juga. Mau yang mana?" tanya Bara.
Dul diam seperti berpikir. Ia melirik ibunya yang masih bersandar dan melemparkan pandangannya ke luar jendela.
"Berenang aku juga mau Om. Tapi--aku gak bisa. Eh, aku gak ada pakaiannya juga. Bu, kemarin di pasar kenapa aku gak dibeliin celana renang?" Dul berdiri untuk mengguncang bahu ibunya.
"Ada. Om ada bawa untuk kamu, nanti sampai di hotel kita langsung berenang ya," ujar Bara. Dul terlihat puas dengan perkataan Bara barusan dan kembali duduk menumpukan dagunya di tepi jendela.
"Masak apa tadi pagi? Bawa bekalnya banyak, 'kan?" tanya Bara pada Dijah yang sedang melamun.
Dijah menoleh untuk memandang Bara. "Tapi katanya dikit aja, mau makan di luar. Aku bawanya pas-pasan. Gimana?" tanya Dijah dengan raut sedikit bingung.
Bagus, pikir Bara. Sekarang Dijah bingung memikirkan bekal yang dimasaknya. Mending mikirin hal itu ketimbang memikirkan soal pertengkaran dengan bapaknya. Bara memasang raut yang sama bingungnya.
"Jadi gimana? Aku lagi pengen makan masakan kamu seharian ini," ujar Bara cemberut.
"Nanti om Bara makan bekal aku dan ibu aja," jawab Dul dari belakang. Mendengar hal itu Bara tertawa. Dijah menoleh pada anaknya dan ikut tersenyum.
"Nah gitu... Lebih cantik," ucap Bara mencubit pelan pipi Dijah. Wanita itu hanya memandang Bara yang pandangannya kembali fokus ke jalanan.
"Berapa lama ke sana?" tanya Dijah.
"Masih lama nyampenya, Dul suruh tidur aja. Biar sampe hotel udah seger, bisa langsung berenang." Bara mengusap lengan Dijah dengan tangan kirinya.
"Dul, itu ada bantal kecil. Kamu baring aja kalau ngantuk. Tidur dulu, biar nyampe hotel udah seger." Dijah menunjuk sebuah bantal kecil yang memang disediakan Bara untuk Dul.
Hampir dua jam kemudian, mobil menjadi sangat hening. Jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Anak dan ibu penumpang mobil Bara jatuh tertidur dalam waktu yang tak lama berselang.
Mobil sudah memasuki gerbang pemeriksaan hotel. Dua orang satpam mengedarkan tongkat dengan cermin ke bawah kolong mobil. Beberapa menit setelah mengecek bagian bagasi, mobil Bara dipersilakan lewat.
Setengah bangkit menoleh ke belakang, Bara mengangkat ransel yang diletakkannya di belakang jok yang diduduki Dijah. Tangannya kemudian membuka ransel dan merogoh-rogoh isinya mencari sesuatu.
Bara mengeluarkan kotak kecil dari ranselnya. Sebenarnya ia berniat memberikan itu pada Dijah pada saat mereka makan malam bertiga nanti. Tapi sepertinya, ia harus menghapus raut muram di wajah kekasihnya itu dengan cara lain.
Kotak kecil itu berisi cincin yang beberapa hari dibelinya. Sebuah cincin sederhana dengan mata berlian bersertifikat GIA 0.5 karat. Bara meraih tangan kanan Dijah yang masih terkulai lemas dan memasukkan cincin itu ke jari manisnya.
Beberapa saat lamanya Bara memandang puas karena cincin itu melingkari jari manis Dijah dengan sempurna. Setelah mengecup punggung tangan itu sekali, Bara kembali meletakkan tangan Dijah ke atas tasnya.
"Jah... Kita udah sampe," panggil Bara mengusap bahu kekasihnya. Ia berulangkali mengusap bahu yang terlalu banyak memikul beban itu.
Dijah bergerak dan membuka matanya.
"Udah nyampe," gumam Dijah.
"Iya, yuk turun. Biar aku gendong Dul," tukas Bara.
"Jangan, nggak usah. Udah berat dia," cegah Dijah buru-buru turun dari mobil berniat membangunkan anaknya.
Bara mematikan mesin mobil dan buru-buru memasukkan kunci mobil itu ke saku jeans-nya.
"Gak apa-apa Jah, kasian. Dia masih nyenyak. Lagian pusing kalo baru bangun langsung disuruh jalan," ucap Bara yang kemudian bergegas turun dan membuka pintu penumpang.
Dengan ransel yang berada di bahu kanannya, Bara mengangkat tubuh Dul.
"Tutup pintu mobilnya," pinta Bara. "Tas bekalnya kasi ke petugas itu aja." Dijah menunjuk seorang petugas bell boy dengan dagunya.
__ADS_1
"Mas tolong keluarin tas yang di bagasi belakang ya," ucap Bara pada petugas itu. Ia kemudian melangkah masuk ke lobby menuju meja resepsionis yang terbuat dari batu pualam setinggi dada orang dewasa.
"Atas nama Bara Wirya Satyadarma," ucap Bara pada petugas front liner wanita yang langsung tersenyum menyambut mereka.
Baru kali itu Dijah mendengar nama panjang Bara. Selama ini, ia hanya mengetahui nama Bara hanya dua suku kata di kartu tanda pengenal persnya.
"Maaf Pak, bisa minta kunci mobilnya agar bisa dipindah ke parkiran." Seorang satpam sedikit mengangguk ke arah Bara.
"Ya ampun, maaf saya lupa mobil masih di sana. Sebentar," ujar Bara yang kelimpungan karena ranselnya hampir merosot dan Dul yang berada di gendongannya masih tertidur pulas.
"Jah, ambilin kunci mobil di saku kanan celanaku." Bara memiringkan tubuh menyodorkan bagian kanan saku celananya.
"Sebentar," gumam Dijah memasukkan tangannya ke saku jeans Bara yang sedikit ketat. "Gak ada..." gumam Dijah.
"Ada. Daleman dikit lagi," ujar Bara kemudian mengatupkan mulutnya. Ia merasakan jemari Dijah yang sedang meraba-raba di dalam sakunya telah berkali-kali menyentuh benda yang sedang dalam keadaan mudah diprovokasi.
"Ya ampun, tanganku kok nyangkut. Di jariku ada apa, kok benang sakunya pada ngikut," ucap Dijah berusaha menarik tangannya keluar.
"Maaf Pak, sebentar ya..." Bara meringis ke arah satpam yang menunggui mereka.
"Sebentar, jangan gerak dulu. Ini kain sakunya jadi mau ngikut semua. Ada yang nyangkut," ujar Dijah lagi.
"Jah, kena ituku. Pelan-pelan..." bisik Bara.
"Sebentar," gumam Dijah menggerakkan tangannya ke posisi dalam kemudian menarik jemarinya keluar. Sebuah gulungan benang tersangkut pada mata cincinnya.
"Aku kok pake--kamu yang...? Kapan ini--" Dijah tak bisa menyelesaikan kata-katanya. Matanya sudah terpukau dengan sebentuk cincin indah yang baru pertama kali dilihatnya.
"Itu punya kamu," jawab Bara. Dijah memandang wajah Bara sekilas kemudian kembali menatap cincinnya.
Itu adalah cincin pertama Dijah. Yang dirasanya paling indah dan cantik. Diberikan oleh orang yang memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Sebentar aku lepasin benangnya dulu. Kain sakunya sampe ikut keluar semua," ucap Dijah.
"Ini Pak kuncinya. Maaf lama nunggu." Dijah memberikan kunci mobil pada satpam. Setelah satpam itu pergi, pandangan Dijah kembali beralih ke saku jeans Bara yang masih berantakan.
"Eh ini belum masuk." Dijah meraup seluruh bagian dalam saku itu dan menjejalkannya ke dalam celana jeans Bara.
Bara mendelik karena lagi-lagi Dijah menyodokkan tangannya berulangkali menyentuh kelelakiannya. Ia merasa celananya semakin mengetat.
"Jah... Pelan-pelan, kena ituku" bisik Bara.
"Ih, udah bangun aja. Tutup dulu, keliatan orang nanti," ucap Dijah membenarkan letak kemeja Bara pada bagian depan.
"Kamu ini..." keluh Bara pada kekasihnya.
"Baru gitu aja," sindir Dijah.
"Udah lama enggak..." gumam Bara dengan wajah cemberut.
"Nanti," sahut Dijah seraya tersenyum pada petugas front liner yang sejak tadi mengamati kegaduhan mereka.
Bara kembali mengatupkan mulutnya. Ia khawatir akan tersenyum lebar karena mendengar jawaban Dijah yang selalu diluar perkiraannya. Tadinya Bara mengharapkan bahwa Dijah akan merasa terkejut saat sedang cuci muka dan melihat cincin yang melingkar di jarinya.
Namun huru-hara soal kunci mobil tadi malah sepertinya lebih cocok untuk suasana mereka saat itu.
__ADS_1
To Be Continued.....