PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
43. Pulang Pagi


__ADS_3

Dijah telah berdiri mengenakan dasternya tanpa dalaman sama sekali. Ia tak sempat berlama-lama, yang penting tubuhnya sudah tertutup saat mereka berdua berbicara dalam keadaan waras saat itu.


"Jah, ini..." Bara memegang pakaian dalamnya yang telah basah kuyup oleh kehangatan dari Bara tadi.


Sedikit terperanjat, Dijah mendekati Bara dan merampas benda itu darinya.


"Ngapain di pegang-pegang?" Dijah mendelik malu karena penutup inti tubuhnya itu dipegang dengan mimik wajah Bara yang sedang merona.


"Buang aja Jah..."


"Hah?" Dijah melotot. "Jadi mau makan?" tanyanya kemudian.


"Kamu nggak mandi?" Bara balik bertanya. Ia hapal kebiasaan Dijah yang selalu mencuci rambutnya sepulang kerja selarut apapun.


"Udah malem..." sahut Dijah. Bara yang mendengar tahu kalau itu hanya sebuah alasan.


"Aku temenin ke luar. Tini pasti udah tidur," ucap Bara.


Sebenarnya Dijah bisa bersikap seperti biasa saja. Toh Bara berada di kamarnya bukan pertama kali. Tapi karena sebelum-sebelumnya mereka tidak melakukan hal sampai seperti yang mereka lakukan barusan, perasaan Dijah menjadi sungkan dengan sendirinya.


Akhirnya Dijah mengangguk dan mengambil pakaian serta handuknya menuju kamar mandi. Bara berjingkat-jingkat di belakangnya mengenakan sneakers yang diinjaknya setengah.


Kamar mandi itu persis terletak di pojok deretan kamar Dijah. Ada dua kamar mandi yang letaknya bersisian di sebelah kanan. Pada bagian kiri kamar mandi itu sebuah halaman dan dapur terbuka yang bisa digunakan para penghuni kamar lantai satu secara bergantian.


Bara bersandar di dinding penyekat antara kedua pintu kamar mandi menunggui Dijah. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Untungnya Bu Yanti tadi tidak berpesan bahwa Bara harus pulang malam itu.


Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Dijah keluar dengan wajah segar. Dalam diam mereka beriringan kembali ke kamar Dijah. Dan sesampainya di depan pintu kamar, Bara melepaskan handuk yang berada di kepala wanita itu.


"Kamu masuk duluan, masakin sesuatu ya... Aku ke kamar mandi dulu. Pinjem handuknya," tukas Bara kemudian berlalu dari hadapan Dijah.


Dijah meringis. Harusnya Bara bilang kalau ia juga mau ke kamar mandi. Dijah bisa memberikan handuk baru yang berada di dalam lemari. Bukannya malah handuk yang bekas dipakainya. Ia semakin meringis saat mengingat handuk itu sudah disapukannya ke bagian mana saja di tubuhnya.


Dijah menjepit rambut basahnya dan mulai menyiapkan tiga bungkus mi yang tersimpan di dalam kardus. Bara kelihatannya memang penuh perencanaan, sekardus mi yang dibawanya untuk Dijah sekarang malah dikonsumsinya teratur di kamar itu.


Saat mi mulai mendidih di dalam panci kecil, Bara masuk ke kamar. Dijah berdiri menghampirinya dengan pandangan menyelidik.


"Harusnya pakai handuk baru aja, kenapa ambil yang bekas aku pakai." Dijah mengambil handuk dari tangan Bara. Sekilas ia melihat wajah pria itu sudah segar. Sepertinya Bara juga mencuci wajahnya. Aduh, pikir Dijah sedikit menggeleng.


"Kenapa emangnya? Kan nggak apa-apa," jawab Bara polos.


"Iya, gak apa-apa. Ya udah," jawab Dijah meringis. Tak lama Dijah telah meletakkan dua piring dan mulai membagi mie dengan porsi 2 : 1.


"Tadi bawain apa untuk Dul?" tanya Bara di sela-sela makan mereka.


"Bawa martabak manis, sate juga. Aku baru dapet fee minggu lalu," jawab Dijah.


"Kontraknya masih lanjut?" tanya Bara.


"Kontrak kerja? Ya masih, kan satu bulan dulu. Kayaknya memang sesuai kebutuhan mereka aja. SPG lepas. Jadi kalau lagi gak butuh tenaga, ya gak ada job." Dijah menyuapkan mi ke mulutnya.


"Kalo jenguk Dul, bareng aku aja ya lain kali. Jangan sendiri," ucap Bara melirik Dijah.


"Aku gak apa-apa sebenarnya," jawab Dijah.


"Kayak gitu bukan nggak apa-apa Dijah..." ucap Bara hati-hati. Ia khawatir jika mereka bertengkar lagi, Dijah tak akan bermanis-manis lagi dengannya.

__ADS_1


"Sekarang bapak Dul udah tau aku, kamu pasti juga dirong-rong terus. Kamu kan pacarku Jah, meski baru pacar, aku gak mau kamu disentuh laki-laki lain. Apalagi sampe kayak tadi. Aku gak mau. Pokoknya lain kali, aku harus ikut ya..." sambung Bara lagi.


Dijah mengatupkan mulutnya dan mengangguk. Bara meletakkan piringnya dan meraih kepala Dijah dan mencium kepala wanita itu sampai berdecak.


"Ini udah?" tanya Dijah mengangkat piring Bara.


"Eh belum Jah, aku belum selesai." Bara kembali meraih piringnya dan lanjut menghabiskan sisa mi. Padahal cuma jeda sebentar untuk momen mengecup kepala, tapi Dijah yang terlalu realistis sepertinya tak ikut hanyut dalam keromantisan itu.


Setelah makan mereka duduk bersisian menyandari ranjang.


"Gak pulang?" tanya Dijah pada akhirnya. Memecah kesunyian mereka sekaligus membuat jantung Bara berdegup kencang. Ia khawatir diusir oleh wanita itu.


"Aku masih kangen Jah... Masih pengen ngobrol," jawab Bara memandang wanita itu. Bara ingin sekali Dijah bergelayut manja kepadanya. Biasanya wanita-wanita lain bisa tiba-tiba manja meski hanya meminjam sebuah steples di atas meja kantornya.


"Udah izin ke rumah?" tanya Dijah.


"Aku nggak perlu izin lagi sebenernya, cuma ngasi tau kalo gak pulang. Gitu aja." Bara bangkit dan duduk di tepi ranjang.


"Harus izin, jadi gak ditungguin." Dijah mendongak menatap Bara.


"Jah, aku boleh minta sesuatu gak?" tanya Bara yang sepertinya teringat akan sesuatu.


"Apa?" tanya Dijah.


"Kalau ada aku, jangan ngomong sama Tini pake bahasa yang aku nggak ngerti. Aku berasa sedang diomongi. Aneh aja. Kalian berdua kayak lagi merencanakan sesuatu di belakangku," tukas Bara.


"Nggak ada kok," sahut Dijah meringis. Apa jadinya kalau Bara bisa mengerti apa yang dia dan Tini bicarakan.


"Jangan lagi, aku nggak suka. Ngomong biasa aja," ujar Bara sedikit cemberut.


"Tidur yuk Jah..." Bara menepuk bantal dan mengulurkan tangannya pada wanita itu. Dijah bangkit dan merebahkan dirinya. Ia memang sudah mengantuk. Terlebih tadi ia sempat merasakan kenikmatan dunia soal hubungan badan yang memang belum pernah dirasakannya.


Dan satu hal yang tak mungkin dikatakan Dijah dengan gamblang. Dan rasanya memang tak elok buat seorang wanita untuk membandingkan.


Tapi di sudut hatinya yang sangat-sangat dalam, Dijah mengakui bahwa Bara sangat menyesakkannya di bagian bawah tubuhnya tadi. Satu pengakuan yang tak mungkin diungkapkannya pada siapapun. Dan sekarang pikirannya soal Bara sedang mengembara.


Bara yang memang lelah dalam perjalanan panjang dengan cepat jatuh tertidur di sebelahnya. Dijah yang berada dalam pelukan pria itu, mengangkat wajah dan mencermati tiap senti wajah Bara.


Jemari Dijah perlahan terangkat menelusuri alis, dan turun menyentuh hidung mancung Bara. Dan perlahan punggung tangannya membelai pipi Bara. Hangat sekali pikir Dijah.


Bara yang berbaring miring menghadap Dijah, meletakkan satu tangan di sekeliling pinggang wanita itu.


Tanpa sepengetahuan Bara yang sedang tertidur, Dijah mengalungkan tangan kanannya memeluk pinggang pria itu. Dijah mengeratkan pelukannya dan mencium aroma parfum di kemeja Bara. Ia merasakan kehangatan ikut mengalir sampai ke ujung-ujung jarinya.


Dijah perlahan memejamkan mata. Dan Bara yang sudah memejamkan mata sejak tadi, tampak mengulas senyum sekilas saat Dijah merengkuhnya.


Keduanya tertidur lelap beberapa jam, Dijah yang rasanya baru tertidur sekejab dibangunkan oleh kecupan Bara di lehernya.


"Jah..." bisik Bara di telinganya.


"Hmmm..." Dijah mengerjapkan mata dan memandang jam di seberangnya. Pukul 4 pagi lebih sedikit. Bara menggeliat gelisah di sebelahnya. Tangan pria itu sudah turun ke bokongnya dan kembali meremas.


"Jah... Boleh lagi?" tanya Bara dengan suara bergetar. Sebelah kaki Bara telah menindihnya. Apa yang harus dijawabnya jika Bara bertanya hal seperti itu? Iya, boleh. Atau silakan?


Pikiran Dijah yang sebelum tidur tadi mengembara soal bagian tubuh Bara yang satu itu sekarang seperti ikut diingatkan.

__ADS_1


"Jah..." bisik Bara di sela-sela ciumannya.


"Hmmm.." Dijah hanya mendesah lirih menjawab panggilan pria itu.


Dalam hitungan menit, Bara telah melucuti pakaiannya sendiri dan sekali tarikan ke atas daster Dijah lolos melewati kepalanya.


Seketika kamar sempit itu dipenuhi aroma kehangatan Bara yang merembet luas di seprai. Dijah kembali mengerang panjang dan mencengkeram erat lengan Bara.


"Aduh Jah..." keluh Bara menggaruk kepalanya menatap efek kerusuhan yang dibuatnya di pagi buta. Ia merasa bersalah. Dalam satu malam ia seolah tak memikirkan efek empat kali klimaksnya itu.


Masih dengan kaki menekuk dan mata sendu yang baru saja tersadar dari kenikmatan yang diberikan Bara untuknya, Dijah hanya sanggup mengatakan "Ya udah, gak apa-apa."


******


"Piye? Wes rampung? (Gimana? Udah beres?)" Tini yang baru keluar dari kamar Asti menyapa Dijah yang juga baru keluar mengunci pintu kamarnya.


"Udah," jawab Dijah meringis.


"Meh ngopo? Raine mas mu wes ayem ngono? Wes mudun po tegangane? (Ngapain? Muka mas-mu udah santai gitu? udah turun tegangannya?)" Tini melirik Bara yang sedang berada di dekat jendela kamar menatap ponselnya.


"Udah," jawab Dijah lagi.


"Suk mben mas-mu mesthi nagih meneh,


ora wes-wes. (Besok-besok mas-mu pasti nagih ga udah-udah)"


"Mungkin..." sahut Dijah.


"Awakmu koq ra iso omong? Disumpel opo lambemu mau mbengi. ("Kamu juga kok gak bisa ngomong? Disumpelin apa mulutmu tadi malem?)"


"Gak ada..." jawab Dijah.


Tini mencibir pada Dijah, ia merasakan suatu hal aneh karena temannya itu tak menjawab perkataannya.


"Turu nang ndi awakmu? Kok nggowo2 bantal mbarang? (Tidur di mana kamu kok bawa-bawa bantal?)" Tiba-tiba bu Miah yang mencuci pakaian Tini datang dari halaman belakang.


"Aku minggat nggone asti, kanggo mbales budi dijah gelut wingi bu. (Aku minggat tempat Asti demi membalas jasa Dijah gelut kemaren Bu)"


Mendengar apa yang dikatakan Tini, Dijah hanya mencibir seraya memasukkan kunci kamar ke dalam tasnya.


"Kenapa? Kok pada diem-dieman?" tanya bu Miah yang menyadari kejanggalan komunikasi Tini dan Dijah yang tak seperti biasanya.


"Wes biasa bu, Dijah ki sok isinan, mas se wae gawe aku dokoh, nek aku dadi Dijah, aku rak bakal mudhun seko wetenge mas se... (Biasa Bu, Dijah sok malu-malu. Mas-nya aja bikin aku selera. Kalau aku jadi Dijah, aku nggak turun-turun dari perut mas-nya.)"


"Kalau aku nggak turun-turun, mana sempat ngasi kabar ke kamu Tin," tukas Dijah tertawa kemudian melingkarkan tangannya di lengan Bara.


Bara yang terkejut dengan sikap Dijah barusan, merasa mendapat lampu hijau. Ia melepaskan cengkeraman Dijah dan merangkul pundak wanita itu. Sambil berjalan menuju pagar, Bara mengecup kepala Dijah berkali-kali.


Tini kesal karena merasa dicueki oleh Dijah padahal semalaman ia telah mengungsi demi mendukung temannya itu. Sekarang temannya itu malah menjahilinya. Dengan sebuah batu kecil, Tini mencoba menyambit Dijah. Namun sayang Dijah telah menghilang di luar pagar.


"Dasar wedhokan gemblung. (Dasar perempuan sinting)" maki Tini kemudian.


To Be Continued.....


Dikasi yang panjang biar tahan lama.

__ADS_1


Jangan lupa sisihkan vouchernya untuk Dijah dan Bara ya...


__ADS_2