PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
166. Sabar Suketi (Bagian 1)


__ADS_3

Tini tiba di kantornya lebih pagi dari yang lain. Ia tak suka kalau Agus melintas di lorong dan mengedarkan pandangan, namun bosnya itu mendapati mejanya kosong. Awal masuk kerja ia memang kewalahan. Jam tidurnya yang tak jelas, membuatnya terkantuk-kantuk di pagi hari. Melihat air dingin di dalam bak mandi pun, bagaikan melihat kobaran api. Tapi itu beberapa bulan yang lalu. Sekarang ia sudah terbiasa bangun lebih awal dibanding seekor ayam jago.


Suara ketukan sepatu kulit Agus di lantai telah terdengar dari kejauhan. Tini berpura-pura menunduk agar terlihat sibuk hingga tak perlu menegur Agus. Padahal tak ada ruginya. Tapi Tini sebisa mungkin untuk menghindar untuk bermanis-manis pada atasannya itu. Tini hanya merasa janggal.


“Tini, kamu ikut saya ke ruangan. Bawa laporan soal nasabah baru yang kamu follow up.” Suara Agus bergema di ruangan kecil tempat meja Tini berada.


Tak mungkin Agus bicara dengan orang lain. Yang bernama Tini di ruangan itu cuma dia. Tini yang tadi berpura-pura merapikan kertas di lacinya, langsung menampakkan kepala ke atas meja dan segera mengangguk. Ia meraih sebuah map berisi data calon nasabah yang hampir seminggu ini diprospeknya namun belum membuahkan hasil.


Sepanjang langkahnya menuju ruangan Agus, Tini membayangkan hal apa yang disampaikan Agus padanya. Pria ceriwis yang kadang-kadang sangat kejam mengeluarkan kata-kata pada bawahan. Berbeda sekali dengan Heru, pikirnya. Pantas sampai setua ini belum menikah. Laki-laki normal mana yang sampai berusia 35 tahun belum juga menemukan wanita yang cocok.


Pilih-pilih tebu, bisa-bisa nanti cuma dapat ampasnya.


Tini mengerucutkan bibirnya seraya melemparkan tatapan sinis pada punggung Agus yang berjalan di depannya.


Belum apa-apa, Tini sudah membentuk benteng pertahanan di dalam kepalanya. Mempersiapkan hati akan hal paling menyakitkan jika Agus marah-marah.


“Mana laporan nasabah yang saya limpahkan ke kamu? Gimana perkembangannya?” Agus meletakkan tas laptopnya dan mengulurkan tangan pada Tini untuk meminta map.


Tini mengangsurkannya. “Belum ada kabar Pak, saya diminta menunggu beberapa hari ini.” Tini menautkan tangannya di depan. Berdirinya tegak memandang map yang sedang dibuka-buka Agus.


“Lambat banget sih kamu. Nyari kepastian segini aja bisa berhari-hari. Veni dan Indi pasti bisa closing dalam beberapa jam aja.”


Tini menarik napas.


“Kalau ada yang bisa closing dalam beberapa jam aja, kenapa nunggu aku yang berhari-hari. Halah, nggak masuk akal.”


Tini membalas omongan Agus dalam hati. Kepalanya tetap menunduk memandangi tautan jemarinya.


“Ini kan perusahaan asuransi. Kita harus punya target. Perusahaan punya target. Kamu juga harus punya target. Manusia normal itu pasti punya target. Target karirnya, target untuk keluarga, target pendidikan.”


“Meninggalnya nggak sekalian ditargetkan kapan?” cibir Tini dalam hati. Ia masih menunduk.


“Kamu saya kasi perusahaan yang lebih besar. Untuk kamu juga Tin… Veni dan Indi yang senior malah saya kasi ambil alih The Term, perusahaannya Heru. Itu nggak banyak karyawannya. Saya kasi kamu yang lebih besar. Kemarin mereka udah ketemu dengan Heru langsung.”


Tini langsung menegakkan kepalanya memandang Agus.


“Apa? Veni ketemu Heru? Andai jumlah karyawannya cuma 10 orang kenapa bukan aku aja yang pegang The Term? Heru pasti langsung tanda tangan. Aku nggak perlu prospek siang malem kayak nagih utang. Tega banget sih Gus…" ratap Tini dalam hati.


“Veni itu cekatan. Kamu harus bisa kayak dia,” ujar Agus.


“Udah kayak bapakku aja yang hobi banding- bandingin aku dengan anak tetangga,” kesal Tini dalam hati.


“Jadi kapan bisa kasi saya kepastian?” tanya Agus akhirnya.

__ADS_1


Tini menggigit bibirnya. Agus menanyakan kepastian soal pembelian polis asuransi untuk sebuah hotel franchise yang basisnya di luar negeri. Mengejar-ngejar kepala keuangan hotel sudah membuatnya seperti orang gila seminggu ini.


“Saya sudah ketemu dengan kepala keuangannya Pak, tinggal menunggu waktu senggang General Manager J.M Warriot mau menemui saya.”


“Ya sudah, di-follow up. Saya tunggu paling lama seminggu. Minggu depan kamu yang pimpin briefing-nya di tim kamu. Kamu pasti bisa Tin… Biar kamu juga ngerti bahwa hidup ini harus serius. Gak ada tempat untuk orang-orang lembek yang gak bisa kerja. Paham kamu?” Agus memandang tajam pada Tini.


Tini mengangguk tanpa memandang Agus. Entah kenapa, hatinya terasa sakit. Haruskah ia menerima kata-kata setajam itu? Apa Agus tak tahu ia sudah berusaha maksimal seminggu ini. Setiap hari ia hanya tidur 4 jam. Bahkan bermimpi pun ia tak sempat.


Dengan langkah lunglai Tini keluar ruangan Agus. Seharian itu ia sibuk menghubungi sekretaris General Manager hotel. Jawabannya hanya ‘saya sudah sampaikan, Mr. Omaar akan segera menghubungi kembali’.


Bahkan Tini sudah mendatangi tempat-tempat yang ia rasa bakal bisa bertemu dengan Mr. Omaar. Tapi hasilnya nihil. Tini murung. Pulang ke kandang ayam dengan wajah lesu. Sapaan Asti, Boy dan Mak Robin hanya lewat di telinganya.


Sudah berlalu tiga hari sejak kejadian diomeli Agus. Ia pergi dan pulang kerja seperti zombie. Rautnya tak bersemangat karena deadline-nya sebentar lagi.


Yang awalnya memimpin briefing itu dianggap Tini sebagai ancaman, ternyata tidak. Agus benar-benar memintanya memimpin briefing timnya dua hari lagi.


Tini sedang duduk di depan kamarnya dengan kursi plastik. Tangannya menggenggam beberapa lembar kertas yang berkali-kali ia coret-coret untuk menambahkan atau mengurangi isi pidato.


“Lagi apa Mbak?” tanya Asti baru datang menghampiri Tini dan duduk di depannya. Tak ada siapa-siapa. Hanya mereka berdua.


Mak Robin sibuk mengukur panjang jalan raya dengan sepeda motor barunya. Sedangkan Boy sedang berada di ruko melakukan persiapan pembukaan outlet baru.


“Aku lagi nyiapin jadi pembawa briefing untuk timku dua hari lagi As… aku hampir gak tahan kerja di sana. Tapi kalau aku nyerah, aku malu. Aku nggak mau ngecewain mas Heru yang udah susah payah merekomendasikan aku. Aku cuma lulusan SMA jadi harus tau diri.” Tini mengibaskan kertas di tangannya kemudian kembali menunduk untuk mencatat.


“Aku punya bahannya. Ini lagi aku susun kata-katanya. Nggak mungkin aku liat contekan. Selama ini yang bawa briefing bisa hapal luar kepala.” Tini masih menunduk.


“Tulisan Mbak Tini bagus ya… aku baru liat. Mirip tulisan di surat-suratnya Kartini,” tukas Asti.


Tini menegakkan tubuhnya memandang Asti. “Kamu boleh menghibur aku. Tapi jangan semakin bikin aku stres. Jangan buat bebanku makin berat dengan membandingkan tulisanku dengan Kartini meski nama belakang kami sama.”


“Mbak Tini juga pejuang wanita. Pejuang untuk hidupnya sendiri. Kartini skala kecil,” ucap Asti nyengir.


Tini menjentikkan jarinya ke dahi Asti yang masih tersenyum-senyum memandangnya.


“Kerja di kantor mas Heru asyik nggak?” tanya Tini pada Asti. Ia bertanya hal itu sambil melanjutkan tulisannya.


“Asyik. Ngeliat mas Bara dan mas Heru dari jauh itu rasanya beda. Apalagi kalo ada meeting. Aku ‘kan divisi periklanan. Sering meeting dengan mas Bara. Ngeliat mas Bara bawa meeting, aku kadang nggak nyangka dia dulunya siang malem di kandang ayam.” Asti terkekeh.


“Enggak nyangka kalau Bara dulu ayam jago di kandang sini ya…” tambah Tini ikut terkekeh. Kemudian ia langsung diam. “Semoga kita bisa nyusul kayak Dijah. Aku juga kepingin duduk di rumah ada yang ngasi belanja. Gak dimarah-marahi di kantor.” Tini tercekat. Air matanya sudah menggenang tapi ia tak mendongakkan kepalanya.


Asti diam memandang Tini yang berusaha menyembunyikan lara dan sakit hati terpendamnya.


“Mbak Tini pasti bisa. Semua ada waktunya. Sekarang kita sedang dalam proses menuju ke sana. Jalan tiap orang kan beda-beda. Mbak Dijah lebih cepat tiba di sana juga ada alasannya. Mungkin yang mbak Dijah lalui lebih berat dari kita.”

__ADS_1


Asti memijat lembut bahu Tini yang masih menunduk di atas kertasnya.


“Iya As… aku nggak iri. Sebagai temen aku bahagia liat temenku bahagia. Mungkin aku cuma lagi capek,” ucap Tini kemudian menghapus air matanya yang jatuh ke atas kertas. “Agus ini tau aku belum pinter ngomong di depan orang banyak. Kadang-kadang aku ngerasa dia kayak mau mempermalukan aku. Alasannya untuk mentalku. Untuk mental apa? Itu perusahaan asuransi atau barak militer?” Tini akhirnya menangis tersedu-sedu.


"Inget Mbak... jalan tiap orang beda-beda..." hibur Asti.


"Aku jalan kejauhan kayaknya. Muter-muter nggak jelas," sahut Tini.


“Sabar Mbak Tini…” ucap Asti mengelus pundak temannya.


“Aku udah sabar As… kalau aku nggak sabar, udah aku bakar kantornya.” Tini mengusap air mata dengan ujung lengan kaosnya.


“Ya udah, kita bikin sama-sama materi briefing-nya. Nanti Mbak Tini bisa hapal pelan-pelan. Mana? Aku mau liat,” ucap Asti mengambil kertas yang sudah setengah basah karena air mata.


Setelah membaca hal yang dituliskan Tini, mata Asti setengah terbelalak. “Bagus kok ini, udah bagus Mbak… belajar dari mana buat ini?” tanya Asti terbelalak.


“Dari briefing-briefing selama ini,” jawab Tini.


“Ya udah, Mbak Tini hapal… dibaca-baca,” pinta Asti kembali menyodorkan kertas pada Tini.


“Aku masih kurang bernyali bawa briefing,” kata Tini.


“Tapi nggak mungkin minta bantuan nyali mbak Dijah.” Asti tergelak.


*****


Briefing yang akan dibawakan Tini layaknya seperti sebuah hukuman itu sesaat lagi akan dimulai.


Agus sudah tiba di kantor sejak tadi dan Tini semakin malas memandang wajah atasannya itu.


Semua orang telah berkumpul di ruang meeting dan tangan Tini sudah bergetar dan lembab oleh keringat saat memegang mic.


Asti sudah menghibur Tini, mengatakan kalau apa yang dituliskan wanita itu bagus. Tapi itu tidak cukup untuk mendongkrak rasa percaya diri Tini pagi itu.


Veni dan Indi juga sudah rapi dan cantik seperti biasa. Sales marketing kesayangan Agus yang selalu luwes dan supel. Tini menarik napas. Puluhan orang di ruangan meeting sudah menunggunya berbicara.


Tini berdiri membelakangi sebuah layar proyektor besar. Beberapa langkah darinya, Agus duduk menyilangkan tangan di depan dada dan memandangnya.


Hari itu, Tini tak akan melupakan bagaimana wajah-wajah orang yang terkesan menyepelekannya melempar tatapan. Setelah berdeham pelan, Tini mengangkat mic-nya.


To Be Continued.....


Like-nya jangan terlewat ya...

__ADS_1


Biasanya kalau up dua bab sekaligus, like-nya bisa gak sama. Maklumi njuss ya... hihihi :*


__ADS_2