PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
116. Maafin Mas


__ADS_3

“Jah... Maaf...” bisik Bara di telinga isterinya. “Aku egois, gak dewasa.” Bara setengah menindih tubuh isterinya. Memandang wajah Dijah dengan sejelas-jelasnya. Ia tak mau Dijah kembali memalingkan wajah saat bicara dengannya.


“Mas dengerin ngomong perempuan lain ketimbang aku,” isak Dijah lagi.


“Enggak—enggak... Aku gak dengerin omongan orang lain. Maaf, pikiranku terlalu ruwet. Gampang panas. Maafin Mas sayang...” Bara menangkupkan satu tangan di pipi Dijah, sedangkan tangan kirinya menopang tubuh untuk membagi berat badannya. Aktifitasnya mencumbu Dijah seketika terhenti.


“Aku sedih Mas pulang-pulang ngomong kayak gitu. Ketemu sama perempuan itu juga nggak ngomong. Padahal Mas udah tau aku nggak suka dia. Mas nutup-nutupin gitu malah bikin aku mikir macem-macem. Mas yang ngajarin aku terbuka. Ngomong kalau ada apa aja, sekarang Mas yang kayak gini. Aku harus kayak mana. Baru sebulan lebih, tapi Mas kayak lupa sama janji Mas sendiri....” Dijah bicara panjang lebar dengan menatap wajah Bara yang berada di atasnya. Bara diam. Menyimak tiap perkataan isterinya. Ia terhenyak. Merasa tertampar dengan hal yang dikatakan Dijah disela sesegukan tangisnya.


“Ya udah. Aku minta maaf. Dijah sayang... Mas-mu minta maaf. Aku belum bisa jadi sempurna,” ucap Bara.


“Aku nggak perlu Mas yang sempurna. Aku lebih perlu Mas yang ngertiin aku. Dengerin aku, percaya aku lebih dari siapapun. Memupuk percaya diri untuk mendampingi Mas itu butuh waktu lama buatku. Tiap mau ketemu ibu Mas aku masih rikuh. Suka nggak tau mau ngomong apa. Aku takut salah. Buat Mas mungkin biasa aja, karena itu ibu Mas. Yang melahirkan Mas Bara. Mas salah juga pasti dibela. Mas anaknya. Sedangkan aku menantu. Aku perlu ngambil hati dengan kemampuan yang aku punya. Aku cuma bisa masak, ngasi lauk pauk yang kumasak sendiri. Aku juga pengen nyenengin mertua. Aku pengen dianggap udah ngerawat Mas dengan baik. Jangan ditambah lagi bawa-bawa omongan perempuan lain. Aku gak akan sanggup.” Dijah kembali menangis.


Dijah sangat mencintai Bara. Ia sudah pernah menyerah untuk tidak berharap pada laki-laki itu. Ia pergi namun dikejar. Bagi Dijah, Bara adalah orang pertama yang paling mengerti tentangnya. Bara tak sempurna. Dijah tahu kalau suaminya itu tak sempurna. Bara gampang tersulut dan gampang panik. Ia paham Bara yang tak sabaran kadang menginginkan semuanya serba instan.


Bara menarik nafas. Ingin menceritakan kegelisahannya soal Fredy pada Dijah, namun hatinya mencegah. Tak adil rasanya ia membawa-bawa Fredy dalam topik obrolan mereka. Kini Dijah isterinya. Ia mendapatkan wanita itu dengan susah payah. Meyakinkan Dijah agar mau memulai hidup baru bersamanya bukan hal yang mudah. Bara menarik turun daster Dijah yang tadi disingkapnya. Dengan jemarinya ia menghapus air mata yang berulangkali dihapus Dijah dari pipinya.


Kenapa dia bisa jadi sejahat itu, tanya Bara pada dirinya. Isterinya menangis tengah malam karena hal yang dibawanya dari luar.


“Maafin aku,” ucap Bara. “Jangan nangis lagi, maafin aku Sayang...” Bara merengkuh tubuh Dijah ke dalam pelukannya. Ia masih bertelanjang dada dan isterinya kembali menangis menumpahkan kesedihan dalam pelukannya. Bara menciumi kepala dan mengusap punggung wanita itu berkali-kali. Memberi Dijah waktu untuk memaafkannya.


“Aku sayang kamu,” ucap Bara di telinga isterinya. “Kalo udah lega, liat aku.” Bara mengangkat dagu Dijah agar menatapnya.


“Maafin Mas ya... Mas cinta kamu,” ucap Bara. “Ya udah, kalo kamu gak nyaman ketemu dengan Joana di rumah ibu nanti, kita gak usah ke sana. Kita bisa dateng hari Minggu. Atau Minggu depannya lagi, nanti aku ngomong ke ibu kalo aku ada urusan mendadak. Gak apa-apa.” Bara merapikan helai rambut di pipi Dijah.


“Aku juga cinta Mas Bara...” sahut Dijah. “Kalau aku nggak cinta, rasanya mungkin gak sesakit ini. Aku gak pernah jatuh cinta Mas... Aku gak pernah berharap dari seorang laki-laki sebelumnya. Sampe aku ketemu Mas,” sambung Dijah.


“Iya—iya... Maafin aku. Aku salah. Aku salah, aku kurang sabar. Ya udah, kita tidur. Udah dini hari. Besok aku masih ngantor. Kamu juga pasti bangun pagi masak sarapan.” Setelah mengecup dahi Dijah, ia menepuk-nepuk pelan punggung isterinya itu.


“Kita Sabtu tetap ke rumah ibu, aku gak mau kalah sama perempuan itu. Aku isteri Mas, aku yang menantu di sana. Bukan dia,” tukas Dijah mendongak menatap suaminya. Matanya masih merah sisa menangis.


“Iya, bagus kalo kamu mikirnya gitu. Kamu juga harus percaya aku. Aku gak pernah ada rasa ama dia. Dulu, aku sempat mau meyakinkan perasaan aku itu. Tapi nyatanya emang gak ada rasa. Trus aku ketemu kamu. Jadi kamu percaya aku ya....” Bara masih menepuk-nepuk pelan punggung Dijah.


“Aku cuma minta Mas sabar...” gumam Dijah sebelum matanya tertutup dan tertidur. Dia sudah terlalu lelah menangis. Bara menciumi kepala isterinya. Ia menyesal membuat Dijah menangis sampai sesegukan dan tersengal-sengal seperti tadi.

__ADS_1


Bara mengingat pertemuan pertamanya dengan Dijah. Dengan pelipis dan hidung berdarah, wanita itu bahkan tidak menangis. Saat itu Dijah hanya berjongkok dan memandang benci pada Fredy. Sorot mata takut pun tak ada. Sekarang malah dia sendiri yang membuat perempuan yang dijanjikannya kebahagiaan itu menangis tersedu-sedu. Bara menggigit bibirnya. Kini ia telah ikut menoreh luka di hati Dijah.


“Maafin aku Dijah...” lirih Bara mencium kepala isterinya yang sudah tertidur.


Pagi itu Dijah tak banyak bicara. Wajahnya lesu dan tak bersemangat. Mbok Jum sedang pergi ke simpang jalan tempat seorang tukang sayur berlama-lama dikerubuti ibu-ibu. Seringnya tukang sayur itu tiba di depan rumah mereka saat matahari sudah tinggi. Hingga mereka yang harus lebih dulu mendatangi tukang sayur itu untuk mendapat variasi dagangan yang lebih lengkap.


“Sarapannya apa hari ini?” tanya Bara membuat nada suaranya terdengar ceria.


“Aku nggak masak macem-macem pagi ini. Lagi nyiapin bumbu masakan untuk besok. Sarapan roti aja mau?” tanya Dijah pada Bara yang telah duduk di kursi makan.


“Iya, mau. Roti aja. Kayak Dul. Pake selai kacang,” jawab Bara menoleh pada Dul di sebelahnya.


Dijah berdiri memunggungi meja makan dan memanggang dua helai roti masing-masing dua menit. Ia kemudian menarik kursi di sisi kanan Bara dan mulai mengolesi roti untuk suaminya.


Bara mengambil roti yang diletakkan Dijah di hadapannya. Matanya masih mengawasi raut Dijah yang malas-malasan.


“Kalo males masak, gak usah masak untuk besok. Kita beli aja kayak aku bilang kemarin.” Bara ingin menghapus rasa bersalah karena melihat Dijah masih malas memulai percakapan dengannya. Rumahnya terasa muram pagi itu.


“Ya?” sahut Bara sedikit berdebar. Ia khawatir Dijah masih membahas hal kemarin.


Dijah merogoh saku celananya dan mengeluarkan serenceng kunci. “Mas bawa kunci aja, aku mau tidur lebih awal.” Dijah menyodorkan kunci itu ke arah Bara.


Bara menarik nafas. Lututnya terasa lemas kalau Dijah sudah begitu. Rasanya hampir sama ketika Dijah mengusirnya dari cafe dan memutuskan hubungan.


“Tapi aku mau ditunggu,” ucap Bara.


“Aku nggak enak badan. Mau istirahat. Pikiranku juga lagi nggak enak,” sahut Dijah.


Bara menelan ludah. “Ya udah, istirahat aja. Kalo capek masak gak usah masak ya....” Bara mengusap-usap lengan Dijah yang melipat di atas meja. Dijah mengangguk.


Seharian itu Bara bekerja dengan tak enak hati. Sebentar-sebentar ia melihat jam dan melihat ponsel. Mengirim pesan pada Dijah untuk bertanya hal-hal tak penting. Menawarkan makanan ini-itu untuk dibawanya pulang. Dijah menjawab semuanya dengan kata-kata singkat. Bahkan saat ditawari martabak kesukaannya pun, Dijah menolak. Bara semakin belingsatan.


Heru yang seharian melewatkan waktu bersama Bara di ruang meeting, menjadi ikut terganggu akan tingkah adik sepupunya.

__ADS_1


Sejak dulu, Bara memang tak bisa tenang kalau ada masalah. Wajahnya selalu menggambarkan dengan jelas suasana hatinya. Kegelisahannya mirip seperti remaja yang sedang menunggu pesan balasan pernyataan cinta.


“Aku mau ngajak kamu ketemu tamu di luar. Di cafe. Tapi kayaknya aku berangkat sendiri aja,” ucap Heru memandang Bara yang tengah asyik mengetikkan pesan di ponselnya.


“Ha? Kenapa Mas?” tanya Bara yang tak mendengarkan perkataan Heru.


“Aku—tadinya mau ngajak kamu. Ketemu tamu di cafe. Pulangnya agak malem. Tapi kayaknya kamu lagi sibuk, aku berangkat sendiri aja.” Heru memancing reaksi Bara.


“Eh, nggak kok. Bisa. Emang mau ke mana?” tanya Bara meletakkan ponselnya.


“Yakin?” Heru mengangkat alisnya.


“Yakin dong,” sahut Bara cepat.


Dan sore ke malam itu, Bara menemani Heru yang tak suka sendirian ke mana-mana. Meski pikirannya masih melayang ke rumah, ia tetap harus profesional karena ikut menimba gaji dari perusahaan itu.


Biasanya pulang ke rumah, ia selalu disambut oleh Dijah yang mengenakan daster dengan wajah mengantuk. Walau berulangkali mengatakan jangan menunggu kepulangannya, tetap saja Bara menyukai saat-saat percakapan tengah malam mereka. Dengan wajah mengantuk, Dijah selalu duduk menungguinya sampai selesai beres-beres dan berbaring. Bara benar-benar kapok berbohong soal Joana kemarin.


Ketika turun dari mobil membuka pintu pagar, wajah Bara kembali cemberut. Didiamkan isteri memang tak ada enaknya. Siksaan dunia paling kejam, pikirnya. Cari-cari perhatian pagi tadi pun seperti tak digubris. “Ckk” Tak terasa ia berdecak di dalam kegelapan ruang tamu.


Bara membuka pintu kamar dan langsung melihat ranjang di mana posisi isterinya tidur biasa. Dan tentu saja dia dipunggungi pikirnya. Wajah Bara kembali menekuk. Dengan lesu ia meletakkan ranselnya ke atas meja kerja. Masih menoleh punggung Dijah, ia menuju dispenser untuk meminum segelas air putih seperti biasa.


Bara menarik nafas dan meraih sebuah gelas yang menelungkup. Beberapa detik matanya tak menyadari ada benda lain selain gelas, yang terletak di dalam nampan kecil itu. Ia pernah melihat benda seperti itu. Belum pernah memegangnya, tapi benda itu tak asing.


Bara berdeham pelan kemudian meraih benda itu dan mengangkatnya ke depan wajah. Sedetik berikutnya ia mengatupkan mulut. Tangannya sedikit bergetar. Masih dengan mengenakan kaos kaki, Bara buru-buru merangkak ke atas ranjang untuk memeluk isterinya.


“Dijah... Maafin Mas,” ucap Bara terbata. “Makasih...” isak Bara.


Laki-laki cengeng itu sekarang menangis memeluk tubuh isterinya yang masih bergelung membelakangi. Dengan air mata yang belum susut, Bara menciumi kepala dan tiap bagian tubuh Dijah yang bisa dijangkaunya. Bara semakin merasa bersalah terlalu hanyut dengan pikirannya sendiri.


To Be Continued....


Jangan lupa dilike ya Bebs....

__ADS_1


__ADS_2