
Apa yang ada di pikiran seseorang ketika sadar telah melakukan suatu kesalahan tapi tetap ingin mengulangi Kesalahan itu?
Sadar bahwa itu kesalahan. Menyesal belum tentu.
Dijah berusaha melebarkan pandangannya. Tak ingin menutup mata. Mencoba menghapus sedikit kenangan yang masih tertinggal di kepalanya.
Dijah yang terlalu tertekan enam tahun yang lalu, melupakan semua hal buruk yang terjadi padanya. Ingatannya hanya soal dinikahkan pada Fredy. Selebihnya Dijah tak mengingat apa saja yang menimpanya.
Kemudian ingatan itu berlanjut saat seorang wanita dan ibunya membawa seorang bayi yang dikatakan adalah anak kandungnya. Bayi kecil kekurangan gizi berusia enam bulan. Karena seorang Dul, Dijah yang belum berusia 19 tahun saat itu, kembali menemukan kehidupannya.
Mulai saat itu hidup Dijah hanya untuk Dul.
Dijah mengerjapkan matanya. Ia harus melihat wajah Bara yang sedang menunduk menciumi leher, menyesap dan menggigit tiap sudut dadanya.
Setelah mencurahkan kehangatannya barusan, Bara sempat berbaring sebentar di sebelah Dijah. Tak ada percakapan di antara mereka. Tak lama sesudahnya, pria itu kembali mencium bibir Dijah dan mendapat sambutan sama panasnya dengan yang pertama.
Kini Bara sedang memulai kembali tanpa ketergesaan. Ia menyentuh Dijah dengan lembut dan memperlakukan tiap sudut tubuh wanita itu sama istimewanya.
Nafas Bara terdengar kasar di tengah heningnya malam. Dul sepertinya sedang bermimpi indah. Bulu kuduknya meremang. Sesungguhnya Dijah sudah tak tahan. Tapi tak mungkin ia meminta Bara untuk langsung menyatukan diri mereka. Untuk hal itu, Dijah masih belum berani.
Penilaian Bara kepadanya sangat penting saat ini. Meski sebenarnya, Dijah merasa kalau mereka sama mesumnya.
Bara benar-benar mempraktekkan cara bercinta sesungguhnya yang telah ia pikirkan selama beberapa hari terakhir ini.
Perencanaannya benar-benar matang. Dalam satu waktu, Bara berusaha memuaskan ibu dan anak itu dengan cara yang berbeda. Ia semakin menyayangi Dijah tentu saja.
Bara merasa Dijah adalah miliknya. Setiap bagian tubuh wanita itu adalah miliknya. Ia tak ingin Dijah kepanasan di bawah terik matahari, disentuh laki-laki lain, apalagi disakiti hati dan tubuhnya.
Penyatuan tubuh itu membuat Dijah kembali terlena akan salah satu nikmat dunia.
Lama kelamaan debaran jantungnya kembali cepat. Adrenalinnya serasa dipompa seiring dengan gelenyar kenikmatan yang mengaliri seluruh tubuh. Dijah kembali menatap Bara dengan tatapan sayu. Sedetik kemudian Dijah menggigit bibir bawahnya untuk mencegah erangan hebat yang mungkin keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Seiring dengan kepastian bahwa ia kembali berhasil memberi kepuasan, Bara merasakan dorongan kenikmatan itu juga menghampirinya. Tak ada yang bisa dilakukan Bara selain mengetatkan pelukannya. Meresapi kenyataan bahwa ia menikmati tiap detik waktu yang dihabiskannya bersama Dijah.
Dijah. Seorang wanita manis yang statusnya selalu luar biasa di telinga setiap orang.
Keduanya bertatapan. Bertukar nafas hangat satu sama lain dengan jarak yang hampir tak ada. Bara kembali mengecup bibir kekasihnya. Dijah adalah miliknya. Wanita itu akan segera menjadi miliknya. Sejauh ini, ia telah mempersiapkan semuanya dengan matang.
Mereka masih sama polosnya. Bara kembali membaringkan tubuhnya dan menarik selimut menutup tubuh mereka.
DRRRRRT
DRRRRRT
DRRRRRT
Ponsel Bara yang berada di atas meja sebelah ranjang bergetar. Dijah sedikit mendelik saat melihat Bara yang belum mengenakan apapun merangkak melintasinya untuk meraih ponsel.
"Bayu? Ada apa ya--" gumam Bara. "Halo? Napa Bay?" sahut Bara setelah menggulir layar ponselnya.
"Hah? Enak aja lo!" sergah Bara. "Udah dewasa! Jangan sok tau lo!" cecar Bara kemudian.
"Hah? Kok Mas Bara marah-marah? Emang pemerkosaan di bawah umur! Yang perkosa ayah tirinya. Mas udah baca pesanku belom? Aku gak ada temen mau ngeliput, semua lagi full jadwalnya."
"Pesan? Sebentar--" Bara membuka aplikasi pesan di ponselnya. "Oooh... Astaga... Aku kira apa," ujar Bara terkekeh tanpa suara.
"Mas Bara lagi ngapain sih? Kok kayaknya gak konsen gitu?" tanya Bayu. Tak mungkin Bara memberitahu Bayu bahwa ia baru saja merasa tersindir saat juniornya itu menyampaikan soal perkosaan.
Dijah yang memahami duduk persoalan tak sanggup menahan tawanya. Ia langsung terbahak melepaskan tawanya.
"Itu suara Mbak Dijah ya Mas? Ngeri banget ya efek tulisan HARTA, TAHTA, DIJAH itu. Lagi di mana Mas? Enak banget sih... Aku juga mau Mas, sampein salamku ama Mbak Tin--" Bayu belum sempat menyelesaikan kata-katanya. Bara harus mengakhiri pembicaraan mereka.
Bara kemudian mengetik pesan untuk Bayu.
__ADS_1
'Gw udah izin ke Mas Heru dua hari. Lo pergi liputan sendiri. Jangan tanya-tanya soal Tini lagi. Dia udah punya pacar. Gw ga enak mau ngomong ada Dijah. Mulut lo jangan berisik di kantor.'
Bara kemudian menekan tombol SEND.
"Aku mandi di sebelah aja ya," ucap Dijah bangkit dari ranjang.
Bara mengangguk cepat tanda setuju. Tadinya ia ingin melontarkan ide untuk mandi bersama. Tapi membayangkan melihat tubuh telanjang satu sama lain di bawah lampu terang dalam keadaan sepenuhnya waras, membuat Bara meringis. Ia belum cukup bernyali untuk itu.
Setelah Dijah memunguti semua pakaiannya dan berjingkat-jingkat menuju ke kamar sebelah, Bara secepat kilat menyambar pakaiannya kemudian menuju ke kamar mandi.
Bara memutuskan akan tidur di kamar itu sendirian. Membiarkan Dijah memiliki waktu yang berkualitas bersama anaknya.
Pukul dua pagi, Bara meluruskan tubuhnya diranjang. Kenyamanan luar biasa langsung mengaliri ke seluruh tubuh setelah berlama-lama di bawah siraman air hangat. Ia baru saja melongok ke kamar sebelah dan melihat Dijah telah bergelung memeluk Dul yang tertidur nyenyak.
Setelah berbalasan pesan dengan Bayu yang sepertinya sedang gigih mengorek berita soal keberadaan dirinya dan Dijah, Bara mencampakkan ponselnya mencoba untuk tidur.
Menit demi menit berlalu. Waktu terasa lama bagai merangkak.
Setengah jam kemudian, Bara masih tak bisa memejamkan matanya. Ia gelisah terus membalikkan tubuhnya dan berguling ke sana kemari.
"Aduuuh..." Bara mengacak-acak rambutnya. Wajahnya cemberut menoleh ke arah dinding yang memisahkannya dengan Dijah.
Tak ingin larut dalam kesendirian, Bara melangkah menuju pintu penghubung dan masuk ke kamar sebelah. Langkahnya langsung menuju ke sisi ranjang tempat di mana Dijah tidur bergelung.
Bara membuka selimut dan masuk ke dalamnya. Setelah mencium tengkuk Dijah beberapa kali, ia kemudian mengalungkan tangannya melingkari perut wanita itu.
Mereka tidur bagai sepasang sendok garpu yang disatukan. Sebelum hanyut ke dalam mimpinya, Bara berharap kalau esok pagi, dia akan bangun mendahului Dul.
Dan Dijah yang tersadar karena pelukan Bara, mengusap punggung lengan pria itu sebelum kembali melanjutkan mimpi indahnya.
To Be Continued.....
__ADS_1