
“Ngomong apa?” tanya Bara saat menerima kembali ponselnya dari tangan Dijah..
“Anak kandang ayam besok mau ke rumah, boleh ‘kan Mas?” Dijah menatap suaminya.
“Ya boleh, kita malem ini nginep di sini ya... Ayah yang minta. Kayaknya masih mau main sama Dul,” ucap Bara.
“Mas bantu aku liatin Dul, kuatir ngerepotin orang. Kasi tau kamar mandinya di mana,” ujar Dijah dengan raut khawatir.
“Iya—iya, ibunya gak usah khawatir. Lagian Dul udah mandiri. Cepet deket dengan orang. Dia langsung bisa manggil pake ‘akung’. Padahal baru aku ajari tadi.” Bara nyengir masih membelai kepala Dijah.
“Aku juga nggak enak kalo lama-lama di sini Mas... Bukan nggak mau. Tapi aku lagi nggak bisa apa-apa malah risih sendiri. Tiduran terus kayak orang males.” Dijah berbicara sambil mengusap-usap lengan suaminya. “Ya udah Mas lanjutin makannya dulu. Aku mau tidur—”
Dijah tiba-tiba terdiam mengernyit. Perutnya terasa diaduk dan sensasi asam menyentuh pangkal kerongkongannya. Ia menepuk-nepuk tangan Bara kemudian buru-buru bangkit dengan limbung.
“Mau muntah? Ya ampun—” Bara menggandeng Dijah yang berlari menuju kamar mandi di sudut kiri.
“Hueeekkk” Dijah memuntahkan sedikit makanan yang tadi masuk ke perutnya segera setelag Bara membuka closet.
Beberapa saat lamanya Dijah menunduk di atas closet untuk mengeluarkan seluruh isi perutnya. Setelah menegakkan tubuhnya, ia memandang Bara dengan mata yang masih berair.
“Ya ampun Jah,” gumam Bara menyalakan kran wastafel dan membasuh mulut istrinya. “Aku jadi nggak tega gini. Perut kamu kosong lagi. Mau aku ambilin makan?” tanya Bara menarik beberapa lembar tisu dan menyeka mulut Dijah. Wanita itu langsung menggeleng sembari mendekap tisu ke mulutnya.
“Aku tidur aja. Kepalaku udah pusing dan berat,” jawab Dijah. Bara membiarkan istrinya kembali ke ranjang. Sedangkan dia menuju dispenser dan mengisi gelas kertas dengan air putih.
“Ya udah tidur, tapi minum dulu.” Bara menyodorkan air putih ke bibir istrinya. “Abisin... Entar kurang cairan malah makin lemes,” tambah Bara.
Bara meninggalkan Dijah yang bergelung di ranjang kamarnya.
*****
“Gimana? Yang tadi udah bener?” tanya Fifi saat Heru menghampirinya di teras belakang rumah. Ia menoleh ke arah kaca besar tertutup vitrase putih di balik kursinya.
“Udah, bener. Makin paham ‘kan gimana Bara?” tanya Heru saat duduk di sebelah istrinya.
“Nggak enakan. Tapi aku ngerti sih, apalagi Bu Lek deket sama si Joana itu. Bara pasti khawatir dianggap berlebihan kalau bicara yang enggak-enggak. Khawatir dianggap lebay ngebelain istrinya.”
“Iya, satu lagi. Bara khawatir istrinya dianggap kompor, kalo sampe dia harus ngomong langsung ke Joana. Bara mau semuanya baik di mata masing-masing orang.” Heru mengambil cangkir kopi dari tangan Fifi.
“Eh kita jadi ngomongin Bara di rumahnya sendiri,” ucap Fifi menoleh suaminya.
“Iya—iya, udah tau kalo aku bakal diomongin.” Bara datang bergabung dengan mereka.
“Gak lanjut makan lagi?” tanya Heru. “Nasi kamu tadi gak habis.”
“Udah kenyang Mas, liat Dijah muntah terus.” Bara menggeser kursi di sebelah Fifi menjadi ke sebelah Heru dan duduk di sana.
“Muntah terus?” tanya Fifi mengangkat alisnya. Bara mengangguk. “Siap-siap kamu. Bisa keluar masuk rumah sakit istri kamu nanti.”
“Masa sih separah itu?” tanya Bara dengan raut sedikit tak percaya.
“Mas... Tolong Mas aja yang kasi gambaran ke calon bapak satu ini.” Fifi tertawa kecil melihat raut wajah polos Bara yang memandang ia dan suaminya bergantian.
“Masa kamu nggak inget sih waktu Fifi hamil aku jarang masuk kantor? Wah kalo inget itu capek,” ucap Heru. “Tapi kalo gak gitu, gak ada Tirta. Nunggunya lama,” tambah Heru memijat-mijat lengan Fifi seraya tersenyum.
“Iya Ra, kita nunggunya empat tahun. Karena endometriosis-ku parah. Kalian belum dua bulan nikah udah langsung isi. Disyukuri dan dinikmati aja. Perasaan ibu hamil harus dijaga. Jangan sampe ada cewek lain yang dateng ke rumah. Meski alasannya jelas, namanya perempuan pasti sensitif. Apalagi keadaannya juga lagi hamil dan mabuk parah.” Fifi mengatupkan mulutnya menahan senyum.
__ADS_1
“Makanya minta bantuan...” Bara tergelak mengetahui Fifi yang sedang mengolok-oloknya.
“Liat sendiri kan? Pesona Kang Mas Bara yang cuek ke perempuan malah lebih bikin penasaran ketimbang aku,” tukas Heru.
“Kang Mas Heru juga bikin penasaran. Dulu berhasil meyakinkan aku kalo pacaran seumuran itu juga bisa langgeng,” kata Fifi menoleh suaminya.
“Meyakinkan seorang Fifi Mochtar yang idealis tingkat tinggi itu adalah sebuah tantangan terbesar,” ucap Heru.
“Perempuan yang sulit ditaklukkan itu keliatan lebih menantang ‘kan?” Fifi menaikkan alisnya menoleh Heru. Bara ikut tertawa karena merasa ucapan Fifi barusan benar adanya. Dijah tidak akan hamil anaknya kalau saja wanita itu yang lebih dulu mengejar cintanya.
“Kalo ngomongnya udah kayak gini, aku gak bisa lama-lama ya Ra... Bakal pulang cepet.” Heru tertawa memandang istrinya yang mencibir.
“Ya udah sana! Hush—hush...” usir Bara tertawa.
“Udah habis perlunya ke kita dia jadi begini.” Heru berdecak menggelengkan kepala memandang Bara.
*****
“Anaknya Dijah tidur di mana?” tanya Bu Yanti pada Pak Wirya yang malam itu baru masuk ke kamar.
“Namanya Dul Bu... Nggak enak didenger kalau nyebutnya gitu,” tegur Pak Wirya pada istrinya.
“Iya namanya Dul. Tapi kan bener, dia anaknya Dijah.” Bu Yanti yang sedang membaca buku mengangkat pandangannya menoleh pada sang suami.
“Sekarang anaknya Bara juga. Jangan sampe kita nyebutnya gitu. Bara juga pasti nggak enak dengernya,” sahut Pak Wirya menuju ke kamar mandi.
Bu Yanti hanya diam kembali memandang bukunya. Belum terbiasa, pikirnya. Ia belum terbiasa menyebut bocah laki-laki itu sebagai anak Bara.
“Sudah minum obat?” tanya Bu Yanti. Pak Wirya memang sudah mengkonsumsi obat kolesterol secara rutin.
“Udah,” jawab Pak Wirya. “Sebentar lagi cucu kita nambah,” ucap Pak Wirya kembali memulai topik soal kehamilan Dijah.
“Iya, Bara bakal jadi bapak. Kita makin tua,” ucap Bu Yanti.
“Dul itu—baik. Penurut. Tapi tatapannya sedikit ada rasa cemas. Dia suka kehidupannya bersama Bara. Mungkin Bara memperlakukannya dengan sangat baik. Liat bagaimana Dul mencerna semua yang dikatakan Bara dengan benar. Anak itu takut ditinggalkan Bu. Dia khawatir kalau nggak nurut, dia bakal ditinggalin Bara. Takut ditinggalin ibunya. Kasian,” ucap Pak Wirya lagi.
“Kayak anak kecil dengan mainannya?” tanya Bu Yanti.
“Perumpamaannya lebih tepat kayak kita yang ngelarang Bara dengan motor besarnya. Sebisa mungkin dia hati-hati saat berkendara agar nggak kecelakaan. Karena kalau dia terluka, kita marah dan ambil kembali kesenangannya. Semua manusia harusnya begitu. Kalau sudah menerima hal yang diinginkan, harusnya pasti dijaga dengan baik. Dan Dul sedang melakukannya. Tapi mengingat dia masih kecil, ayah kasihan. Pasti buat Dul, keluarga lengkap itu mahal.” Pak Wirya masih memegang buku di atas pangkuannya. Pria tua itu kemudian menarik nafas.
“Sudah tidur anaknya?” tanya Bu Yanti menoleh suaminya.
“Sudah. Di kamar Sukma. Bara beli puzzle kayaknya untuk menyibukkan Dul.” Pak Wirya tertawa. “Puzzle besarnya segitu, kalau Dul sendirian yang ngerjain, bisa sampe sebulan. Itu ayah bantu biar Bara kaget,” ucap Pak Wirya.
“Nggak nanyain ibunya?” tanya Bu Yanti.
“Nggak, kayaknya ngerti ibunya sakit. Dul suka kita semua Bu. Tiap ditanya apa-apa, jawabnya mikir dulu. Anak sekecil itu, sudah penuh pertimbangan. Semoga nanti dia bisa percaya Bara sepenuhnya. Ayah juga sudah dipanggil Akung. Pinter Dul itu,” ujar Pak Wirya dengan nada puas.
“Semoga nanti rasa sayangnya ke Bara bisa sama besar kayak ke ibunya,” ucap Bu Yanti.
“Pasti, itu pasti. Dul juga pasti tau kalau Bara juga sayang dia. Hati anak-anak lebih murni menilai kebaikan dan perhatian yang diterimanya. Polos tanpa paksaan. Bagi Dul nantinya, Bara bukan hanya seorang ayah. Tapi juga seorang teman dekat.”
Bu Yanti diam. Ia sedang mengingat bagaimana di meja makan tadi Dul memungut sebutir nasi yang jatuh keluar piring. Bocah itu memang sangat hati-hati, seolah takut merepotkan tuan rumah yang dikunjunginya.
__ADS_1
“Kasihan,” gumam Bu Yanti.
“Iya Bu... Kasihan. Ditambah dia sekarang harus mengerti ibunya yang sedang sakit karena ayah sambungnya. Anak kamu Bu.”
*****
“Gimana? Masih mual?” Bara meletakkan piring berisi sedikit nasi ke atas meja nakas.
“Mual banget ini... Ya ampuuun...” rengek Dijah mengusap-usap perutnya. “Nggak pernah ngerasain kayak gini.” Dijah kembali menghempaskan kepalanya ke bantal.
“Aku balur minyak angin aja,” ujar Bara bangkit menuju meja laci bertingkat yang terbuat dari kayu. “Kok nggak ada ya?” gumam Bara sendirian. “Aku minta minyak angin ke ibu dulu ya...” Bara kemudian meninggalkan kamarnya menuju ke lantai satu.
Hampir tengah malam ia mengetuk kamar orangtuanya dan menerima sebotol minyak angin dari Bu Yanti yang baru saja tertidur.
“Masih muntah terus?” tanya Bu Yanti pada Bara.
“Masih Bu... Gimana itu? Makan dikit muntah, perutnya pasti kosong. Anak Mas di dalem gimana...” Bara setengah merengek menatap ibunya di balik pintu.
“Kalau muntah, langsung makan diisi lagi. Dikasi cemilan-cemilan. Buah juga nggak apa-apa. Tanya mau makan apa. Itu dibalur minyak angin dulu sana!” ujar Bu Yanti.
“Kalo muntah terus gimana?” tanya Bara lagi.
“Bawa ke rumah sakit Mas... Biar Mas juga tau nggak semua hamil itu ngidamnya gemesin. Udah sana! Semua kan karena Mas juga. Dinikmati, jangan ngeluh.” Bu Yanti kemudian menutup pintu kamarnya.
Sudah tengah malam dan Dijah yang tidur sepanjang sore itu belum mengantuk. Perutnya kembali bergolak. Bara telah menampung muntahan Dijah dalam plastik-plastik kresek. Wajahnya sudah lelah. Ia sama sekali tak menyangka kalau awal kehamilan istrinya bisa separah itu. Saat Dijah sedikit tenang, ia mulai mencari informasi. Hiperemesis. Wajahnya seketika muram saat membaca informasi soal mual muntah berlebihan yang dialami selama masa awal kehamilan. Semoga saja tidak berlangsung lama pikirnya.
“Aku balur sekarang?” tanya Bara.
“Lepasin ini Mas...” pinta Dijah membalikkan tubuhnya. Ia meminta Bara melepaskan pengait branya yang dirasanya membuat sesak. Dijah berbaring mengenakan sebuah sarung batik yang menutupi sebagian tubuhnya.
“Ya ampun Jah...” gumam Bara menatap Dijah yang menutup tubuhnya asal-asalan. Wanita itu seperti tak peduli lagi dengan penampakannya.
Rasanya baru kemarin Bara dilempar dengan sebotol deodoran karena tak sengaja melihat Dijah dengan bra di kamar kos-kosannya. Malam itu Dijah berbaring hanya dengan pakaian dalam dan selembar sarung menutup bagian atas tubuhnya.
“Balur sekarang,” ucap Dijah menatap suaminya dengan wajah layu. Ia kemudian berbaring miring memeluk paha Bara yang duduk bersila di sebelahnya.
“Kasian istriku...” gumam Bara mulai membalur tubuh istrinya. “Lama-lama aku gelisah juga kalo kamu tidur gak pake baju kayak gini,” ucap Bara mengusap dada istrinya.
“Mas kemarin udah dua kali, jangan macem-macem.” Dijah mengingatkan.
“Iya... Tapi aku gemes ini...” bisik Bara mengusap puncak dada istrinya.
“Mas... Ckk!” Dijah berdecak.
“Iya—iya... Pegang aja kok," jawab Bara tersenyum jahil melihat wajah kesal Dijah.
To Be Continued.....
Hari Jumat, jangan lupa bermurah hati dengan likenya.
__ADS_1