
Bara baru saja membereskan semua alat tulis dan melipat laptopnya sore itu. Heru keluar dari ruangan memanggilnya untuk ikut masuk ke dalam. Ternyata soal Fredy. Hal yang masih mengganjal pikiran Bara selama ini. Kemarahan dan kecemburuannya pada mantan suami Dijah.
Berupa hal-hal manusiawi. Bara yang selalu marah mengingat apa yang pernah dilakukan Fredy pada Dijah di masa lalu. Bayangan tentang pertemuannya dengan Dijah pertama kali.
Hari itu adalah hari pertama Bara berada di Polsek itu untuk mencari berita. Sebelumnya dia berada di Polsek daerah lain. Baru hari pertama dan ia melihat seorang wanita muda berwajah manis babak belur.
Belum lagi memikirkan bagaimana Dijah yang masih sangat muda harus ditiduri dengan pria bejat sampai hamil. Sampai mati pun Bara tak rela jika mengingat hal itu. Tapi ada Dul. Atas semua yang sudah terjadi, Dul sudah hadir di dunia.
Masa lalu yang digoreskan tak bisa diubah lagi. Bara sadar akan hal itu. Ia tak bisa mengubahnya. Yang ia akan lakukan adalah bagaimana membuat masa depan Dul lebih baik. Memenuhi ingatan-ingatan bocah laki-laki itu dengan ingatan baik.
Dan sekarang, Bara harus kembali harus mempertimbangkan soal berita yang baru saja diterimanya.
“Ra, kamu tau kan hasil sidang Fredy 18 tahun penjara? Kamu udah denger dari AKBP Heryadi lanjutan kasusnya? Fredy mengendalikan narkoba dari dalam penjara. Dia mengorganisasi penyeludupan ekstasi dari Cina. Gak nanggung-nanggung, lebih dari satu juta pil. Ancamannya hukuman mati. Hampir bisa dipastikan hukuman mati. Gila gak tuh?”
Bara tak mengerti apa yang harus dilakukannya. Memiliki seorang ayah narapidana saja sudah cukup berat untuk hidup di tengah masyarakat. Stigma negatif pasti melekat erat. Bagaimana jika ada yang tahu kalau ayah kandung Dul adalah narapidana terhukum mati?
Bara perlu bantuan ayahnya sekali lagi. Apa yang harus dilakukannya. Diam saja, atau mengatakannya pada Dijah? Apakah Dul mengingat Fredy di dalam ingatannya? Selama menikah dengan Dijah, tak sekalipun ia berani mengatakan pada istrinya itu bahwa selama ini dia masih mendatangi sidang-sidang Fredy.
Pilihan menjauhkan Dul dari ayah kandungnya berada dalam urutan teratas yang pasti akan dilakukannya. Tapi bagaimana jika Fredy benar dijatuhi hukuman mati? Apakah sebagai ayah, Fredy tak ingin melihat Dul untuk terakhir kali? Jiwa kebapakan Bara muncul menerornya. Berandai-andai ia tak bisa melihat anak kandungnya untuk terakhir kali adalah hal yang sangat menyakitkan.
“Yah... Lagi apa? Aku boleh minta tolong?” tanya Bara sore itu pada Pak Wirya setelah usai berbicara dengan Heru.
“Ayah masih di kantor. Baru selesai pelatihan konselor baru. Ada apa Ra? Nada suara kamu kayaknya penting.” Nada tenang tiap ucapan Pak Wirya tak pernah bisa membuat Bara berbohong atau menyembunyikan sesuatu. Ia tak pernah dipaksa berbicara. Semua hal yang dikatakannya keluar begitu saja. Dalam penjelasan garis besar saja, pria tua itu tahu apa maksud anak sulungnya.
“Nanti malam antar Dul ke rumah. Akhir Minggu ayah dan ibu nggak ke mana-mana. Sukma juga nginep di rumah mertuanya.”
Tak perlu diminta dua kali untuk Bara langsung mengiyakan perkataan ayahnya. Malam itu ia sudah membawa Dul dan meninggalkan bocah laki-laki itu di rumah orangtuanya.
Hampir pukul 11 malam waktu Bara tiba kembali di rumah sakit.
*****
“Udah makan?” tanya Pak Wirya pada Dul di sofa ruang keluarga.
“Udah, makan sama Mbok Jum di rumah.” Dul masih mendekap kotak mainannya.
“Itu mainannya mau dibantu susun nggak?” tanya Pak Wirya menunjuk kotak mainan dalam dekapan Dul.
__ADS_1
Dul seperti tersadar kemudian menunduk menatap benda dalam dekapannya dan mengangguk.
“Ini kalau disusun bentuknya jadi helikopter. Tapi pasti nyusunnya lama...” gumam Dul menarik ujung isolasi yang masih menempel pada penutup kardus mainan.
“Kalau nyusunnya sama-sama pasti sebentar,” sahut Pak Wirya.
“Tapi kalau cepat-cepat selesainya, mainannya habis.”
“Ya beli lagi. Ini siapa yang belikan?” tanya Pak Wirya menatap wajah Dul yang menunduk membuka kemasan mainan.
“Ayah,” jawabnya.
“Dari ayah rupanya. Ya nanti kalau habis minta beli lagi,” ucap Pak Wirya.
“Jangan sering-sering. Kata ibu, ayah pulang malem terus cari uang.” Dul telah berhasil membuka kotak dan mengeluarkan plastik berisi kepingan-kepingan balok kecil yang akan disusun. “Ini contoh gambar helikopternya. Ini caranya Kung....” Dul menyodorkan selembar kertas petunjuk pada Pak Wirya.
“Wah mainannya sudah begini ternyata. Dulu ayah kamu mainannya nggak ada begini-begini.” Pak Wirya menurunkan kacamatanya untuk menatap kertas itu lebih dekat.
Terdengar suara pintu dibuka dan ditutup. Langkah Bu Yanti langsung menuju ruang keluarga dan muncul berdiri di belakang sofa tak berapa lama kemudian.
“Udah malem Yah, jangan main itu sekarang. Anak kecil harus tidur cepet,” ucap Bu Yanti pada Pak Wirya yang mendongak menatap istrinya.
“Pertumbuhan anak-anak sewaktu tidur. Nggak boleh tidur larut malem,” ucap Bu Yanti. “Sudah cuci kaki? Sebentar lagi tidur,” tanya Bu Yanti pada Dul.
“Belum Uti. Aku cuci kaki dulu,” kata Dul kemudian berdiri dan berlari kecil menuju kamar mandi di ruang makan. Bu Yanti berjalan mengikuti bocah laki-laki itu. Pak Wirya hanya mengiringi istrinya dengan tatapan.
Tak lama Dul telah tiba kembali duduk di sofa seperti menunggu sesuatu. Kakinya terjulur rapi dan bocah itu memandangi kuku-kuku tangannya. Dul mengangkat satu kakinya dan mengusap telapak kakinya itu berkali-kali.
“Kenapa?” tanya Pak Wirya. “Uti mana?” Pak Wirya menoleh mencari istrinya.
“Uti ngambil jepitan kuku. Kata Uti kukuku udah panjang kayak elang.” Dul kembali menatap kuku-kukunya. Pak Wirya meringis.
Bu Yanti muncul dengan sekotak peralatan manicure sederhana yang dimilikinya. Pak Wirya kembali menunduk untuk menekuni gambar contoh helikopter yang akan dirakit.
“Ibu Dul sudah berapa lama di rumah sakit?” tanya Bu Yanti ketika telah duduk di sebelah kanan Dul.
Dul mendongak berpikir. “Udah lama. Mungkin 6 hari.” Tatapannya mengarah pada Bu Yanti yang sedang meneliti jemarinya.
__ADS_1
“Pantes ini kukunya udah panjang. Bara juga nggak merhatiin,” sungut Bu Yanti pelan yang jelas terdengar ke telinga Pak Wirya. Lelaki tua itu hanya diam mendengarkan perkataan istrinya. “Kukunya harus selalu bersih. Kalau panjang sedikit, langsung minta digunting ya...” ucap Bu Yanti mulai menjepit kuku Dul di atas pangkuannya dengan beralaskan selembar tisu.
“Iya. Nanti aku ngomong kalau kukunya udah panjang. Sekarang ibu sakit. Ayah sibuk.” Mata Dul tak lepas memandang kelincahan tangan Bu Yanti membersihkan kukunya.
“Madunya udah dibeli?” tanya Bu Yanti.
“Udah. Ayah yang beli.”
“Jadi selama nggak ada ibu mainnya sama siapa di rumah?” tanya Bu Yanti melirik wajah Dul yang sedang memperhatikan kuku jarinya.
“Sama Mbok Jum. Sendirian aja main di kamar. Belum masuk sekolah. Kata ayah, bulan depan aku sudah SD.”
“Hmmm... ayah. Siapa nama ayahnya?” tanya Bu Yanti meneliti wajah Dul.
“Ayah Bara,” jawab Dul.
“Kalau ini siapa?” tanya Bu Yanti mendongak menatap Dul seraya memegang dadanya.
“Uti. Ibunya ayah.”
“Hmmm... Kalau itu? Yang lagi pura-pura sibuk belajar merakit mainan siapa?” tanya Bu Yanti lagi.
Pak Wirya setengah tertawa menoleh istrinya.
“Itu Akung. Ayahnya ayah bara.” Dul ikut menoleh ke sebelah kirinya memandang Pak Wirya.
“Nah, kalau kamu siapa?” tanya Bu Yanti.
“Dul, anak ayah.” Dul menjawab sambil meletakkan tangan kirinya ke pangkuan Bu Yanti menggantikan jemari tangan kanan yang telah selesai dibersihkan.
“Wah... Hebat Bara...” gumam Bu Yanti. “Anak ayah ternyata.”
“Kamu juga hebat Bu... Kalau kamu nggak hebat, Dul nggak akan ngomong gitu. Bara hebat, karena punya ibu yang hebat.” Pak Wirya kembali meneliti lembaran kertas yang sejak tadi dipegangnya.
Bu Yanti mencibir sambil meneruskan menggunting kuku kaki Dul.
To Be Continued.....
__ADS_1
Bab 127 ini langsung dilanjut ke 128
jangan kelewatan likenya ya... :*