PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
137. Menuruti Mertua


__ADS_3

“Duduk di sini Mas...” ucap Tini menyodorkan bangku yang tadi didudukinya pada Heru.


 


“Cari perhatian... tadi aku disuruh jongkok.” Bara mendesis ke arah Tini. Wanita itu hanya melengos pura-pura tak dengar.


 


“Eh makasih, tapi Mbak Tini duduk di mana?” tanya Heru saat mengambil bangku plastik dan melihat ke arah Tini berdiri.


 


“Aku udah dari tadi duduk. Bosen juga duduk terus,” tambah Tini santai.


 


“Bosen duduk...” lirih Bara. Dijah terkikik kemudian menutup mulut suaminya.


 


“Iya Mas Bara.... Aku bosen duduk. Ini mau ngambil sikap lilin biar gak bosen.”


 


“Hahaha....” Heru langsung tertawa terbahak-bahak. “Aduh, maaf. Kalo udah ketemu temen-temen Dijah, jadi mau ketawa terus.”


 


“Yang ini juga—” Bara menoleh pada Heru. “Kalo mampir gak boleh duduk,” sambung Bara.


 


“Kang Mas kenapa?” tanya Heru kembali memukul bahu Bara. “Eh, bikinin 20 Boy, aku mau bagi-bagi buat pegawai yang masuk hari Minggu ke kantor. Rasa apa aja yang ada?” Heru ikut melongok ke arah dalam steling kaca.


 


“Semua rasa ada kalau untuk Mas Heru,” sahut Tini. Heru kembali tergelak.


 


“Ya udah, buat semua rasa itu. Aku minta satu untuk makan di sini,” ujar Heru.


 


“Katanya cuma mampir, taunya betah.” Bara memandang sepupunya.


 


“Sekali-sekali ngikutin Kang Mas Bara,” jawab Heru kalem.


 


Tini langsung berdiri mendampingi Boy untuk membantu. Beberapa kali menemani Boy menjaga dagangannya, membuat Tini jadi cukup lihai meladeni pembeli. Meski kadang-kadang ia tak bisa mencegah mengomeli pembeli yang terlalu banyak permintaan.


 


“Ini punya kamu Jah.... Aku bikin langsung dua. Dua rasa. Biar saling melengkapi.” Tini meletakkan dua kotak roti ke atas pangkuan Dijah.


 


“Makasi Tin,” ucap Dijah langsung membuka kotak yang letaknya paling atas. Bara menjengukkan kepala ke pangkuan istrinya. “Aku duluan yang makan, Mas nanti aja.” Dijah kembali menutup kotak rotinya.


 


“Iya—iya... Ya ampun. Makan sekarang, abisin. Mas makin seneng,” tukas Bara.


 


“Nanti kalau aku nggak abis, Mas yang abisin.” Dijah menarik garis senyum dengan bibirnya.


 


“Iya, Mas makan sisa-sisa kamu juga nggak apa-apa. Ayo makan yang banyak,” ucap Bara merentangkan kotak roti itu di pangkuan Dijah. “Aku ke mini market dulu beli minuman.” Bara bangkit dari duduknya melangkah melewati Heru yang berada di sebelah kiri.


 


“Mas... aku juga mau,” ucap Heru menarik tepi belakang kemeja Bara.


 


“Hmmm—” jawab Bara seraya mendengus. Heru terkekeh-kekeh senang melihat reaksi sebal Bara barusan.


 


“Ini untuk Asti dan Mas-nya.” Tini mengangsurkan sekotak roti bakar ke pangkuan Asti. “Sekotak dulu. Diabisin sama-sama untuk menambah kemesraan. Dosis sekotak baik dikonsumsi untuk pasangan yang masih dalam tahap pengenalan.”


 


“Makasi Mbak Tini—” Asti langsung merona.


 


Bayu tak menjawab perkataan Tini, ia langsung membuka kotak roti yang berada di tangan Asti.


 


Tak lama Bara kembali dengan seplastik berisi minuman botol. Mengambil dua botol air mineral kemudian memberi semua sisanya pada Bayu. “Nih, bagiin. Hari ini sebagai senior, gua berbaik hati beliin Lo minuman.”


 


“Ya harus Mas, hari ini aku ngerjain kerjaannya Mas Bara.” Bayu mengeluarkan botol minuman dari plastik dan menyerahkannya pada Heru lebih dulu.


 


“Harusnya pacar kamu duluan yang dikasi,” tegur Heru. “Ini kan hari Minggu, gak waktunya kerja.” Heru memandang Bayu yang salah tingkah.


 


“Khawatir kontraknya gak diperpanjang,” sahut Bara tertawa.


 


“Awas lho.... Jangan ngeledekin aku terus. Itu Mbak Dijah lagi hamil.”


 

__ADS_1


“Ya ampun.... Jangan kayak dia ya nak...” ucap Bara langsung mengusap perut istrinya.


 


Semua pesanan roti Heru telah selesai dibuat. Boy meletakkannya ke dalam beberapa kantong plastik.


 


Heru berdiri mengeluarkan dompetnya, berpikir sebentar soal total jajanan mereka selama berada di sana, ia kemudian meletakkan beberapa lembar uang pecahan 100 ribu.


 


“Hari ini gratis Mas! Peresmian cabang satu lagi. Aku nggak mau dibayar ah,” ujar Boy meraup uang dari meja stelingnya kemudian menyodorkannya pada Heru.


 


“Gak boleh gitu Boy! Kalo ada temen yang dagang, benernya tuh harus dibeli dan dilebihin bayarnya. Bukan malah minta diskon. Kalo beli ke orang lain sanggup bayar harga normal, masa ke temen tega minta diskon. Jangan—ini bentuk dukungan dari kita semua untuk usaha kamu. Biar kamu makin semangat. Sukses terus ya...” Heru menepuk lengan Boy kemudian mengambil bungkusan plastik dari tangan pemilik usaha roti bakar itu.


 


Boy tertegun saat mendengar perkataan Heru. Rautnya terpukau bercampur haru. Perkataan Heru benar-benar seperti siraman semangat baginya.


Bayu telah berpamitan pada Asti bahwa ia akan kembali ke kantor bersama Heru. Dan ternyata, Boy bukan satu-satunya manusia yang tertegun di sana. Ada Tini Suketi yang berdiri dengan sebuah sudip pipih di tangan kanannya. Matanya tak lepas dari punggung Heru yang semakin menjauh dan hilang ke balik mobil.


 


“Udaaaahh... dianggap sodara aja,” ujar Bara mengibaskan tangannya di depan wajah Tini.


 


“Hah?? Apa? Sodara? Emoh!! Sodaraku udah banyak. Semuanya nyusahin.” Tini kemudian menarik bangku bekas Heru dan mendudukinya.


 


Dijah tertawa kemudian menjejalkan potongan roti bakar ke mulut Bara. Ia sudah melihat Bara akan kembali menjawab perkataan Tini.


 


“Bekas bangkunya anget banget lho....” Tini menggoyangkan tubuhnya seolah meresapi bangku plastik yang didudukinya. “Aku jadi berasa dipangku sama mas Heru,” ucap Tini melirik Bara yang mulutnya penuh dengan roti namun melemparkan tatapan sebal padanya.


 


*****


 


“25 Minggu...34 senti, 650 gram.” Dokter kandungan wanita berwajah keibuan itu mengarahkan kamera USG ke perut bagian bawah Dijah.


 


“Jenis kelaminnya Dok?” tanya Bara dengan mata terus memandang layar televisi besar yang menunjukkan seorang calon bayi meringkuk dan menggeliat.


 


“Apa saja yang penting sehat ya Pak,” jawab Dokter. “Ini saya lihat dulu ya—dedenya pemalu ini.” Dokter terus memutari perut Dijah dengan benda di tangannya.


 


“Belum keliatan juga ya Dok?” tanya Dijah dengan wajah cemas. Kepalanya sedikit bangkit untuk melihat tampilan layar lebih jelas. Ia kemudian menoleh Bara yang memegang kakinya.


 


 


“Apa Dok?” tanya Bara tak sabar. Suara mesin printer terdengar mendominasi ruang periksa itu. Dul yang sedang duduk di kursi depan meja dokter sampai menoleh ke arah Bara yang berdiri di samping tirai penyekat.


 


Dokter wanita itu tertawa pelan, “Perempuan ini. Calon bayinya perempuan. Melengkapi si sulung yang laki-laki ya Pak....”


 


Bara hanya diam menatap layar mesin. Padahal tadi mulutnya tak berhenti bertanya. Namun saat mendengar jawaban dokter, ia malah seperti kehilangan kata-kata.


 


“Mas?” panggil Dijah dalam bisikan. Bara tersadar dan menoleh padanya. Tatapan mata laki-laki itu penuh haru dan ia menarik senyum tipis dengan bibirnya.


 


“Berapa Minggu lagi lahirnya Dok?” tanya Bara.


 


“14-16 Minggu ke depan.” Dokter kemudian meletakkan kamera USG dan menarik selembar foto hasil USG yang tadi dicetaknya.


 


Seorang perawat membantu menyeka sisa gel pada perut Dijah dan membereskan letak pakaiannya.


 


“Kalau boleh tau, anak pertama dilahirkan dengan cara operasi kan? Yang kedua—”


 


“Saya mau normal Dok,” potong Dijah cepat. “Bisa kan Dok?” tanya Dijah.


 


Bara menoleh memandang raut istrinya dari samping.


 


“Bisa, nanti kita hitung skor VBAC. Yang jelas riwayat sc yang lalu bukan karena gagal induksi ya....”


 


“Bukan Dok—bukan,” jawab Dijah lagi.


 


“Nanti kalau sudah semakin dekat kelahiran, diperiksa lagi.” Dokter menunduk menuliskan sesuatu di atas kertas resep.


 

__ADS_1


Bara duduk memangku Dul dan sejak tadi tangannya tak henti meremas tangan Dijah. Dul belum mengerti maksud seringai bahagia di wajah kedua orangtuanya yang sejak tadi saling melemparkan tatapan.


 


“Dul!” panggil Bara saat mereka telah berjalan di lorong rumah sakit menuju ke arah lobby.


 


Dul mendongak, “Hem?” tanya bocah itu.


 


“Kamu mau adik perempuan ‘kan?” tanya Bara menggoyangkan genggaman tangannya dan Dul.


 


“Iya, mau.”


 


“Yang di perut ibu, kata dokter adiknya perempuan. Kamu seneng?” tanya Bara.


 


“Aku suka adik perempuan. Aku dipanggil Mas,” ucap DDul


 


“Harus. Kamu harus dipanggil Mas,” sambung Bara masih mengayunkan genggaman tangannya dan Dul.


 


Dijah berjalan di sebelah suaminya masih memandangi selembar foto USG. “Bayi perempuan,” gumamnya. Ia menoleh dan sedikit mendongak untuk menatap suaminya. Bara ganteng, bulu matanya panjang dan hidungnya mancung. Semoga anak perempuannya nanti benar-benar mirip laki-laki di sebelahnya ini. Tak perlu mirip dengannya sedikit pun. Dijah membatin masih menatap raut suaminya yang sedang berbicara dengan Dul.


 


“Gimana?” tanya Bara saat menoleh dan bersitatap dengan istrinya.


 


“Pasti cantik...” gumam Dijah.


 


“Siapa? Anak perempuan Mas? Ya pastilah. Ibunya juga cantik banget. Kalo nggak cantik mana mungkin Mas betah,” jawab Bara tertawa. Dijah melepaskan genggaman tangan Bara kemudian melingkarkan tangan ke pinggang suaminya.


 


“Pergi belanja pakaian bayi yuk! Aku udah semangat sekarang,” ucap Dijah mendongak.


 


“Ayo, tapi Mas kasi tau ibu dulu ya... Bayi Mas perempuan. Mas seneng banget ini. Pengen bikin banyak-banyak anak perempuan tapi kok kasian ibunya.” Bara merogoh ponsel dalam kantong celana.


 


Sejurus kemudian.


 


“Bu, kata dokter calon bayi Mas perempuan.” Bara langsung mengatakan maksudnya menelepon.


 


“Serius Mas? Bayi perempuan?” Suara Bu Yanti di seberang setengah terpekik.


 


“Iya, 25 minggu. Mas udah gak sabar,” ujar Bara. “Ini Mas ama Dijah mau belanja pakaian bayi dulu. Pulangnya mampir ke sana,” tambah Bara.


 


“25 minggu? Belanja pakaian bayi? Jangan—jangan... bulan depan aja sama-sama ibu. Ibu mau ikut. Tapi bulan depan aja. Jangan sekarang. Sekarang kalian ke sini aja. Ayah beli LEGO baru untuk Dul. Cepet ya!” Bu Yanti langsung mengakiri pembicaraannya.


 


Bara menurunkan ponselnya dan menatap Dijah. “Bulan depan aja kata ibu belanjanya. Ibu mau ikut, tapi harus bulan depan. Sekarang kita diminta ke sana. Katanya ayah beli mainan baru untuk Dul. Gimana?” tanya Bara.


 


“Mau—mau... aku mau!” seru Dul. Ternyata bocah laki-laki itu menyimak sejak tadi.


 


“Ya udah, nggak apa-apa. Bulan depan aja bareng ibu.” Dijah kembali mengetatkan pelukannya pada pinggang Bara. Tak apalah pikirnya. Bulan ini atau bulan depan berbelanja pakaian bayi sama saja. Mendengar mertua perempuannya antusias soal bayinya saja sudah cukup membuat bahagia.


To Be Continued.....


 


 


Jangan lupa bermurah hati untuk kasi like-nya ya... :*


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2