PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
80. Pengakuan Dijah (2)


__ADS_3

“Kamu sudah punya anak kan?” tanya pak Wirya memandang Dijah.


“Punya. Satu. Anak laki-laki hampir enam tahun. Tahun depan dia SD,” jawab Dijah menoleh pada pak Wirya.


“Kamu pasti mau anak kamu bahagia, 'kan? Saya juga gitu. Belakangan anak laki-laki saya susah senyum. Di rumah cemberut terus. Pusing saya.” Pak Wirya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kenapa? Maaf, kalau boleh tau anak bapak kenapa? Tadi bu Widya bilang bapak perlu bantuan saya,” ujar Dijah.


“Iya, saya hanya butuh pendapat kamu. Saya butuh teman bicara sekarang. Sepertinya kamu orang yang tepat,” jawab Pak Wirya.


“Anak saya ditolak oleh seorang wanita. Dia dijauhi. Dengan alasan wanitanya ngerasa nggak pantas untuk anak saya. Jujur saya kecewa. Padahal anak saya katanya sudah tulus dan menunjukkan berbagai perhatian ke wanita itu. Saya mulai bertanya-tanya, apa saya terlalu baik mendidiknya, sampai-sampai wanita itu menganggap anak saya begitu berharga.”


“Mungkin wanita itu nggak mau ngecewain,” gumam Dijah.


“Ngecewain siapa?”


“Keluarganya. Karena saya sudah punya anak. Jadi saya pasti mau anak saya dapet seseorang yang baik,” jawab Dijah.


“Hmmm... Kamu bener. Saya juga gitu. Tapi kalau anak saya menganggap wanita itu yang terbaik untuk dia, saya harus gimana? Bagi saya kebahagiaan anak saya itu yang paling utama. Dulu, sewaktu anak bungsu saya menikah, saya melepaskannya dengan haru dan bahagia. Saya pikir, lepaslah tanggung jawab saya sebagai orang tua. Apalagi anak saya perempuan, dia sudah bersuami. Suaminya bakal membimbing dan saya bisa bebas. Saya nggak bakal menghadapi curhat-curhatnya lagi soal cowok. Tapi nyatanya, kamu tau?” tanya pak Wirya memandang Dijah.


“Setelah anak saya menikah, masalah yang muncul lain lagi. Curhat-curhatnya soal suami yang kadang terlalu sibuk, nitip anak di rumah kalau mau pergi, berdebat soal jenis vaksin imunisasi mana yang mau diambil mana yang enggak. Nyatanya masalah dalam hidup itu akan selalu ada. Saya nggak bisa menghindar, yang bisa saya lakukan cuma menghadapi dan menyelesaikannya. Malah kadang-kadang ada masalah yang nggak perlu diselesaikan. Selesainya seiring waktu.” Pak Wirya menarik napas.


“Jadi Bapak hadapi ya?” tanya Dijah.


“Iya, saya hadapi aja. Saya nggak takut. Lagian kalau saya menghindar, masalahnya nggak akan selesai.”


“Kasihan anak Bapak...” ucap Dijah.


“Kasihan sekali. Dia sekarang jadi nggak pede. Kerja nggak konsentrasi. Katanya kangen, tapi nggak bisa ketemu. Mau denger suaranya aja nggak bisa katanya. Untung dia bisa curhat ke saya, andai dia nggak ada temen ngomong... Pasti lebih kasihan. Saya sudah bilang ke anak saya, lupakan aja wanita itu. Kalau wanita itu nggak mau ke anak saya, artinya wanita itu nggak bahagia. Saya bilang lepasin aja. Yang namanya perasaan itu nggak bisa dipaksa. Wanita itu nggak cinta ama dia—”


“Belum tentu—belum tentu gitu,” sela Dijah.


“Apa yang belum tentu?” Pak Wirya melempar pandangan bingung.


“Belum tentu wanita itu nggak cinta. Bisa jadi karena dia terlalu cinta, makanya dia menjauh.”

__ADS_1


“Artinya wanita itu egois. Dia nggak percaya sama anak saya.” Pak Wirya kembali menghela napas panjang.


“Wanita itu nggak egois. Dia pasti berharap anak Bapak bahagia...”


“Tapi nyatanya anak saya nggak bahagia setelah ditinggalin ama dia. Saya jadi kesel—Oya, kamu kenal nggak sama laki-laki yang berdiri di pintu tadi?” tanya pak Wirya.


Dijah menggeleng.


“Yakin nggak kenal?” ulang pak Wirya. Dijah diam membuang pandangannya. “Saya tadi dititipin ini sebelum masuk ke sini. Mau liat?” tanya pak Wirya.


“Apa itu?” tanya Dijah.


“Saya juga nggak tau... Mari kita liat sama-sama. Saya cuma dititipin aja tadi....” Pak Wirya membuka amplop coklat itu dan mengeluarkan beberapa lembar foto yang dicetak dalam ukuran jumbo.


“Foto kamu...” Pak Wirya mengangsurkan semua foto itu ke tangan Dijah. Meski ragu, tangannya terangkat mengambil foto itu dan melihatnya.


Lembaran teratas menampilkan foto Dijah dan Dul berpose di depan sebuah wahana. Dijah tersenyum.


Kemudian beberapa lembar foto Dul berbagai pose di tempat berbeda. Bara yang mengambil foto itu. Dul yang sedang duduk di salah satu kuda komedi putar, Dul yang tertawa saat bersalaman dengan seorang badut tokoh kartun, Dul yang sedang melahap es krim. Dijah mengusap wajah anaknya di foto itu dan senyumnya semakin mengembang.


Dijah membuka lembaran berikutnya. Itu adalah fotonya sendiri yang tengah mengernyit karena menahan panas matahari. Dijah membuka lembaran lainnya yang masih menampilkan wajahnya dalam mode close-up. Dijah sedang tertawa, cemberut, dan sedang menatap ke arah kamera diam-diam. Dijah terus membuka tiap lembar foto yang masih menampilkan wajahnya.


Kemudian Dijah membuka lembaran terakhir foto itu. Fotonya dan Dul bersama Bara. Foto itu diambil di depan taman bermain sesaat setelah mereka membeli tiket masuk. Bara meminta seseorang untuk memotret mereka bertiga.


Ingatannya terbang tak terbendung pada sosok pria yang berdiri di ambang pintu menatapnya tadi. Yang memakaikannya sebentuk cincin diam-diam. Yang tak pernah malu menggenggam tangannya di antara begitu besar perbedaan mereka. Bara yang masuk ke dalam hidup Dul sebagai sosok pahlawan yang dikagumi.


“Bara...” gumam Dijah.


“Siapa itu? Kamu kenal?” tanya pak Wirya.


“Bara... Ini Bara...” kata Dijah. Bahunya berguncang. Tangisnya pecah sejadi-jadinya.


“Nggak apa-apa Dijah... Nangis kalau kamu rasa nangis itu bisa melepaskan beban di hati kamu. Jangan paksa diri kamu untuk selalu kuat. Hati juga perlu istirahat untuk didengarkan,” ucap Pak Wirya.


“Saya udah banyak ngerepotin Bara. Saya nggak bisa jadi perempuan yang pantes untuk dia. Bara terlalu baik. Dia bisa dapet perempuan lain. Saya nggak bisa—saya nggak bisa.”

__ADS_1


“Semua wanita itu layak dicintai Dijah, kalau laki-laki yang bernama Bara itu terlalu baik bagi kamu, anggap Bara itu sebagai kado dalam hidup kamu. Kamu sudah melakukan yang terbaik sejauh ini. Kamu perempuan hebat. Kamu perempuan kuat. Dan kamu layak dapat laki-laki baik seperti Bara. Enggak ada yang salah dalam hal itu. Percayai dia, kalau kamu rasa dia belum cukup menunjukkan ketulusannya, kasi Bara waktu. Saya yakin bisa.”


Dijah menutup wajahnya dengan lembaran terakhir fotonya bertiga bersama Bara dan Dul.


“Saya rasa nggak punya muka lagi ketemu dia. Saya malu—Bara berkali-kali ngeliat saya dipukuli. Saya malu—saya juga takut Bara menganggap saya perempuan yang cuma layak dikasari. Bara juga sudah terlalu banyak berbuat untuk saya dan Dul. Saya nggak mau merepotkan dia lagi. Kasihan Bara—kasihan Bara...” Dijah menangis tersedu-sedu menutupi wajahnya.


Pak Wirya hanya diam membiarkan Dijah menumpahkan segala resah di hatinya. Pandangannya meneliti tiap sudut tampilan Dijah pada saat itu. Raut Dijah yang penuh curiga, kekhawatiran, sosok yang harusnya dikasihani tapi malah gampang kasihan pada orang lain. Pak Wirya menghela nafas.


Dijah yang polos sekali pikirnya. Pikirannya terlalu lurus dan teramat muda untuk menerima segala kekerasan.


Pak Wirya menepuk-nepuk pelan punggung Dijah yang menunduk, masih dengan bahu berguncang.


“Cita-cita kamu apa?” tanya pak Wirya.


“Ha?” Dijah mengangkat wajahnya menoleh pada pak Wirya.


“Cita-cita kamu apa?” ulang Pak Wirya lagi.


Dijah menggeleng. “Saya nggak punya cita-cita pengen jadi apapun. Saya cuma mau hidup tenang dengan Dul.” Dijah menatap lurus pada pria di sebelahnya.


“Kalau jadi ibu rumah tangga yang mengurusi Dul dan suami seperti Bara kira-kira kamu tenang nggak?” tanya pak Wirya tersenyum.


Dijah diam dan menggigit bibirnya.


“Kamu khawatir orangtuanya? Khawatir nggak diterima keluarganya? Kalau saya minta bantuan kamu boleh?” tanya pak Wirya lagi.


“Saya nggak ngerti...” jawab Dijah.


“Lusa kamu ikut saya ya—Saya mau bawa kamu ke suatu tempat. Saya jamin kamu pasti suka. Itung-itung bayaran saya bawain foto itu untuk kamu. Gimana?” tanya pak Wirya.


Dijah hanya diam seperti menimbang-nimbang.


“Oke. Lusa saya jemput ke sini. Sekarang saya pamit dulu, sebentar lagi anak saya bakal jemput. Sampai jumpa lusa Dijah... Fotonya disimpan ya. Hasil fotonya bagus, pasti dia bukan fotografer biasa.” Pak Wirya bangkit seraya menepuk-nepuk pelan bahu Dijah.


Lusa pak Wirya berencana akan menjemput Dijah dan membawanya ke suatu tempat. Sepertinya untuk hal itu, ia juga tak bisa mengatakannya pada Bara. Biarlah Bara tahu dengan sendirinya.

__ADS_1


Setelah Bara dewasa, Pak Wirya merasa tak pernah lagi memberikan kado apapun pada anaknya itu. Lusa nanti, ia akan memberikan kado yang mungkin takkan dilupakan Bara seumur hidupnya.


To Be Continued.....


__ADS_2