PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
115. Alasan Amarah


__ADS_3

Malam itu Bara keluar kantor sedikit lebih lama. Setelah mampir ke rumah orangtuanya untuk mengantarkan flashdisk Joana, ia tiba kembali di rumah hampir tengah malam.


 


Bara menelepon Dijah dari depan pintu. Dan seperti biasa, isterinya itu segera keluar tanpa ia harus berlama-lama di teras yang gelap gulita. Dijah muncul di depan pintu dengan raut mengantuk.


 


“Kalo aku bawa kunci, tidur kamu pasti gak keganggu.” Bara menutup pintu kemudian menggandeng isterinya menuju kamar. Seperti kebiasaannya, Bara langsung menuju dispenser dan mengisi segelas penuh air putih serta meneguknya sampai tuntas.


 


“Nggah ah, entar aku nggak tau Mas pulang jam berapa.” Dijah mengambil ransel dari tangan Bara dan meletakkan ransel itu ke atas meja kerja. “Kok lama?” tanya Dijah kemudian.


 


“Ke rumah ibu ada urusan sebentar,” jawab Bara sambil melepaskan pakaiannya di dekat pintu kamar mandi. Pertanyaan Joana soal kehamilan Dijah itu menambah bahan yang harus dipikirkan olehnya. Ia merasa memang belum menanyakan pada Dijah secara gamblang soal IUD yang setahunya masih melekat di dalam tubuh isterinya itu.


 


Setelah melepaskan pakaian dan memasukkannya ke dalam keranjang yang terletak di sebelah wastafel, Bara membuka setelan kran air hangat. Sambil berpikir-pikir bagaimana cara menanyakan soal itu pada Dijah. Sementara itu, Dijah sedang membuka ponsel suaminya. Sudah tengah malam dan ponsel itu bergetar karena dua notifikasi pesan muncul ke layar.


 


Dari Joana lagi.


 


‘Gimana? Udah nyampe ‘kan flashdisk yang aku titipkan ke ibu kamu? Karena tadi gak jadi makan ke luar, next time kamu punya utang janji. Hehehe'


 


‘Maaf ya Ra, ganggu tengah malem. Gak ada maksud apa-apa. By the way, selamat sekali lagi atas kehamilan isteri kamu. Kalo lusa bisa ketemu, aku serius pengen kenalan. Sampein salam aku ke isteri kamu ya.’


 


Dijah menutup pesan itu dan kembali meletakkan ponsel suaminya. Ia merangkak naik ke ranjang dan bergelung membelakangi sisi yang biasa ditempati Bara.


 


“Lanjut tidur? Gak nungguin aku dulu?” Suara Bara yang baru keluar kamar mandi terdengar di dekat lemari. “Jah... Jangan tidur dulu. Aku pengen,” ujar Bara melepaskan handuk dan meraih sebuah boxer longgar dan tipis.


 


Dengan rambut ikalnya yang basah dan beraroma sampo lavender, Bara naik ke ranjang dan langsung memeluk pinggang isterinya.


 


Tangannya seketika meraba perut dan naik ke dada Dijah. Dengan satu tangan ia membuka tiga kancing daster untuk menyelipkan jemari mencari puncak dada isterinya.


 


Bara terus menciumi pundak dan tengkuk Dijah yang masih memejamkan mata. Dijah kesal karena isi pesan Joana. Juga Bara yang tak memberitahukan alasan ke rumah ibunya tadi. Ia berusaha mengabaikan sentuhan yang mulai membuatnya merinding.


 


“Jah... Aku mau nanya, kamu jangan tersinggung. Kamu masih pake IUD ya?” tanya Bara dengan nada lembut. Ia meraih tubuh Dijah untuk berbalik menghadap ke arahnya.


 

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Dijah. “Sebelumnya nggak pernah nanya kayak gitu,” sahut Dijah menatap suaminya. Selama ini Bara hanya mengatakan soal tak akan memaksa, akan menunggu dan meminta kehadiran anak seperti terakhir kali yang diucapkan suaminya saat liburan.


 


“Aku cuma nanya. Aku pengen punya anak, kamu udah sanggupin. Tapi aku perlu mastiin soal itu.” Bara menatap Dijah dengan pandangan teduh tapi isterinya itu memandang dengan sengit.


 


“Selama ini Mas gak pernah mau nanya soal itu. Kenapa hari ini ditanya? Aku jawab iya—iya. Sabar. Apa karena ketemu perempuan itu hari ini? Ngomongin apa? Mas bilang aku udah hamil? Kalau aku nggak hamil gimana? Kenapa harus bohong? Mas malu? Udah mulai nyesel nikah sama aku?” sengit Dijah dengan mata memerah. Sebenarnya kalau tak karena pesan Joana, Dijah akan menjawab pertanyaan suaminya itu dengan jujur. Tapi menyadari Bara yang seolah mempertimbangkan tiap perkataan wanita yang mengejarnya sejak dulu, membuat hatinya berdenyut.


 


“Aku—aku emang ngomong gitu. Iya, maaf... aku tadi dari rumah ibu karena ngasi titipan Joana. Dia dateng ke kantorku, cuma minta tolong itu aja. Aku ngomong gitu biar percakapan kami cepat selesai. Pertanyaan soal IUD ini gak ada hubungannya dengan itu.” Bara sudah bisa menebak kalau Dijah pasti telah membaca pesan baru di ponsel yang belum dilihatnya.


 


“Mustahil nggak ada hubungannya. Mas minder karena aku. Memangnya seluruh perempuan itu harus langsung hamil kalau sudah menikah? Kalau belum bisa hamil gimana? Kenapa Mas nggak bisa jawab pertanyaan kayak gitu dengan bijak? Gak etis nanya kayak gitu Mas! Gak semua keadaan wanita itu sama. Rejeki juga beda-beda,” tegas Dijah masih memandang tajam suaminya.


 


“Aku laki-laki Dijah. Oke, aku salah karena jawab kayak gitu. Tapi aku juga punya kekhawatiran. Kamu sudah punya Dul. Aku nganggap dia anakku, tapi aku tetep pengen buktiin, kalo aku juga bisa kasi anak ke kamu. Harga diriku sebagai laki-laki terusik. Kamu juga harus ngerti dari sudut pandangku,” ucap Bara dengan nada pelan. Sudah lewat tengah malam dan ia tak mau suara perdebatan sengit itu sampai terdengar ke luar kamar.


 


“Kalau aku belum siap hamil gimana? Gimana kalau aku ngomong gitu ke Mas? Apa Mas bisa tarik lagi ucapan ke perempuan itu? Kok dia lama-lama ngeganggu urusan kita banget. Pelan-pelan tapi pasti dia jadi kayak racun.” Kekesalan Dijah memuncak. Lusa kunjungan ke rumah mertuanya pun ia masih merasa dihantui. Memang Bara tak pernah membandingkannya dengan Joana, tapi bertemu dengan wanita itu di depan ibu mertua yang belum bisa diambil hatinya terasa sangat menyulitkan bagi Dijah. Ia sedang berusaha sekarang. Kenapa perempuan itu seperti selalu mengganggunya. Menambah bebannya.


 


Dijah mulai menangis dengan suara teredam. Meski masih menghadap ke arah suaminya, Dijah telah membenamkan wajahnya ke bantal. Jika Joana menyerangnya dengan kata-kata tajam secara langsung Dijah merasa yakin bisa membalasnya. Tapi wanita itu mengganggunya dengan tingkat kepercayaan diri dan modal mumpuni yang tak dimilikinya. Dijah minder.


 


“Kok jadi nangis? Ngomongnya jadi nggak jelas. Liat aku dulu... Dijah...” panggil Bara.


 


 


“Jadi aku harus gimana? Dia emang gak ada ngomong apa-apa selain hal itu. Selebihnya cuma urusannya ke ibu. Apa aku harus bilang jangan hubungi aku lagi? Kalo ibu tau, aku bisa dinilai picik Jah... Aku bisa dinilai terlalu gede rasa. Berasa aku dikejer-kejer perempuan.” Bara meraih tangan Dijah yang menutupi wajahnya. “Liat aku, aku lagi ngomong. Jangan kayak gini....” Bara menyibak rambut yang menutupi wajah isterinya. Dijah masih sesegukan.


 


“Tapi aku nggak suka. Aku nggak suka. Ini hidupku, rumah tanggaku, aku nggak mau Mas denger ngomong orang lain di luar sana. Pulang ke rumah langsung nanya gitu ke aku. Aku bilang tunggu, sabar. Tapi Mas lebih terusik dengan perkataan perempuan lain ketimbang jaga perasaanku.” Dijah tersedu-sedu dengan bahu berguncang.


 


“Aku mulai nggak percaya diri Jah,” gumam Bara. “Aku laki-laki. Mungkin ini perasaan yang dirasain mas Heru dulu. Atau dia pernah bikin mbak Fifi nangis juga karena soal pengen punya anak? Atau mas Heru bijak kayak biasa? Aku gak tau. Aku cuma mulai gak percaya diri.” Bara membelai kepala isterinya berkali-kali. Memeluk tubuh Dijah yang masih berguncang karena tangis. “Maafin aku... Aku udah nyampuradukkan masalah.”


 


Kemarahan Bara akan Fredy belum usai. Mendengar kabar sidang putusan mantan suami isterinya itu membuat dadanya bergemuruh. Ia bukan hanya marah. Ia cemburu. Suatu perasaan yang tak pernah diantisipasinya. Tak pernah diduganya. Bara cemburu pada Fredy yang bisa membuat Dijah mengandung anaknya.


 


“Udah dinihari. Jangan nangis lagi. Suami kamu pulang kerja capek. Aku di luaran gak macem-macem Jah... Kalo ada buat salah, jangan lama-lama marahnya.”


 


Tangis Dijah mulai reda, tapi ia tetap tak memandang Bara. Posisinya masih meringkuk di dada pria itu. Dengan membenamkan separuh wajahnya di bantal, ia mencoba tidur. Rasanya sulit memupuskan amarah saat itu juga. Ketimbang mengatakan hal yang tak enak didengar telinga bersama, ia memilih mengabaikan Bara.

__ADS_1


 


“Hei, tidur?” tanya Bara kembali merapikan rambut isterinya. Dijah diam tak menyahuti.


 


“Jah... Aku pengen, jangan tidur.” Bara tak mau keributan itu berlanjut. Sejak mengguyur kepalanya dengan air hangat tadi, hasrat ingin bercinta malam itu timbul. Salahnya menyinggung topik pembicaraan berat sebelum sempat menuntaskan keinginannya.


 


“Boleh ya?” tanya Bara meminta persetujuan. Dijah bergeming. Melihat tak ada reaksi, bukannya malah surut, keinginannya semakin bertambah. Bara menarik daster yang dikenakan isterinya sampai ke batas dada wanita itu.


 


“Aku nggak enak badan, besok-besok aja.” Dijah mengatakan hal itu dengan suara tak jelas. Bara meletakkan punggung tangannya ke dahi isterinya. “Gak panas,” ucap Bara.


 


“Maafin aku,” kata Bara sambil menciumi leher Dijah. Ia telah menindih tubuh isterinya. Satu tangan ia gunakan untuk meloloskan daster batik tipis dari kepala wanita itu. Tangannya lainnya sudah gesit meraba punggung dan melepaskan pengait bra.


 


Detik selanjutnya, Bara sudah menyesap puncak dada isterinya dengan berdecak dan nafas yang memburu. Sedangkan Dijah, masih memalingkan wajahnya.


 


To Be Continued.....


 


Jangan lupa tombol likenya digelitik.


Komennya lucu dan kreatif-kreatif. Karena like dan komen-komen itu perfoma karya suatu novel ikut naik. Semua komennya dibaca. Pengen balesin satu-satu tapi njuss sedang kejar target tamat XD


Makasi yang udah vote voucher untuk njuss... njuss liat dengan teliti. Yang nyisihin poin untuk kasi mawar dan kopi ke BarJah, makasi banyak-banyak. Karena njuss tau mbak-mbakku harus nyelesaikan misi demi dapet poin itu.


Matur Nuwun


Mauliate Godang


Nuhun Pisan


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2