
Pagi berikutnya, Dijah baru selesai mandi dan berniat mengunjungi Mbok Jum. Awalnya teman-teman Dijah sering menanyakan kenapa Dijah lebih memilih bertemu dan mengobrol bersama Mbok Jum ketimbang ibunya sendiri.
Tak banyak yang mengetahui, bahwa meski Dijah adalah seorang anak bungsu dari lima bersaudara, ia tak pernah menerima perlakuan layaknya seorang anak bungsu pada umumnya.
Ibu Dijah yang sejak dulu memang tipikal 'nrimo' tak bisa melakukan banyak hal selain melaksanakan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga dan nenek yang memasakkan makanan untuk cucunya.
Bapak Dijah tak pernah memiliki pekerjaan tetap. Dulu sebelum semua anak-anaknya menyumbang uang bulanan untuk keberlangsungan hidupnya, Bapak Dijah bekerja sebagai kuli bangunan serabutan.
Dasarnya memang pemalas. Sejak dulu bapak Dijah tak pernah tahan lama bekerja di manapun. Ada saja alasannya.
Di hari kedua, biasa bapak Dijah mulai mengeluhkan rekan kerja yang tak cocok, hari ketiga dia mulai protes soal upah yang dinilainya terlalu kecil. Dan hari keempat berbagai macam penyakit mulai bermunculan. Dari mulai sakit persendian, maag, sampai bengeknya yang kambuh secara berkala saat dia tak bisa duduk di warung.
Warung yang buka setiap hari kecuali hari kiamat itu, memang sangat meresahkan ibu-ibu. Pemandangan seorang istri yang menjemput suaminya secara paksa bak Intel yang menyidak sebuah TKP sangat sering terjadi.
Taruhan judi catur di warung itu pun tak banyak-banyak. Cuma 1000 rupiah. Dengan modal 50 ribu rupiah saja, seseorang bisa duduk menghadapi pion selama tiga hari tiga malam karena perputaran uang di sana sangat lambat.
Hal itulah membuat Dijah malas bercerita dengan ibunya. Ibu Dijah tak pernah menyalahkan bapaknya. Meski tahu apa yang dilakukan bapaknya, ibu Dijah melakukan pembiaran.
Dijah sedang menyisir rambutnya saat lamat-lamat terdengar suara Tini dari kamar sebelah.
"Aku bangga memiliki kamu..." lirih Tini.
Dijah penasaran siapa lawan bicara temannya itu namun ia belum selesai berpakaian. Dijah mengambil sebuah bra yang baru saja dibelinya dan dicuci kering. Sesaat ia menatap pantulannya dicermin dan menangkup sepasang dadanya dengan telapak tangan.
Setelah sekian lama tak terlalu memikirkan soal penampilan, kini Dijah sering mematut wajahnya cukup lama di cermin. Dan biasanya setelah memandang pantulannya cukup lama, Dijah akan bergumam.
"Kok bisa suka..." Dijah masih penasaran apa yang dipandang Bara darinya sampai pria itu mau masuk ke dalam hidupnya yang kacau.
"Boy! Mana speaker-mu? Keluarin! Nyanyi di halaman!" teriak Tini di luar.
Bara mengatakan akan mampir pagi itu ke kosnya dan mengantarkannya ke tempat Mbok Jum sebelum ia berangkat ke kantornya. Dijah menyemprotkan eau de cologne yang dibelinya di mini market ke bagian leher.
Setelah memastikan dirinya cukup wangi untuk berdekatan dengan Bara, Dijah membuka pintu kamarnya.
"Kamu ngomong sama siapa tadi?" tanya Dijah pada Tini yang sedang duduk dengan secangkir kopi dan sebatang rokok di tangannya.
"Yang mana? Memangnya aku ada ngomong?" Tini malah balik bertanya.
"Aku bangga memiliki kamu? Udah ada pacar baru ya di kamar?" tanya Dijah.
"Oh itu... Aku ngomong sama uangku. Belum ada pacar baru. Aku masih prospek si Yudi. Nanti siang aku mau pura-pura belanja ke tokonya di pasar."
"Ooh..." ujar Dijah.
Masih berdiri beberapa saat di dekat Tini, sebuah motor besar berwarna merah masuk ke halaman dan berhenti di depan mereka.
Bara mematikan mesin motor dan membuka kaca helmnya.
"Pagi Tini..." sapa Bara dari balik helmnya.
"Modaarrr... Lemes lututku Jah," ujar Tini yang membuat Bara seketika tertawa.
Aku juga modar Tin, ucap Dijah dalam hati. Pesona Bara luar dalam memang membuat lututnya selalu melemah.
"Sebelum pergi makan dulu yuk," ujar Bara mengangkat bungkusan yang tadi dicantolkannya di stang motor. Setelah membuka helmnya Bara berjalan mendekati Dijah.
"Enak ya Jah... Kamu udah dibikin kayak motornya juga. Abis dikendarai tapi tetap di-maintenance. Aku yo gelem..." ucap Tini.
Tak ingin mendengar ocehan absurd Tini lebih lama, Bara menggandeng lengan Dijah masuk ke kamar.
"Enak aja Tini nyamain kamu ama motor." Bara meletakkan bungkusan di atas meja plastik dan kemudian membuka jaketnya.
__ADS_1
"Jah, jaket yang di sini mana?" tanya Bara.
"Ada di lemari. Mau diambil? Ada dua itu," ujar Dijah kemudian membuka lemarinya dan mengambil dua jaket Bara.
"Satu aja, mau tuker jaket. Yang ini cuciin lagi ya," ujar Bara memasukkan jaket yang tadi dipakainya ke dalam keranjang pakaian kotor milik Dijah.
Bara mengambil salah satu jaket yang terlipat rapi dari tangan Dijah kemudian menghirup aroma jaket itu sesaat di depan hidungnya.
"Kenapa?" tanya Dijah sedikit heran. Ia agak khawatir kalau hasil cuci dan setrikaannya tak memenuhi standar Bara.
"Gak apa-apa. Aku suka aja nyium aroma pakaian yang baru diambil dari lemari. Makan Jah, laper..." Bara menghempaskan tubuhnya di lantai dan bersandar di tepi ranjang.
Dijah meletakkan piring dan sendok di depan Bara. Kemudian menyusul segelas air putih. Dijah berjongkok di depan Bara sesaat lamanya untuk mengeluarkan bungkusan dan meletakkannya di atas piring.
"Ketoprak..." gumam Dijah saat membuka karet pengikat di kertas pembungkus.
"Iya ketoprak... Lagi pengen. Enak," ucap Bara dengan tatapan ke arah belahan dada Dijah yang menyembul karena tekanan dari lututnya saat berjongkok.
Bara menghela nafas berat. Setelah merasakan tubuh Dijah sepertinya hidup Bara tak bisa normal. Heru menegurnya karena terlambat menyerahkan hasil berita ke redaktur.
Jika sebelumnya berfantasi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, namun sekarang rasanya tak mungkin lagi.
"Kamu makan juga, ambil piringnya sana." Bara mengusap-usap lengan Dijah.
"Iya, ini mau makan juga. Kamu makan duluan," ucap Dijah menyodorkan ketoprak yang sudah dipindahkannya ke piring.
Bara langsung mengangkat piringnya dan segera menyendokkan suapan pertama.
Tak lama terdengar musik sedang diputar dari arah halaman. Dan suara Boy mulai memenuhi seantero kos-kosan.
Sembilan bahan pokok di dalam bercinta
Agar tiada resah dan bertambah mesra
Yang diperlukan hanyalah hai sembako cinta
Satu harus setia, dau ada cemburu
Tiga pengertian, empat ada rindu
Lima banyak pujian, enam sering duaan
Tujuh perhatian, lapan sembilan menjadi sayang
(Sembako Cinta - Thomas Djorghi)
Suara Boy mengalun melalui speaker portable sebesar koper kabin yang bisa diseretnya ke mana-mana.
Tak lama kemudian, musik berhenti.
"Hei Tini! Apa itu??" teriak Boy dengan mic-nya.
"Heh! Kampret! Ngagetin aja! Matiin mic-mu dulu," sergah Tini.
"Kamu ngapain Tini Suketi?" Suara Boy terdengar penasaran. Begitu juga dengan Dijah yang sedang menyimak pembicaraan mereka dari dalam kamar.
"Denger ya, ini rahasia." Tini berbisik namun masih terdengar dengan cukup jelas.
"Ini beneran gak ada yang tau. Rahasia. Yang tau cuma aku, kamu Boy, Mak Robin, Asti..."
"Banyak kali yang tau! Bukan rahasia lagi itu Tini!" seru Mak Robin.
__ADS_1
Asti dan Boy terdengar terkikik-kikik. Dijah semakin penasaran.
"Jangan ikutin aneh-anehnya si Tini ya..." ujar Bara kemudian mengusap-usap punggung Dijah. Bara seperti membaca pikiran Dijah yang sesaat lalu akan menerobos ke luar.
"Kalo udah bisa langsung berangkat, kita pergi sekarang. Aku gak bisa lama-lama. Mau ngerjain sesuatu biar lusa pergi jalan-jalannya enak. Kalo gak kelar, entar aku ditelfon-telfon ama mas Heru. Suka rese dia," tukas Bara bangkit dari duduknya. Ia kemudian mengambil jaket yang terlipat dan memakainya.
"Bisa, berangkat sekarang aja." Dijah mengambil tasnya dari pegangan lemari.
"Sini dulu..." ujar Bara saat Dijah langsung melewatinya hendak membuka pintu. "Sekali-sekali gitu peluk-peluk aku duluan," ucap Bara memeluk dan menciumi leher Dijah.
Setelah memeluk erat dan menghirup aroma leher dan kepala Dijah, Bara melepaskan wanita itu dan menggandengnya keluar kamar.
Tini, Asti, Boy dan Mak Robin langsung memandang mereka.
"Ada apa?" tanya Dijah pada empat orang yang duduk dengan wajah kaku. Empat orang itu menggeleng bersamaan.
Dijah curiga, tapi kemudian mengambil helm pink dari stang motor Bara dan memakainya. Empat orang itu juga menatap Bara yang sedang mengenakan helmnya.
"Ada apa sih?" tanya Bara. Empat orang itu juga menggeleng bersamaan.
Meski diselimuti perasaan curiga, Dijah meninggalkan kos-kosan itu dengan duduk manis memeluk pinggang kekasihnya.
"Jangan panas-panasan ya," ujar Bara mencubit pelan pipi Dijah setelah membuka helm wanita itu. "Biar aku aja yang panas-panasan. Kamu jangan," sambung Bara.
"Hati-hati," kata Dijah kemudian berjalan menjauhi Bara yang langsung memutar motornya.
Sebenarnya, pagi itu akan ada rapat bersama redaktur. Tapi Bara rindu pada Dijah. Ia sempatkan mampir ke kos itu meski hanya untuk melihat atau memeluk kekasihnya sebentar.
Setelah memarkirkan motornya, Bara bergegas ke meja kerja dan menyambar laptopnya untuk menuju ruang rapat. Setibanya di sana, Bara menarik nafas lega. Rapat belum dimulai dan ia termasuk datang lebih awal.
"Fiuhhh...." Bara menghempaskan tubuhnya di sebuah kursi dan langsung membuka laptopnya.
Bayu terlihat masuk ke ruang rapat dan melambai ke arah Bara.
"Cie... Yang udah memproklamirkan diri," ujar Bayu menepuk pundak Bara. Bara mengernyitkan dahi tak mengerti apa maksud perkataan Bayu.
"Mas Bara... Salam ama Mbak Dijah ya..." ujar seorang pegawai wanita yang baru masuk seraya menenteng laptopnya.
"Salam kenal bilang ke Dijah ya Ra..." sambut Abdul seorang wartawan ekonomi sembari menonjok pelan lengan Bara.
"Apa sih... Kok pada tau Dijah? Lo yang berisik pasti ni," tuduh Bara pada Bayu di sebelahnya.
"Mas Bara... Aku patah hati!" seru Anne sekretaris Heru yang juga baru tiba.
"Ada apa sih Bay?" tanya Bara penasaran.
"Kok malah nanya. Itu liat motornya Mas Bara, udah berani masang begituan di motor kerennya, ya harus siap dengan konsekuensi." Bayu berbicara sambil menyalakan laptopnya.
Bara mendelik karena mengingat satu hal. Ia kemudian tergesa-gesa setengah berlari kembali menuju parkiran motor. Sesampainya di sana ia menggigit bibirnya. Sebuah stiker besar bertuliskan 'HARTA TAHTA DIJAH' menempel erat dengan warna mencolok di tangki motor kanannya.
"TINIIIIIII" kutuk Bara sendirian. Bagaimana caranya ia melepas stiker itu kalau nantinya Tini pasti akan memberitahu Dijah kalau ia melepaskannya. Meski Dijah pasti tak melarang ia melepaskannya, tapi hal itu pasti akan membuat Dijah berkecil hati.
Sepanjang sisa rapat itu, Bara mendapat ucapan selamat karena melepas masa jomblonya dan dinilai begitu kasmaran karena menempeli motor kesayangannya dengan stiker glitter warna warni dengan nama kekasihnya.
To Be Continued.....
Yang belum nyambung soal stiker, silakan baca part 45 ya... 😘
Jangan lupa likenya ya sayang-sayang Mas Bara...
__ADS_1