PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
76. Merengkuh Malam


__ADS_3

"Lo ikut gua!" seru Bara pada Dona yang terlihat serba salah karena melihat Bara begitu panik.


"Ke mana Mas?" tanya Dona berlari kecil memutari bagian depan mobil menuju kursi di sebelah pengemudi.


Bara tak langsung menjawab Dona. Telunjuk kiri pria itu terangkat ke bibirnya sebagai isyarat pada Dona untuk menutup mulutnya segera. Bara mengeluarkan ponsel dan langsung mencari nama Heru di daftar kontak.


Saat keluar dari halaman Polsek dan Bara menoleh ke kanan, ia melihat sisa-sisa kemasan jajanan Dul yang berserakan di atas aspal dan dilindasi pengendara. Darahnya semakin terasa mendidih.


"Mas! Mas Heru! Bara ni!" panggi Bara saat Heru menjawab teleponnya.


"Iya, tau. Kan ada namanya," ucap Heru datar di seberang telepon.


"Mas, aku mau nyusulin Dijah. Dia pergi ke gudang itu. Tempat si bajingan Fredy. Ceritanya panjang. Tolong telfon mas Heryadi. Aku gak bisa nunggu dini hari. Sekarang aja Mas, sekarang. Perasaanku gak enak!" Bara telah melajukan mobilnya menuju ke arah pelabuhan.


"Kamu jangan gegabah Ra! Salah-salah kamu yang jadi korban."


"Aku gak mau gegabah Mas. Aku juga gak mau. Tapi Dijah di sana. Tolongin aku. Telfon mas Heryadi aku udah dalam perjalanan ke gudang di dekat pelabuhan itu."


"Jangan terlibat kekerasan Ra!" seru Heru sebelum Bara mengakhiri panggilan itu dan langsung mencari nomor telepon Dijah.


Dijah tak bisa dihubungi. Ponselnya tidak aktif.


Maradona memandang Bara dengan ekspresi takut-takut. Dia sudah cukup lama bekerja di harian berita TERM. Tapi ia merasa tak terlalu dekat dengan Bara untuk mengetahui bagaimana sifat sepupu direktur perusahaannya itu.


"Maaf Mas Bara, tapi aku memang gak tau Dul itu siapa. Bapaknya sadis banget. Udah aku lerai tapi dia malah ngancem aku. Semua tetangganya ngeliatin, tapi katanya itu udah biasa. Sampe ibunya Dul pergi dari gang itu, tetangganya juga masih ada beberapa yang berdiri di sana. Aku tanya-tanya tetangganya. Makanya aku tau itu ibunya Dul."


"Semua cuma bisa ngeliat aja," gumam Bara.


"Kalo boleh tau, ibunya Dul itu--"


"Pacarku Don. Ibunya Dul itu pacarku. Yang mukulin anaknya tadi, mantan suaminya. Laki-laki berengsek yang cuma berani sama perempuan dan anak-anak."


Mendengar jawaban Bara, Dona hanya diam. Ia meraba seatbelt-nya, ia memastikan telah memakainya dengan benar.


Bara mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Berbelok ke kanan-kiri dengan lihainya menghindari pengendara lain. Sesekali Bara bahkan memaki dan menghentak setirnya saat harus berhenti di lampu merah. Kepalanya terlalu sering menoleh ke arah jam di pergelangan tangan dengan gelisah. Ia takut terlambat.


"Jadi, akuMas?" tanya Dona saat mereka sudah 20 menit dalam perjalanan.


"Lo ngeliput. Ngeliput kayak biasa."


Bara menembus jalanan gelap menuju pelabuhan. Jalanan yang selalu dipenuhi truk-truk besar sebagai sesama teman pemakai aspal.


Bara sudah mengetahui di mana letak ruko yang menurut informasi terakhir dijadikan Fredy sebagai pabrik obat-obatan terlarang beberapa bulan terakhir ini.


Letak ruko itu di belakang pelabuhan. Banyak kantor-kantor pemerintah di sekitar sana. Tapi keberadaannya yang di tengah kota memang seperti disengaja. Seolah menuntun orang berpikir, bahwa itu adalah ruko usaha yang wajar-wajar saja. Dari informasi yang didapat Bara terakhir kali, ruko itu juga digunakan sebagai industri sarang burung walet.


"Sepi banget Mas! Gak ada orang," ujar Dona.


"Itu rukonya. Pintunya gak rapet, ada cahaya dari celahnya. Kayaknya gak dikunci, gua turun. Lo di mobil aja." Bara berhenti untuk menarik nafasnya dengan gugup. "Gini, denger gua. Lo tau kalo gua udah nelfon mas Heru. Tapi gua gak bisa nunggu sampe mereka dateng. Kalo 15 menit gua gak keluar setelah masuk ke sana, lo bawa mobil ini. Tabrak pintu ruko itu!" tukas Bara menatap wajah Dona yang terlihat ragu.


"Tapi Mas... itu properti orang la--"


"Gua yang nanggung! Pindah ke sini Lo buruan!" Bara membuka pintu mobil dan menunjuk kursi pengemudi. Dona bangkit dan melangkahkan kakinya untuk berpindah tempat.


"Jangan lupa ngeliput juga!" perintah Bara kemudian pergi berlari menuju pintu ruko. Mobil lnya diparkir dengan jarak lebih kurang 30 meter dari sini kanan pintu.


"Gimana nerobos ke sana? Bawa mobil sambil ngeliput?" keluh Dona.

__ADS_1


Bara baru saja hendak mengintip dari celah ruko saat telinganya mendengar suara tertahan Dijah yang terbatuk-batuk dan seperti sedang memaki.


"Lep--pasin aku. An--jing!!"


PLAKK!!


Suara pukulan yang menghantam tubuh seketika terdengar. Dengan tenaga dan emosi yang diakumulasi Bara selama dalam perjalanan, ia bisa membuka rolling door aluminium itu hanya dengan sekali tarikan.


Tampak Fredy sedang mencengkeram kerah kaos yang dikenakan Dijah sampai menghimpit pangkal tenggorokan wanita itu. Tubuh Dijah sudah menempeli tiang ruko. Tangannya berusaha memukul lengan Fredy Dan menggapai-gapai wajah laki-laki itu.


Hal pertama yang harus dilakukannya adalah menendang Fredy untuk menjauhkan pria itu dari Dijah. Bara telah mengenakan sepatu bersol tebal bermerek Timberland yang bisa meremukkan jemari seorang bocah jika tak sengaja dilindasnya dengan sepatu itu.


Jika dia bisa menginjak batang leher Fredy sampai mati dengan sepatu itu, hal itu bukan termasuk pembunuhan berencana karena ia tak membawa senjata selain benda yang dikenakannya.


Waktu kaki kanan Bara menghantam sisi kanan tubuh Fredy, pria itu terjungkal dan menabrak sebuah meja kecil yang tadinya tempat beberapa cangkir kopi, air mineral, rokok dan media penghisap sabu berada. Fredy tersungkur.


Bara tak sempat menoleh berlama-lama pada Dijah. Dari kilasan penglihatannya, ia melihat Dijah merosot bersandar pada dinding tiang itu dan menoleh ke arahnya dengan tatapan datar. Tak ada emosi keterkejutan di wajah wanita itu.


Fredy sedang mengerang memegangi punggungnya. Setelah menetralkan ekspresi terkejutnya, Fredy menoleh ke seluruh ruangan seperti mencari sesuatu. Dan mungkin saat menyadari beberapa teman yang diusirnya tadi tak terlihat di sana, Fredy meraih sebuah kursi plastik dan melemparkannya ke arah Bara.


Bara hanya mengelak sedikit. Kursi itu jatuh berkelontang dan memantul beberapa kali di lantai sampai akhirnya menghantam pintu ruko dengan berisiknya.


BUGG!!


Bara kembali menendang dada Fredy. Laki-laki itu kembali terjengkang ke belakang.


"Mana tenaga Lo? Bisanya nyiksa perempuan dan anak lo aja? Bapak berengsek!!" maki Bara kembali menendang tubuh Fredy yang mencoba berguling menghindari kaki Bara yang terarah pada kepalanya.


"Gimana? Dijah enak, 'kan? Udah lo tiduri berapa kali? Lo kasi uang berapa dia? Sekali sundal, tetap sundal!" Fredy berusaha bangkit dan tertawa-tawa.


Fredy kembali lengah saat akan mengubah posisinya. Tendangan bara kembali mengarah ke dadanya. Fredy kembali terjengkang menabrak sebuah timbangan besar yang biasa digunakan menimbang karung-karung berisi sarang walet.


Bara menunduk untuk meraup kerah kemeja Fredy.


"Dia udah terlalu sering luka karena Lo! Biadab!" pekik Bara.


BUGG!!


"Mulut Lo yang sundal ini lebih cocok hancur!!" teriak Bara.


BUGG!!


"Laki-laki paling berengsek!!" ucap Bara.


BUGG!!


Hidung Fredy memuntahkan darah segar setelah pukulan ketiga Bara. Tangannya sudah terasa sakit saat menghantam wajah Fredy yang sudah setengah pingsan untuk ketiga kalinya. Wajah dan mata Bara memerah karena emosi.


Di kepalanya terbayang Dijah yang tersenyum bahagia saat menggenggam sepasang sepatu untuk Dul. Sepatu murah itu sangat membahagiakan hati Dijah. Tak perlu barang mahal untuk membahagiakan wanita itu. Ia menyadari mata Dijah yang selalu berbinar saat menyiapkan sepiring makanan untuknya.


Dijah yang sering terlihat sungkan karena ketidakpunyaannya meski selalu mencoba bersikap biasa saja. Yang sering duduk mendekap kaki seolah itu adalah pertahanan dirinya. Yang berani ke manapun sendirian tapi senang meski hanya ditemani ke kamar mandi di tengah malam. Dijah hanya ingin disayang. Jantung Bara terasa diremas-remas saking sakitnya.


"Laki-laki paling berengsek!!"


BUGG!!


Air mata Bara menggenang. Membayangkan Dijah yang kasar dan dingin itu sebenarnya hanya ingin dilindungi dan didengarkan. Dijah juga bisa menangis hanya karena rindu. Tapi wanita itu sekarang harus babak belur.

__ADS_1


Wanita yang begitu susah didekatinya, berkali-kali dikatakan sundal dan pelacur di depannya.


BUGG!!


Bara kembali menghantamkan tinjunya ke wajah Fredy yang berlumur darah.


******


Ruangan itu terasa berputar-putar. Kenapa tiba-tiba ada Bara di ruangan itu. Kenapa pria itu bisa tiba di sana. Dijah merasakan darah mengalir hangat keluar dari hidungnya. Ia meraba wajahnya. Semuanya terasa sakit. Kemudian tangannya meraba belakang kepala. Jemarinya menelusuri sebuah luka yang selama ini selalu ia pertanyakan asalnya.


Luka jahitan sepanjang tujuh sentimeter di belakang kepalanya itu, ternyata berasal dari Fredy. Satu persatu ingatan menyakitkan itu muncul ke permukaan. Dijah menutup telinganya. Ia sedang berusaha menghalangi kenangan buruk itu kembali merasuki sel-sel di otaknya.


Ingatan saat ia berkali-kali berdiri di tepi jembatan layang dan berniat melompat. Ingatan saat ia berjalan tanpa alas kaki selama semalaman saat seorang dokter mengatakan ia mengandung.


Dia sudah gila. Dia pasti sudah gila, pikir Dijah. Dijah duduk melipat kaki dan bersandar di tembok tiang. Kedua tangannya memeluk kaki dengan erat. Ia sedang menyaksikan Bara yang berkali-kali menendangi Fredy sampai pria itu nyaris tak bisa berdiri.


"*Kata om Bara, aku bisa jadi anak angkatnya kalau ibu jadi istri om Bara."


Suara Dul memenuhi kepalanya*.


"*Kita jadi pergi, 'kan Bu? Kenapa Ibu nangis? Om Bara udah berangkat duluan?"


Salah satu pertanyaan Dul yang begitu menyedihkan kembali terdengar di telinga Dijah*.


"*Kenapa aku nggak bisa ketemu om Bara lagi Bu?"


Dijah mulai menangis. Tangannya semakin memeluk erat kakinya*.


"Aku gak mau Dijah, aku gak mau kamu tinggalin gitu aja. Kita udah banyak--aku sayang kamu. Aku sayang Dul... Kamu kok tega? Kamu tau sendiri, aku tulus. Aku bohong soal kecelakaan itu biar kamu gak khawatir. Gak ada maksud lain."


"Semua yang aku lakuin itu tulus. Aku tulus Jah, dari awal aku selalu tulus. Meski kita udah kayak gitu. Aku gak ada niat buat jadiin hubungan kita bercandaan."


Dijah mendongak, menatap punggung Bara yang tengah menunduk dan menghujani wajah Fredy dengan pukulan. Fredy sebentar lagi pasti mati, pikir Dijah. Bara pasti bisa membunuh Fredy malam ini.


Kata-kata Bara yang begitu memelas kembali muncul di kepalanya. Bara terlalu baik, laki-laki itu terlalu baik. Hidup Bara terlalu baik untuk dihabiskan bersama seorang wanita yang seluruh hidupnya hampir tak berguna.


Dijah bangkit dari duduknya. Sedikit menunduk, ia kembali menyeka wajahnya dengan lengan kaos kirinya. Ia akan melerai kedua pria itu agar berhenti. Tapi Dijah tahu, Bara takkan melepaskan Fredy malam itu.


Langkah Dijah yang ringan dan tenang tak tertangkap oleh telinga Bara. Sesaat Dijah merunduk untuk memungut sebuah botol bir berukuran besar yang bergulingan di lantai.


Kalau memang Fredy harus mati malam ini, Dijah tak mau Bara mengotori tangannya.


PRANGG!!


BUGG!!


Tak sampai dua detik. Dua pukulan ke arah kepala Fredy yang sedang tak berdaya di bawah cengkeraman Bara, membuat ayah anaknya itu tak berkutik.


Pukulan pertama membuat botol itu pecah dan Fredy seketika pingsan. Pukulan kedua, dengan sisi tajam botol yang hancur membuat luka sayatan besar di kepala pria itu.


Mati, mati saja sana. Dijah menatap Fredy dengan wajah muram.


Bara terbelalak seketika melepaskan Fredy dan mencengkeram lengan Dijah yang terluka karena pecahan botol.


"Dijah..." panggil Bara. Dijah tak menoleh. Hanya berdiri mematung menatap Fredy yang sudah tak sadarkan diri.


Sayup-sayup telinga mereka mendengar teriakan-teriakan di luar. Dua letusan senjata dilepaskan dan langkah-langkah kaki berlari mendekat.

__ADS_1


(Playlist : Tomorrow We Fight - Tomme Profit, SVRCINA)


To Be Continued.....


__ADS_2