PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
63. Serba Salah


__ADS_3

Setelah Dijah mengakhiri pembicaraan mereka, Bara merasa semakin tak enak hati. Dijah sepertinya kesal tak mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya. Bara sadar rasa kesal Dijah juga bermuara pada rasa keinginan untuk bertemu.


Bara yang hilir mudik di kamarnya sewaktu bertelepon tadi sebenarnya tak kalah kesal. Kemarahan itu harusnya berujung pada Fredy.


Lututnya masih terasa nyeri jika dibengkokkan atau diluruskan secara tiba-tiba. Lukanya itu memang sedang dalam tahap mengering. Tapi kulit lututnya yang meregang mendadak karena ia bergerak terlalu aktif sering membuatnya meringis.


Setelah makan malam, Bara segera kembali ke kamarnya dengan berjalan santai. Ia tahu kalau bu Yanti sedang memandang dari balik tubuhnya. Bara harus berjalan tegap beberapa saat. Setibanya di lantai dua, Bara kembali terpincang-pincang berjalan masuk ke kamarnya.


Dijah merajuk, pikirnya. Semakin lama didiamkan dan tak ditemui, bisa-bisa Dijah akan kembali bersikap dingin padanya.


Bara membuka lemari pakaian dan memilih salah satu celana berbahan paling lembut. Beberapa saat kemudian Bara mematut tubuhnya di depan cermin. Ia mengenakan celana berwarna coklat muda dan kemeja lengan panjang berwarna hitam yang dibiarkannya tak digulung.


Pukul 9 malam, Bara berjingkat-jingkat menuruni tangga untuk meminimalisir gesekan pada lututnya. Setelah menoleh kanan-kiri dan dirasanya aman, Bara ke ruang televisi untuk mengambil kunci mobil.


"Hufft..." gumam Bara. Ia hanya perlu tiba di dalam mobil secepatnya agar bu Yanti tak bertanya macam-macam.


"Mau ke mana?" Suara bu Yanti tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Langkah kaki Bara baru selangkah melewati ambang pintu.


"Mau ke rumah temen," sahut Bara menoleh ke belakang.


"Masih sakit, 'kan? Istirahat dulu Ra. Ga enak kalau Heru tau kamu kelayapan padahal gak ngantor," tukas bu Yanti lagi.


"Gak lama kok Bu, cuma ketemu temen aja. Aku pergi dulu ya..." Bara kembali menegakkan tubuhnya untuk berjalan lebih tegap.


"Susah banget dikasi tau orang tua. Ngakunya gak apa-apa. Motornya aja ringsek," omel bu Yanti. Sepertinya wanita itu telah menemukan lawan bicaranya di dalam rumah karena tak berapa lama kemudian terdengar Pak Wirya menjawab, "Mungkin bosen di rumah terus."


Bara tak kesulitan mengendarai mobil. Sekarang yang ia pikirkan adalah bagaimana agar Dijah tak memperhatikan punggung tangan kirinya yang masih terluka. Ia biasa turun dari mobil untuk mengantarkan kekasihnya itu sampai ke dalam kamar.


Walau dipenuhi dengan rasa was-was, Bara melajukan mobilnya ke salah satu kampus swasta yang disebutkan Dijah di telepon tadi.


Sekitar hampir satu jam Bara mengitari jajaran pertokoan dan warung kopi yang terletak di belakang kampus itu.


Matanya menangkap beberapa SPG berbaju merah yang sedang keluar dari salah satu cafe. Tak ada penampakan Dijah, Tini yang biasa mudah dikenali karena warna rambut apinya kini juga susah dicari.


Sembari melajukan mobilnya, Bara mencoba melakukan panggilan ke ponsel Dijah. Tak ada sahutan. Mungkin Dijah sedang sibuk menghabiskan jatah dagangannya hari itu, pikir Bara. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali memutari jajaran pertokoan itu.


Dan sesosok wanita yang sangat ingin ditemuinya sepanjang minggu itu baru saja keluar dari sebuah cafe seorang diri.


Dijah masih mengenakan seragamnya. Kaki wanita itu masih terbungkus stocking hitam dan sepasang sepatu tinggi. Blus seragam ketat yang sering diprotes oleh Bara, ditutupi Dijah dengan sebuah jaket besar yang terjulur sampai melewati rok pendeknya.


Bara menghentikan mobil tak jauh dari Dijah yang sedang menunduk mengecek ponselnya. Ia kembali menghubungi nomor Dijah. Tak perlu menunggu lama, Dijah menjawab panggilannya.


"Udah pulang kerja?"

__ADS_1


"Udah..."


"Capek ya?"


"Sedikit," jawab Dijah. Mata Bara tak lepas memandang Dijah yang terlihat semakin menunduk.


Bara memandang wanita yang sedang mengenakan jaketnya itu dengan penuh kerinduan. "Kangen aku juga?" tanya Bara.


Bara melihat Dijah membenarkan letak jaket yang dikenakannya. "Kangen banget..." jawaban Dijah sedikit tercekat. Bara merasa bahwa nada suara Dijah terdengar berbeda.


Ia melihat Dijah semakin menunduk kemudian cepat-cepat mengusap pipinya. Dijah menangis, pikir Bara. Kerinduan karena tak bisa bertemu selalu bisa menghadirkan gelisah dan berujung pada perselisihan.


"Nangis karena kangen itu normal kok Jah... Artinya kamu bener-bener sayang aku," ucap Bara akhirnya.


Dengan perlahan Bara melajukan mobil sampai pintu kendaraan itu sejajar dengan Dijah. Dengan satu tombol, ia menekan agar kaca jendela penumpang turun seluruhnya dan Dijah bisa melihat kedatangannya.


Masih dengan ponsel di telinganya, Dijah memandang Bara dengan tatapan rindu dan kesal. Dan perpaduan dari kedua perasaan itu, menyiratkan bahwa air matanya bisa tumpah kapan saja.


Melihat raut wajah Dijah, Bara melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil dengan perlahan. Ia menegakkan gaya berjalannya dan meraih pundak Dijah untuk dibawanya ke kursi depan.


"Udah lama selesainya?" tanya Bara ketika mereka telah berada di dalam mobil. Kaca mobilnya sangat gelap. Bara merasa aman Dijah tak akan memperhatikan banyaknya luka lecet di tangan yang sejak tadi ia rentangkan di belakang punggung kekasihnya.


"Ke mana aja?" tanya Dijah pelan menatap wajah Bara.


"Gak mungkin tiba-tiba. Kamu udah bilang mau dateng," tukas Dijah.


"Ya ampun, udah cerita minggu lalu masih dibahas. Aku emang ke luar kota Dijah sayang... Dijah sekarang udah bisa nangis karena kangen."


Dijah menunduk memandang jari-jarinya.


"Aku khawatir..." gumam Dijah. "Perasaanku nggak enak," sambung Dijah lagi.


"Sini peluk aku," kata Bara meraih tubuh Dijah ke dalam pelukannya. Pertahanan Dijah runtuh. Ia menangis menumpahkan kekesalan dan kekhawatirannya dalam isak lirih di pelukan Bara.


Bara menyapu dan membelai kepala Dijah dengan tangan kirinya yang penuh luka.


"Maaf..." bisik Bara di telinga kekasihnya. "Maaf udah buat kamu khawatir."


Bara kemudian mengangkat kepala Dijah dan menangkup pipi tembam wanita itu. "Jangan nangis lagi..." Bara kemudian menunduk untuk mencium bibir Dijah yang dirindukannya.


Ciuman Bara malam itu begitu lembut dan perlahan. Ciuman mereka malam itu terasa asin karena bercampur dengan air mata Dijah. Pelan namun semakin hangat, ciuman itu saling menyambut.


Segala kerinduan itu hanya bisa terpecahkan dengan sebuah pertemuan.

__ADS_1


Tangan Dijah bergerak menelusuri leher dan turun untuk mencengkeram bagian depan kemeja Bara. Sedikit meringis karena merasakan tangan Dijah menekan rusuk kirinya yang masih membiru, Bara meraih tangan kekasihnya untuk digenggam.


Walau menahan sedikit rasa denyut karena sentuhan tangan Dijah yang berpindah-pindah, tangan Bara yang kian terlatih dan mengenali daerah kekuasaannya mulai meremas pelan dada kekasihnya.


Keadaan di dalam mobil begitu senyap. Yang terdengar hanyalah suara desahan nafas mereka yang saling bersahutan. Tanpa Bara sadari, tangan Dijah kembali terlepas dari genggaman dan mulai menyusuri paha kirinya yang terbalut sempurna oleh celana chinos cokelat muda.


Tangan Kanan Bara masih memijat lembut Dada Dijah sambil mencari puncaknya dari balik kemeja.


Tiba-tiba,


"Awww!!!" pekik Bara saat belaian Dijah di pahanya semakin turun dan menyentuh lutut kirinya.


Dijah membuka matanya.


"Kenapa?" tanya Dijah heran melihat wajah Bara meringis. Pandangannya turun ke arah lutut yang barusan dipegangnya.


"Enggak, gak apa-apa," sahut Bara cepat.


"Ini sakit?" Dijah menekan pelan lutut kiri Bara.


"Awww!! Sakit Jah..." Bara meraih tangan Dijah dan mencium telapak tangan wanita itu.


"Kamu kenapa?" tanya Dijah. "Ini luka kenapa? Ini luka 'kan?" tanya Dijah.


"Gak apa-apa Dijah..." jawab Bara.


"Ini juga luka!" sergah Dijah gantian meraih tangan kiri Bara dan melihat punggung tangan yang baru saja membelai wajahnya itu.


"Luka lecet naik motor kemarin," jawab Bara memberanikan diri menatap wajah kekasihnya.


"Kamu gak dari luar kota, 'kan? Aku denger kamu nyebut nama Bayu di telfon waktu dia baru dari tempatku nganter sepatu." Dijah menatap mata Bara lekat-lekat. Mencoba mencari sorot kejujuran di sana.


"Gak ada kok, mungkin kamu salah denger. Aku sering keceplosan manggil dia karena dia sering deket aku." Bara kemudian diam menatap jemarinya yang berada di atas setir.


"Pasti bohong..." gumam Dijah.


"Aku kecelakaan motor Jah..." jawab Bara tak sanggup lagi menahan tatapan Dijah yamg seakan menusuknya.


To Be Continued.....


Jangan lupa like ya sayang2ku...


mmuaaahhhh :*

__ADS_1


__ADS_2