PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
142. Belanja Baju Bayi


__ADS_3

“Itu—itu di depan. Iya, yang sebelah kanan. Puter cepet,” ucap Bu Yanti menepuk-nepuk pundak Bara yang sedang mengemudikan mobil. Mengikuti instruksi ibunya, Bara memberi lampu sein dan mengambil lajur kanan untuk berbelok.


“Mesti sejauh ini belanjanya,” kata Bara saat masuk ke pelataran sebuah tempat berbelanja pakaian berupa gedung tunggal tersendiri. Sebuah tulisan berwarna merah memuat kata Mom, Baby and Kids.


“Katanya di sini lengkap semua. Kita nggak perlu pindah-pindah tempat belanja. Beli di sini aja semuanya. Ayo turun,” ajak Bu Yanti.


Dijah menggeser duduknya dan menggamit lengan Dul yang duduk di antara ia dan ibu mertuanya.


“Ada mainan juga?” tanya Dul. Bu Yanti tak menjawab karena sibuk merapikan rok panjangnya di depan pintu mobil. “Ti... ada mainan juga?” ulang Dul lagi.


“Ha? Oh, ada—ada... Lengkap di sini, kamu pergi sama akung aja cari mainan. Uti sama ibu cari pakaian adik,” jawab Bu Yanti.


Belum pukul 11 siang, mereka telah tiba di tempat perbelanjaan khusus pakaian ibu, bayi dan anak-anak itu. Letaknya cukup jauh dari rumah. Nyaris ke luar kota. Tapi itu adalah permintaan khusus dari ibu Bara. Maka ia harus menuruti. Dan sepertinya, Dijah yang terbiasa menerima hal apapun dengan senang hati tak masalah di manapun pakaian anaknya dibeli. Acara berbelanja itu telah diagendakan khusus untuk menyambut putrinya, Dijah sudah merasa sangat spesial.


Bara dan Pak Wirya berjalan mendahului di depan. Dul bergelayut di lengan Pak Wirya sejak tadi. Mulai dari pintu masuk, Dul sudah bersorak-sorai kagum berkali-kali. Melihat mainan penuh warna yang menggugah pandangan tiap anak mana saja.


“Kita ke bagian ini—ke bagian ini,” ajak Bu Yanti sambil menyeret lengan Dijah. Sebelum mengikuti langkah mertuanya itu, Dijah menoleh sekilas pada Bara yang sedang asyik berbincang dengan ayahnya di depan sebuah sepeda mini yang sedang dinaiki Dul.


“Dijah, ini bagus—baguskan?” Bu Yanti mengangkat set pakaian tidur balita ke arah Dijah. “Bisa dikeluarkan contohnya dari tiap model Mbak?” pinta Bu Yanti pada pramuniaga yang mengikuti mereka sejak tadi.


Bu Yanti langsung membalik-balik dan memutar tiap pakaian yang dibuka pramuniaga dari bungkusnya.


“Ini satu set isinya enam jumper untuk tidur , lengan panjang. Kalau yang ini jumper untuk siang, lengan dan celananya pendek.” Pramuniaga merentang dua jenis pakaiam yang dimaksudkannya.


“Lucu-lucu banget. Jaman dulu nggak ada kayak gini. Sekarang semua-semuanya praktis. Aduh, saya sampai bingung yang mana aja. Bagus nggak Jah? Kamu kok diem aja?” tanya Bu Yanti menoleh pada menantunya.


Dijah sedang mematung memegang sebuah baju mungil yang hanya sepanjang jengkal tangannya. Ia terperanjat dengan panggilan Bu Yanti dan menoleh ibu mertuanya itu.


“Saya bingung Bu, semuanya bagus.” Dijah mengatupkan mulutnya. Ia sungkan memilih. Bara terlihat masih asyik di kejauhan. Padahal Dijah mau Bara mendekatinya dan ikut memberikan pendapat. Sedangkan untuk memanggil suaminya itu, ia sungkan.


“Pilih aja—pilih aja, kita kumpulin di sini.” Bu Yanti menunjuk dua buah keranjang besar yang sudah terisi pakaian dalam bayi.


Dijah masih memegang pakaian Bayi yang sama sejak tadi. Kepalanya masih menoleh pada Bara. Ia berharap suaminya itu segera menolehnya. Dan seperti mendengar perkataan Dijah yang sejak tadi memanggil suaminya di dalam pikiran, Bara menoleh. Pandangan mereka bertemu dan Dijah tak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap penuh harap agar suaminya itu datang menolongnya. Menyelamatkannya dari kesungkanan dan kecanggungan yang ia rasakan.


Dan Dijah bisa menarik napas lega. Seperti mengerti akan arti tatapannya, Bara datang mendekati.


“Udah dipilih? Pilihan kamu yang mana?” tanya Bara merangkul pundak Dijah.


Dijah mengatupkan mulutnya dan menggeleng. “Belum ada, belum mulai nyari. Tapi itu pilihan ibu bagus semua. Aku suka yang ini Mas....” Dijah mengangkat baju mungil di tangannya.


“Bagus... ini bagus. Mana lagi yang menurut kamu bagus? Ayo kita cari sama-sama,” kata Bara memegang punggung istrinya. Ia melihat kegelisahan di sorot mata Dijah. Ia paham istrinya merasa tak punya kuasa untuk mencomoti apapun yang diinginkannya. Berjalan di sebelah ibunya yang percaya diri dan selalu lugas memang perlu keberanian.

__ADS_1


Sekejab kemudian Bu Yanti telah diikuti dua orang pramuniaga yang melaksanakan instruksi-instruksinya. Dijah kembali menuju ke barisan hanger mungil yang menampilkan baju-baju bayi perempuan mini yang sangat menggemaskan.


“Mas, ini—” Dijah mengangkat dua hanger dengan model baju bayi yang sama namun dengan warna berbeda. “Aku suka dua-duanya,” ucap Dijah.


“Ambil sayang, gak apa-apa. Belanjaan yang ibu ambil, semuanya Mas yang bayar. Ini anak Mas, Mas yang keluar uang. Kamu nggak usah sungkan.” Bara merasa perlu menegaskan hal itu untuk mengendurkan wajah kaku Dijah yang sejak tadi berpikir bahwa belanjaan mereka akan mengeluarkan uang pribadi orangtuanya.


“Mmm... Mas,” ucap Dijah sedikit ragu.


“Hmmm?” Bara menoleh menatap wajah istrinya.


“Kalau aku ngambil baju untuk Dul, nggak apa-apa?” tanya Dijah.


“Ya nggak apa-apa, emang kenapa?” Raut Bara terlihat sedikit tak mengerti.


“Aku sungkan kalau memasukkan pakaian Dul di keranjang. Hari ini ‘kan belanja untuk bayi aja. Apa nggak kesannya aku aji mumpung? Aku nggak enak diliat ibu. Dul kan anak—ku,” ujar Dijah dengan suara yang tenggelam di akhir ucapannya.


“Kok kayak gitu mikirnya? Nggak boleh gitu Dijah. Ibu nggak akan mikir kayak gitu. Ya ampun Dijah....” Bara memeluk pundak Dijah dan mengusap-usap lengan lengan istrinya itu berkali-kali.


“Kamu liat di sana,” pinta Bara menunjuk Dul yang sedang mencoba mendayung sebuah sepeda mini. “Itu ayah yang milihin untuk Dul. Dia beli sepeda hari ini. Bisa dipakai di lapangan depan rumah. Ibunya jangan mikir serumit itu,” sambung Bara mengusap dahi Dijah yang masih mengernyit.


Kursi bagian belakang SUV Bara harus dilipat untuk memasukkan belanjaan mereka sore itu. Benar sekali. Mereka berada di tempat itu sampai jam tiga sore. Jam makan siang terlewatkan dan Dijah berkali-kali berdiri melepaskan sepatunya yang mulai sempit karena kakinya mulai membengkak.


“Nanti kita beli sepatu lagi, kok nggak bilang udah pada gak muat? Mas jadi kayak lalai ya jadi suami,” ucap Bara saat mereka telah berada di mobil dalam perjalanan kembali ke rumah setelah mengantarkan Pak Wirya dan Bu Yanti.


“Minggu depan, kalau Mas ada waktu senggang dan bisa pulang cepat dari kantor, kita belanja pakaian kamu. Tadi belum ada beli ‘kan?” tanya Bara memandang istrinya.


Dijah menggeleng, “Belum. Tapi kalau beli sepatu, entar lagi juga lahiran. Sayang Mas....”


“Mas yang cari uang kok. Nanti kalau Mas bisa pulang cepet, kita pergi belanja.”


Dan ternyata itu hanyalah janji tinggal janji. Bara berangkat ke luar kota di bulan berikutnya untuk menghadiri acara tahunan perserikatan wartawan untuk menggantikan Heru. Sedangkan Heru, di waktu yang bersamaan harus menghadiri seminar penting di luar negeri.


Bara terhanyut akan kesibukannya dan selalu pulang kerja hingga larut malam.


Kehamilan Dijah sudah memasuki bulan ke sembilan. Trimester akhir di mana dia dan Bara hanya tinggal menghitung hari dalam menyambut buah hati mereka.


Bara kembali pulang larut malam. Wajahnya sudah pasti terlihat lelah dan ia langsung menggantungkan lengannya di bahu Dijah sejak kakinya melangkah masuk ke rumah.


“Udah makan?” tanya Dijah mengambil ransel dari tangan suaminya.


“Udah, Mas udah makan. Mas mau mandi dulu, gerah banget. Dul udah tidur ya?” tanya Bara.

__ADS_1


“Ya udah, udah tengah malem.” Dijah mengikuti langkah Bara yang langsung menuju kamar.


“Untuk meminimalisir penggunaan tenaga kerja yang berlebihan, Mas Heru merangkap kerjaan sementara ini. Mas ngurusin iklan juga, ngurusin redaksi kriminal juga, repot dan ruwet.” Bara menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan posisi tengkurap.


“Mandi dulu, nanti ketiduran.” Dijah meletakkan ransel di atas meja kerja dan langsung menuju dispenser untuk mengisi air putih untuk suaminya. “Ini, minum dulu. Biasa langsung minum.” Dijah berdiri di dekat meja nakas.


Bara bangkit dan duduk tegak di tepi ranjang untuk menghabiskan segelas air putih yang disodorkan istrinya.


“Ya udah, Mas mandi dulu.” Bara kembali menyerahkan gelas kosong kemudian mengosongkan isi kantong celananya dan meletakkannya ke atas meja nakas. Dengan langkah malas ia menuju kamar mandi agar bisa tidur di sebelah Dijah yang kebiasaan keramasnya telah kembali pulih sejak tak mual muntah. Rambut Dijah selalu wangi dan tubuhnya beraroma lembut sabun. Selarut apapun Bara pulang bekerja, ia merasa harus mandi.


Beberapa menit setelah Bara masuk ke kamar mandi, ponselnya bergetar pendek-pendek di atas meja. Sebuah pesan saat larut malam dan Dijah mengambil ponsel itu untuk melihat seberapa penting pesan itu. Dijah langsung menuju aplikasi pesan dan melihat beberapa pesan memang belum dilihat oleh Bara.


Pesan yang baru masak ternyata dari Heru. Dijah tak membuka pesan itu. Ia hanya menggulir layar untuk melihat nama-nama pengirim pesan yang belum dibaca suaminya. Semua dari rekan kerja. Pesan terbaca di urutan pertama adalah dari ‘ibu’ sedangkan urutan kedua adalah pesannya tadi sore yang bertanya apakah Bara lembur atau tidak. Dan setelah pesannya tadi, ada sederet angka yang belum tersimpan dalam daftar kontak. Dijah tergelitik ingin membukanya.


08XX-XXXX-XXXX


‘Sore nanti saya pulang kantor, bakal masak kayak kemarin. Malem saya balik lagi bawa bekal untuk Pak Bara dan temen-temen. Ditunggu ya Pak, jangan pulang dulu. Makasi Pak.’


Itu adalah pesan terbaru. Pesan sebelumnya.


‘Pak, kata Mbak Retno saya disuruh pilih divisi. Saya ikut Pak Bara aja ya. Boleh?’


‘Makasih Pak. Untung Bapak bantu ACC surat ijin angketnya. Saya jadi nggak perlu ke dalem lagi nemuin Pak Heru. Makasih Pak Bara...’


Semua pesan itu hanya dibaca Bara. Tak ada balasan. Dijah jadi penasaran itu siapa. Perempuan atau laki-laki. Melihat dari jenis tulisan dan pilihan kata-katanya, sepertinya itu perempuan.


Dijah masih menunduk menatap ponsel. Bara keluar kamar mandi dengan lilitan handuk dan sebuah handuk kecil putih di kepalanya.


“Ada pesan? Dari siapa?” tanya Bara mendekati Dijah. Wanita itu mendongak menatapnya dan langsung mengulurkan ponsel.


“Siapa ini?” ketus Dijah. “Pulang lembur ternyata ada yang ngasi makan di kantor!” seru Dijah terus naik ke ranjang. Ia berbaring memunggungi Bara dan menutup wajahnya dengan bantal.


Bara memandang pesan dari salah seorang mahasiswi magang di kantornya dengan dahi mengernyit. Bara lupa menghapus pesan itu.


To Be Continued.....


Maaf keterlambatan update.


Hari ini njuss sibuk sekali di real life.


Buat yang sudah divaksin namun sekarang sedang demam, semoga cepat sembuh.

__ADS_1


Yang lainnya jaga kesehatan ya.... :*


__ADS_2