
"Selamat Pagi, maaf mengganggu. Saya Bara," sapa Bara langsung saat seorang wanita menjawab panggilannya.
"Saya ingin bertanya, soal Dijah. Saya menemukan kartu nama atas nama bu Widya di dompetnya. Apa ibu memang mengenal Dijah?" tanya Bara tanpa basa basi. Masih pagi sekali dan Bara tak sabar untuk mengetahui kaitan Dijah dengan Lembaga Konseling itu.
"Dari mana ini? Kantor polisi? Dijah dianiaya lagi?" tanya Bu Widya.
"Bukan--bukan dari kantor polisi. Tapi memang Dijah dianiaya lagi. Saya masih di rumah sakit dengan Dijah. Dini hari tadi dia baru menjalani visum untuk melengkapi syarat pelaporan. Sebentar lagi mungkin saya akan ke kantor polisi dengan Dijah. Tapi... Dijah belum ada bicara sepatah kata pun ke saya. Dijah gak jawab semua pertanyaan saya, saya bingung." Bara yang duduk di kursi besi lorong rumah sakit, menunduk memijat dahinya.
"Jangan--jangan. Jangan langsung ke kantor polisi. Dijah butuh pendampingan lebih dari sekedar pengacara. Dia klien saya. Bertahun-tahun yang lalu dia klien saya. Sampai sekarang saya masih sering meneleponnya untuk menanyakan kabar. Maaf, tapi dengan siapa saya bicara?" tanya bu Widya yang merasa tak bisa memberi informasi lebih lagi soal Dijah. Dia tak mau melanggar kode etik. Apapun keadaannya, kepada seorang suami atau rekan terdekat pun, cerita tentang gangguan pasien hanya boleh diceritakan dengan izin yang bersangkutan.
"Saya---" Sesaat Bara bingung siapa dirinya. Apa hubungannya dengan Dijah. Tak elok rasanya kalau dia menyebutkan kata pacar. "Saya temannya," ucap Bara akhirnya.
Bara berdiri dari duduknya dan berjalan untuk melongok Dijah yang masih tidur meringkuk di ranjang UGD.
"Mas Bara, bisa bawa Dijah ke Rumah Aman lebih dulu? Biar Dijah bisa beristirahat. Urusannya dengan kepolisian bisa menyusul dan diwakili dengan pengacara. Kalau Dijah nggak ada pengacara, nanti saya usahakan tenaga dari lembaga."
"Rumah Aman?"
"Iya, Rumah Aman tempat tinggal sementara bagi korban kekerasan. Itu milik pemerintah, lembaga kita kerja sama dengan Rumah Aman untuk menyediakan wadah untuk ketenangan korban dalam menjalani proses hukumnya. Saya kuatir Dijah lebih lama pulih kalau didesak di kantor polisi."
"Baik--baik. Oke, Rumah Aman. Dijah sudah ada pengacara. Nanti pengacaranya bisa saya minta ke sana." Bara sengaja tidak memberitahu soal ayahnya kepada bu Widya.
Jika memang Bu Widya biasa menangani Dijah, dan wanita itu mengatakan bahwa Dijah bekas kliennya, Bara merasa aman. Ia tak perlu bercerita macam-macam pada ayahnya.
"Saya tunggu pagi ini segera ya Mas, kasian Dijah," ucap Bu Widya.
"Baik Bu, saya akan bawa Dijah ke sana langsung pagi ini. Bisa kirim alamat Rumah Aman itu via teks?" tanya Bara.
"Oh baik, saya kirim sekarang. Kalau bisa Mas, tolong pakaiannya Dijah. Kalau bisa..." tambah Bu Widya.
"Bisa--bisa," sahut Bara cepat.
Bara hanya mencuci mukanya di kamar mandi rumah sakit sebelum kembali mengurus administrasi rumah sakit soal kepulangan Dijah. Dengan selembar surat keterangan hasil visum, Bara menggandeng Dijah keluar dari rumah sakit itu. Bahu kanannya menyandang ransel dan tas Dijah secara bersamaan.
Setelah memastikan akan mengikuti saran bu Widya, Bara menelepon Heru untuk mengabarkan hal itu. Heru berjanji akan meminta pengacara yang akan datang ke kantor polisi untuk mewakili Dijah sementara ini.
"Jah, aku masuk ke kamar kamu ya. Aku ambil pakaian kamu dulu. Kamu tunggu di sini. Aku nggak lama," ucap Bara sambil merapikan rambut Dijah ke belakang telinganya. Ia sudah kehilangan harapan Dijah menjawab omongannya.
Terburu-buru Bara masuk ke gang menuju kos-kosan dengan bermodal sebuah kunci di tangannya.
Kos-kosan itu sepi. Masih terlalu pagi. Hanya gerobak pedagang bubur ayam yang berada di tengah halaman melayani seorang pembeli.
Bara memutar kunci dan melangkah masuk. Kamar Dijah berantakan dan pengap tak seperti biasa. Sekilas ia membayangkan apa yang dilakukan wanita itu sesaat sebelum menemui Fredy. Cepat-cepat ia menegakkan krat botol dan menaikkan pemasak nasi ke atasnya.
Pintu lemari menjeblak terbuka. Bara melihat dompet tempat Dijah biasa menyimpan uang kini sudah kosong dan dijejalkan begitu saja di antara tumpukan pakaian.
Bara meraih sebuah tas kain yang terlipat di rak paling bawah. Itu adalah tas yang terakhir kali dipakai Dijah membawa bekal mereka piknik ke puncak.
Sejenak Bara berdiri menatap tumpukan pakaian Dijah yang tak banyak. Ia tak perlu bingung harus membawa apa. Bara mengambil beberapa atasan dan celana di tumpukan paling atas. Kemudian tangannya meraba-raba belakang tumpukan pakaian untuk mencari pakaian dalam yang sekarang disembunyikan Dijah di sana.
Bara tersenyum getir. Ia menggenggam beberapa pasang pakaian dalam sederhana dengan warna yang sudah memudar. Di dekat tumpukan pakaian ada pelembab wajah dan sebuah sisir tergeletak. Bara ikut menjejalkannya ke dalam tas.
Dan sesaat sebelum keluar dari kamar itu, Bara teringat akan sepatu yang dibelikannya, namun belum pernah dipakai Dijah. Ia mengambil sepasang yang paling ia sukai dan membawanya keluar.
"Dijah mana Mas?" tanya Tini yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu. Bara yang baru saja mengalami malam penuh kejutan, sedikit syok. Untung saja ia tak menampol Tini karena rasa terkejutnya.
"Dijah sakit. Masih dirawat," jawab Bara.
"Sakit apa? Dirawat di mana? Kita bisa jenguk, 'kan?" tanya Tini yang baru saja bangun tidur.
"Entar kalo udah bisa dijenguk. Aku kabari ya. Cuci muka dulu sana! Kamu udah kayak Joker-nya Batman," tukas Bara kemudian berjalan pergi.
Tini mengernyit dan mengusap sudut bibirnya bergantian. Ludah basinya yang mengering ternyata memanjang di kedua sisi pipinya.
*****
__ADS_1
"Ya sudah, Mas Bara. Dijah bisa ditinggal di sini. Ini kartu nama saya, hubungi saya kalau ada yang perlu ditanyakan atau koordinasi soal kasusnya." Bu Widya menyerahkan sebuah kartu nama baru pada Bara.
Bara melirik pada Dijah yang duduk tenang memangku tangannya. "Jah..." panggil Bara. Dijah menatap ruangan berkeliling tapi pandangannya tak singgah pada Bara.
"Dijah, aku tinggalin kamu di sini gak apa-apa?" tanya Bara. Dijah menunduk memandang jemarinya yang saling menaut di atas pangkuan.
"Nggak apa-apa Mas," sahut bu Widya.
"Sebentar Bu, sebentar. Saya mau ngomong sebentar," ucap Bara menyela bu Widya. Ia tak rela meninggalkan Dijah yang tak mau memandangnya sejak kemarin.
"Dijah, liat aku sebentar aja. Aku mau pulang, beres-beres. Banyak urusan yang harus aku selesaikan. Aku mau kamu di sini, istirahat. Liat aku Dijah..." panggil Bara pelan.
"Nanti Mas, sabar... Saya ngobrol dulu sama Dijah." Bu Widya mengusap-usap punggung Dijah.
"Dijah nggak bakal lupain saya, 'kan Bu?" tanya Bara menatap Bu Widya. Dijah yang mendengar pertanyaan itu semakin menautkan jarinya sampai buku-bukunya tangannya memutih. Bara tak menyadari kegelisahan Dijah akan hal yang baru saja diucapkannya.
"Semoga nggak, Dijah gak akan ngelupain kenangan yang dirasanya indah. Semua orang pasti begitu saya rasa," ucap bu Widya. "Besok-besok bisa ke sini untuk jengukin Dijah untuk ngobrol. Dijah pasti sudah lebih segar," tambah bu Widya.
Dan Bara keluar dari ruangan itu dengan perasaan kosong lain di hatinya. Perasaan khawatir dan cemas akan Dijah yang menutup dirinya dengan membuang ingatan yang pernah terjadi antara mereka.
Dua hari mencoba membiarkan Dijah di Rumah Aman sambil membereskan urusan di kepolisian membuat pikiran Bara sedikit teralihkan.
Pagi berikutnya, Bara membawa sebuket bunga segar saat mendatangi Rumah Aman. Ia berharap Dijah sudah bisa keluar dan berbicara seperti biasa dengannya. Ia sangat rindu pada wanita itu.
"Bu, setiap hari tugasnya di sini?" tanya Bara pada bu Widya di ruang kantor konselor.
"Tergantung ada tidaknya klien dari lembaga kami yang tinggal di sini. Kalau ada, seperti sekarang, saya lebih sering di sini. Apalagi kalau kliennya terlibat kasus hukum."
"Pak Wirya pernah ke sini juga?" tanya Bara.
"Belum, Pak Wirya belum ke sini. Biasanya beliau menangani klien yang lebih berat lagi. Itu jika kami yang lebih junior dari beliau meminta bantuan. Atau case-case khusus yang diambil alih pak Wirya. Beliau sibuk sekali. Mas Bara kenal?" tanya bu Widya.
"Dosen saya," jawab Bara. Entah apa maksudnya berbohong, tapi ia masih tak ingin kalau ayahnya sampai tahu dia berurusan dengan badan konseling demi pacarnya. Bara merasa masih sanggup menjalani masalahnya.
"Dijah bagaimana Bu? Sudah mau bicara?" tanya Bara.
"Soal saya? Dijah ada nanya?" Bara menunggu jawaban bu Widya dengan sedikit denyut di jantungnya.
"Belum Mas..." Bu Widya tersenyum tipis seakan ingin menenangkan kegelisahan Bara.
"Saya bisa ketemu nggak?" tanya Bara. "Saya mau ngasi ini..." Bara mengangkat buket bunganya.
"Tadi Dijah berpesan sedang tak mau menemui siapapun. Ini buketnya bisa saya bawa, nanti saya kasi ke dia." Bu Widya menengadahkan tangannya meminta buket itu. Kenyamanan pasien trauma adalah hal paling utama baginya sekarang. Bara mengulurkan buket itu dengan enggan.
Hari ketujuh Dijah berada di Rumah Aman. Dijah memperoleh tiga orang pengacara untuk mewakilinya dalam kasus penganiayaan Fredy. Sedangkan Bara diwakili oleh seorang pengacara dan Heru yang juga bergelar magister hukum.
Keluarga Fredy telah memasukkan delik aduan kepada kepolisian soal penganiayaan. Bara yang geram, mendesak polisi untuk segera memindahkan Fredy ke tahanan, alih-alih berbaring di ranjang rumah sakit.
Akhirnya, meski dengan bibir pecah-pecah dan sebuah perban besar menempel di kepalanya, Fredy sekarang sudah menghuni rumah barunya. Seragam rumah sakitnya pun telah berganti warna. Ancaman vonis Fredy bisa 20 tahun penjara.
Bara ingin bercerita pada Dijah soal hal itu.Walau tubuhnya sangat lelah dan kepalanya sering pusing karena kurang tidur, Bara kembali mendatangi Rumah Aman. Tak lupa ia kembali singgah ke toko bunga untuk membeli sebuah buket.
"Bu Widya, saya sudah di depan pintu." Bara mengabari Bu Widya soal kedatangannya melalui telepon. Bu Widya sedang berada di dalam kamar Dijah dan mengobrol dengan wanita itu.
"Bara dateng, temui yuk..." ajak Bu Widya. Dijah menggeleng lemah.
"Aku titip ini," ujar Dijah. Bu Widya memandang Dijah yang tengah sibuk dan panik melepaskan sesuatu dengan terburu-buru.
"Biar saya bantu," ucap Bu Widya kemudian menunduk untuk membantu Dijah.
Bu Widya muncul dari balik pintu dengan senyum lembutnya yang khas.
"Bu Widya, saya mau ketemu Dijah. Bisa?" tanya Bara.
"Kayaknya belum bisa Mas." Bu Widya menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Sampai kapan Bu?" tanya Bara muram. Bara menelan ludahnya dengan susah payah. Sepertinya hal yang paling ditakutkan olehnya akan terjadi.
"Dijah menitipkan ini," ucap Bu Widya meletakkan sebuah cincin di atas meja.
Darah Bara terasa berhenti mengalir melihat cincin yang dikenakannya ke jari Dijah dikembalikan begitu saja.
"Kok jadi gini Bu? Kenapa dikembalikan? Dijah gak mau ketemu saya lagi?" tanya Bara yang tak berani menyentuh cincin itu.
"Mungkin dia belum siap. Kemarin dia sempat bergumam dalam tidur siangnya. 'Aku malu', Dijah bilang dia malu. Mungkin sama Mas Bara. Jadi menurut saya itu penyebab Dijah menghindar. Dia ingat, tapi dia gak mau mengingatnya. Dia mencegah dirinya sendiri untuk mengingat soal Mas Bara. Tubuh Dijah kuat, sehat. Tapi kejiwaannya rapuh. Sudah terlalu hancur sejak dulu. Ibarat pecahan kaca, Dijah sedang berusaha menyatukan pecahan-pecahan itu sekarang. Jadi saya harap Mas Bara mengerti." Bu Widya mengambil cincin itu dan kembali mengulurkannya pada Bara.
"Mental illness memang sering diabaikan oleh orang-orang yang tidak peka. Dianggap kurang iman dan sebagainya. Dan nyatanya, penyebab seseorang mengalami tekanan itu dari keluarga terdekatnya sendiri. Dijah tak punya tempat berlindung sejak dulu. Pertahanan terakhirnya itu adalah pikirannya. Dia memblok dan memilah-milah kenangan yang ingin diingat atau dilupakannya."
"Tapi saya pengen ketemu Bu, sebentar aja gak bisa? Saya udah lama banget gak ketemu dia. Sebentar aja, dari pintu kamarnya aja juga gak apa-apa. Boleh Bu? Dari jauh aja... Saya janji gak deketin dia."
"Nanti ada waktunya Mas, sabar..." ucap Bu Widya.
Dan lagi, hari itu Bara menitipkan sebuket bunga untuk Dijah ke tangan bu Widya.
Bara menghabiskan sepanjang hari itu dengan membuka dan melihat foto-fotonya bersama Dijah berkali-kali. Hampir tengah malam ia tiba di rumah. Bahunya tak setegap kemarin. Semangat hidupnya seakan tersisa setengah saja. Selebihnya dibawa pergi oleh Dijah.
Bara menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Ranselnya tergeletak begitu saja di lantai. Kepalanya menengadah menatap plafon dan lampu hias besar. Lampu di ruang tamu itu padam. Hanya menerima sedikit cahaya dari lampu ruang keluarga yang masih menyala.
Ingatannya sedang kembali pada saat-saat yang dirasanya paling bahagia bersama Dijah dan Dul. Saat itu, Bara sudah hampir yakin bahwa mereka sebentar lagi akan menjadi sebuah keluarga. Dul yang selalu patuh kepadanya seolah takut ia akan pergi jika bocah itu tak menurut. Bara mengusap wajahnya.
Sekarang Dijah tak mau menemuinya. Tak mau berbicara padanya. Dan mengembalikan cincin yang diberikannya. Hati Bara terasa sangat sakit. Rasanya ia tak pernah setakut itu kehilangan seorang wanita yang disayanginya. Ia menginginkan Dijah. Ia sangat menginginkan wanita itu.
Tak terasa, kekecewaannya turun dalam bentuk air mata. Dalam remang ruang tamu, Bara menumpahkan kesedihannya dengan dua bulir air mata.
"Ngapain di sini?" tanya pak Wirya saat melangkah masuk ke ruang tamu dan melihat putranya sedang menyeka wajah.
Bara tak menoleh. Ia hanya menunduk dan meraup wajahnya agar pak Wirya tak melihat hal bodoh yang baru saja dilakukannya. Ia menangis hanya karena diabaikan seorang wanita.
"Baru pulang. Masih capek," jawab Bara.
"Cerita Ra..." ucap Pak Wirya duduk di sebuah sofa tunggal di dekat putra sulungnya.
Saat mendengar apa yang dikatakan ayahnya, Bara merasakan dadanya semakin sesak. Pertahanannya seakan runtuh. Bara menarik nafas dan berputar menghadap ayahnya.
"Yah... Tolongin Dijah. Dia gak mau ngomong dan ketemu aku. Dijah gak mau nginget soal aku. Aku takut Dijah lupa. Aku gak mau Dijah ngelupain aku. Tolong Dijah... Aku nggak pernah ngerasain kayak gini. Aku kira aku bisa ngadepinnya sendirian. Ternyata aku juga nggak sanggup." Bara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bara tak ingin ayahnya melihat ia kembali menangis. Bukan hanya Dijah, ia juga merasa sangat tersiksa.
"Sekarang Dijah di mana?" tanya pak Wirya.
"Di Rumah Aman, pasiennya bu Widya."
"Pasiennya Widya ya--Mmm, besok ayah ambil alih kasusnya Dijah. Ayah yang pegang sampai selesai. Kasi ayah waktu ya... Kamu juga harus istirahat. Kasian pikiran kamu diajak mikir terus."
Bara mengangguk-angguk pelan mendengar perkataan ayahnya. Ia kemudian bangkit menyambar ranselnya dan berjalan meninggalkan Pak Wirya.
"Eh Ra, kamu ada sesuatu yang mungkin bisa ayah bawa untuk Dijah? Yang kira-kira memuat kenangan bagus?" tanya Pak Wirya menoleh ke belakang menatap Bara.
Sejenak Bara mengernyit. Kemudian ia membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat.
"Ini foto-foto piknik aku dengan Dijah dan anaknya. Dijah belum pernah ngeliat foto ini," ujar Bara menyodorkan amplop coklat itu.
"Oke, nanti ayah sampein..."
Bara mengangguk. "Makasi Yah..." ucap Bara.
"Sama-sama," sahut Pak Wirya.
To Be Continued.....
Hari ini novel PENGAKUAN DIJAH masuk rank 8 hadiah periode bulan lalu. Makasi atas dukungan luar biasanya terhadap karya juskelapa ya...
Makasi atas segala komentar-komentar luar biasa, like, vote dan rate bintang limanya.
__ADS_1
Semoga juskelapa semakin bersemangat untuk menelurkan dan membuahi karya-karya yang lebih baik lagi selanjutnya.
Salam sayang dari Bara :*