
Jangan lupa dicek nomor partnya ya sayang-sayangnya Tini Suketi. Jangan sampe kelewat like-nya karena dua part nyangkut bisa up di waktu bersamaan. Like-nya jangan kelewat. Makasih ya...
*****
Dijah mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kantor di lantai satu. Baru kali itu dia masuk ke kantor Bara. Selama ini ia hanya berdiam di mobil kalau Bara mampir untuk mengantar atau mengambil sesuatu di sana.
Suara sapaan Bayu menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Membuat banyak pasang mata langsung tertuju padanya. Awalnya ia sedikit gugup, tapi melihat Bara begitu santai rasa percaya dirinya bertambah.
“Udah mau deket lahiran ya Pak?” tanya seorang wanita ketika mereka berjalan melintasi sederet meja.
“Iya Retno, doain lancar-lancar ya...” sahut Bara tersenyum. Dijah ikut mengangguk kepada wanita itu.
Dijah mengangkat pandangannya mencari apakah perempuan yang mengirimi suaminya pesan ada di sana. Bara bahkan tak memberitahu nama perempuan itu. Sekilas mengedarkan pandangannya, mata Dijah beradu pada seorang wanita selama beberapa detik. Wanita itu kemudian menunduk dan tiba-tiba terlihat sibuk.
“Ooohh... itu...” gumam Dijah seolah pada dirinya sendiri.
“Apa?” tanya Bara. Kaki mereka sudah tiba di depan ruangan Bara.
“Itu, perempuan yang hobi masak. Itu kan orangnya? Yang rambut panjang sepinggang?” Dijah menoleh Nia kembali. Seperti tahu sedang dibicarakan, Nia kembali mengangkat pandangannya melihat ke arah Dijah dan Bara yang sedang menatapnya bersamaan.
“Anak-anak... itu masih anak-anak. Masuk dulu, ini ruangan mas....” Bara meraih handle dan cepat-cepat menutup pintu ruangannya. Ia mengantarkan Dijah menuju sofa ruangan.
“Harusnya magang di restoran aja,” lirih Dijah.
Bara menarik nafas panjang. “Gak usah dipikirin...” bisik Bara.
“Heran, dibawain makanan dikit aja langsung bisa ngomong perempuan lain hobi masak.”
“Itu bukan mas yang ngomong Sayang.... Mas cuma denger dari karyawan yang nimbrung.”
“Sama aja semuanya. Perempuan lain hobi masak.... Jadi istri yang tiap hari masak di rumah itu hobinya apa? Merakit bom?” Dijah masih mengomel saat Bara merapikan letak meja untuknya.
“Mas gak kepincut dengan anak itu. Gak kepincut, gak jatuh hati, gak ada apa-apa. Gak kayak yang kamu bilang ke Tini. Mas jadi malu... masa sih mas suka dengan perempuan lain sementara istri mas lagi hamil. Mau nikah dengan kamu aja mas babak belur dulu."
Tatapan mata Dijah sesaat melembut. 'Gak kayak yang kamu bilang ke Tini'. Sepertinya Dijah sudah menyadari penyebab Bara berubah drastis seusai dia berbelanja sebentar ke mini market kemarin. Tapi sedetik kemudian ia kembali melemparkan tatapan tajam ke arah suaminya.
“Berarti bener itu orangnya?” tanya Dijah. “Rambutnya panjang...” gumam Dijah.
Bara menggeser meja sedikit menjauhi sofa agar kaki Dijah bisa lebih leluasa diluruskan. Baru saja telinganya mendengar Dijah bergumam soal rambut panjang mahasiswi magang itu. Ingatannya langsung terbang saat mengangkat Dijah dari atas tubuh seorang wanita dengan sebuah tinju terkepal. Rambut panjang pasti gampang ditarik, pikir Bara. Bara menggeleng-gelengkan kepalanya. Amit-amit. Jangan sampai Dijah harus menghajar orang lain lagi.
__ADS_1
“Jangan dipikirin soal itu. Kan kamu bisa liat sendiri nggak ada apa-apa. Lagian masih anak-anak itu,” ucap Bara.
“Anak-anak dari mana? Anak-anak kok doyannya bapak-bapak.” Dijah mencibir menatap suaminya.
“Ya ampun, enggak Sayang...” kata Bara kemudian duduk di sebelah Dijah. “Seandainya kamu tau siapa biang kerok ini semua,” ucap Bara. Ia mengusap pipi istrinya. Dijah menatapnya dengan wajah sebal.
“Siapa emangnya?” tanya Dijah.
“Direktur di sini. Dia biang keroknya," sahut Bara terkekeh. "Masih pagi, entar lagi direkturnya dateng. Dia pasti bawa kerjaan lumayan banyak. Jadi mumpung dia belom dateng....” Bara menggeser duduknya lebih rapat ke arah Dijah.
“Apa—” tanya Dijah merasakan tangan Bara telah menjalar di sandaran sofa dan menyentuh belakang kepalanya.
“Ngeliat kamu pagi-pagi udah rapi gini, seger. Aku kangen—” bisik Bara di telinga Dijah. Ia menarik kepala istrinya dan mulai mencium bibir Dijah yang memakai lipstik merah jambu pagi itu.
Pagi yang indah. Dijah sudah mau berganti pakaian di depannya dan ikut ke kantor. Mulutnya memang masih mengerucut. Tapi itu tidak membuat hati Bara kecut. Karena Dijah terlihat semakin imut.
Setelah sarapan roti panggang, menyesap bibir Dijah yang sepertinya juga rindu untuk ditelusuri dengan lidahnya membuat Bara terhanyut dan sekejab lupa di mana mereka berada. Tangannya sudah mengusap perut istrinya dengan lembut. Bara bisa merasakan bayi mereka juga ikut bergerak merasakan sapuan tangannya.
Tangan Bara sudah berpindah dan mengusap tengkuk istrinya. Dan satu tangan lainnya mulai naik. Menyusuri lekukan perut dan dada Dijah yang semakin penuh menggoda. Tangannya meremas lembut dada itu.
Dijah yang sudah pasti merindukan ciuman-ciuman panas mereka mulai menggerakkan tangannya ikut menyentuh leher dan menggaruk tengkuknya. Desahan lembut lolos dari mulut mereka dan terdengar di ruangan kantor yang lengang.
Sementara itu di luar ruangan.
Maradona baru saja memarkirkan motornya dan berlari kecil menaiki undakan tiga anak tangga menuju teras kantor. Ia sedikit tersentak saat tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang dari belakang.
“Eh Mas,” seru Dona menoleh pada Heru yang menjajarinya. “Baru nyampe juga ternyata.”
“Yoi...” jawab Heru. Ia kemudian merogoh kantong tas laptopnya dan mengeluarkan dua buah map. “Kasi ke Bara ya. Itu ada mobilnya, berarti udah dateng.”
“Oke...” sahut Dona melihat sekilas dua map dalam tangannya. Setelah menyeberangi lobby dan masuk menuju pintu kaca, matanya langsung tertuju ke arah ruangan kerja Bara.
“Udah dateng tapi kayaknya belum ke ruangan,” ucap Dona.
“Letak di mejanya aja.” Heru berjalan santai menuju ruangannya yang berada di sisi kanan.
Melihat pintu itu tertutup, Dona langsung menyimpulkan Bara sudah tiba mungkin sedang berada di ruangan lain. Kakinya langsung melangkah ke sisi kiri sebuah ruangan dan langsung meraih handle pintu.
CEKLEK
__ADS_1
“Eh! Sorry—sorry!! Aku kira belum dateng Mas!” pekik Dona terperanjat langsung menutup pintu ruangan itu kembali. Sambil terkekeh-kekeh ia berjalan menuju ke meja tempat di mana divisi kriminal berada.
“Kenapa lo?” tanya Bayu yang sedang duduk di depan sebuah komputer dan dikelilingi oleh seorang mahasiswa dan dua orang mahasiswi termasuk Nia.
Dona masih terkekeh-kekeh. “Mampus gua. Kayaknya entar lagi mas Bara bakal keluar buat ngedamprat gua.” Meski terkekeh, Dona melirik resah ke arah pintu yang masih tertutup.
“Kenapa?” tanya Bayu lagi. Tiga orang yang sedang mengamati Bayu menyunting satu berita juga ikut mendongak menatap Dona yang masih berdiri dengan dua map di tangannya.
“Pintu ruangan mas Bara ditutup. Kirain gak ada orang karena masih pagi. Biasa juga selalu dibuka. Mas Bara lagi sarapan ama mbak Dijah,” ujar Dona terkekeh lagi.
“Mas Bara yang sarapan napa muka lo yang merah padam gitu?” Bayu menatap curiga. “Lagian ngapain emangnya?” tanya Bayu ikut melirik ke arah pintu ruangan.
“Pokoknya enak banget kayaknya. Gua jadi pengen cepet nikah... pengen punya istri cantik natural.” Dona masih berdiri mengetuk-ngetuk map ke meja Bayu.
“Cantik natural... Pacar gua juga cantik natural,” kata Bayu.
“Nah! Pacar lo temen mbak Dijah kan? Ada yang lain lagi? Kenalin—kenalin...” pinta Dona menepukkan map ke punggung Bayu.
“Hah? Yang lain?” Pikiran Bayu langsung tertuju pada Tini. Ia menggeleng keras berkali-kali. “Gak. Gak ada. Jangan. Lo cari tempat lain aja. Ini Nia masih jomblo,” tukas Bayu mengedikkan bahunya ke kiri menoleh Nia yang sedang menumpu dagu dengan satu tangannya. Sejak tadi ia ikut menyimak pembicaraan antar laki-laki itu.
“Enggak—enggak, jangan aku.” Tersadar mau dijodoh-jodohkan dengan Dona, Nia cepat-cepat menampik. “Jangan bercanda gitu ah Mas!” Nia memukul pelan lengan kiri Bayu.
“Dikasi yang jomblo nih! Kasian anak kos, makannya gak teratur. Kalo yang sana udah jelas kehidupannya.” Bayu menunjuk ruangan Bara dengan dagunya. “Dia semua-semuanya udah teratur. Itu sekarang lagi sarapan kata Dona!” Bayu yang sekarang merasa bahwa Nia tak serajin kemarin-kemarin men-supply makanan untuk mereka, akhirnya menyadari. Mahasiswi manis itu sedang mencari perhatian Bara.
“Apaan sih Mas Bayu.... Siapa yang mikirin bapak yang satu itu,” kilah Nia.
“Ya gak ada, gua cuma ngasi info aja.” Bayu terkekeh pelan.
“Iya—iya, bener. Mas Bara lagi sarapan! Mana lama banget sarapannya.” Dona masih berdiri di sebelah Bayu. Matanya tak lepas menatap pintu ruangan Bara yang tertutup.
"Lagi ngapain sih emangnya?" tanya Bayu lagi penasaran. "Ciuman ya? Hot gak? Pinter gak mas Bara?"
"Jelas lebih pinterlah! Dia udah praktek langsung, kita masih nonton film. Kalo nggak pinter mana mungkin kawin sebulan istrinya langsung hamil!" Dona duduk di ujung meja kerjanya masih menatap pintu ruangan kerja Bara.
"Hihihi--" Teman wanita Nia terkikik mendengar perkataan Dona barusan.
Nia menunduk menatap selembar kertas yang sejak tadi dipegangnya. Ia memilih pura-pura tak dengar.
To Be Continued.....
__ADS_1